Kaisar Wen dari Wei
้ญๆ–‡ๅธ
Lukisan Dinasti Tang menggambarkan Cao Pi dan dua menteri disisinya
Kaisar Cao Wei
Berkuasa11 Desember 220[1] โ€“ 29 Juni 226
PenerusCao Rui
Raja Wei
(dibawah Dinasti Han)
Masa jabatan15 Maret 220 โ€“ 11 Desember 220
PendahuluCao Cao
Kanselir Kekaisaran (ไธž็›ธ)
(dibawah Dinasti Han)
Masa jabatan15 Maret 220 โ€“ 11 Desember 220
PendahuluCao Cao
Kelahirancaakhir 187[2]
Kabupaten Qiao, Komando Pei, Dinasti Han
Kematian29 Juni 226(226-06-29) (umurย 38โ€“39)[3]
Luoyang, Cao Wei
Pemakaman
Mausoleum Shouyang (้ฆ–้™ฝ้™ต), Shouyang, Henan
Istri
Keturunan
Nama lengkap
Marga: Cao (ๆ›น)
Nama: Pi (ไธ•)
Nama kehormatan: Zihuan (ๅญๆก“)
Nama dan tanggal periode
Huangchu (้ป„ๅˆ):ย 220โ€“226
Nama anumerta
Kaisar Wen (ๆ–‡ๅธ)
Nama kuil
Gaozu (้ซ˜็ฅ–)
WangsaWangsa Cao
DinastiCao Wei
AyahCao Cao
IbuPermaisuri Wuxuan

Cรกo Pฤซ (ๆ›นไธ•, 187 - 226)[4] yang secara formal dikenal sebagai Kaisar Wen dari (Cao) Wei (ๆ›น้ญๆ–‡ๅธ), atau juga dikenal dengan nama kehormatan Zihuan (ๅญๆก“), lahir di Distrik Qiao, Wilayah Pei (sekarang dikenal dengan daerah Bozhou, Anhui). Dia adalah anak kedua dari politisi dan pengarang Tiongkok pada zaman Tiga Kerajaan yang terkenal, Cao Cao, tetapi anak pertama dari selir (kemudian istri resmi) Permaisuri Bian. Menurut beberapa catatan sejarah, Cao Pi kerap hadir di persidangan pemerintah Cao Cao untuk menggalang dukungan dari pejabat. Ia lebih banyak mengurus pertahanan pada awal karirnya. Setelah kekalahan rival Cao Cao, Yuan Shao di Pertempuran Guandu, Cao Pi menikahi istri Yuan Xi, Zhen Ji sebagai selirnya. Namun pada 221, Zhen Ji meninggal dan ia mengangkat selirnya Guo Nรผwang sebagai Permaisuri.

Pada tahun 220,[5] Cao Pi memaksa Kaisar Xian, penguasa terakhir dari Dinasti Han, untuk menyerahkan takhta kepadanya, dan dia memproklamirkan diri sebagai kaisar serta mendirikan negara Cao Wei. Cao Pi melanjutkan perang melawan negara Shu Han dan Dong Wu, yang didirikan oleh rival ayahnya, Liu Bei dan Sun Quan, tetapi perang tersebut tidak memberikan keuntungan teritorial yang signifikan. Tidak seperti ayahnya, Cao Pi lebih berkonsentrasi pada administrasi internal daripada memerangi rival-rivalnya. Selama pemerintahannya, ia secara resmi menetapkan sistem sembilan tingkat Chen Qun sebagai dasar untuk memilih pegawai pemerintah, yang menghasilkan aparat yang berkompetensi. Di sisi lain, ia secara drastis mengurangi kekuasaan para pangeran, menghilangkan kemampuan mereka untuk melawannya, tetapi pada saat yang sama, hal ini mengakibat mereka tidak dapat membantu kaisar jika krisis muncul. Setelah kematian Cao Pi, penerusnya, Cao Rui menganugerahi nama anumerta "Penguasa Wen daro (Cao) Wei" dan nama kuil "Gaozu".

Seperti ayahnya Cao Cao dan adiknya Cao Zhi, Cao Pi juga merupakan seorang penyair yang cukup terkemuka. Ketiganya disebut sebagai "Tiga Cao" di sejarah sastra Tiongkok. Ia menulis Yan Ge Xing (็‡•ๆญŒ่กŒ), puisi Tionghoa pertama yang memiliki 7 suku kata per bait (ไธƒ่จ€่ฉฉ). Dia juga menulis lebih dari seratus artikel tentang berbagai topik.

Latar belakang keluarga dan awal karier

sunting

Cao Pi lahir pada musim dingin 187 di Kabupaten Qiao, Komando Pei (sekarang Bozhou, Anhui). Cao Pi adalah seorang pria yang memiliki bakat baik di bidang sipil maupun militer. Ia menguasai panahan pada usia enam tahun, dan dapat menulis, berkuda, dan menembak pada usia delapan tahun. Cao Pi gemar bermain anggar, banyak membaca buku klasik kuno dan modern, dan menguasai teori berbagai aliran pemikiran.[6][7]

Ia adalah putra sulung Cao Cao dari selirnya, Nyonya Bian, tetapi ia merupakan putra kedua Cao Cao. Ia memiliki seorang kakak, Cao Ang. Saat Cao Pi lahir pada 187, Cao Cao adalah seorang perwira tingkat menengah dalam pengawal kekaisaran di ibu kota Luoyang, tanpa petunjuk bahwa ia akan melanjutkan kampanye besar yang akhirnya ia lakukan setelah runtuhnya pemerintahan kekaisaran pada tahun 190. Cao Pi tercatat sebagai pendekar pedang yang hebat karena ia belajar seni bela diri dari Shi E, seorang pria dari keluarga bangsawan dari divisi "Cepat Seperti Harimau" (่™Ž่ณ) dari pengawal kekaisaran.[8]

Pada 197, Cao Pi mengikuti ayah dan kakaknya, Cao Ang ke Pertempuran Wancheng. Cao Ang beserta sepupunya, Cao Anmin dan pengawal pribadi ayahnya Dian Wei gugur dalam pertempuran tersebut sementara Cao Pi cukup beruntung melarikan diri dengan kuda.[9] Nyonya Ding, istri pertama Cao Cao, menceraikannya karena ia menyalahkan Cao Cao atas kematian putra angkatnya, Cao Ang. Ibu kandungnya, Nyonya Bian, dijadikan istri pertamanya, dan Cao Pi, yang awalnya adalah putra sulung seorang selir, menggantikan kakak laki-lakinya, Cao Ang, dan menjadi putra sulung.

