Agus Salim
Potret, caโ€‰April 1947
Menteri Luar Negeri Indonesia ke-3
Masa jabatan
3 Juli 1947ย โ€“ 19 Desember 1948
Perdana MenteriAmir Sjarifoeddin
Mohammad Hatta
WakilTamzil
Masa jabatan
4 Agustus 1949ย โ€“ 20 Desember 1949
Perdana MenteriMohammad Hatta
WakilTamzil
Sebelum
Pendahulu
Alexander Andries Maramis
Pengganti
Mohamad Roem
Sebelum
Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia ke-1
Masa jabatan
12 Maret 1946ย โ€“ 26 Juni 1947
MenteriSutan Sjahrir
Sebelum
Pendahulu
Tidak ada, jabatan baru
Pengganti
Tamzil
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir
Masjhoedoelhaq Salim

(1884-10-08)8 Oktober 1884
Koto Gadang, Agam, Hindia Belanda
Meninggal4 November 1954(1954-11-04) (umurย 70)
Jakarta, Indonesia
MakamTaman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta
Partai politikPartai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
Suami/istri
Zainatun Nahar
โ€‹
(m.ย 1912)โ€‹
Anak8
Profesi
  • Jurnalis
  • diplomat
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Bantuan penggunaan templat ini

Agus Salim (8 Oktober 1884ย โ€“ย 4 November 1954), lahir dengan nama Masjhoedoelhaq Salim (berarti "pembela kebenaran"),[1] adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga sebagai bapak pandu Indonesia. Ia ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keputusan Presiden Indonesia Nomor 657 tahun 1961.[2] Pekerjaan yang ditekuninya adalah sebagai orator dan penulis. Agus Salim menguasai 4 bahasa asing di Eropa (bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Jerman dan bahasa Prancis), 2 bahasa asing di Timur Tengah (bahasa Arab dan bahasa Turki), serta bahasa Jepang.[3]

Latar belakang

sunting

Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.[4]

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus bagi anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III (Kawedrie) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi alumnus terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Duta besar Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syaikh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Pada tahun 1912-1915, Salim membuka sekolah dasar berbahasa Belanda, Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau disebut Sekolah Dasar Bumi Putera dengan statusnya sebagai sekolah swasta.[5] Kemudian pada tahun 1915 ia terjun ke dunia jurnalistik di Harian Neratja sebagai Wakil Redaktur. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Agus Salim menikah dengan Zaenatun Nahar Almatsier dan dikaruniai 10 orang anak.[6] Kesepuluh anaknya ini dua diantaranya meninggal sewaktu kecil, sehingga kedelapan anak beliau terdiri dari empat orang anak laki-laki dan empat orang perempuan.[7] Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya pada tahun 1925 beliau menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Pada tahun 1927 Kemudian mendirikan Surat kabar Fadjar Asia bersama HOS Tjokroaminoto. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Kota Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Karangan beliau banyak di muat di beberapa surat kabar seperti Neraca, Mustika, Fajar Asia Hindia Baru, Keng Po Dunia Islam, Het Licht, Pujangga Baru Hikmah, Mimbar Agama, Moslemse Reveil, Indonesia Revue.[8] Bersamaan dengan itu ia juga terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Karya tulis

sunting
  • Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia
  • Dari Hal Ilmu Quran
  • Muhammad voor en na de Hijrah
  • Gods Laatste Boodschap
  • Jejak Langkah Haji Agus Salim (Kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, Oktober 1954)
  • Hoekoem yang ke lima
  • Tauhid[9]

Karya terjemahan

sunting

Karier politik

sunting

Pada tahun 1915, H. Agus Salim bergabung dengan Sarekat Islam dan menjadi pemimpin kedua setelah Oemar Said Tjokroaminoto.

Peran H. Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia antara lain:

Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri Indonesia pada kabinet presidensial dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas tetapi Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang.

Dalam budaya populer

sunting

Galeri

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Laffan, Michael F. (2003). "Between Batavia and Mecca: Images of Agoes Salim from the Leiden University Library". Archipel. 65: 109โ€“122. doi:10.3406/arch.2003.3754. Diakses tanggal 24 February 2019.
  2. ^ Daftar Nama Pahlawan Nasional Republik Indonesia Diarsipkan 2012-04-14 di Wayback Machine., Departemen Sosial RI Online, Januari 2010. Diakses 26 Agustus 2012.
  3. ^ Syukur, Yanuardi (2017). Menulis di Jalan Tuhan. Sleman: Deepublish. hlm.ย 73. ISBNย 978-602-401-711-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/60783/Chapter%20II.pdf?sequence=3&isAllowed=y[pranala nonaktif permanen]
  5. ^ Templat:Mukayat. Haji Agus Salim., hlm 13
  6. ^ "Memimpin Itu Menderita, Seperti Agus Salim". Tirto.id.
  7. ^ Templat:Mukayat., hlm14
  8. ^ Templat:Mukayat, Haji Agus Salim. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1985., hlm48
  9. ^ Risalah Sidang BPUPKI PPKI. Cetakan Kedua Edisi III, hlm 607

Pranala luar

sunting
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Sutan Sjahrir
Menteri Luar Negeri Indonesia
1947โ€“1949
Diteruskanย oleh:
Mohammad Hatta
Didahului oleh:
Jabatan baru
Menteri Muda Luar Negeri Indonesia
1946โ€“1947
Diteruskanย oleh:
Tamsil

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Gelanggang Olahraga Haji Agus Salim

Gelanggang Olahraga Haji Agus Salim adalah sebuah kompleks gelanggang olahraga multifungsi di Kota Padang, Sumatera Barat, yang merupakan markas klub sepak

Karina Salim

pahlawan nasional Indonesia, Agus Salim. Karina lahir di Jakarta pada 24 Agustus 1991 dari pasangan Djohan Iskandar Salim dan Lies Kurniasih. Ayahnya merupakan

Agus Salim Pangestu

Agus Salim Pangestu adalah putra pertama dari Prajogo Pangestu, salah satu pebisnis terkemuka di Indonesia. Agus Pangestu saat ini merupakan CEO dari PT

Semen Padang FC

Barat. Klub ini didirikan pada tahun 1980 dan bermarkas di Stadion Haji Agus Salim. Klub saat ini berkompetisi di Liga Super yang merupakan kasta tertinggi

Wika Salim

Bogor, 26 Februari 1992. Wika merupakan adalah anak bungsu dari pasangan Agus Salim dan Mujiarti. Kedua orangtuanya merupakan bekerja sebagai musisi. Ayah

Emil Salim

Ia merupakan keponakan dari seorang Pahlawan Nasional Indonesia, Haji Agus Salim. Frobel School, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1935โ€“1936) Europesche

Anthoni Salim

dari pengusaha Sudono Salim, pendiri Grup Salim. Anthoni lahir di Kudus, Jawa Tengah, tempat ayahnya Liem Sioe Liong (Soedono Salim) merintis usahanya setelah

PSP Padang

Sumatera Barat. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di Stadion Haji Agus Salim, Padang, berbagi dengan Semen Padang FC. PSP Padang saat ini bermain di