Raja Belanda
Koning der Nederlanden
Sedang berkuasa
Willem-Alexander
sejak 30 April 2013 (2013-04-30)
Perincian
Sapaan resmiYang Mulia (Zijne Majesteit)
PewarisCatharina-Amalia, Putri Oranye
Penguasa pertamaWillem I dari Belanda
KediamanIstana Raja Amsterdam
Istana Noordeinde
Huis ten Bosch
PenunjukHereditas
Situs webwww.royal-house.nl

Monarki Belanda adalah monarki konstitusional. Dengan demikian, peran dan posisi monarki ditentukan dan dibatasi oleh Konstitusi Belanda. Sehingga, sebagian besar isi konstitusi dikhususkan untuk monarki. Kira-kira sepertiga dari dokumen tersebut menjelaskan suksesi, mekanisme aksesi & turun takhta, serta peran dan tugas monarki. Ini termasuk formalitas komunikasi antara Dewan Negara dan peran monarki dalam menciptakan undang-undang.

Kerajaan Belanda telah menjadi monarki independen sejak 16 Maret 1815, tetapi provinsi yang dulunya berdaulat telah sesekali "diperintah" oleh anggota Wangsa Oranye-Nassau dan Wangsa Nassau dari tahun 1559, ketika Felipe II dari Spanyol menunjuk Willem dari Oranye sebagai stadhouder hingga 1747.

Willem menjadi pemimpin Pemberontakan Belanda dan Republik Belanda yang merdeka. Sebagai stadhouder, ia diteruskan oleh beberapa keturunannya. Pada tahun 1747, fungsi stadhouder menjadi posisi turun-temurun di semua provinsi di Republik Belanda yang "dimahkotai" itu. Stadhouder terakhir adalah Willem V.

Siklus monarki dijelaskan dalam bagian pertama Bab 2 Konstitusi Belanda, yang didedikasikan untuk kabinet. Willem-Alexander telah menjadi Raja Belanda sejak 30 April 2013.

Sejarah

sunting

Sebelum Revolusi Batavia tahun 1795, provinsi semi-independen di Belanda memiliki kepala eksekutif yang disebut stadhouder, yang semuanya diambil dari Wangsa Oranye atau Wangsa Nassau secara primogenitur. Setelah tahun 1747, jabatan tersebut secara resmi menjadi turun-temurun di ketujuh provinsi di Wangsa Oranye-Nassau.

Willem dari Oranye, pemimpin Pemberontakan Belanda dan pendiri Wangsa Oranye-Nassau

Wangsa Oranye-Nassau berasal dari Diez di Jerman, psuat dari salah satu wilayah Nassau. Gelar "Pangeran Oranye" diperoleh melalui pewarisan Kepangeranan Orange di selatan Prancis pada tahun 1544. Willem dari Oranye (juga dikenal sebagai Willem Sang Pendiam) adalah stadhouder Oranye pertama (yang secara ironis ditunjuk oleh Felipe II dari Spanyol). Dari tahun 1568 hingga kematiannya pada tahun 1584, ia memimpin perjuangan kemerdekaan Belanda dari Spanyol. Adik laki-lakinya, Johann VI, Pangeran Nassau-Dillenburg, Stadhouder dari Utrecht, adalah garis patrilineal langsung dari Stadtholder Friesland dan Groningen, stadhouder turun-temurun di kemudian hari dan Raja Belanda pertama.

Secara resmi, Belanda tetap menjadi sebuah republik konfederasi, bahkan pada tahun 1747 ketika jabatan stadhouder disentralisasi (satu stadhouder untuk semua provinsi) dan secara resmi menjadi turun-temurun di bawah Wangsa Oranye-Nassau.

Monarki saat ini didirikan pada tahun 1813 ketika Prancis berhasil diusir Belanda. Rezim baru yang dipimpin oleh Pangeran William Frederick dari Orange, putra stadhouder terakhir. Awalnya dia hanya memerintah wilayah di republik lama sebagai "pangeran berdaulat". Pada tahun 1815, setelah Napoleon melarikan diri dari Elba, William Frederick mengangkat status Belanda sebagai kerajaan dan memproklamirkan dirinya sebagai Raja Willem I. Sebagai bagian dari pengturan kembali Eropa di Kongres Wina, Wangsa Oranye-Nassau dikukuhkan sebagai penguasa Kerajaan Belanda, ditambah dengan apa yang kini menjadi bagian dari Belgia dan Luksemburg. Pada saat yang sama, Willem menjadi Adipati Agung Luksemburg secara turun-temurun dengan imbalan menyerahkan tanah warisan keluarganya di Jerman kepada Nassau-Weilburg dan Prusia. Kadipaten Agung Luksemburg adalah bagian dari Belanda (sampai 1839), sementara di saat yang sama menjadi negara anggota Konfederasi Jerman. Mereka sepenuhnya merdeka pada tahun 1839, tetapi masih dalam uni personal dengan Kerajaan Belanda sampai tahun 1890.[1][2][3][4]

Penurunan takhta telah menjadi tradisi de facto di monarki Belanda. Ratu Wilhelmina dan Ratu Juliana keduanya turun takhta demi putri mereka, dan Willem I turun takhta demi putra sulungnya Willem II. Satu-satunya raja Belanda yang meninggal selama bertakhta adalah Willem II dan Willem III.

