Kabupaten Maros
Tana Maru'
Butta Marusu'
Transkripsiย bahasa daerah
ย โ€ขย Lontara BugisแจˆแจŠ แจ†แจ‘แจ˜
ย โ€ขย Lontara Makassarแจ…แจ˜แจˆ แจ†แจ‘แจ˜แจ”แจ˜
Stasiun Kereta Api Maros
Lambang resmi Kabupaten Maros
Etimologi:
Makassar: "Rusung" / Bugis: "Marusung"
(suatu keadaan yang sederhana baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat)[1]
Julukan:ย 

Makassar: Butta Salรฉwangang
Bugis: Tana Salรฉwangรชng
tanah atau wilayah yang makmur, aman, damai, dan sejahtera
Motto:ย 
Menuju Maros Lebih BAIK
(Bersih, Aman, Inovatif, dan Kreatif)
Himne daerah: (Makassar) Marusu Butta Salewangang, ciptaan oleh Rusli Etta Mappe
Peta
Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros di Indonesia
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros
Koordinat: 5ยฐ00โ€ฒ59โ€ณS 119ยฐ34โ€ฒ28โ€ณE๏ปฟ / ๏ปฟ5.016494ยฐS 119.574467ยฐE๏ปฟ / -5.016494; 119.574467
Negaraย Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
Tanggal berdiri4 Juli 1959 (sebagai daerah tingkat II/kabupaten)
Dasar hukumUndang-Undang Nomor 29 Tahun 1959
Hari jadiย Juliย 4, 1959; 66 tahun laluย (1959-07-04)ย 
Perda Kab. Maros No. 03 Tahun 2012
PendiriKaraeng Loe Ri Pakere
Dinamai berdasarkanKerajaan Marusu'
Ibu kotaTurikale (9 Mei 2011 - sekarang)
Maros (4 Juli 1959 - 9 Mei 2011)
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
Pemerintahan
ย โ€ขย BupatiChaidir Syam
ย โ€ขย Wakil BupatiMuetazim Mansyur
ย โ€ขย Sekretaris DaerahAndi Davied Syamsuddin
ย โ€ขย Ketua DPRDAndi Patarai Amir
Luas
ย โ€ขย Total1.619,12ย km2 (625,15ย sqย mi)
Ketinggian1.363ย m (4,472ย ft)
Ketinggianย tertinggi
1.363ย m (4,472ย ft)
Ketinggianย terendah
0ย m (0ย ft)
Populasi
ย (30 Juni 2025)[3]
ย โ€ขย Total420.433
ย โ€ขย Kepadatan260/km2 (670/sqย mi)
DemonimMarosnese
To Maru'
Tau Maru'
Tau Marusu'
Demografi
ย โ€ขย Agama
  • 98,08% Islam
  • 0,05% Hindu
  • 0,02% Buddha
  • 0,01% Kepercayaan[3][4]
ย โ€ขย BahasaIndonesia, Bugis (dialek Maros), Makassar (dialek Lakiung), Dentong
ย โ€ขย IPMKenaikan 71,00
Tinggi (2022)[5]
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode pos
Kode BPS
7308 Suntingan nilai di Wikidata
Kode area telepon+62 0411
Kode ISO 3166ID-SN
Pelat kendaraanDD xxxx D*/T*
Kode Kemendagri73.09
Kode SNI 7657:2023MRS
APBDRp 1.437.792.246.614,00- (TA 2023)[7][8]
PADRp 296.932.440.614,00- (TA 2023)[7][8]
DAURp 695.261.651.000,00- (TA 2023)
DAKRp 104.026.463.000,00- (fisik, TA 2023)
Rp 186.134.809.000,00- (nonfisik, TA 2023)
Rp 290.161.272.000,00- (total, TA 2023)
Semboyan daerahKalau Bukan Kita Siapa Lagi?, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi?