Pada 200, Cao Pi mengikuti ayahnya di Pertempuran Guandu.[10] Setelah Yuan Shao meninggal, Cao Cao melancarkan kampanye untuk melawan sisa kekuatan Yuan Shao yang terdiri dari ketiga anaknya, Yuan Tan, Yuan Xi, dan Yuan Shang. Pada 204, setelah Cao Cao mengalahkan Yuan Shang dan menduduki Ye sembari membantai penduduk sekitar, para wanita di rumah Yuan diperkosa sementara Cao Pi mengambil istri Yuan Xi,[11] Zhen Ji sebagai istrinya.[12] Pada 207, Cao Pi ikut ayahnya di Pertempuran Gunung Serigala Putih[13] dan tahun depannya ikut berperang di Pertempuran Chibi.[14]

Perselisihan taktha dengan Cao Zhi

sunting

Referensi langsung berikutnya mengenai aktivitas Cao Pi adalah pada tahun 211, saat ia diangkat menjadi Jenderal Rumah Tangga untuk Semua Keperluan (ไบ”ๅฎ˜ไธญ้ƒŽๅฐ‡) dan Wakil Kanselir Kekaisaran (ๅ‰ฏไธž็›ธ).[15] Posisi ini merupakan posisi terkuat kedua dibawah kanselir agung yang dijabat Cao Cao yang secara de facto menjadi kepala pemerintahan seluruh Tiongkok. Karena putra sulung Cao Cao, Cao Ang, meninggal muda, Cao Pi dianggap sebagai putra sulung di antara seluruh putra Cao Cao. Selain itu, karena Nyonya Ding cerai dengan Cao Cao, Nyonya Bian menjadi istri resmi Cao Cao, membuat Cao Pi menjadi pewaris dugaan untuk ayahnya. Pada 212-213, Cao Pi berpartisipasi dalam Pertempuran Ruxu.[16]

Namun, status Cao Pi sebagai ahli waris tidak berlangsung mulus begitu saja karena Cao Cao memiliki keraguan dalam memilih ahli warisnya. Cao Cao awalnya menyukai Cao Chong yang terkenal pintar dan kemudian setelah Cao Chong meninggal, menyukai Cao Zhi (putra ketiga dari Nyonya Bian) yang sangat berbakat dalam bersastra. Cao Pi dan Cao Zhi keduanya merupakan sastrawan berbakat, tetapi Cao Zhi lebih dihormati sebagai seorang penyair dan pembicara. Dalam sebuah insiden yang dikenal sebagai 'Insiden di Gerbang' yang terjadi diantara tahun 214 sampai 217, Cao Cao memanggil Cao Zhi dan Cao Pi untuk keluar dari istana melalui gerbang yang ditujukan oleh masing-masing putra dengan tantangan yang sama untuk menguji keduanya mengenai kepatuhan dan ketegasan. Cao Pi menuruti perintah dengan menghancurkan penghalang yang menghalangi jalannya menggunakan kereta kudanya, menunjukkan tekadnya, sementara Cao Zhi, yang dinasihati oleh pendukungnya Yang Xiu untuk mematuhi protokol secara ketat tanpa perubahan, menunda dan melanggar batasan penggunaan, sehingga menimbulkan ketidaksetujuan Cao Cao karena kekakuan dan potensi ketergantungan yang berlebihan pada nasihat para cendekiawan.[17]

Pada 215, kedua saudara tampak akur, tetapi masing-masing memiliki kelompok pendukung dan rekan dekatnya sendiri yang terlibat dalam persaingan rahasia dengan pihak lain. Awalnya, kubu Cao Zhi tampak menang, dan pada 216 berhasil menyingkirkan dua pendukung besar Cao Pi - Cui Yan dan Mao Jie atas tuduhan korupsi palsu. Cui Yan dieksekusi mati sementara Mao Jie disingkirkan. Namun Cao Pi mendapatkan dukungan yang lebih besar setelah Jia Xu dan Huan Jie membujuk Cao Cao dengan menggunakan Yuan Shao dan Liu Biao sebagai contoh negatif kenapa Cao Cao tidak boleh mengganti peraturan umum mengenai ahli waris (primogenitur). Yuan Shao dan Liu Biao mengangkat putra bungsu mereka sebagai pewarisnya, maka banyak yang berharap Cao Cao tidak memutuskan ke arah tersebut. Selain itu, Cao Pi juga membangun citranya di hadapan rakyat dan menciptakan kesan bahwa Cao Zhi adalah orang yang boros dan kurang memiliki bakat dalam pemerintahan. Akhirnya pada 217, setelah Cao Cao diangkat menjadi raja vasal Raja Wei oleh Kaisar Xian dari Han, ia mengangkat Cao Pi menjadi ahli warisnya (ไธ–ๅญ). Cao Pi tetap memegang status tersebut sampai Cao Cao meninggal pada Maret 220.

Raja Wei

sunting

Cao Cao meninggal pada musim semi 220 di Luoyang. Walaupun Cao Pi sudah ditunjuk oleh ayahnya sebagai putra mahkotanya untuk sekian tahun, terjadi kekacauan mengenai siapa yang akan menggantikan Cao Cao dan apa yang akan kemudian terjadi. Kekhawatiran ini semakin meningkat ketika setelah mendengarkan kematian Cao Cao, Korps Qingzhou pimpinan Zang Ba tiba-tiba mundur, meninggalkan Luoyang dan pulang rumah. Ini kemudian diperparah dengan Cao Zhang (adik kandungnya dari Permaisuri Bian) yang tiba-tiba bergegas kembali ke Luoyang dari Chang'an, menyebabkan rumor bahwa ia akan melancarkan kudeta melawan kakak tuanya. Setelah mendengarkan berita bahwa Cao Cao meninggal, Cao Pi dengan cepat mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Wei dan menerbitkan titah atas nama ibunya, Ratu Permaisuri Bian sebelum mendapatkan izin resmi dari Kaisar Xian dari Han, di mana ia secara nominal masih tunduk kepadanya.