Pada 30 April 2013, Ratu Beatrix turun takhta demi Putra Mahkota Willem-Alexander.

Gelar lengkap

sunting

Sebagian besar anggota keluarga kerajaan Belanda, selain gelar lainnya, juga memegang (atau pernah memegang) gelar pangeran "Pangeran Oranye-Nassau". Anak-anak Pangeran Friso dan Pangeran Constantijn memiliki gelar adipati (count) dan adipati wanita (countess) Oranye-Nassau. Selain gelar Raja/Pangeran Belanda dan Pangeran Oranye-Nassau, putri-putri Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard dari Lippe-Biesterfeld juga memiliki gelar lain — Putri Lippe-Biesterfeld. Anak-anak Ratu Beatrix dan keturunan garis laki-lakinya (kecuali anak-anak Raja Willem-Alexander) juga menyandang sebutan kehormatan Jonkheer/Jonkvrouw disertai nama "Van Amsberg".

Ratu Juliana, anak tunggal Ratu Wilhelmina dan Adipati Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin, juga bergelar Adipati Besar Wanita (Duchess) Mecklenburg-Schwerin. Karena gelar ini hanya diwariskan lewat garis laki-laki, keturunan Ratu Juliana tidak lagi memegang gelar tersebut.

Gelar Pangeran Belanda hanya diberikan kepada anggota paling penting dari keluarga kerajaan (anak-anak raja dan pewaris takhta). Anggota keluarga kerajaan dapat kehilangan keanggotaannya bila menikah tanpa izin parlemen.

Selain itu, Raja Belanda juga memiliki sejumlah gelar tambahan yang bersifat historis, diwariskan melalui Wangsa Oranye-Nassau, mencerminkan akumulasi wilayah dan pengaruh leluhur mereka:

Adipati Limburg, Pangeran Katzenelnbogen, Vianden, Diez, Spiegelberg, Buren, Leerdam, dan Culemborg; Markis Veere dan Vlissingen; Baron Breda, Diest, Beilstein, kota Grave dan tanah Cuyk, IJsselstein, Cranendonk, Eindhoven, dan Liesveld; Tuan turun-temurun Ameland; serta Tuan Borculo, Bredevoort, Lichtenvoorde, ’t Loo, Geertruidenberg, Klundert, Zevenbergen, Hoge dan Lage Zwaluwe, Naaldwijk, Polanen, St. Maartensdijk, Soest, Baarn dan Ter Eem, Willemstad, Steenbergen, Montfort, St. Vith, Bütgenbach dan Dasburg; serta Vikom Antwerpen.[5][6]

Dari semua gelar ini, yang paling penting adalah Baron Breda, yang menjadi pusat wilayah Nassau di Belanda (Brabant) bahkan sebelum mereka mewarisi Kepangeranan Orange di Prancis selatan. Setelah itu menyusul Vikom Antwerpen, yang memberi Willem Sang Pendiam pengaruh besar di kota penting tersebut, dan Markis Veere, yang memungkinkannya serta keturunannya mengendalikan suara di provinsi Zeeland.[7][8][9][10][11]

Keluarga

sunting

Di Belanda, terdapat perbedaan antara keluarga kerajaan dan wangsa kerajaan. Keluarga kerajaan mencakup orang yang lahir dalam keluarga (dan diakui secara hukum) atau yang menikah masuk ke dalamnya. Namun, tidak semua anggota keluarga kerajaan termasuk dalam wangsa kerajaan.

Menurut Undang-Undang Parlemen, anggota wangsa kerajaan adalah:[12]

  • Raja atau Ratu yang berkuasa;
  • Mantan raja/ratu (setelah turun takhta);
  • Anggota keluarga kerajaan yang berada dalam garis suksesi takhta dan tidak lebih dari dua derajat hubungan darah dari raja;
  • Putri Margriet dari Belanda;
  • Serta pasangan dari mereka di atas.

