Saya Thetgyi
Nama asalဆရာသက်ကြီး
Lahir27 Juni 1873
Desa Pyawbwe-gyi, Kotapraja Dala, Divisi Yangon, Burma Britania Raya
Meninggal18 Desember 1945(1945-12-18) (umur 72)
Yangon, Myanmar
KebangsaanBurma
PekerjaanGuru meditasi vipassanā
GelarAnāgāmī Sayāgyi U
Suami/istriMa Mhyin

Saya Thetgyi (Burma: ဆရာသက်ကြီး; 27 Juni 1873 – 18 Desember 1945), lahir dengan nama Maung Pho Thet, juga dikenal sebagai Anāgāmī Sayagyi U Thet dan U Pho Thet, adalah seorang guru meditasi awam (nonmonastik) terkemuka di Burma (sekarang Myanmar). Beliau dikenal sebagai murid langsung dari Ledi Sayadaw yang secara resmi diberikan wewenang untuk mengajarkan meditasi vipassanā kepada masyarakat awam maupun anggota sangha. Beliau adalah guru dari Sayagyi U Ba Khin (terkenal sebagai guru dari S. N. Goenka), yang kemudian menjadi salah satu tokoh penyebaran tradisi vipassanā ke seluruh dunia.

Kehidupan awal

sunting

Kelahiran dan masa muda

sunting

Saya Thetgyi lahir dengan nama Maung Pho Thet pada hari Jumat, hari ke-3 bulan purnama Warkhaung tahun 1235 Era Myanmar (27 Juni 1873) di desa Pyawbwe-gyi, Kotapraja Dala, Divisi Yangon.[1] Ayahnya bernama U Kyaw Tote dan ibunya bernama Daw Ngwe-U.[1] Setelah ayahnya meninggal saat ia berusia 12 tahun, ibunya menghidupi keempat anaknya dengan berjualan gorengan (bahasa Burma: akyaw).[1] Pho Thet menempuh pendidikan hingga kelas enam dan kemudian membantu perekonomian keluarga dengan mengoordinasikan gerobak sapi serta mendayung sampan pengangkut padi.[2]

Pekerjaan awam

sunting

Etos kerjanya yang luar biasa menarik perhatian U Pho Hla, seorang pemilik penggilingan padi, yang kemudian mempekerjakannya sebagai juru tulis dengan gaji awal enam kyat per bulan.[3] Berkat kejujurannya, ia dipromosikan menjadi makelar padi tepercaya dengan gaji 25 kyat, yang membuat perekonomian keluarganya menjadi sangat mapan.[4] Ia kemudian menikah dengan Ma Mhyin dan dikaruniai seorang putri, Ma Hla Nyunt, serta seorang putra, Maung Chitti.[5]

Kehidupan spiritual

sunting

Pencarian kebenaran

sunting

Kestabilan keluarganya hancur ketika wabah kolera melanda desa Pyawbwe-gyi. Wabah mematikan ini merenggut nyawa keponakannya (Ma Chit Myaing), lalu putrinya, dan putranya secara berurutan.[6] Kehilangan yang sangat mendalam ini mendorong U Pho Thet untuk meninggalkan desanya demi mencari kebenaran Dhamma untuk mengakhiri penderitaan.[7] Selama 13 tahun, ia berkelana ke berbagai hutan dan pegunungan, menghabiskan 7 tahun di antaranya secara khusus di bawah bimbingan Ledi Sayadaw.[8] Merasa belum mencapai esensi kebijaksanaan yang dicarinya, ia kembali ke desanya bersama sahabatnya, Maung Nyo, namun memutuskan untuk bermeditasi di paviliun (dhammayon) desa tanpa pulang ke rumah istrinya.[9]

Sensasi di ubun-ubun

sunting

Suatu pagi sebelum fajar menyingsing, saat berlatih meditasi ānāpāna, perhatiannya mulai menyebar ke seluruh tubuh hingga muncul sebuah sensasi yang sangat jelas di ubun-ubun atau puncak kepalanya (verteks).[10] Di titik ubun-ubun tersebut, ia merasakan interaksi kuat dari unsur panas/api (bahasa Pali: tejo) dan pergerakan/tekanan (vāyo). Sensasi getaran hidup ini meluas menyelimuti seluruh tubuhnya, memberinya realisasi langsung seketika tentang sifat materi (rūpa) dan batin (nāma).[11] Ia memvalidasi pengalaman spiritual pencerahannya ini dengan menelaah kitab-kitab ikhtisar tulisan Ledi Sayadaw, khususnya Anatta Dīpanī dan Bhāvanā Dīpanī.[12]

Kemajuan Dhamma

sunting

U Pho Thet pergi menemui Ledi Sayadaw di Monywa untuk menguji pengalaman meditasinya. Ledi Sayadaw sangat gembira, mengucapkan sādhu berulang kali, dan menghadiahkan tongkat jalannya (bahasa Burma: taung-whay) sebagai simbol mandat.[13] Ledi Sayadaw menugaskannya untuk mengibarkan panji Dhamma dan mengajarkan teknik tersebut kepada setidaknya 6.000 orang, serta secara khusus memintanya untuk mengajar 20-25 biku terpelajar di Vihara Ledi.[14] Sejak saat itulah U Pho Thet secara resmi dihormati dengan gelar Saya Thet (Guru Thet). Ledi Sayadaw secara ketat memperingatkan Saya Thet agar tidak sembarangan menetapkan dan mendiskusikan pencapaian magga-phala (jalan dan buah; tingkat kesucian) seseorang, untuk menghindari ilusi akibat konsentrasi yang menyerupai realisasi.[15]

