| Baal | |
|---|---|
| Simbol | Banteng, domba jantan, petir |
| Pemujaan | |
| Daerah |
|
| Keluarga | |
| Orang tua | |
| Saudara | Hebat (dalam tradisi Suriah), Anat |
| Keturunan | Pidray, Tallay, Arsay[1] |
| Padanan | |
| Yunani | Zeus[2] |
| Aram dan Mesopotamia | Hadad |
| Hurri | Teshub |
| Arab | Hubal |
| Mesir | Set (karena merupakan dewa asing di Mesir, karena Set adalah dewa orang asing – jika tidak Baal Zephon, setara dengan Baʿal Hadad, juga disamakan dengan Horus)[3] |
| Dewa-dewi Timur Dekat kuno |
|---|
| Agama Timur Dekat kuno |
| Bagian dari seri |
| Agama Mesir Kuno |
|---|
Baal (/ˈbeɪ.əl, ˈbɑːl/),[6][7][8] atau Ba'al (/bɑː.ɑːl/),[9][a] adalah sebuah gelar dan sebutan kehormatan yang berarti "pemilik" atau "tuan" dalam bahasa-bahasa Semit Barat Laut yang dituturkan di Levan pada masa purbakala. Dari penggunaannya di tengah masyarakat, gelar ini kemudian mulai disematkan kepada dewa-dewi.[11] Para pakar sebelumnya mengaitkan teonim ini dengan kultus matahari dan dengan berbagai dewa pelindung yang tidak saling berkaitan, tetapi berbagai prasasti telah menunjukkan bahwa nama Baal secara khusus dikaitkan dengan dewa badai dan dewa kesuburan Hadad beserta perwujudan-perwujudan lokalnya.[12] Dewa Baal dalam tradisi Ugarit (𐎁𐎓𐎍) adalah tokoh utama dalam salah satu epos terpanjang yang masih bertahan dari Timur Dekat Kuno, yaitu Siklus Baal.
Dikenal dengan berbagai julukan seperti "penunggang awan" dan "Baal yang Menang", ia dikaitkan dengan hujan, petir, angin, kesuburan, dan kerajaan, serta sering digambarkan berlawanan dengan dewa-dewa laut dan kematian seperti Yammu dan Mot. Pemujaan Baal menyebar ke seluruh Levan, Mesir, dan kawasan Mediterania melalui kolonisasi Fenisia, dengan bentuk-bentuk pemujaan regional seperti Baal Hammon di Kartago. Dewa ini juga dikenal sebagai "yang maha perkasa", dan "yang tiada bandingannya" ("tidak ada yang di atasnya").[13]
Alkitab Ibrani mencatat penggunaan istilah ini untuk merujuk pada berbagai dewa-dewi Levan, sering kali ditujukan kepada Hadad, yang dikecam sebagai dewa palsu. Dalam Alkitab Ibrani, Baal sering muncul sebagai dewa asing atau dewa saingan, dengan para nabi seperti Elia yang menentang kultusnya, sementara dalam konteks Israel awal, gelar ini mungkin kadang-kadang merujuk pada Yahweh. Penggambaran sebagai dewa palsu ini diambil alih ke dalam agama Kekristenan dan Islam, terkadang dalam bentuk Beelzebub dalam ranah demonologi.
Sumber-sumber klasik menyebutnya sebagai Belus. Al-Qur'an juga menyebutkan penyembahan Baal, menggambarkannya sebagai dewa palsu yang ditentang oleh nabi Ilyas.
Nama
suntingJulukan
suntingJulukan Baʻal yang paling luas digunakan adalah "penunggang (atau penaik[14]) awan". (rkb ʿrpt, bd. rkb bʿrbt dalam Mzm. 68:4; bahasa Ugarit rkb ʿrpt.) Julukan ini memiliki kaitan dengan "pengumpul awan" milik Zeus dan "penunggang langit" milik Yahweh.[15] Sebagaimana kata dalam bahasa Inggris ride (menunggangi), rkb juga memiliki penggunaan yang berhubungan dengan kuda serta bermakna seksual.[16]
Etimologi
suntingEjaan bahasa Inggris untuk istilah "Baal" diturunkan dari bahasa Yunani Báal (Βάαλ) yang muncul di dalam Perjanjian Baru[17] dan Septuaginta,[18] serta dari bentuk Latinnya Baal, yang muncul dalam Vulgata.[18] Bentuk-bentuk ini pada gilirannya diturunkan dari bentuk bahasa Semit Barat Laut tanpa huruf vokal bʿl (Fenisia dan Punic: 𐤁𐤏𐤋).[19] Makna alkitabiah dari kata ini sebagai dewa Fenisia dan dewa palsu pada umumnya diperluas selama masa Reformasi Protestan untuk menyebut segala bentuk berhala, ikon para orang kudus, atau Gereja Katolik secara umum.[20] Dalam konteks semacam itu, pelafalannya mengikuti gaya Inggris dan biasanya menghilangkan tanda apa pun di antara kedua huruf A-nya.[6] Dalam transliterasi yang ketat dari nama Semit tersebut, huruf ayin direpresentasikan, sehingga menjadi Baʿal.
Dalam bahasa-bahasa Semit Barat Laut—Ugarit, Fenisia, Ibrani, Amori, dan Aram—kata baʿal bermakna "pemilik" dan, secara luas, "tuan",[18] seorang "majikan", atau "suami".[21][22] Kognatnya meliputi kata Akkadia Bēlu (𒂗),[b] kata Amhara bal (ባል),[23] serta kata Arab baʿl (بعل). Báʿal (בַּעַל) dan baʿl masing-masing masih digunakan sebagai kata untuk "suami" dalam bahasa Ibrani dan Arab modern. Keduanya juga muncul dalam beberapa konteks yang berkaitan dengan kepemilikan benda atau kepemilikan sifat.