Maros Sejahtera, Religius, dan Berdaya Saing
Slogan pariwisataVisit Maros
Ke Maros Aja, Semua Ada
Maros: Exotic Place in Celebes
Flora resmiKayu hitam sulawesi
Fauna resmiPapilio blumei
Situs webwww.maroskab.go.id

Kabupaten Maros (Bugis: แจˆแจŠ แจ†แจ‘แจ˜, translit.ย Tana Maru'; Makassar: แจ…แจ˜แจˆ แจ†แจ‘แจ˜แจ”แจ˜, translit.ย Butta Marusu') adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Maros memperoleh status sebagai kabupaten pada tanggal 4 Juli 1959 berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Maros berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 3 Tahun 2012. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kecamatan Turikale. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12ย kmยฒ dan berpenduduk sebanyak 420.433 jiwa, pada pertengahan tahun 2025.[3]

Bersama Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Maros dikenal sebagai kabupaten penyangga Kota Makassar. Karena Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan tersebut dengan jarak kedua kota tersebut berkisar 30ย km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasatapa. Jauh dari sebelumnya Kabupaten Maros adalah salah satu bekas daerah kerajaan di Sulawesi Selatan. Di daerah ini berdiri Kerajaan suku makassar yaitu kerajaan Marusu' dengan raja pertama bergelar Karaeng Loe Ri Pakere.

Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang peranan penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasatapa bagian utara yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di Kabupaten Maros. Di daerah ini juga terdapat banyak tempat wisata andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, yaitu Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan objek wisata peradaban prasejarah Goa Leang-Leang serta area bukit karst terbesar kedua di dunia Rammang-Rammang, selain itu Kabupaten Maros juga memiliki potensi ekonomi utama Sulawesi Selatan karena Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin berada di Kabupaten Maros.

Salah satu perusahaan besar yang terletak di Kabupaten Maros adalah PT Semen Bosowa Maros yang dimiliki oleh Grup Bosowa Semen,[9] aset PT Semen Bosowa Maros saat ini disewa oleh perusahaan produsen semen swasta terbesar di Indonesia yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. sejak tahun 2022.[10]

Kondisi geografis

sunting

Kabupaten Maros terletak di bagian barat daya Sulawesi Selatan antara 40ยฐ45'โ€“50ยฐ07' Lintang Selatan dan 109ยฐ205'โ€“129ยฐ12' Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah Utara, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah Selatan, Kabupaten Bone dan Kabupaten Gowa di sebelah Timur, dan Selat Makassar di sebelah Barat. Kabupaten Maros berada pada rentang ketinggian antara 0 meter sampai dengan 1.363 meter di atas permukaan laut. Ketinggian 0 meter berada di pesisir barat Kabupaten Maros yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar sedangkan puncak tertinggi berada di Gunung Saringan sebelah timur Kabupaten Maros yang berbatasan dengan Kabupaten Gowa. Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa gunung dengan jenis gunung yang tidak aktif dan tidak begitu tinggi, seperti Gunung Barro-Barro, Saringan, Rammang-Rammang, Samaenre, dan Bulu Saukang.[butuh rujukan]

Dilihat dari lokasi geografi dan topografinya, dari 103 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Maros, 10 desa berada pada wilayah pantai, 5 desa berada pada wilayah lembah, 28 desa berada pada wilayah perbukitan, dan sisanya 60 desa/kelurahan berada pada wilayah dataran/landai. Kecamatan Tompobulu merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling luas, sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling kecil adalah kecamatan Turikale. Kondisi Topografi Kabupaten Maros sangat bervariasi mulai dari wilayah datar sampai bergunung-gunung. Hampir semua di kecamatan terdapat daerah pedataran yang luas keseluruhan sekitar 70.882 ha atau 43,8% dari luas wilayah Kabupaten Maros. Sedangkan daerah yang mempunyai kemiringan lereng di atas dari 40% atau wilayah yang bergunung-gunung mempunyai luas 49.869 ha atau 30,8 dari luas wilayah Kabupaten Maros.[11]

Iklim

sunting

Berdasarkan pencatatan Badan Stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) rata-rata Suhu udara bulanan di Kabupaten Maros adalah 27,20ย ยฐC tiap bulannya. Suhu bulanan paling rendah adalah 23,7ย ยฐC (terjadi pada bulan Agustus 2017) sedangkan paling tinggi adalah 33,2ย ยฐC (terjadi pada bulan September 2017).[butuh rujukan]

Iklim Kabupaten Maros tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 297ย mm setiap bulannya, dengan jumlah hari hujan berkisar 204 hari selama tahun 2017, dengan rata-rata suhu udara minimum 24,4ย ยฐC dan rata-rata suhu udara maksimum 31,2ย ยฐC.[butuh rujukan]