Mendengarkan deklarasi itu, Cao Zhang dan saudara lainnya tidak bertindak apapun yang melawan Cao Pi. Cao Pi kemudian meminta seluruh saudaranya, termasuk Cao Zhang dan Cao Zhi, untuk kembali ke wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Dengan bantuan Jiang Ji, situasi politik terstabilisasi.

Di Kisah Tiga Kerajaan

sunting

Di Kisah Tiga Negara karya Luo Guanzhong, konflik warisan keluarga Cao Cao berlangsung singkat dengan Cao Pi muncul sebagai Raja Wei setelah Cao Cao meninggal. Namun di kisah ini, kejadian-kejadian yang terjadi antara Cao Pi dengan saudaranya Cao Zhang dan Cao Zhi didramatisasi.

Cao Zhang

sunting

Tidak lama setelah Cao Cao meninggal, Cao Pi mendengar berita bahwa Cao Zhang membawa sebanyak 100,000 tentara dari Chang'an menuju ke Luoyang. Cao Pi merasa ketakutan dan merasa bahwa Cao Zhang ingin merebut kekuasaan darinya dengan kekuatan tentara yang ia miliki. Penasihat Cao Pi, Jia Kui kemudian bersukarela pergi menuju ke kamp tentara Cao Zhang untuk membujuknya untuk berhenti. Jia Kui menyambut Cao Zhang didepan kota dan menanyakannya apakah ia datang sebagai orang yang berkabung atau ingin mengambil kekuasaan. Cao Zhang menjawab bahwa ia datang untuk berkabung tanpa motif tersembunyi. "Jika itu jawabanmu, lalu kenapa bawa tentara?" Jia Kui bertanya lagi. Cao Zhang kemudian memerintah pasukannya untuk tunggu diluar kota dan ia masuk seorang diri. Saat kedua saudara itu saling bertatap muka, keduanya berpelukan dan merasa terharu. Cao Zhang memberikan kekuasaan militernya kepada Cao Pi dan kembali ke wilayah kekuasaannya. Pemerintahan Cao Pi aman dalam segi militer setelah itu.

Cao Zhi

sunting

Cao Pi memimpin prosesi upacara kematian ayahnya dan Cao Zhi tidak hadir di acara tersebut. Pengawal yang diutus Cao Pi menemukan Cao Zhi yang mabuk di kediamannya. Cao Pi lantas memerintahnya untuk ditangkap dan awalnya ingin menghukumnya mati. Namun, Permaisuri Bian meminta Cao Pi untuk meringankan hukumannya. Kanselir Hua Xin membujuk Cao Pi untuk mengampuni Cao Zhi dengan menguji bakatnya sebagai seorang cedekiawan. Jika Cao Zhi gagal di ujian ini, maka Cao Pi diperbolehkan mengeksekusi Cao Zhi.

Setelah Cao Zhi memohon Cao Pi untuk mengampuni kesalahannya, Cao Pi memandang lukisan dua banteng yang sedang bertarung, salah satunya terlihat akan jatuh ke suatu sumur. Cao Pi lantas meminta Cao Zhi untuk membuatkan sebuah puisi setelah tujuh langkah, tetapi puisi itu tidak boleh ada referensi dari lukisan tersebut. Cao Zhi membuat puisi tersebut tetapi Cao Pi belum tertampak puas. Ia kemudian memintanya untuk membuat satu syair lagi dengan tema "persaudaraan" tetapi ia tidak boleh menggunakan kata "saudara". Ini kemudian menjadi Ayat Tujuh Langkah, puisi terkenal karya Cao Zhi. Cao Pi yang mendengarkan puisi tersebut terisak air mata dan meringankan hukumannya dari hukuman mati menjadi turun pangkat.

Kaisar Tiongkok

sunting

Merebut takhta dari Kaisar Xian

sunting

Pada musim dingin 220, Cao Pi mulai bermanuver untuk merebut kursi Kaisar, dengan lantang menyarankan Kaisar Xian dari Han bahwa sang kaisar harus mundur. Kaisar Xian mengajukan pengunduran dirinya tetapi Cao Pi tiga kali menolak pengunduran diri tersebut (sebuah model yang diterapkan oleh perebut kekuasaan selanjutnya di sejarah Tiongkok) dan akhirnya menerimanya pada 25 November 220, mendirikan negara Cao Wei dan mengakhiri Dinasti Han, serta memulaikan Zaman Tiga Negara. Kaisar Xian yang turun takhta diberi gelar Adipati Shanyang (ๅฑฑ้™ฝๅ…ฌ). Ia kemudian memberikan gelar anumerta kepada ayahnya Cao Cao sebagai Kaisar Wu dari Wei dan kakeknya, Cao Song juga sebagai kaisar anumerta sementara menunjuk ibunya, Permaisuri Bian menjadi janda permaisuri. Ia juga memindahkan ibukota dari Xuchang menuju ke Luoyang.

Kegagalan melawan Sun Quan

sunting

Setelah berita tiba di Provinsi Yi (wilayah Sichuan dan Chongqing masa kini) bahwa Cao Pi naik taktha (dan juga berita hoax bahwa Cao Pi membunuh Kaisar Xian), Liu Bei juga mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar pada Mei 221, mendirikan Shu Han. Sun Quan yang menguasai wilayah Tiongkok timur dan tenggara tidak langsung mendeklarasikan dirinya kaisar dan membuka segala opsi negosiasi.