Bentuk femininnya adalah baʿalah (Ibrani: בַּעֲלָה;[24] Arab: بَعْلَة), yang berarti "nyonya" dalam pengertian pemilik perempuan atau nyonya rumah tangga[24] dan masih digunakan sebagai kata yang langka untuk menyebut "istri".[25]
Gagasan dalam keilmuan modern awal juga mencakup perbandingan dengan dewa bangsa Keltik bernama Belenus, namun hal ini sekarang secara luas ditolak oleh para pakar kontemporer.[26]
Agama Semit
suntingGenerik
suntingTemplat:See also-text Seperti halnya En dalam Sumeria, kata Akkadia bēlu dan kata Semit Barat Laut baʿal (serta bentuk femininnya baʿalah) digunakan sebagai gelar untuk berbagai dewa-dewi dalam panteon Mesopotamia dan Semit. Hanya artikel definit, bentuk genitif, julukan, maupun konteks sajalah yang dapat menetapkan dewa mana secara khusus yang dimaksud.[27]
Hadad
suntingBaʿal juga digunakan sebagai nama diri pada milenium ketiga SM, saat ia muncul dalam daftar dewa-dewi di Abu Salabikh.[18] Sebagian besar keilmuan modern menegaskan bahwa Baʿal ini—yang biasanya dibedakan dengan sebutan "Sang Tuan" (הבעל, Ha-Baʿal)—identik dengan dewa badai dan dewa kesuburan Hadad;[18][28][21] ia juga muncul dalam bentuk Baʿal Haddu.[22][29] Para pakar berpendapat bahwa, seiring dengan meningkatnya kedudukan penting kultus Hadad, nama aslinya dipandang terlalu suci untuk diucapkan dengan lantang oleh siapa pun selain pendeta agung, sehingga nama samaran "Tuan" ("Baʿal") digunakan sebagai gantinya, sebagaimana nama "Bel" digunakan untuk Marduk di kalangan bangsa Babilonia dan "Adonai" untuk Yahweh di kalangan bangsa Israel. Sebagian kecil pakar mengusulkan bahwa Baʿal merupakan dewa asli Kanaan yang kultusnya disamakan dengan atau menyerap aspek-aspek dari Adad.[18] Terlepas dari hubungan asalnya, pada milenium pertama SM, keduanya menjadi entitas yang berbeda: Hadad disembah oleh Bangsa Aram dan Baʿal disembah oleh Fenisia dan Bangsa Kanaan lainnya.[18]
Baʿal
sunting

Baʿal banyak dibuktikan dalam prasasti-prasasti yang masih ada dan populer dalam nama-nama teoforik di seluruh kawasan Levan[30] tetapi ia biasanya disebutkan bersama dewa-dewa lain, "sedangkan ranah tindakannya sendiri jarang didefinisikan".[31] Meskipun demikian, catatan-catatan Ugarit menunjukkannya sebagai dewa cuaca, dengan kuasa khusus atas petir, angin, hujan, dan kesuburan.[31][c] Musim panas yang kering di daerah tersebut dijelaskan sebagai waktu di mana Baʿal berada di dunia bawah, dan kembalinya ia pada musim gugur konon memicu badai yang menyuburkan kembali tanah tersebut.[31] Oleh karena itu, pemujaan Baʿal di Kanaan—di mana ia pada akhirnya menggantikan El sebagai pemimpin para dewa dan pelindung kerajaan—berkaitan dengan ketergantungan wilayah tersebut pada curah hujan untuk pertaniannya, tidak seperti Mesir dan Mesopotamia yang berfokus pada irigasi dari sungai-sungai utama mereka. Kekhawatiran akan ketersediaan air untuk tanaman dan pepohonan meningkatkan peranan kultusnya, yang memusatkan perhatian pada peranannya sebagai dewa hujan.[21] Ia juga diseru selama pertempuran, yang menunjukkan bahwa ia dianggap turut campur secara aktif dalam dunia manusia,[31] tidak seperti El yang lebih berjarak. Kota Baalbek di Lebanon dinamai dari nama Baal.[34] Sebagai alternatif, Ba'al adalah pemangku takhta ilahi bersama El, di mana El berperan sebagai eksekutif sementara Ba'al adalah pemelihara kosmos.[35]
Baʿal dari Ugarit dulunya adalah julukan untuk Hadad, tetapi seiring berjalannya waktu, julukan ini menjadi nama dewa tersebut sedangkan Hadad menjadi julukannya.[36] Baʿal biasanya disebut sebagai putra Dagan, tetapi muncul sebagai salah satu putra El dalam sumber-sumber naskah Ugarit.[30][22][d] Baik Baʿal maupun El dikaitkan dengan banteng dalam teks-teks Ugarit, karena keduanya melambangkan kekuatan dan kesuburan.[37] Ia menaruh permusuhan khusus terhadap ular, baik ular itu sendiri maupun sebagai perwakilan dari Yammu (har. "Laut"), sang dewa laut dan dewa sungai Kanaan.[38] Ia bertarung melawan Tannin (Tunnanu), "Ular yang Berbelit-belit" (Bṯn ʿqltn), "Lotan, Ular yang Melarikan Diri" (Ltn Bṯn Brḥ, Lewiatan dalam alkitab),[38] dan si "Perkasa yang Berkepala Tujuh" (Šlyṭ D.šbʿt Rašm).[39][e] Konflik Baʿal dengan Yammu kini secara umum dipandang sebagai purwarupa dari penglihatan yang tercatat dalam pasal 7 dari Kitab Daniel dalam Alkitab.[41] Sebagai penakluk laut, bangsa Kanaan dan Fenisia menganggap Baʿal sebagai pelindung bagi para pelaut dan pedagang laut.[38] Sebagai penakluk Mot, sang dewa kematian Kanaan, ia dikenal sebagai Baʿal Rāpiʾuma (Bʿl Rpu) dan dianggap sebagai pemimpin para Rephaim (Rpum), roh-roh leluhur, khususnya roh dari dinasti-dinasti yang berkuasa.[38]
Dari Kanaan, pemujaan Baʿal menyebar ke Mesir pada masa Kerajaan Pertengahan dan ke seluruh Mediterania menyusul gelombang kolonisasi Fenisia pada awal milenium pertama SM.[30] Ia digambarkan dengan beragam julukan, dan sebelum Ugarit ditemukan kembali, julukan-julukan ini diduga merujuk pada dewa-dewa lokal yang berbeda. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Day, teks-teks di Ugarit mengungkapkan bahwa mereka dianggap sebagai "perwujudan lokal dari dewa tertentu ini, analog dengan perwujudan lokal Perawan Maria dalam Gereja Katolik Roma".[28] Dalam prasasti-prasasti tersebut, ia kerap digambarkan sebagai "Baʿal yang Menang" (Aliyn atau Ảlỉyn Baʿal),[22][18] "Yang paling perkasa" (Aliy atau ʾAly)[22][f] atau "Pahlawan yang Paling Perkasa" (Aliy Qrdm), "Yang Berkuasa" (Dmrn), dan dalam perannya sebagai pelindung kota yaitu "Baʿal dari Ugarit" (Baʿal Ugarit).[47] Sebagai Baʿal Zaphon (Baʿal Ṣapunu), ia secara khusus dikaitkan dengan istananya yang berada di puncak Jebel Aqra (Gunung Ṣapānu kuno dan Mons Casius klasik).[47] Ia juga disebutkan sebagai "Baʿal Bersayap" (Bʿl Knp) dan "Baʿal Pemilik Anak Panah" (Bʿl Ḥẓ).[22] Prasasti-prasasti Fenisia dan Aram mendeskripsikan "Baʿal sang Pemilik Gada" (Bʿl Krntryš), "Baʿal dari Lebanon" (Bʿl Lbnn), "Baʿal dari Sidon" (Bʿl Ṣdn), Bʿl Ṣmd, "Baʿal Penguasa Langit" (Baʿal Shamem atau Shamayin),[48] Baʿal ʾAddir (Bʿl ʾdr), Baʿal Hammon (Baʿal Ḥamon), Bʿl Mgnm.[30]