Penyinaran matahari selama tahun 2017 rata-rata berkisar 58ย %. Secara geografis daerah ini terdiri dari 10ย % (10 desa) adalah pantai, 5ย % (5 desa) adalah kawasan lembah, 27ย % (28 desa) adalah lereng/ bukit dan 58ย % (60 desa) adalah dataran.[butuh rujukan]

Batas wilayah

sunting

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Bone
Timur Kabupaten Bone dan Kabupaten Gowa
Selatan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
Barat Selat Makassar

Geologi

sunting
Struktur geologi Kabupaten Maros di bagian utara yang berupa pegunungan batu kapur

Aspek geologi merupakan aspek yang mempunyai kaitan yang erat hubungannya dengan potensi sumberdaya tanah. Struktur geologi tertentu berasosiasi dengan ketersediaan air tanah, minyak bumi, dan lain-lain. Selain itu struktur geologi selalu dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan suatu wilayah, misal pengembangan daerah dengan pembangunan jalan, permukiman, bendungan, selalu menghindari daerah yang berstruktur sesar, kekar, struktur yang miring dengan lapisan yang kedap air dan tidak kedap air. Di Kabupaten Maros terdapat beberapa jenis batuan, seperti batu pasir, batu bara, lava, breksi, batu gamping, batu sedimen. Keadaan geologi secara umum menggambarkan jenis, kedudukan, sebaran, proses dan waktu pembentukan batuan induk, serta kemampuan morfologi tanah seperti sesar tebing kaldera dan lain-lain.[butuh rujukan]

Sedangkan Jenis tanah berdasarkan hasil identifikasi yang pernah dilakukan di Kabupaten Maros terdapat lima jenis tanah yang tersebar di beberapa wilayah seperti jenis tanah aluvial, litosol, latosol, mediteran, dan podsolik. Jenis tanah aluvial biasanya berwarna kelabu, coklat, atau hitam. Jenis tanah ini tidak peka terhadap erosi karena terbentuk dari endapan laut, sungai atau danau dan jenis tanah ini terdapat di sepanjang pantai sebelah barat Kabupaten Maros, luas penyebarannya 56.053 ha atau 34%. Jenis tanah litosol terbentuk dari batu endapan, batuan beku, jenis tanah ini mempunyai sifat beraneka ragam dan sangat peka terhadap erosi serta kurang baik untuk tanah pertanian, luas penyebarannya 51.498 ha atau 31%. Jenis tanah mediteran terbentuk dari batu endapan berkapur, batuan baku basis, intermedion dan metamorf, jenis tanah ini berwarna merah sampai coklat dan kurang peka terhadap erosi, luas persebarannya 45.632 ha atau 28%. Jenis podsolik terbentuk dari batuan endapan dan bekuan berwarna kuning sampai merah mempunyai sifat asam dan peka terhadap erosi. Jenis tanah ini dapat dijadikan tanah pertanian dan perkebunan. Jenis tanah ini terdapat di daerah berbukit sampai bergunung, luas persebarannya 8.729 ha atau 5% dan jenis tanah latosol mempunyai luas persebaran 17.862 ha atau 11%.[12]

No. Jenis Tanah Luas
(Ha)
Persentase (%)
1. Aluvial 38.191 23,50%
2. Mediteran 51.498 32,00%
3. Litosol 45.632 28,10%
4. Podsolik 8.729 5,40%
5. Latosol 17.862 11,00%
Kabupaten Maros 161.912 Ha 100%

Pemerintahan

sunting

Kepala daerah

sunting
Kantor Pemerintahan Kabupaten Maros

Bupati merupakan jabatan tertinggi dalam pemerintahan kabupaten Maros. Saat ini, bupati Maros dijabat oleh Chaidir Syam, dan didampingi oleh wakil bupati, Suhartina Bohari. Chaidir dan Suhartina menang pada Pemilihan umum Bupati Maros 2020, untuk masa jabatan 2021โ€“2024. Mereka dilantik bersamaan dengan 10 pasangan bupati-wakil bupati/wali kota-wakil wali kota lainnya hasil pemenang Pilkada 2020 oleh gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, pada 26 Februari 2021 di Gedung Baruga Karaeng Pattingalloang, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan di Jl. Jenderal Sudirman, Kota Makassar. Proses pelantikan ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat pada masa pandemi Covid-19.[13][14][15]

Potret Bupati Awal Akhir Periode Wakil Potret
Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP, M.H. 26 Februari 2021 Petahana 16
(2020)
Hj. Suhartina Bohari, S.E.