Titah pertama Liu Bei sebagai kaisar adalah mendeklarasikan perang melawan Sun Quan. Ini karena pada 219, Sun Quan mengirim Lรผ Meng untuk menginvasi Provinsi Jing dan merebut wilayah tersebut dari Liu Bei, serta membunuh Guan Yu. Untuk menghindari kemungkinan pertempuran dua sisi, Sun Quan mulai secara formal bertekuk lutut kepada Cao Pi, mengungkapkan keinginannya sebagai vasal untuk Cao Wei. Strategis Cao Pi Liu Ye menyarankan agar Cao Pi menolak permintaan Sun Quan dan ikut bergabung menginvasi Sun Quan bersama Liu Bei. Ini secara efektif membagi wilayah Dong Wu dengan Shu Han dan pada akhirnya Wei bisa menaklukkan Shu untuk menyatukan Tiongkok kembali. Namun, usulan ini ditolak Cao Pi dan keputusan ini menjadi kesalahan fatalnya menurut para sejarawan karena kekaisarannya tersangkut hanya memerintah di Tiongkok utara dan tengah; kesempatan seperti itu tidak pernah datang kembali. Melawan saran Liu Ye, Cao Pi memberikan gelar "Raja Wu" kepada Sun Quan dan sembilan anugerah.

Sun Quan tidak lama kemudian mulai memerdekakan diri. Setelah pasukannya yang dipimpin oleh Lu Xun berhasil mengalahkan Liu Bei di Pertempuran Xiaoting pada 222, Sun Quan mulai menjauhkan diri dari Cao Wei. Saat Cao Pi memerintah agar Sun Quan mengirimkan putra sulungnya, Sun Deng ke Luoyang sebagai tahanan, Sun Quan menolak dan mematahkan hubungannya dengan Cao Wei, mendirikan Dong Wu (namun masih memerintah sebagai raja sebelum mendeklarasikan dirinya kaisar pada 229). Dalam waktu ini, moril pasukan Wu berada di puncak setelah berhasil mengalahkan Shu dan diperkuat oleh kepemimpinan efektif dari Sun Quan, Lu Xun dan beberapa perwira lainnya. Dinasti Han secara efektif terbagi menjadi tiga, khususnya setelah kematian Liu Bei pada 223. Kanselir agung Shu Zhuge Liang yang menjabat sebagai wali penguasa bagi anak Liu Bei, Liu Shan, menghidupkan kembali aliansi Sun-Liu, menyebabkan Cao Wei harus bertahan dari serangan dua sisi dan tidak bisa hanya menaklukan salah satu dari mereka. Merasa jengkel, Cao Pi secara terkenal mengeluh bahwa "Tuhan menciptakan Sungai Yangtse untuk membagi utara dan selatan".[18]

Urusan internal

sunting

Cao Pi pada umumnya dilihat sebagai kaisar yang kompeten dalam memerintah, tetapi tidak begitu bagus. Ia mengangkat beberapa pejabat yang berbakat untuk menjabat posisi penting di berbagai bidang dalam kekaisaranya, mengikuti kaidah pemerintah yang dicanangkan ayahnya dengan menimbangkan bakat dibandingkan status. Namun, Cao Pi juga kadang menunjukkan sikap anti-kritik, di mana pejabat yang mengkritiknya langsung diberikan hukuman turun pangkat, dipecat, dan pada kasus langka, hukuman mati.

Cao Pi mereformasi sistem seleksi dan atas saran Chen Qun, mengadopsi Sistem Sembilan Tingkat. Sejarawan Tiongkok Yi Zhongtian percaya bahwa Sistem Sembilan Tingkat membentuk dan mengkonsolidasikan hak istimewa politik para bangsawan dan memperoleh dukungan mereka terhadap rezim Cao Wei.[19] Ia sangat mementingkan budaya dan pendidikan, dan juga menghargai para sarjana Konghucu sebagai pejabat.[20] Pada 221, Cao Pi mengeluarkan titah kepada semua kabupaten dan prefektur dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa untuk memilih satu pejabat yang berbakti dan jujur setiap tahun. Jika ada orang yang memiliki bakat luar biasa, mereka tidak akan dikenakan pembatasan pendaftaran rumah tangga. Pada tahun kelima Huangchu, keturunan Konghucu, Kong Xian diberikan gelar Marquis Zongsheng. Kuil Konfusius dibangun kembali, Konfusianisme dipromosikan di berbagai tempat, Universitas Kekaisaran didirikan, sistem ujian Lima Klasik dilembagakan, dan Doktor Guliang Musim Semi dan Musim Gugur didirikan sehingga dapat menghidupkan kembali budaya ortodoks feodal dalam jangka pendek.

Ia menghapuskan larangan, mengurangi tarif, melarang dendam pribadi, membahas pengurangan hukuman, dan mengizinkan masyarakat beristirahat dan memulihkan diri, sehingga memulihkan stabilitas dan kemakmuran di wilayah utara. Jika petani dibiarkan mengelola mata pencahariannya, maka efektivitas pemukiman akan terpengaruh dan akan muncul berbagai kerugian.[21]

Dalam hal keuangan, Cao Pi mengeluarkan koin saat naik takhta, tetapi koin tersebut gagal. Kemudian, karena harga gandum yang tinggi, ia menghapus koin lima koin (uang Han). Sejak saat itu, "barter" menjadi bentuk ekonomi utama di utara sepanjang dinasti Cao Wei.[22]

Hubungan dengan keluarga kaisar

sunting

Wilayah kekuasaan raja-raja bawahan Cao Wei sering berubah-ubah, mereka tidak memiliki kekuatan administratif atau militer, dan tindakan-tindakan mereka diawasi dengan ketat, yang sama saja dengan dipenjara. Meskipun kebijakan ini belajar dari pelajaran pemberontakan negara-negara bawahan selama Dinasti Han, kebijakan ini juga meninggalkan bahaya tersembunyi, yang menyebabkan klan Cao dan Xiahou menjadi lemah dan tidak mampu mencegah pejabat asing merebut kekuasaan di masa mendatang.

Karena ia masih takut dan dendam dengan Cao Zhi, Cao Pi tidak lama kemudian mengurangi gaji Cao Zhi dan menghukum mati siapapun yang berkaitan dengan Cao Zhi. Ding Yi, yang merupakan pemimpin strategi Cao Zhi, telah memusnahkan seluruh klannya karena membantu Cao Zhi di masa lalu. Ringkasnya, berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh Cao Pi, para pangeran Wei (tidak seperti para pangeran dinasti Han) tidak hanya menjauhkan diri dari politik pusat, mereka juga memiliki wewenang yang minimal bahkan di kerajaan mereka sendiri dan dibatasi dalam banyak hal, khususnya dalam penggunaan kekuatan militer.