Baʿal Hammon
suntingBaʿal Hammon disembah di Kartago, sebuah koloni Tirus, sebagai dewa tertinggi mereka. Diyakini bahwa kedudukan ini berkembang pada abad ke-5 SM setelah terputusnya hubungan dengan Tirus menyusul terjadinya Pertempuran Himera pada 480 SM.[49] Seperti Hadad, Baʿal Hammon adalah dewa kesuburan.[50] Meskipun demikian, prasasti-prasasti mengenai dewa-dewi Punik cenderung kurang memberikan informasi, dan ia telah diidentifikasikan secara beragam sebagai dewa bulan[butuh rujukan] maupun sebagai Dagan, sang dewa biji-bijian.[51] Alih-alih banteng, Baʿal Hammon dikaitkan dengan domba jantan dan digambarkan dengan tanduknya. Catatan arkeologis tampaknya membenarkan tuduhan dalam sumber-sumber Romawi bahwa bangsa Kartago membakar anak-anak mereka sebagai pengorbanan manusia untuknya.[52] Ia disembah sebagai Baʿal Karnaim ("Tuan Pemilik Dua Tanduk"), khususnya di sebuah tempat suci terbuka di Jebel Bu Kornein ("Bukit Dua Tanduk") di seberang teluk dari Kartago. Pasangannya adalah dewi Tanit.[53]
Julukan Hammon masih kurang jelas. Paling sering, julukan ini dihubungkan dengan kata dalam bahasa Semit Barat Laut ḥammān ("anglo") dan dikaitkan dengan perannya sebagai dewa matahari.[54] Renan dan Gibson mengaitkannya dengan Hammon (sekarang Umm el-‘Amed, yang terletak di antara Tirus di Lebanon dan Acre di Israel)[55] sementara Cross dan Lipiński mengaitkannya dengan Haman atau Khamōn, yaitu Gunung Amanus klasik dan Pegunungan Nur modern, yang memisahkan Suriah utara dari Kilikia tenggara.[56][57]
Yudaisme
sunting
Baʿal (בַּעַל) muncul sekitar 90 kali dalam Alkitab Ibrani untuk merujuk pada berbagai dewa.[18] Para imam Baʿal Kanaan disebutkan berkali-kali, paling menonjol dalam Kitab 1 Raja-raja. Banyak pakar meyakini bahwa hal ini menggambarkan upaya Izebel untuk memperkenalkan pemujaan terhadap Baʿal dari Tirus, yaitu Melqart,[58] ke ibu kota Israel yakni Samaria pada abad ke-9 SM.[59] Menentang hal ini, Day berpendapat bahwa Baʿal yang disembah Izebel kemungkinan besar adalah Baʿal Shamem, Sang Tuan Penguasa Langit, sebuah gelar yang paling sering disematkan kepada Hadad, yang juga sering kali hanya digelari Baʻal.[60]
1 Raja-raja 18 mencatat kisah tentang sebuah kontes antara nabi Elia dan para imam Izebel. Kedua belah pihak mempersembahkan kurban kepada dewa mereka masing-masing: Baʻal gagal menyalakan api kurban para pengikutnya, sementara api surgawi dari Yahweh membakar habis mezbah Elia menjadi abu, bahkan setelah mezbah tersebut disiram air. Para pengamat kemudian mengikuti perintah Elia untuk membunuh para imam Baʿal,[61] setelah itu hujan mulai turun, menunjukkan kekuasaan Yahweh atas cuaca.
Referensi lain mengenai imam-imam Baʿal mendeskripsikan mereka membakar dupa dalam doa[62] dan mempersembahkan kurban sambil mengenakan jubah khusus.[63]
Yahweh
suntingGelar baʿal dalam beberapa konteks adalah sinonim dari kata Ibrani adon ("Tuan") dan adonai ("Tuanku") yang masih digunakan sebagai nama lain untuk Tuhan bangsa Israel, Yahweh. Menurut beberapa pakar, bangsa Ibrani awal memang menggunakan nama Baʿal ("Tuan") dan Baʿali ("Tuanku") untuk merujuk pada Tuhan bangsa Israel, sama seperti Baʿal di wilayah yang lebih jauh di utara merujuk pada Tuan atas Ugarit atau Lebanon.[59][11] Hal ini terjadi baik secara langsung maupun sebagai unsur ilahi dari beberapa nama teoforik Ibrani. Namun, menurut pakar lainnya, tidak ada kepastian bahwa nama Baal secara mutlak disematkan kepada Yahweh pada masa awal sejarah Israel. Komponen Baal dalam nama diri sebagian besar diterapkan pada para penyembah Baal, atau keturunan dari para penyembah Baal.[64] Nama-nama yang memuat unsur Baʿal dan diduga merujuk pada Yahweh[65][11] mencakup nama hakim Gideon (juga dikenal sebagai Yerubaʿal, har. "Tuan Berjuang"), putra Raja Saul yaitu Eshbaʿal ("Tuan Maha Besar"), dan putra Daud yaitu Beelyada ("Tuan Mengetahui"). Nama Bealya ("Tuan adalah Yahweh"; "Yahweh adalah Baʿal")[12] menggabungkan keduanya.[66][67] Walaupun demikian, John Day menyatakan bahwa sejauh yang menyangkut nama-nama Eshbaʻal, Meribaʻal, dan Beelyada (yaitu, Baʻaliada), belum dapat dipastikan apakah nama-nama itu sekadar menyinggung dewa Baʻal dari Kanaan, atau dimaksudkan untuk menyamakan Yahweh dengan Baʻal, atau tidak memiliki kaitan sama sekali dengan Baʻal.[68]
Upaya Izebel pada abad ke-9 SM untuk memperkenalkan pemujaan Baal dari Fenisia ke dalam kota pemerintahan Israel di Samaria sebagai tandingan bagi pemujaan terhadap Yahweh-lah yang membuat nama itu menjadi laknat bagi bangsa Israel.[59]
Pada mulanya nama Baaldigunakan oleh bangsa Yahudi untuk Tuhan mereka tanpa pembedaan, tetapi seiring dengan berkembangnya pertentangan di antara kedua agama tersebut, nama Baal ditinggalkan oleh bangsa Israel karena dianggap sebagai suatu hal yang memalukan, dan bahkan nama-nama seperti Yerubaaldiubah menjadi Yeruboset: kata Ibrani bosheth berarti "rasa malu".[69]
Eshbaʿal menjadi Isyboset[butuh rujukan] dan Meribaʿal menjadi Mefiboset,[70]Templat:Original research inline tetapi kemungkinan lain juga terjadi. Nama Yerubaʿal milik Gideon disebutkan secara utuh namun dimaknai sebagai ejekan terhadap dewa Kanaan, yang menyiratkan bahwa ia berjuang dengan sia-sia.[71]Templat:Original research inline Penggunaan langsung kata Baʿali berlanjut setidaknya sampai masa nabi Hosea, yang mencela bangsa Israel karena melakukan hal tersebut.[72]