Anggota wangsa kerajaan dapat kehilangan keanggotaan dan gelar pangeran/putri Belanda jika menikah tanpa izin Parlemen Belanda. Hal ini terjadi pada Pangeran Friso ketika ia menikahi Mabel Wisse Smit, sebagaimana tercantum dalam Konstitusi Belanda yang mengatur monarki.[12]

Daftar monarki Belanda

sunting

Lambang

sunting

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Thewes, Guy (2006) (PDF). Les gouvernements du Grand-Duché de Luxembourg depuis 1848 (2006), p. 208
  2. ^ "LUXEMBURG Geschiedenis | Landenweb.nl". www.landenweb.nl. Diakses tanggal 2022-06-15.
  3. ^ "The World Factbook – Central Intelligence Agency". www.cia.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-02-27. Diakses tanggal 2022-06-15.
  4. ^ Microsoft Encarta Encyclopedia 1997
  5. ^ Koninklijkhuis (2013). "Frequently asked questions re King William-Alexander". Rijksvoorlichtingsdienst (RVD). Diarsipkan dari asli (web) tanggal 21 June 2013. Diakses tanggal 30 May 2013. The King's full official titles are King of the Netherlands, Prince of Orange-Nassau, Jonkheer van Amsberg, Count of Katzenelnbogen, Vianden, Diez, Spiegelberg, Buren, Leerdam and Culemborg, Marquis of Veere and Vlissingen, Baron of Breda, Diest, Beilstein, the town of Grave and the lands of Cuyk, IJsselstein, Cranendonk, Eindhoven and Liesveld, Hereditary Lord and Seigneur of Ameland, Lord of Borculo, Bredevoort, Lichtenvoorde, 't Loo, Geertruidenberg, Klundert, Zevenbergen, Hoge and Lage Zwaluwe, Naaldwijk, Polanen, St Maartensdijk, Soest, Baarn and Ter Eem, Willemstad, Steenbergen, Montfort, St Vith, Bütgenbach and Dasburg, Viscount of Antwerp.
  6. ^ "The Netherlands: Princely and Royal Style: 1813–2013". Archontology.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 June 2017. Diakses tanggal 6 August 2013.
  7. ^ Motley, John Lothrop (1855). The Rise of the Dutch Republic, vol. 2. Harper & Brothers. hlm. 37.
  8. ^ Young, Andrew (1886). A Short History of the Netherlands (Holland and Belgium). Netherlands: T. F. Unwin. hlm. 315. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 July 2024. Diakses tanggal 27 October 2020.
  9. ^ Putnam, Ruth (1895). William the Silent, Prince of Orange: the moderate man of the sixteenth century : the story of his life as told from his own letters, from those of his friends and enemies and from official documents, Volume 1. Putnam. hlm. 211. viscount of antwerp.
  10. ^ Parker, Geoffrey (2002). The Dutch Revolt. Penguin.
  11. ^ Rowen, Herbert H. (1990). The Princes of Orange: The Stadholders in the Dutch Republic. Cambridge Univ. Press. In 1582 William the Silent purchased the marquisate of Veere and Vlissingen. It had been the property of Philip II since 1567, but had fallen into arrears to the province. In 1580 the Court of Holland ordered it sold. William bought it as it gave him two more votes in the States of Zeeland. He owned the government of the two towns, and so could appoint their magistrates. He already had one as First Noble for Philip William, who had inherited Maartensdijk. This made William the predominant member of the States of Zeeland. It was a smaller version of the countship of Zeeland (& Holland) promised to William, and was a potent political base for his descendants.
  12. ^ a b "The Official Website of the Dutch Royal House in English". Diarsipkan dari asli tanggal 25 March 2011. Diakses tanggal 26 April 2011.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Konflik bahasa di Belgia

 Wezembeek-Oppem 15. Herstappe 16. Voeren 17. Malmédy 18. Waimes 19-22. Lontzen, Raeren, Eupen, Kelmis 23-27. Burg-Reuland, Sankt Vith, Amel, Bütgenbach, Büllingen

Daftar gelar dan Tanda Kehormatan Beatrix dari Belanda

Maartensdijk, Soest, Baarn, Ter Eem, Willemstad, Steenbergen, Montfort, St Vith, Bütgenbach, Dasburg, Niervaart, Turnhout dan Besançon H.M. (koningin Beatrix) Beatrix

Daftar kode pos di Belgia

Neu-Moresnet 4728 Hergenrath 4730 Hauset Raeren 4731 Eynatten 4750 Butgenbach Bütgenbach Elsenborn 4760 Bullange Büllingen Manderfeld 4761 Rocherath 4770

Liège (provinsi)

12. Blegny 13. Braives 14. Büllingen 15. Burdinne 16. Burg-Reuland 17. Bütgenbach 18. Chaudfontaine 19. Clavier 20. Comblain-au-Pont 21. Crisnée 22. Dalhem