Dewan perwakilan

sunting

DPRD Kabupaten

sunting
Gedung DPRD Kabupaten Maros

Pembagian wilayah administrasi

sunting

Kabupaten Maros terdiri dari 14 kecamatan, 23 kelurahan, dan 80 desa. Pada tahun 2017, kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12 kmยฒ dan jumlah penduduk sebesar 397.937 jiwa dengan sebaran penduduk 246 jiwa/kmยฒ.[16][17]

Daftar kecamatan dan jumlah kelurahan masing-masing kecamatan di Kabupaten Maros, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
73.09.03 Bantimurung 2 6 Desa
Kelurahan
73.09.05 Bontoa 1 8 Desa
Kelurahan
73.09.02 Camba 2 6 Desa
Kelurahan
73.09.10 Cenrana 7 Desa
73.09.12 Lau 4 2 Desa
Kelurahan
73.09.06 Mallawa 1 10 Desa
Kelurahan
73.09.01 Mandai 2 4 Desa
Kelurahan
73.09.04 Maros Baru 3 4 Desa
Kelurahan
73.09.08 Marusu 7 Desa
73.09.13 Moncongloe 5 Desa
73.09.09 Simbang 6 Desa
73.09.07 Tanralili 1 7 Desa
Kelurahan
73.09.11 Tompobulu 8 Desa
73.09.14 Turikale 7 - Kelurahan
TOTAL 23 80


Demografi

sunting

Suku bangsa

sunting
Tari Pajoge khas baik Bugis maupun Makassar di Maros (sekitar tahun 1870)

Sebagian besar penduduk Kabupaten Maros adalah suku Bugis dan Makassar yang merupakan suku asli. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2000, orang Bugis di Kabupaten Maros sebanyak 149.030 jiwa (54,77%) dan orang Makassar di Kabupaten Maros sebanyak 107.721 jiwa (39,59%) dari total penduduk 272.089 jiwa yang terdata. Sementara penduduk dari suku lainnya sebagian besar adalah orang Jawa, diikuti orang Toraja, Mandar, Luwu, Duri, kemudian Selayar, dan suku lainnya. Berikut adalah besaran penduduk Kabupaten Maros berdasarkan suku bangsa menurut data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000:[18]

No. Suku Jumlah
(2000)
%
1. Bugis 149.030 54,77%
2. Makassar 107.721 39,59%
3. Jawa 5.423 1,99%
4. Toraja 2.901 1,07%
5. Mandar 560 0,21%
6. Luwu 123 0,05%
7. Duri 106 0,04%
8. Selayar 62 0,02%
9. Suku lainnya 6.163 2,26%
Kabupaten Maros 272.089 jiwa 100%

Bahasa

sunting

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Maros adalah bahasa Indonesia. Menurut Statistik Kebahasaan 2019 oleh Badan Bahasa, terdapat dua bahasa daerah di Kabupaten Maros,[19] yaitu bahasa Makassar dan bahasa Bugis (khususnya dialek Dentong).[20]

Ekonomi

sunting
Grand Mall Maros, mal mewah dan bergaya klasik Eropa pertama di Indonesia

Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 43 pasar yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Maros. Sedangkan jumlah pedagang menurut skalanya 147 pedagang menengah, 3.629 pedagang kecil, dan 17.462 pedagang mikro.[butuh rujukan]

Proyek investasi

sunting
Kawasan Industri Maros (KIMAS)

Selain transportasi darat, KIMAS memiliki akses yang terbuka melalui transportasi laut. Dibanding dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, jarak Kabupaten Maros dengan Pelabuhan Internasional Soekarnoโ€“Hatta Makassar terbilang lebih dekat. Pesisir Kabupaten Maros yang masuk dalam perairan Makassar juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kota pelabuhan. Begitu pula untuk transportasi udara, dari KIMAS ke Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin hanya ditempuh kurang lebih 30 sampai 40 menit.[21]

Sistem kepercayaan

sunting
Masjid Agung Maros

Masyarakat Bugis di Kabupaten Maros menganut agama Islam. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut:

  1. Patoto-eย : dewa penentu nasib
  2. Dewata Seuwa-eย : dewa tunggal
  3. Turie a'ranaย : kehendak tertinggi

Masyarakat Bugis Maros menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan sakral), yaitu sebagai berikut:

  1. Ade (ada dalam bahasa Makassar)
  2. Bicara
  3. Rapang
  4. Wari'
  5. Sara'

Perkembangan pembangunan di bidang spiritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Tempat peribadatan umat islam yang berupa masjid, langgar/musholla pada tahun 2012 masing-masing berjumlah 728 dan 50. Tempat peribadatan untuk umat kristiani dan katolik sebanyak 22 yang terdapat di 9 kecamatan. Jumlah jamaah haji yang diberangkatkan dari Kabupaten Maros setiap tahunnya mengalami peningkatan, pada Tahun 2012 jumlah Jamaah Haji perempuan sebanyak 209 orang dan laki-laki sebanyak 104 orang.[22]

Pertanian

sunting
Tanaman padi yang menguning siap panen tahun 2010 di area persawahan Lingkungan Majannang Kelurahan Boribellaya Kabupaten Maros.

Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Predikat sebagai lumbung padi nasional mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial. Selain padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Selatan adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang-kacangan. Kabupaten Maros merupakan salah satu daerah lumbung padi di Sulawesi Selatan. Luasnya area persawahan dan juga iklim yang mendukung menjadikan Kabupaten Maros setiap tahun selalu swasembada beras. Produksi padi Kabupaten Maros tahun 2018 sebesar 3.278.113,56 kwintal yang dipanen dari areal seluas 50.523 ha. Sebagian besar produksi padi di Kabupaten Maros dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 98,99ย % dari seluruh produksi padi. Sedangkan 1,01ย % dihasilkan oleh padi ladang. Produksi jagung Kabupaten Maros pada tahun 2018 sebesar 488.101.029 kwintal dengan luas panen 9.556 ha.[butuh rujukan]

Produksi Tanaman Pangan

sunting

Produksi padi sawah dan padi ladang tahun 2018 menurut kecamatan di Kabupaten Maros sebagai berikut:[butuh rujukan]

Kecamatan Padi Sawah (kwintal) Padi Ladang (kwintal) Total produksi (kwintal)
Bantimurung 710.608 3.384 713.992
Bontoa 215.542,40 0 215.542,40
Camba 198.752,16 7.560 206.312,16
Cenrana 169.380 993,60 170.373,60
Lau 336.208,20 0 336.208,20
Mallawa 145.433,60 4.018,50 149.452,10
Mandai 163.514 0 163.514
Maros Baru 133.032,50 0 133.032,50
Marusu 72.352 0 72.352
Moncongloe 117.656,36 0 117.656,36
Simbang 363.880 0 363.880
Tanralili 244.343,84 4.200 248.543,84
Tompobulu 242.928 14.726,40 257.654,40
Turikale 129.600 0 129.600
Total 3.243.231,06 34.882,50 3.278.113,56

Perkebunan dan kehutanan

sunting

Luas dan total produksi tanaman perkebunan, yang terdiri dari kelapa seluas 526 Ha dan total produksi 125 ton, kakao seluas 1.730 Ha dan total produksi 586,80 ton. Sedangkan kemiri seluas 6.300 Ha dengan total produksi 2.099,8 ton. Menurut fungsinya, kawasan hutan di Kabupaten Maros terdiri atas 3 jenis, yakni hutan lindung, suaka alam/taman nasional/pelestarian alam, dan hutan produksi terbatas/biasa. Luas total kawasan hutan di Kabupaten Maros tahun 2015 adalah 65.022 Ha, yang terdiri atas 14.611 Ha hutan lindung, 15.365 Ha hutan produksi biasa, 6.434 Ha hutan produksi terbatas, dan 28.610 Ha taman nasional. Wilayah kecamatan yang memiliki kawasan hutan adalah sebanyak 9 kecamatan. Luas kawasan hutan yang terbanyak di Kabupaten Maros adalah Kecamatan Tompobulu dan Mallawa. Kabupaten Maros memiliki potensi kehutanan berupa tegakan pinus yang terdapat di 4 kecamatan, yakni Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba, dan Kecamatan Mallawa. Persebaran hutan di Kabupaten Maros antara lain hutan mangrove di Desa Bonto Bahari, hutan mangrove di Kuri Caddi dan Kuri Lompo, Desa Nisombalia, Hutan Pinus Pendidikan Unhas di Bengo-Bengo Kecamatan Cenrana, Hutan Pinus Cenrana, Hutan Pinus di Desa Bonto Manurung, Hutan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Hutan Tanralili, dan lain-lain.[butuh rujukan]