Brad E. Kelle menyatakan bahwa rujukan mengenai praktik seksual kultis dalam penyembahan Baal di Hosea 2 adalah bukti dari situasi sejarah di mana bangsa Israel meninggalkan pemujaan Yahweh demi Baal, atau mencampuradukkan keduanya. Rujukan Hosea pada tindakan seksual merupakan metafora bagi "kemurtadan" bangsa Israel.[73]
Brian P. Irwin berpendapat bahwa "Baal" dalam tradisi Israel utara merupakan salah satu wujud Yahweh yang ditolak dan dianggap asing oleh para nabi. Dalam tradisi Israel selatan, "Baal" merupakan sesembahan yang dipuja di Yerusalem. Para penyembahnya memandang Baal selaras atau identik dengan Yahweh, dan menghormatinya dengan persembahan kurban manusia dan persembahan sajian yang harum. Pada akhirnya, para penulis Tawarikh menentang kedua versi "Baal" tersebut, sementara para penulis tradisi Deuteronomis menggunakan sebutan "Baal" untuk dewa mana pun yang tidak mereka setujui.[74]
Demikian pula, Mark S. Smith meyakini bahwa Yahweh lebih mungkin terinspirasi dari Baal dibandingkan El, karena keduanya adalah prajurit ilahi badai dan tidak memiliki ciri pasifis seperti El menurut naskah Ugarit dan Alkitab Ibrani.[75]
Baʿal Berith
suntingBaʿal Berith ("Tuan Perjanjian") adalah sesembahan yang dipuja oleh bangsa Israel ketika mereka "berpaling" setelah kematian Gideon menurut Alkitab Ibrani.[76] Sumber yang sama mengisahkan bahwa putra Gideon, Abimelekh, pergi menemui kerabat ibunya di Sikhem dan menerima 70 syekel perak "dari Kuil Baʿal Berith" untuk membantunya membunuh 70 saudaranya dari istri-istri Gideon yang lain.[77] Bagian sebelumnya menyebutkan Sikhem sebagai tempat terjadinya perjanjian Yosua antara seluruh suku-suku Israel dengan "El Yahweh, Allah kita dari Israel"[78] dan bagian selanjutnya mendeskripsikannya sebagai lokasi "Kuil El Berith".[79] Oleh karena itu, tidak jelas apakah pemujaan sesat terhadap "Baʿalim" yang dikecam ini[76] adalah pemujaan terhadap berhala baru, ataukah ritual dan ajaran yang menempatkan Yahweh sekadar sebagai dewa lokal dalam panteon yang lebih besar. Alkitab Ibrani mencatat pemujaan terhadap Baʿal yang mengancam Israel sejak zaman Hakim-hakim hingga masa kerajaan.[80] Namun, selama periode Hakim-hakim, pemujaan semacam itu tampaknya merupakan penyimpangan sesaat dari pemujaan terhadap Yahweh yang lebih mendalam dan konstan:
Di sepanjang semua kisah Hakim-hakim, keyakinan populer terhadap YHWH mengalir sebagai arus yang kuat. Iman ini membangkitkan para hakim, dan mengilhami para penyair, nabi, serta orang Nazir. ... Pemujaan terhadap para Baal dan Asytoret telah disisipkan secara skematis di antara pasal-pasal ini, tetapi tidak ada jejak keyakinan populer yang vital terhadap dewa asing mana pun yang dapat dideteksi dalam kisah-kisah itu sendiri. Nabi-nabi Baal muncul di Israel berabad-abad kemudian; tetapi selama zaman hakim-hakim, ketika Israel diduga sangat dipengaruhi oleh agama Kanaan, tidak ada imam atau nabi Baal, maupun isyarat lain mengenai pengaruh vital dari politeisme dalam kehidupan Israel.[81]
Para penulis tradisi Deuteronomis[82] dan bentuk terkini dari Yeremia[83] tampaknya menyuarakan pergulatan tersebut sebagai monolatri atau monoteisme melawan politeisme. Yahweh sering kali diidentifikasikan dalam Alkitab Ibrani dengan El Elyon, namun, hal ini terjadi setelah peleburan dengan El dalam sebuah proses sinkretisme agama.[84] ’El (Ibrani: אל) menjadi istilah umum yang berarti "tuhan", alih-alih nama dewa yang disembah, dan julukan seperti El Shaddai kemudian disematkan hanya kepada Yahweh, sementara sifat Baal sebagai dewa badai dan cuaca berasimilasi dengan identifikasi Yahweh sendiri yang dikaitkan dengan badai.[85] Pada tahap selanjutnya, agama Yahwisme memisahkan diri dari warisan Kanaan-nya, pertama-tama dengan menolak pemujaan Baal pada abad ke-9 SM, lalu melalui abad ke-8 hingga ke-6 SM dengan kecaman para nabi terhadap Baal, pemujaan matahari, pemujaan di "bukit-bukit pengorbanan", praktik yang berkaitan dengan orang mati, dan berbagai hal lainnya.[86]
Beelzebub
sunting
Baʿal Zebub (Ibrani: בעל זבוב, har. "Tuan Lalat")[87][88][g] muncul di pasal pertama Kitab 2 Raja-raja sebagai nama dewa bangsa Filistin di Ekron. Di dalamnya, Ahazia, Raja Israel, konon berkonsultasi dengan para imam Baʿal Zebub mengenai apakah ia akan selamat dari luka-luka akibat insiden jatuhnya baru-baru ini. Nabi Elia, yang murka atas ketidaksalehan ini, kemudian meramalkan bahwa ia akan mati dengan cepat, dan menurunkan hujan api surgawi kepada para prajurit yang dikirim untuk menghukum Elia karena melakukan hal tersebut.[90] Para pakar Yahudi menafsirkan gelar "Tuan Lalat" sebagai cara bahasa Ibrani untuk menyebut Baʿal sebagai tumpukan kotoran dan para pengikutnya sebagai hama,[91][92] meskipun pakar lain berpendapat mengenai adanya kaitan dengan kuasa untuk mendatangkan dan menyembuhkan wabah penyakit sehingga cocok dengan pertanyaan Ahazia.[93] Septuaginta menerjemahkan nama tersebut sebagai Baälzeboúb (βααλζεβούβ) dan "Baʿal Lalat" (βααλ μυιαν, Baäl muian). Symmakus sang Ebionit menerjemahkannya sebagai Beëlzeboúl (Βεελζεβούλ), yang mungkin mencerminkan makna aslinya.[94][h] Kata ini telah diusulkan berasal dari B‘l Zbl, bahasa Ugarit yang bermakna "Pangeran Baal".[95][i][j][k]
Sumber-sumber klasik
suntingDi luar konteks Yahudi dan Kristen, berbagai bentuk Baʿal diterjemahkan secara umum dalam sumber-sumber klasik sebagai Belus (Yunani Kuno: Βῆλος, Bē̂los). Salah satu contohnya adalah Yosefus, yang menyatakan bahwa Izebel "membangun kuil bagi dewa orang Tirus, yang mereka sebut Belus";[58] hal ini merujuk pada Baʿal dari Tirus, yakni Melqart. Herrmann mengidentifikasikan tokoh Demarus/Demarous yang disebutkan oleh Philo Byblius sebagai Baʿal.[38]
Sementara itu, Baʿal Hammon disamakan dengan Kronos dalam tradisi Yunani dan Saturnus dalam tradisi Romawi sebagai Saturnus Zabul.[98] Ia kemungkinan tidak pernah disamakan dengan Melqart, meskipun asersi tersebut muncul dalam keilmuan yang lebih tua.