Hubungan dengan pejabat

sunting

Cao Pi sering dicatat dalam sejarah sebagai seseorang yang mengejek bawahannya. Contohnya adalah perlakuannya terhadap Yu Jin yang ditawan oleh jenderal Liu Bei, Guan Yu di Pertempuran Fancheng pada 219 yang kemudian diambil oleh Wu dan ditawan setelah invasi ke Provinsi Jing. Yu Jin diperbolehkan kembali ke Wei setelah Wu menjadi negara vasalnya pada 221 untuk sementara. Cao Pi mengangkat Yu Jin sebagai Jenderal Pengaman Perbatasan (ๅฎ‰้ ๅฐ‡่ป) dan mengumumkan bahwa ia akan mengutus Yu Jin kembali ke Wu, dimana ia sebelumnya dipenjara, sebagai diplomat. Namun sebelum berangkat ke Wu, Cao Pi memerintahnya ke Ye untuk memberi hormat kepada makam Cao Cao. Saat Yu Jin tiba, ia melihat bahwa Cao Pi sudah menyuruh beberapa pelukis di makam ayahnya untuk melukis Pertempuran Fancheng. Lukisan itu memperlihatkan Yu Jin yang bertekuk lutut dan memohon agar Guan Yu mengampuninya sementara bawahannya Pang De mati dengan terhormat dengan melawan pasukan musuh sampai titik darah penghabisan. Melihat lukisan itu, Yu Jin merasa menyesal dan malu hingga ia jatuh sakit dan meninggal tidak lama kemudian. Cao Pi kemudian memberikan gelar kepada almarhum Yu Jin dengan konotasi negatif, "Marquis Li" (ๅŽฒไพฏ) agar orang-orang mengingat yang terakhir sebagai "marquis berbatu (atau marquis ganas)".[23] Selain Yu Jin, Jenderal Wang Zhong yang mengikuti Cao Cao selama banyak tahun juga menjadi target ejekan Cao Pi.

Ahli waris dan kematian

sunting

Sebuah masalah muncul setelah Cao Pi naik taktha pada 220 mengenai siapa yang menjadi permaisuri. Zhen Ji merupakan istri pertamanya, tetapi saat Cao Pi memanggilnya ke Luoyang, Zhen Ji menolak panggilannya karena jatuh sakit. Pada 221, Zhen Ji meninggal dan posisi permaisuri diberikan kepada Guo Nรผwang.[24]

Namun, Guo Nรผwang tidak bisa melahirkan anak kepada Cao Pi. Cao Rui merupakan putra sulungnya, tetapi karena kematian ibunya, posisi Cao Rui sebagai putra makhota tidak begitu bisa dipastikan. Malah, Cao Pi memberi gelar "Pangeran Pingyuan" kepadanya setelah ia naik taktha menjadi kaisar. Cao Pi tidak begitu memikirkan untuk menempatkan putra lain sebagai ahli warisnya (Ini mungkin karena putranya selain Cao Rui masih muda, walaupun usia mereka tidak begitu dicatat dalam sejarah). Pada musim panas 226, Cao Pi sedang sakit kronis dan pada akhirnya menunjuk Cao Rui sebagai putra makhota. Pada akhir hayatnya, Cao Pi menunjuk Cao Zhen, Cao Xiu, Chen Qun dan Sima Yi sebagai wali penguasa Cao Rui. Cao Rui bakal naik taktha pada usia 21 tahun setelah ayahnya meninggal. Pada 29 Juni 226, Cao Pi meninggal dengan usia 40 tahun.

Cao Pi menyatakan dalam "Peraturan Akhir" bahwa Makam Shouling harus dibangun di atas dasar gunung, tidak boleh ada pohon yang ditanam di atasnya, tidak boleh ada kuil yang didirikan, tidak boleh ada taman atau jalan suci yang dibangun, tidak boleh ada mutiara atau batu giok yang terkandung, dan pemakamannya akan dibuat dari pakaian dan tembikar kontemporer. Cao Pi mengusulkan bahwa "Pemakaman adalah hal yang tersembunyi, dan orang tidak ingin orang lain melihatnya. Tulang tidak memiliki rasa sakit atau gatal, dan makam bukanlah tempat tinggal roh" dan "Dari zaman dahulu hingga sekarang, tidak ada negara yang tidak binasa, dan tidak ada makam yang tidak digali." Ia sangat dipengaruhi oleh suasana sosial pada saat itu dan ayahnya, Cao Cao. Setelah kematian Cao Pi, ia dimakamkan di Mausoleum Shouyang menurut "Zhongzhi".

Anekdot

sunting

Saat Cao Cao hendak pergi berperang melawan Liu Bei di Hanzhong pada 217, Cao Pi dan Cao Zhi pergi menghantar ayahnya. Cao Zhi memberi pamit kepada Cao Cao dengan berpidato mengenai pencapaiannya serta memberikan sebuah syair. Cao Pi merasa malu namun bawahannya Wu Zhi berbisik kepada Cao Pi untuk menangis. Cao Pi kemudian menunduk kepada ayahnya sambil menangis, membuat semua orang juga ikut menangis dan merasa bahwa Cao Zhi terlalu berbunga sementara Cao Pi lebih jujur.

Cao Pi sangat menyukai anggur dan arak. Ia pernah memberi titah kepada pejabatnya yang berbunyi "Tiongkok memiliki banyak buah yang berharga, izinkan saya memberi tahu Anda tentang anggur. Pada peralihan dari musim panas ke musim gugur, ketika panas masih terasa, seseorang bisa memakannya setelah semalaman minum sambil berlumuran embun. Rasanya manis tapi tidak lembek, renyah tapi tidak asam, sejuk tapi tidak dingin, dengan rasa yang tertinggal dan sari buah yang melimpah, menghilangkan dahaga dan menghilangkan dahaga. Mereka juga dapat diseduh menjadi anggur, lebih manis dari biji-bijian yang difermentasi, membuat seseorang mudah mabuk namun juga mudah sadar. Mendengar tentang mereka saja sudah membuat mulut berair; apalagi jika seseorang benar-benar memakannya? Di selatan ada jeruk, asamnya bikin gigi patah, tapi kadang manis. Buah apa yang bisa dibandingkan dari jauh?". Ia juga pernah menanyakan di titahnya, "di selatan ada leci dan longan; bagaimana mereka bisa dibandingkan dengan anggur dan madu keras dari barat?".