Perikanan

sunting

Usaha perikanan di Kabupaten Maros terdiri atas perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap yang terdiri dari perikanan laut 15.259,6 ton, perikanan sungai/danau/rawa 523,2 ton dengan total produksi 15.782,8 ton. Untuk perikanan budidaya, produksinya masing-masing adalah budidaya laut 7,4 ton dan sawah 39,7 ton dengan total produksi sebesar 14.378,7 ton.[butuh rujukan]

Komoditas Andalan Daerah

sunting
Udang Sitto atau tiger shrimp merupakan salah satu komoditas andalan daerah Kabupaten Maros yang dibudidayakan dengan tambak-tambak di Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, dan Bontoa.
Salamata atau Kakap putih merupakan salah satu komoditas andalan daerah Kabupaten Maros yang dibudidayakan dengan tambak-tambak di Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, dan Bontoa. Selain itu, jenis ikan ini juga banyak dijumpai di Sungai Maros oleh sebab itu banyak pemancing tertarik memancing di sungai tersebut

Sumberdaya Perikanan Lainnya

sunting
  • Ikan Kandea (Ikan tawas)
  • Ikan Oseng
  • Ikan Mas Sungai
  • Ikan Gabus
  • Ikan Samelang
  • Ikan Sidat/Massapi
  • Belut Sawah/Lenrong
  • Ceda-Ceda (sejenis kerang)
  • Biri-biri (sejenis kerang)
  • Bakaleng (sejenis kerang)
  • Baja Salo (sejenis kerang pasir sungai)
  • Rambo-Rambo (sejenis kerang hijau)
  • Kepiting Sungai
  • Ikan Binisi
  • Kepiting Bakau
  • Rajungan

Transportasi

sunting
  • Angkutan kota dan jalan raya

Transportasi utama di Maros saat ini adalah Bus Trans Sulsel yang menghubungkan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar, menawarkan layanan massal modern, aman, nyaman, dan terjangkau dengan sistem pembayaran non-tunai dan aplikasi mobile, serta menjadi solusi penting bagi mobilitas masyarakat Mamminasata sejak pertengahan 2025. Selain itu, angkutan umum konvensional seperti angkot (pete-pete) juga masih ada, dan terdapat akses transportasi darat seperti jalan raya yang menghubungkan Maros dengan Makassar (sekitar 30ย km ke utara).

  • Angkutan kereta api

Kabupaten Maros juga dilewati jalur kereta api lintas Makassar dan Pare Pare (antar Maros-Barru) selain itu terdapat tiga stasiun kereta api di kabupaten ini di antaranya stasiun maros(stasiun utama di maros), stasiun rammang rammang dan stasiun mandai.

  • Pesawat

di kabupaten ini terdapat Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin yang melayani penerbangan menuju berbagai kota dan pulau di Indonesia dan juga rute luar negeri menuju Malaysia, Singapura,dan Arab Saudi. selain itu Bandara ini juga menjadi homebase bagi TNI Angkatan Udara karena terdapat beberapa Skadron Udara yang bermarkas disini