Kekristenan
suntingBeelzebub atau Beelzebul diidentifikasikan oleh para penulis Perjanjian Baru sebagai Setan, "pangeran" (yakni, raja) para iblis.[l][m]
Epik tahun 1667 karya John Milton berjudul Paradise Lost menggambarkan para malaikat yang jatuh berkumpul di sekeliling Setan, dan menyatakan bahwa, meskipun nama surgawi mereka telah "dihapus dan dilenyapkan", mereka akan memperoleh nama baru saat "mengembara di atas Bumi" sebagai dewa-dewa palsu. Baalim dan Asytoret diberikan sebagai nama kolektif masing-masing untuk iblis pria dan wanita yang berasal dari antara "batas aliran Efrat kuno" hingga "sungai kecil yang memisahkan Mesir dari tanah Suriah".[99]
Islam
suntingAl-Qur'an menyebutkan bahwa Nabi Ilyas (Elia) memperingatkan kaumnya agar tidak menyembah Baʿal.[100]
Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan (Allah) sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah, Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu?" Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka sungguh akan diseret (ke dalam neraka). Kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas!" Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Menurut sejumlah ulama Islam abad pertengahan, konteks ayat di atas mengisahkan tentang Ilyas dan penduduk kota Baalbek yang menyembah Baal.[101]
Menurut At-Tabari, baal adalah istilah yang digunakan oleh orang Arab untuk merujuk pada segala sesuatu yang merupakan tuan atas apa pun.[102]
Ats-Tsa'labi memberikan gambaran yang lebih terperinci mengenai Baal; menurutnya, Baal adalah berhala yang terbuat dari emas, setinggi dua puluh hasta, dan memiliki empat wajah.[100]
Akar kata triliteral (ba, 'ain, lam) baʿl muncul sebanyak tujuh kali di dalam Al-Qur'an dengan makna umum Semitnya yaitu "pemilik, suami", khususnya bermakna suami.[103] Sebagai contoh, Sarah, istri dari Ibrahim, menyebut suaminya dengan menggunakan istilah tersebut.[104][105]
Masa modern
suntingTeori konspirasi
suntingPada 30 Januari 2026, Departemen Kehakiman (DOJ) Amerika Serikat merilis sebagian berkas Epstein yang menyebutkan kata "Baal".[106] Beberapa klaim daring mengaitkan pemujaan Baal dengan ritual satanik dan okultisme, serta menghubungkannya dengan tuduhan yang melibatkan pemodal Amerika sekaligus pelaku kejahatan seksual anak Jeffrey Epstein; akan tetapi, materi yang dirilis tersebut tidak memberikan dasar pembuktian yang jelas untuk penarikan kesimpulan itu. Kemunculan kata tersebut dikatakan selaras dengan teks kolom dokumen keuangan dan, setidaknya dalam satu contoh yang beredar luas, tampaknya merupakan sebuah bentuk kecacatan pengenalan karakter optis (OCR) atau hasil pemindaian di mana kata "Bank Name" (Nama Bank) salah terbaca menjadi "Baal. name".[107]
Lihat pula
sunting- Adonis
- Bael
- Beelzebub
- Baal (disambiguasi)
- Baal dalam budaya populer
- Iblis Baal
- Baalah
- Baʿal Peʿor (Tuan Gunung Peʿor)
- Baal-zephon (Tuan Gunung Zaphon)
- Bel
- Belus
- Belial
- Set
- Teshub
Catatan
sunting- ^ Ugaritic: 𐎁𐎓𐎍, romanized: baʿlu;[10] Phoenician: 𐤁𐤏𐤋, romanized: baʿl;Biblical Hebrew: בעל, romanized: baʿal, pelafalan [baʕal].
- ^ Huruf kuneiform ini identik dengan ⟨ 𒂗 ⟩ yang dibaca sebagai EN dalam naskah-naskah Sumeria. Dalam naskah tersebut, huruf ini bermakna 'pendeta agung' atau 'tuan' dan muncul dalam nama-nama dewa Enki dan Enlil.
- ^ Dalam kisah-kisah yang masih ada, kuasa Baʿal atas kesuburan hanya mencakup tumbuh-tumbuhan. Keilmuan masa lalu mengklaim bahwa Baʿal juga mengendalikan kesuburan manusia, namun klaim tersebut didasarkan pada salah tafsir atau prasasti yang kini dianggap meragukan.[32] Demikian pula, keilmuan abad ke-19 yang memperlakukan Baal sebagai personifikasi matahari tampaknya telah keliru. Astro-teologi dewa-dewi Timur Dekat merupakan perkembangan pada Zaman Besi yang terjadi jauh setelah asal-usul agama, dan seiring dengan perkembangannya, Bel dan Baʿal dikaitkan dengan planet Yupiter.[33] Matahari disembah di Kanaan sebagai dewi Shapash atau dewa Shamash.