Keluarga

sunting
  • Permaisuri Wenzhao dari klan Zhen (ๆ–‡ๆ˜ญ็š‡ๅŽ ็”„ๆฐ; 183โ€“221)
    • Cao Rui, Kaisar Ming dari Wei (ๆ˜Ž็š‡ๅธ ๆ›นๅก; 204โ€“239), putra sulung
    • Putri Dongxiang (ๆฑ้„‰ๅ…ฌไธป), putri sulung
  • Permaisuri Wende dari klan Guo (ๆ–‡ๅพท็š‡ๅŽ ้ƒญๆฐ; 184โ€“235)
  • Furen dari klan Ren (ๅคซไบบไปปๆฐ)
  • Guiren dari klan Li (่ฒดไบบ ๆŽๆฐ)
    • Cao Xie, Pangeran Ai dari Zan (่ดŠๅ“€็Ž‹ ๆ›นๅ”, m. 235)
  • Shuyuan dari klan Pan (ๆท‘ๅช› ๆฝ˜ๆฐ)
    • Cao Rui, Pangeran Wen'an dari Beihai (ๆ–‡ๅฎ‰็Ž‹ ๆ›น่•ค, m. 233), putra ketiga
  • Shuyuan dari klan Zhu (ๆท‘ๅช› ๆœฑๆฐ)
    • Cao Jian, Pangeran Huai dari Dongwuyang (ๆฑๆญฆ้™ฝๆ‡ท็Ž‹ ๆ›น้‘‘, m. 225/226)

Di budaya populer

sunting

Bagaimana Cao Pi menjadi kaisar diperlihatkan dalam film "Secret of the Three Kingdoms".

Banyak pemeran yang memainkan Cao Pi di serial televisi yang menceritakan Zaman Tiga Negara, antara lain:

Referensi

sunting
  1. ^ de Crespigny (2007), hlm.ย 555.
  2. ^ Cao Pi's biography in Sanguozhi mentioned that he was born in the winter (10th to 12th month) of the 4th year of the Zhongping era (184โ€“189) in the reign of Emperor Ling of Han. (ไธญๅนณๅ››ๅนดๅ†ฌ๏ผŒ็”ŸไบŽ่ญ™ใ€‚) Sanguozhi, vol. 02. The period corresponds to 19 Nov 187 to 14 Feb 188 in the Julian calendar.
  3. ^ Cao Pi's biography in Sanguozhi mentioned that he died on the dingsi day of the 5th lunar month in the 7th year of the Huangchu era (220โ€“226) in his reign. He was 40 years old (by East Asian age reckoning) at the time of his death. ([้ปƒๅˆไธƒๅนดไบ”ๆœˆ]ไธๅทณ๏ผŒๅธๅดฉไบŽๅ˜‰็ฆๆฎฟ๏ผŒๆ™‚ๅนดๅ››ๅใ€‚) Sanguozhi vol. 02
  4. ^ de Crespigny (2007), hlm.ย 45.
  5. ^ de Crespigny (2007), hlm.ย xxxiii.
  6. ^ ใ€Šไธ‰ๅ›ฝๅฟ—ใ€‹ๅท2ๅผ•ใ€Š้ญไนฆใ€‹๏ผšๅนดๅ…ซๅฒ๏ผŒ่ƒฝๅฑžๆ–‡ใ€‚ๆœ‰้€ธๆ‰๏ผŒ้‚ๅš่ดฏๅคไปŠ็ปไผ ่ฏธๅญ็™พๅฎถไน‹ไนฆใ€‚ๅ–„้ช‘ๅฐ„๏ผŒๅฅฝๅ‡ปๅŠ”ใ€‚
  7. ^ ใ€Šไธ‰ๅ›ฝๅฟ—ใ€‹ๅท2ๅผ•ใ€Šๅ…ธ่ฎบใ€‹:ไฝ™ๆ—ถๅนดไบ”ๅฒ๏ผŒไธŠไปฅไธ–ๆ–นๆ‰ฐไนฑ๏ผŒๆ•™ไฝ™ๅญฆๅฐ„๏ผŒๅ…ญๅฒ่€Œ็Ÿฅๅฐ„๏ผŒๅˆๆ•™ไฝ™้ช‘้ฉฌ๏ผŒๅ…ซๅฒ่€Œ่ƒฝ้ช‘ๅฐ„็Ÿฃใ€‚
  8. ^ ๆ›นไธ•, ๅ…ธ่ซ– Cao Pi, Dianlun; the Gentlemen of the Household Rapid as Tigers [huben zhonglang] were a corps of soldiers who served as the emperor's bodyguards. It is theorised that they were candidates for military appointments, though the phrasing in the Dianlun gives one the impression that they were a permanent fixture.
  9. ^ ใ€Šไธ‰ๅ›ฝๅฟ—ใ€‹ๅท2ๅผ•ใ€Šๅ…ธ่ฎบใ€‹๏ผšๅปบๅฎ‰ๅˆ๏ผŒไธŠๅ—ๅพ่†ๅทž๏ผŒ่‡ณๅฎ›๏ผŒๅผ ็ปฃ้™ใ€‚ๆ—ฌๆ—ฅ่€Œๅ๏ผŒไบกๅ…„ๅญๅป‰ๅญไฟฎใ€ไปŽๅ…„ๅฎ‰ๆฐ‘้‡ๅฎณใ€‚ๆ—ถไฝ™ๅนดๅๅฒ๏ผŒไน˜้ฉฌๅพ—่„ฑใ€‚
  10. ^ ใ€Šๅคๆ–‡่‹‘ใ€‹ๅท7ๆณจ๏ผšๆ˜”ๅปบๅฎ‰ไบ”ๅนด๏ผŒไธŠ่ˆ‡่ข็ดนๆˆฐๆ–ผๅฎ˜ๆธกใ€‚ๆ™‚ไฝ™ๅพž่กŒ๏ผŒๅง‹ๆคๆ–ฏๆŸณ๏ผŒ่‡ชๅฝผ่ฟ„ไปŠๅไบ”่ผ‰็Ÿฃใ€‚ๆ„Ÿ็‰ฉๅ‚ทๆ‡ท๏ผŒไนƒไฝœๆ–ฏ่ณฆใ€‚
  11. ^ Yuan Xi would only die in caDecember 207.
  12. ^ (ๅˆ๏ผŒๆ›นๆ“ๆ”ปๅฑ ้„ดๅŸŽ๏ผŒ่ขๆฐๅฉฆๅญๅคš่ฆ‹ไพต็•ฅ๏ผŒ่€Œๆ“ๅญไธ•็ง็ด่ข็†™ๅฆป็”„ๆฐใ€‚) Houhanshu vol. 70.
  13. ^ ใ€Šไธ‰ๅ›ฝๅฟ—ใ€‹ๅท8๏ผš๏ผˆๅผ ็ปฃ๏ผ‰ๅพžๅพ็ƒไธธๆ–ผๆŸณๅŸŽ๏ผŒๆœช่‡ณ๏ผŒ่–จ๏ผŒ่ซกๆ›ฐๅฎšไพฏใ€‚ ่ฃดๆพไน‹ๆณจๅผ•ใ€Š้ญ็•ฅใ€‹ๆ›ฐ๏ผšไบ”ๅฎ˜ๅฐ‡ๆ•ธๅ› ่ซ‹ๆœƒ๏ผŒ็™ผๆ€’ๆ›ฐ๏ผšใ€Œๅ›ๆฎบๅพๅ…„๏ผŒไฝ•ๅฟๆŒ้ข่ฆ–ไบบ้‚ช๏ผใ€็นกๅฟƒไธ่‡ชๅฎ‰๏ผŒไนƒ่‡ชๆฎบใ€‚
  14. ^ ใ€Š่‰บๆ–‡็ฑป่šใ€‹ๅท59๏ผš้ญๆ–‡ๅธ่ฟฐๅพ่ต‹ๆ›ฐใ€Œๅปบๅฎ‰ไน‹ๅไธ‰ๅนด๏ผŒ่†ๆฅšๅ‚ฒ่€Œๅผ—่‡ฃ๏ผŒๅ‘ฝๅ…ƒๅธไปฅ็ฎ€ๆ—…๏ผŒไบˆๅŽŸๅฅ‹ๆญฆไนŽๅ—้‚บ๏ผŒไผ็ต้ผ“ไน‹็กผ้šๅ…ฎ๏ผŒๅปบ้•ฟๆ——ไน‹้ฃ˜้ฃ–๏ผŒๆ›œ็”ฒๅ’ไน‹็š“ๆ—ฐ๏ผŒ้ฉฐไธ‡้ช‘ไน‹ๆตๆต๏ผŒๆ‰ฌๅ‡ฏๆ‚Œไน‹ไธฐๆƒ ๅ…ฎ๏ผŒไปฐๅนฒๅจไน‹็ตๆญฆ๏ผŒไผŠ็š‡่กขไน‹้้€šๅ…ฎ๏ผŒ็ปดๅคฉ็บณไน‹ๆฏ•ไธพ๏ผŒๅ—้‡Žไน‹ๆ—ง้ƒฝใ€‚่Šๅผญ่Š‚่€ŒๅฎนไธŽ๏ผŒ้ตๅพ€ๅˆไน‹ๆ—ง่ฟน๏ผŒ้กบๅฝ’้ฃŽไปฅ้•ฟ่ฟˆ๏ผŒ้•‡ๆฑŸๆฑ‰ไน‹้—ๆฐ‘๏ผŒ้™ๅ—็•ฟไน‹้่ฃ”ใ€‚ใ€
  15. ^ ใ€ŠๅพŒๆผข็ด€ยทๅท30ใ€‹๏ผš๏ผˆๅปบๅฎ‰๏ผ‰ๅๅ…ญๅนดๆ˜ฅๆญฃๆœˆ่พ›ๅทณ๏ผŒไปฅๆ›นๆ“ไธ–ๅญไธ•็‚บไบ”ๅฎ˜ไธญ้ƒŽๅฐ‡ใ€ๅ‰ฏไธž็›ธใ€‚
  16. ^ ใ€Šไธ‰ๅ›ฝๅฟ—ใ€‹ๅท2ๆณจๅผ•ใ€Šๅ…ธ่ฎบใ€‹๏ผšๅŽๅ†›ๅ—ๅพๆฌกๆ›ฒ่ ก๏ผŒๅฐšไนฆไปค่€ๅฝงๅฅ‰ไฝฟ็Š’ๅ†›๏ผŒ่งไฝ™่ฐˆ่ฎบไน‹ๆœซ๏ผŒๅฝง่จ€๏ผš"้—ปๅ›ๅ–„ๅทฆๅณๅฐ„๏ผŒๆญคๅฎž้šพ่ƒฝใ€‚"
  17. ^ Cutter, Robert Joe (1985). "The Incident at the Gate: Cao Zhi, the Succession, and Literary Fame". T'oung Pao. 71 (4/5): 228โ€“262. ISSNย 0082-5433.
  18. ^ De Crespigny, Rafe. "Online Publications" (PDF). Asian Studies. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 June 2011. Diakses tanggal 2 January 2015. "Alas. It is truly the will of Heaven which divides the south from the north." And he gave the order to withdraw.
  19. ^ "ใ€Šๆ˜“ไธญๅคฉๅ“ไธ‰ๅ›ฝใ€‹็ฌฌ103่Š‚". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-01-24. Diakses tanggal 2019-01-23.
  20. ^ ใ€Šไธ‰ๅœ‹ๅฟ—ยท่ณˆ้€ตๅ‚ณยท้ญ็•ฅๆฅŠๆฒ›ๅ‚ณๆณจใ€‹้ป„ๅˆไธญ๏ผŒๅ„’้›…ไธฆ้€ฒ๏ผŒ่€Œๆฒ›ๆœฌไปฅไบ‹่ƒฝ่ฆ‹็”จ๏ผŒ้‚ไปฅ่ญฐ้ƒŽๅ†—ๆ•ฃ้‡Œๅททใ€‚ๆฒ›ๅ‰ๅพŒๅฎฐๆญทๅŸŽๅฎˆ๏ผŒไธไปฅ็ง่ฎกไป‹ๆ„๏ผŒๅˆไธ่‚ฏไปฅไบ‹่ดตไบบ๏ผŒๆ•…่บซ้€€ไน‹ๅพŒ๏ผŒๅฎถ็„ก้ค˜็งฏใ€‚
  21. ^ ้ฆฌๆคๅ‚‘ใ€Šไธ‰ๅœ‹ๅฒใ€‹-่ปๅฑฏhttp://su.gotdns.com/subook/htmpage/9/8085/htm/44.php[pranala nonaktif permanen]
  22. ^ ใ€Šๆ™‰ๆ›ธโ€ง้ฃŸ่ฒจๅฟ—ใ€‹๏ผšๅŠ้ปƒๅˆไบŒๅนด๏ผŒ้ญๆ–‡ๅธ็ฝทไบ”้Š–้Œข๏ผŒไฝฟ็™พๅง“ไปฅ่ฐทๅธ›็‚บๅธ‚ใ€‚
  23. ^ (ๆšดๆ…ข็„ก่ฆชๆ›ฐๅŽฒใ€‚ๆฎบๆˆฎ็„ก่พœๆ›ฐๅŽฒใ€‚) There are two possibilities for someone to be given a posthumous title as "Li": Being Cold-blooded and arrogant, or having innocent people slaughtered. See Lost book of Zhou. Rules on assigning a posthumous name. Diarsipkan June 15, 2011, di Wayback Machine.
  24. ^ This account was found in Wei Shu (Book of Wei) and was not included in the original Sanguozhi. Pei Songzhi added this annotation to Lady Zhen's biography in Sanguozhi and went on to speculate that there were hidden reasons as to why Cao Pi did not make Lady Zhen his empress and killed her later on. Pei also wrote of his skepticism of the truthfulness of the anecdotes between Ladies Bian and Zhen, and approved of Chen Shou not including them when he compiled the original Sanguozhi. (่‡ฃๆพไน‹ไปฅไธบๆ˜ฅ็ง‹ไน‹ไน‰๏ผŒๅ†…ๅคงๆถ่ฎณ๏ผŒๅฐๆถไธไนฆใ€‚ๆ–‡ๅธไน‹ไธ็ซ‹็”„ๆฐ๏ผŒๅŠๅŠ ๆ€ๅฎณ๏ผŒไบ‹ๆœ‰ๆ˜Žๅฎกใ€‚้ญๅฒ่‹ฅไปฅไธบๅคงๆถ้‚ช๏ผŒๅˆ™ๅฎœ้š่€Œไธ่จ€๏ผŒ่‹ฅ่ฐ“ไธบๅฐๆถ้‚ช๏ผŒๅˆ™ไธๅบ”ๅ‡ไธบไน‹่พž๏ผŒ่€Œๅด‡้ฅฐ่™šๆ–‡ไนƒ่‡ณไบŽๆ˜ฏ๏ผŒๅผ‚ไนŽๆ‰€้—ปไบŽๆ—งๅฒใ€‚ๆŽจๆญค่€Œ่จ€๏ผŒๅ…ถ็งฐๅžใ€็”„่ฏธๅŽ่จ€่กŒไน‹ๅ–„๏ผŒ็š†้šพไปฅๅฎž่ฎบใ€‚้™ˆๆฐๅˆ ่ฝ๏ผŒ่‰ฏๆœ‰ไปฅไนŸใ€‚) Pei Songzhi's annotation in Sanguozhi, vol.5
Kaisar Wen dari Wei
Lahir: 187 Meninggal: 29 Juni 226
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Sendiri
sebagai Raja Wei
Kaisar Wei
220โ€“226
Diteruskanย oleh:
Kaisar Ming dari Wei
Keluarga Aisin Gioro
Didahului oleh:
Cao Cao
King of Wei
220
Ia sendiri sebagai Kaisar Wei
Hanya gelar saja
Didahului oleh:
Kaisar Xian dari Han
โ€”ย TITULERย โ€”
Kaisar Tiongkok
220โ€“226
Alasan kegagalan suksesi:
Tiga Negara
Diteruskanย oleh:
Kaisar Ming dari Wei