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Makkasau, Andi Fahry (1990). Kerajaan-kerajaan di Maros dalam Lintas Sejarah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. ^ Tim redaksi peakery.com. "Bulu Saringan". peakery.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-21. Diakses tanggal 21 Juli 2023.
  3. ^ a b c "Kuantitas Penduduk". dukcapil.sulselprov.go.id. Diakses tanggal 28 Februari 2026.
  4. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Maros". www.sp2010.bps.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 16 September 2020.
  5. ^ BPS RI. "Indeks Pembangunan Manusia 2021-2022". www.bps.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-12-01. Diakses tanggal 18 Juli 2023.
  6. ^ Ainun, Nur (4 Februari 2023). "Kode Provinsi Sulawesi Selatan Lengkap 24 Kabupaten/Kota". www.detik.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-05. Diakses tanggal 10 Agustus 2023.
  7. ^ a b Tim redaksi www.matamaros.com (24 November 2022). "APBD 2023 Kabupaten Maros, Disdik Rp484 M, Dinkes Rp268 M". www.matamaros.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-18. Diakses tanggal 19 Juli 2023.
  8. ^ a b Tim redaksi maroskab.go.id (Maret 2023). "Ringkasan APBD Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2023" (PDF). maroskab.go.id. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 19 Juli 2023.
  9. ^ "Profil Perusahaan PT Semen Bosowa Maros". Bosowa Semen. Diakses tanggal 16 September 2024.
  10. ^ Tanayastri, author (8 November 2023). "Ada Transaksi Jumbo, Pengendali Langsung Indocement Berubah". Fortune Indonesia. Diakses tanggal 16 September 2024.
  11. ^ Pemkab Maros. "Topografi Kabupaten Maros". maroskab.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2023.
  12. ^ Pemkab Maros. "Geologi Kabupaten Maros". maroskab.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-26. Diakses tanggal 26 Juli 2023.
  13. ^ Rinovsky, Riky (26 Februari 2021). "Gubernur Nurdin Abdullah Melantik Pasangan Chaidir Syam โ€“ Suhartina Bohari Bupati Dan Wakil Bupati Maros". gurindam.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-24. Diakses tanggal 24 Juli 2023.
  14. ^ Tim redaksi www.reaksipress.com (26 Februari 2021). "Bupati-Wakil Bupati Maros Dilantik Hari Ini". www.reaksipress.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-24. Diakses tanggal 24 Juli 2023.
  15. ^ Zakaria, Andi Ade (26 Februari 2021). "Dilantik Hari Ini, Masa Jabatan Cuma 3,5 Tahun, Chaidir Syam: Kami Minta OPD Bekerja Cepat". menitindonesia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-24. Diakses tanggal 24 Juli 2023.
  16. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
  17. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
  18. ^ Badan Pusat Statistik (2001). Penduduk Sulawesi Selatan Hasil Sensus Penduduk 2000 (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Jakarta: PT Dharma Citra Putra. hlm.ย 75. ISBNย 9795989693. Diarsipkan dari asli (pdf) tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 24 Juli 2023. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  19. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm.ย 11. ISBNย 9786028449182. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-04-30. Diakses tanggal 2020-05-24.
  20. ^ "Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-13. Diakses tanggal 23 Mei 2020.
  21. ^ Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Provinsi Sulawesi Selatan (2020). "Profil Kabupaten Maros". dpmptsp.sulselprov.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-21. Diakses tanggal 25 Juli 2023.
  22. ^ maroskab.bps.go.id (2013-08-16). "Maros Dalam Angka 2013". maroskab.bps.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-06-24. Diakses tanggal 2019-06-25.

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Faksi Nasionalis (Perang Saudara Spanyol)

Spanyol Juli 1936 melawan Republik Spanyol Kedua, yang meliputi Falange, CEDA, dan dua rival pengklaim monarkis: Alfonsis dan Carlis. Pada 1937, seluruh

Daftar fam Maluku

Carelsz Carliano Carmiago Carolus Cruijff Castera Castillo Castro Cecene Ceda Chadiman Chakenota Chatib Cheiongers Chello Chera Chevais Chostantinus Chrisaldo

Salman dari Arab Saudi

Mahkota Muhammad bin Nayef, serta Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan (CEDA) yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Mahkamah Kerajaan, Pangeran Mohammed

Left 4 Dead 2

evakuasi hanya lebih dalam. Ternyata bahwa pusat itu hancur, dan semua agen CEDA telah mati atau terinfeksi. Dalam keputusasaan, kelompok mengembara ke atrium

Debat

National Debate Tournament (NDT), Cross Examination Debate Association (CEDA), National Educational Debate Association, dan Great Plains Forensic Conference

Perang Saudara Spanyol

FET y de las JONS Falange Espaรฑola de las JONS Requetรฉ/CT Tentara Afrika CEDA Renovasi Spanyol Persatuan Militer Spanyol Relawan asing ย Italia ย Jerman

Misi Angelsaksen

dikait-kaitkan dengan prakarsa Egbertus ini, antara lain Adalbertus dari Egmond, dan Ceda dari Mercia. Egbertus sendiri urung berangkat ke ladang misi sesudah diwejangi

Cedilla

(zed). Kata "cedilla" adalah diminutif dari nama Spanyol untuk huruf ini ceda, di mana kata ini pertama digunakan. Spanyol Modern tidak lagi menggunakan