- ^ Herrmann berpendapat agar silsilah yang berbeda ini tidak dipandang secara harfiah, melainkan ia mengusulkan bahwa keduanya menggambarkan peran-peran Baʿal. Sebagai dewa, ia dipahami sebagai anak El, "bapak para dewa", sementara aspek kesuburannya menghubungkannya dengan dewa biji-bijian Dagan.[30]
- ^ Catatan mengenai hal ini tidak utuh dan tidak jelas. Beberapa pakar menganggap sebagian atau seluruh istilah tersebut merujuk pada Litan, dan dalam bagian lain, ʿAnat menyatakan diri sebagai pihak yang menghancurkan monster-monster tersebut atas nama Baʿal. Herrmann menganggap "Šalyaṭu" sebagai nama diri[38] daripada menerjemahkannya sebagai "yang berkuasa" atau "tiran".[40]
- ^ Nama ini muncul dua kali dalam Legenda Keret yang ditemukan di Ugarit. Sebelum penemuan ini, Nyberg telah merekonstruksinya ke dalam teks Ibrani untuk Ulangan,[42] 1 & 2 Samuel,[43][44] Yesaya,[45] dan Hosea.[46] Menyusul verifikasinya, contoh-contoh tambahan telah diklaim dalam kitab Mazmur dan Ayub.[21]
- ^ "Etimologi Beelzebul telah berkembang ke beberapa arah. Bacaan varian Beelzebub (Penerjemah Suryani dan Hieronimus) mencerminkan tradisi lama yang menyamakan Beelzebul dengan dewa bangsa Filistin di kota Ekron yang disebutkan dalam 2 Raja-raja 1:2, 3, 6, 16. Baalzebub (Ibrani ba˓al zĕbûb) tampaknya berarti “tuan lalat” (HALAT, 250, tetapi bd. LXXB baal muian theon akkarōn, “Baal-Lalat, dewa Akkaron”; Ant 9:2, 1 theon muian)."[89]
- ^ Arndt dkk. membalikkan hal ini, dengan mengatakan bahwa Symmakus mentranskripsikan Baälzeboúb menjadi bentuk Beëlzeboúl yang lebih umum.[87]
- ^ "Sangat mungkin bahwa b‘l zbl, yang bisa berarti “tuan (surgawi) kediaman” dalam bahasa Ugarit, diubah menjadi b‘l zbb untuk menjadikan nama dewa tersebut sebagai julukan yang menghina. Bacaan Beelzebul di Mat. 10:25 karenanya akan mencerminkan bentuk nama yang benar, sebuah permainan kata pada “tuan rumah” (Yun. oikodespótēs)."[96]
- ^ "Sebuah alternatif yang diusulkan oleh banyak orang adalah mengaitkan zĕbûl dengan kata benda yang berarti 'kediaman (yang diagungkan).'"[89]
- ^ "Dalam perbincangan Semit kontemporer, hal itu mungkin dipahami sebagai 'tuan rumah'; jika demikian, frasa ini bisa digunakan dengan makna ganda dalam Mat. 10:25b."[97]
- ^ "Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, beelzeboul, beezeboul (Beelzebub dalam TR dan AV) adalah pangeran para iblis (Mat. 12:24, 27; Mar. 3:22; Luk. 11:15, 18f.), yang diidentifikasikan dengan Setan (Mat. 12:26; Mar. 3:23, 26; Luk. 11:18)."[97]
- ^ "Selain itu, Mat 12:24; Mar 3:22; Luk 11:15 menggunakan aposisi ἄρχων τῶν δαιμονίων ‘kepala para →Iblis’."[93]
Referensi
suntingKutipan
sunting- ^ S. A. Wiggins, Pidray, Tallay and Arsay in the Baal Cycle, Journal of Northwest Semitic Languages 2(29), 2003, p. 86-93
- ^ "Baal (ancient deity)". Encyclopedia Britannica (Edisi online). 29 March 2024.
- ^ Kramer 1984, hlm. 266.
- ^ M. Smith, ‘Athtart in Late Bronze Age Syrian Texts [dalam:] D. T. Sugimoto (ed), Transformation of a Goddess. Ishtar – Astarte – Aphrodite, 2014, p. 48-49; 60-61
- ^ T. J. Lewis, ʿAthtartu’s Incantations and the Use of Divine Names as Weapons, Journal of Near Eastern Studies 71, 2011, p. 208
- ^ a b "Baal". Oxford English Dictionary (Edisi Online). Oxford University Press. Diakses tanggal 2019-12-26. (Subscription or participating institution membership required.)
- ^ "Baal". Lexico UK English Dictionary. Oxford University Press. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-26.
- ^ "Baal". Merriam-Webster Dictionary. Diakses tanggal 2019-12-26.
- ^ Webb, Steven K. (2012). "Baal". Webb's Easy Bible Names Pronunciation Guide.
- ^ De Moor & al. (1987), hlm. 1.
- ^ a b c Smith (1878), hlm. 175–176.
- ^ a b AYBD (1992), "Baal (Deity)".
- ^ Rahmouni, Aïcha (2008). Divine Epithets in the Ugaritic Alphabetic Texts (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 84. ISBN 978-90-04-15769-9.
- ^ Dahood, "Psalms II" 1966 p = 136 § = 68 https://archive.org/details/psaml20000unse/page/n5/mode/2up
- ^ JANES 5 1973 Weinfeld "Rider of the Clouds"
- ^ Weninger, Stefan (2011-12-23). The Semitic Languages. Berlin [u.a..]: Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-025158-6.
- ^ Roma 11:4
- ^ a b c d e f g h i Herrmann (1999a), hlm. 132.
- ^ Huss (1985), hlm. 561.
- ^ Oxford English Dictionary (1885), "Baalist, n."
- ^ a b c d Pope (2007).
- ^ a b c d e f DULAT (2015), "bʕl (II)".
- ^ Kane (1990), hlm. 861.
- ^ a b Strong (1890), H1172.
- ^ Wehr & al. (1976), hlm. 67.
- ^ Belin, dalam Gilles Ménage, Dictionnaire étymologique de la langue françoise, 1750. Ménage mengonstruksi derivasi dari Bel "Kasdim" maupun Belin Keltik dari dugaan kata yang berarti 'bola, bola dunia', yang kemudian menjadi 'kepala', dan 'pemimpin, tuan'
- ^ Halpern (2009), hlm. 64.
- ^ a b Day (2000), hlm. 68.
- ^ Ayali-Darshan (2013), hlm. 652.
- ^ a b c d e Herrmann (1999a), hlm. 133.
- ^ a b c d Herrmann (1999a), hlm. 134.
- ^ Herrmann (1999a), hlm. 134–135.
- ^ Smith & al. (1899).
- ^ Batuman, Elif (18 December 2014), "The Myth of the Megalith", The New Yorker
- ^ Lewis, Theodore J. (2020). The Origin and Character of God: Ancient Israelite Religion through the Lens of Divinity. Oxford University Press. hlm. 73–118. ISBN 978-0190072544.
- ^ Allen, Spencer L (2015). The Splintered Divine: A Study of Istar, Baal, and Yahweh Divine Names and Divine Multiplicity in the Ancient Near East. Walter de Gruyter GmbH & Co KG. hlm. 216. ISBN 9781614512363.
- ^ Miller (2000), hlm. 32.
- ^ a b c d e f Herrmann (1999a), hlm. 135.
- ^ Uehlinger (1999), hlm. 512.
- ^ DULAT (2015), "šlyṭ".
- ^ Collins (1984), hlm. 77.
- ^ Deut. 33:12:HE.
- ^ 1 Sam. Sam.&chapter=2:10#HE 2:10:HE.
- ^ 2 Sam. Sam.&chapter=23:1#HE 23:1:HE.
- ^ Isa. 59:18:HE & [https://alkitab.sabda.org/?Isa%3A63%3A7&version=tb Isa
- 63:7].
- ^ Hos. 7:16:HE.
- ^ a b Herrmann (1999a), hlm. 132–133.
- ^ "Baal | ancient deity". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-08-04.