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Cao Cao

pusat Dinasti Han. Ia membangun pondasi negara Cao Wei (220โ€“265) yang didirikan oleh putranya Cao Pi yang merebut kekuasaan dari Kaisar Xian dari Han

Cao Wei

sejarah Tiongkok. Negara ini didirikan oleh Cao Pi dengan peletakan dasar oleh ayahnya, Cao Cao. Cao Pi menjadi kaisar pertama dengan gelar Wendi (Hanzi:

Zaman Tiga Negara

ditangkap dan dibunuh oleh Lu Meng. Tahun 220, Cao Cao meninggal dunia dan digantikan oleh putranya Cao Pi. Cao Pi memaksa Kaisar Xiandi menyerahkan takhta

Cao Rui

Cao Rui (ch: ๆ›นๅก, py: cรกo rรนi, wg: Ts'ao-Jui) (205-239) adalah anak dari Cao Pi dan kaisar kedua dari negara Cao Wei pada Zaman Tiga Negara di Tiongkok

Cao Hong

uang kepada Cao Pi yang saat itu masih muda, Cao Pi yang berpikiran sempit menyimpan dendam terhadapnya selama beberapa dekade. Setelah Cao Pi naik takhta

Jia Xu

224) nama kehormatan Wenhe adalah salah satu penasihat kepercayaan Cao Cao dan Cao Pi pada Zaman Tiga Negara. Pada awalnya Jia Xu sempat menjadi bawahan

Cao Zhi

bersaing dengan Cao Pi untuk menjadi penerus Cao Cao yang berakhir dengan kemenangan Cao Pi. Karena persaingan tegang antara keduanya, Cao Zhi dikucilkan

Cao Ren

putra Cao Cao Cao Pi naik takhta menjadi kaisar, Cao Ren diangkat menjadi Marsekal Agung (ๅคงๅธ้ฆฌ) dan juga berjasa dalam pembentukan Cao Wei. Namun, Cao Ren