- ^ Moscati (2001), hlm. 132.
- ^ Lancel (1995), hlm. 197.
- ^ Lipiński (1992).
- ^ Xella et al. (2013).
- ^ Lancel (1995), hlm. 195.
- ^ Walbank (1979), hlm. 47.
- ^ Gibson (1982), hlm. 39 & 118.
- ^ Cross (1973), hlm. 26–28.
- ^ Lipiński (1994), hlm. 207.
- ^ a b Josephus, Antiquities, 8.13.1.
- ^ a b c BEWR (2006), "Baal".
- ^ Day (2000), hlm. 75.
- ^ 1 Kings Kings&chapter=18#HE 18:HE
- ^ 2 Kings Kings&chapter=23:5#HE 23:5:HE.
- ^ 2 Kings Kings&chapter=10:22#HE 10:22:HE
- ^ Herrmann (1999a), hlm. 136.
- ^ Ayles (1904), hlm. 103.
- ^ 1 Chron. Chron.&chapter=12:5#HE 12:5:HE.
- ^ Easton (1893), "Beali′ah".
- ^ Day (2000), hlm. 72.
- ^ ZPBD (1963).
- ^ 1 Chron. Chron.&chapter=9:40#HE 9:40:HE.
- ^ Judges 6:32:HE.
- ^ Hosea 2:16:HE
- ^ Kelle (2005), hlm. 137.
- ^ Irwin, Brian P. (1999). Baal and Yahweh in the Old Testament: A Fresh Examination of the Biblical and Extra-Biblical Data. University of St. Michael's College (Thesis).
- ^ van Oorschot, Jürgen; Witte, Markus (2019). The Origins of Yahwism. De Gruyter. hlm. 23–43. ISBN 978-3110656701.
- ^ a b Jgs. 8:33–34:HE.
- ^ Jgs. 9:1–5:HE.
- ^ Josh. 24:1–25:HE.
- ^ Jgs. 9:46:HE.
- ^ Smith (2002), Ch. 2.
- ^ Yehezkel Kaufmann, The Religion of Israel: From Its Beginnings to the Babylonian Exile (1972), p.138-139:
- ^ Deut. 4:1–40:HE
- ^ Jer. 11:12–13:HE
- ^ Smith 2002, hlm. 8.
- ^ Smith 2002, hlm. 8, 135.
- ^ Smith 2002, hlm. 9.
- ^ a b Arndt & al. (2000), hlm. 173.
- ^ Balz & al. (2004), hlm. 211.
- ^ a b AYBD (1992), "Beelzebul".
- ^ 2 Kings Kings&chapter=1:1–18#HE 1:1–18:HE.
- ^ Kohler (1902).
- ^ Lurker (1987), hlm. 31.
- ^ a b Herrmann (1999b).
- ^ Souvay (1907).
- ^ Wex (2005).
- ^ McIntosh (1989).
- ^ a b Bruce (1996).
- ^ Jongeling, K. (1994). North-African Names from Latin Sources (dalam bahasa Inggris). Research School CNWS. ISBN 978-90-73782-25-9.
- ^ Milton, Paradise Lost, Buku 1, baris 419–423.
- ^ a b Tottoli, Roberto. "Baal". Dalam Fleet, Kate; Krämer, Gudrun; Matringe, Denis; Nawas, John; Rowson, Everett (ed.). Encyclopaedia of Islam, THREE. Brill Online. doi:10.1163/1573-3912_ei3_COM_23985. ISSN 1873-9830.
- ^ Lina Amira. "Kisah Nabi Ilyas dalam Al-Qur'an Suci" (dalam bahasa Arab).
Ahmad Ghalwash, Dakwah Para Rasul, hlm. 391-39, 394.; Ibn al-Sam'ani, Tafsir Al-Sam'ani, hlm. 448.; Ahmad Hatiba, Tafsir Ahmad Hatiba, hlm. 8.; Abu Hafs Umar an-Nasafi, Tafsir An-Nasafi, hlm. 519.
- ^ "Tafsir Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an/at-Tabari (w. 310 H)" (dalam bahasa Arab).
- ^ "The Quranic Arabic Corpus - Quran Dictionary". corpus.quran.com. Diakses tanggal 2023-09-30.
- ^ Surah Hud 11:72
- ^ "The Quranic Arabic Corpus - Word by Word Grammar, Syntax and Morphology of the Holy Quran". corpus.quran.com. Diakses tanggal 2023-09-30.
- ^ "EFTA01589335" (PDF). Departemen Kehakiman Amerika Serikat. 30 Januari 2026.
- ^ Schenk, Maarten (2026-02-01). "Fact Check: NO 'Baal' Bank Account In Jeffrey Epstein Bank Transfer Document To JP Morgan – Likely Scanning Error". Yahoo News (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-02.
Sumber
sunting- Arndt, W.; Danker, F.W.; Bauer, W. (2000), A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed., Chicago: University of Chicago Press
- Ayali-Darshan, Noga (2013), "Baal, Son of Dagan: In Search of Baal's Double Paternity", Journal of the American Oriental Society, Vol. 133, No. 4, hlm. 651–657
- Ayles, H.H.B. (1904), A Critical Commentary on Genesis II.4-III.25, Cambridge: J. & C.F. Clay for the Cambridge University Press
- Balz, Horst R.; Schneider, Gerhard (2004), Exegetical Dictionary of the New Testament, vol. I, Grand Rapids: translated from the German for Wm. B. Eerdmans Publishing, ISBN 978-0802828033
- Bruce, Frederick Fyvie (1996), "Baal-Zebub, Beelzebul", dalam Marshall, I. Howard; Millard, Alan R.; Packer, J.I.; Wiseman, Donald J. (ed.), New Bible Dictionary, 3rd ed., Leicester: InterVarsity Press, hlm. 108, ISBN 978-0830814398
- Collins, John J. (1984), Daniel: with an Introduction to Apocalyptic Literature, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing, ISBN 9780802800206
- Cross, Frank Moore Jr. (1973), Canaanite Myth and Hebrew Epic: Essays in the History of the Religion of Israel, Cambridge: Harvard University Press, ISBN 9780674030084
- Day, John (2000), Yahweh and the Gods and Goddesses of Canaan, Sheffield Academic Press, ISBN 978-1850759867
- De Moor, Johannes Cornelius; Spronk, Klaas (1987), Hoftijzer, J.; Hospers, J.H. (ed.), A Cuneiform Anthology of Religious Texts from Ugarit: Autographed Texts and Glossaries, Leiden: E.J. Brill (Semitic Studies Series №VI), ISBN 90-04-08331-6
- Easton, Matthew George, ed. (1893), Illustrated Bible Dictionary and Treasury of Biblical History, Biography, Geography, Doctrine, and Literature with Numerous Illustrations and Important Chronological Tables and Maps, New York: Harper & Bros.
- Frassetto, Michael, ed. (2006), Britannica Encyclopedia of World Religions, New York: Encyclopædia Britannica, ISBN 978-1-59339-491-2
- Freedman, David Noel, ed. (1992), The Anchor Yale Bible Dictionary, vol. 1, New York: Doubleday, ISBN 978-0300140019
- Gibson, John Clark Love (1982), Textbook of Syrian Semitic Inscriptions, vol. III: Phoenician Inscriptions, Oxford: Oxford University Press, ISBN 9780198131991
- Halpern, Baruch (2009), Adams, M.J. (ed.), From Gods to God: The Dynamics of Iron Age Cosmologies, Tübingen: Mohr Siebeck (Ser. Forschungen zum Alten Testament, No. 63), ISBN 978-3-16-149902-9
- Herrmann, Wolfgang (1999a), "Baal", dalam Toorn, Karel van der; Becking, Bob; Horst, Pieter Willem van der (ed.), Dictionary of Deities and Demons in the Bible, 2nd ed., Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing, hlm. 132–139
- Herrmann, Wolfgang (1999b), "Baal Zebub", dalam Toorn, Karel van der; Becking, Bob; Horst, Pieter Willem van der (ed.), Dictionary of Deities and Demons in the Bible, 2nd ed., Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing, hlm. 154
- Huss, Werner (1985), Geschichte der Karthager, Munich: C.H. Beck, ISBN 9783406306549. (dalam bahasa Jerman)
- Kane, Thomas Leiper (1990), Amharic–English Dictionary, vol. I, Weisbaden: Otto Harrassowitz, ISBN 978-3-447-02871-4
Kohler, Kaufmann (1901–1906). "Beelzebub or Beelzebul". Jewish Encyclopedia. Vol. II. hlm. 629–630. - Kelle, Brad E. (2005), Hosea 2: Metaphor and Rhetoric in Historical Perspective, Society of Biblical Lit, hlm. 137
- Kramer, Samuel Noah (1984). Studies in Literature from the Ancient Near East: Dedicated to Samuel Noah Kramer (dalam bahasa Inggris). American Oriental Society. ISBN 978-0-940490-65-9.
- Lancel, Serge (1995), Carthage: A History, Wiley-Blackwell, translated from the French by Antonia Nevill, ISBN 978-1557864680
- Lipiński, Edward (1992), Dictionnaire de la civilisation phenicienne et punique [Dictionary of the Phoenician and Punic Civilization] (dalam bahasa Prancis), Brepols, ISBN 2-503-50033-1
- Lipiński, Edward (1994), Studies in Aramaic Inscriptions and Onomastics, Vol. II, Orientalia Lovaniensia Analecta, Vol. 57, Leuven: Orientaliste for Peeters Publishers, ISBN 90-6831-610-9
- Lurker, Manfred (1984), Lexicon der Götter und Dämonen [Dictionary of Gods and Demons], Stuttgart: Alfred Krämer Verlag, translated from the German for Routledge in 1987 as The Routledge Dictionary of Gods and Goddesses, Devils and Demons
- McIntosh, Duncan (1989), "Baal-Zebub", dalam Bromiley, Geoffrey W. (ed.), International Standard Bible Encyclopedia, Rev. ed., vol. I, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing, hlm. 381
- Miller, Patrick (2000), Israelite Religion and Biblical Theology: Collected Essays, Continuum Int'l Publishing Group, ISBN 1-84127-142-X
- Moscati, Sabatino (2001), The Phoenicians, Tauris, ISBN 1-85043-533-2
- Olmo Lete, Gregorio del; Sanmartin, Joaquin; Watson, Wilfred G.E., ed. (2015), Diccionario de la Lengua Ugarítica, 3rd ed., Leiden: translated from the Spanish for E.J. Brill as A Dictionary of the Ugaritic Language in the Alphabetic Tradition (Ser. Handbuch der Orientalistik [Handbook of Oriental Studies], Vol. 112), ISBN 978-90-04-28864-5
- Templat:Cite EJ
- Schniedewind, William; Hunt, Joel (2007), A Primer on Ugaritic: Language, Culture, and Literature, Cambridge: Cambridge University Press, ISBN 978-1139466981
- Smith, Mark S. (2002), The Early History of God: Yahweh and the Other Deities in Ancient Israel, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing
- Smith, William Robertson; Moore, George Foot (1899), "Baal", dalam Cheyne, Thomas Keith; Black, John Sutherland (ed.), Encyclopædia Biblica, vol. I, New York: Macmillan, hlm. 401–403
Smith, William Robertson (1878). . Dalam Baynes, T.S. (ed.). Encyclopaedia Britannica. Vol. 3 (Edisi 9th). hlm. 175–176. - Souvay, Charles (1907), "Baal, Baalim", Catholic Encyclopedia, vol. II, New York: Robert Appleton Co.
- Strong, James (1890), The Exhaustive Concordance of the Bible, Cincinnati: Jennings & Graham
- Tenney, Merrill C.; Barabas, Stevan; DeVisser, Peter, ed. (1963), The Zondervan Pictorial Bible Dictionary, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, ISBN 978-0310235606
- Uehlinger, C. (1999), "Leviathan", dalam Toorn, Karel van der; Becking, Bob; Horst, Pieter Willem van der (ed.), Dictionary of Deities and Demons in the Bible, 2nd ed., Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing, hlm. 511–515
- Walbank, Frank William (1979), A Historical Commentary on Polybius, vol. 2, Oxford: Clarendon Press
- Wehr, Hans; Cowan, J. Milton (1976), A Dictionary of Modern Written Arabic, Ithaca: Spoken Language Services, ISBN 0879500018
- Wex, Michael (2005), Born to Kvetch, New York: St Martin's Press, ISBN 0-312-30741-1
- Xella, Paolo; Quinn, Josephine; Melchiorri, Valentina; Van Domellen, Peter (2013), "Cemetery or sacrifice? Infant burials at the Carthage Tophet: Phoenician bones of contention", Antiquity, Vol. 87, No. 338, hlm. 1199–1207
Bacaan lanjutan
sunting- Russell, Stephen C.; Hamori, Esther J., ed. (2020), Mighty Baal: Essays in Honor of Mark S. Smith, Harvard Semitic Studies, vol. 66, BRILL, ISBN 978-90-04-43767-8
- Smith, M.S. (1994), The Ugaritic Baal Cycle, vol. I, Leiden: E.J. Brill, ISBN 978-90-04-09995-1
- Smith, M.S.; Pitard, W. (2009), The Ugaritic Baal Cycle, vol. II, Leiden: E.J. Brill, ISBN 978-90-04-15348-6
Pranala luar
sunting
. New International Encyclopedia. 1905. - Jewish Encyclopedia (1901–1906) "Baʻal", "Baʻal and Baʻal Worship", "Baal-Berith", "Baal-Peor", "Baalim", "Astarte Worship among the Hebrews", &c., Jewish Encyclopedia, New York: Funk & Wagnalls