Saya Thet mengabdi tanpa lelah menyebarkan Sāsanā (ajaran Buddha). Ia mulai mendirikan Pusat Kammaṭṭhāna Utama di desa kelahirannya, Pyawbwe-gyi, pada tahun 1279 Era Myanmar, dan meluas ke berbagai daerah seperti Pusat Kammathān Hanthawaddy di Yangon dan Inyar-myaing Patipatti.[16]

Akhir hayat

sunting

Ia wafat dengan damai pada usia 72 tahun, tepatnya pada malam hari ke-14 bulan purnama Natdaw tahun 1307 Era Myanmar (18 Desember 1945 Masehi), di Jalan Yetarshay, Yangon, lalu jenazahnya dikremasi secara meriah di Bukit Arzini.[17] Sejumlah murid terkemuka yang kemudian meneruskan obor silsilahnya di kancah internasional antara lain Sayagyi U Ba Khin, S.N. Goenka, Sayagyi U Aung Myat, dan Sayadaw U Kaw Vida.[18]

Ajaran dan metode meditasi

sunting

Ikhtisar panduan metode meditasi yang diajarkan oleh Saya Thetgyi dirangkum sebagai jalan pintas menuju kebijaksanaan dari pengalaman langsung (A Short-Cut to Ditthadhamma Vipassanā Ñānadassana).[18]

Persiapan sebelum meditasi

sunting

Sebelum memulai sesi samatha, praktisi awam diwajibkan untuk menjalankan setidaknya ājīvatthamaka sīla (delapan sila kemurnian moral), lalu mengajukan permohonan secara formal kepada Sang Buddha untuk menerima objek kammaṭṭhāna ("tempat bekerja", subjek meditasi).[19] Sebelum beralih murni ke praktik vipassanā, praktisi menyerahkan dirinya demi bimbingan Dhamma, memohon izin praktik pencerahan, dan secara internal memaafkan serta memohon maaf atas segala kesalahan terhadap sesama makhluk.[20] Pemeditasi diminta untuk memfokuskan pikirannya di puncak kepala selama setidaknya 5 menit sebagai langkah awalnya.[21]

Metode samatha

sunting

Praktik berawal dari pemusatan konsentrasi ānāpānasati (perhatian-penuh pada napas) yang stabil selama tiga hari. Praktisi fokus penuh pada sentuhan arus napas murni di ujung hidung tanpa mengikuti pergerakan udara ke dalam paru-paru atau pusar.[22] Konsentrasi ini lama-kelamaan akan memunculkan objek visual batin (nimitta), mulai dari percikan tanda awal (uggaha nimitta) hingga menjadi bulatan cahaya terang benderang yang diam stabil bagaikan rembulan (paṭibhāga nimitta), yang menunjukkan kesadaran telah sepenuhnya masuk ke dalam penyerapan konsentrasi jhāna pertama.[23]

Metode vipassanā

sunting

Setelah konsentrasi stabil didapatkan, fokus pengamatan dipindahkan dari hidung ke atas ubun-ubun kepala. Praktisi akan mulai mengamati sensasi alamiah berupa rasa dingin, kehangatan, atau riak pergerakan halus.[24] Sensasi getaran ini kelak akan merembet ke seluruh tubuh, diibaratkan seperti gelembung gas di dalam segelas air soda atau riuh letupan minyak wijen yang sedang mendidih panas di dalam wajan.[25] Pengamatan teliti terhadap proses timbul dan tenggelamnya unsur materiel inilah yang membongkar realitas perubahan mutlak (anicca), sifat penderitaan akibat ketidakstabilan (dukkha), dan kekosongan diri (anatta).[26]

Pemahaman ketidakkekalan

sunting

Dalam pendekatannya, Saya Thet membedah hukum ketidakkekalan atau anicca ke dalam khaṇika (kesesaatan) dan santati (kesinambungan). Khaṇika anicca mewakili realitas perubahan instan seketika yang bergerak terlampau cepat, dikatakan miliaran kali dalam satu kedipan mata, ketika materi lahir dan seketika langsung mati.[27] Sementara itu, santati anicca adalah ilusi persepsi tentang kesinambungan. Dianalogikan seperti melihat aliran pasir yang terjatuh dari atas ke bawah; mata kita menangkapnya sebagai satu lajur garis utuh, padahal yang sebenarnya dilihat adalah butiran individu yang berjatuhan secara independen.[28] Menerobos tirai ilusi santati sangatlah krusial untuk bisa membongkar sifat mutlak realitas di level khaṇika.[29]

Kebijaksanaan dari pengalaman

sunting

Saya Thetgyi sangat menitikberatkan prioritas pencapaian bhāvanāmaya ñāṇa (kebijaksanaan empiris langsung dari mempraktikkan meditasi) jauh di atas cintāmaya ñāṇa (kebijaksanaan teoretis berdasarkan silogisme atau pembelajaran intelektual semata).[30] Praktisi meditasi dianalogikan seperti seorang pesakitan yang harus segera meminum obat racikan dokternya demi kesembuhan, tanpa perlu membuang waktu memperdebatkan komposisi struktur kimia obat tersebut. Sasaran akhir pemeditasi hanyalah mencabut pandangan salah tentang diri (sakkāya diṭṭhi) demi mencapai pembebasan dari penderitaan.[31]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Ledi Paññāsiha, hlm. 112.
  2. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 113-114.
  3. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 114.
  4. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 115.
  5. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 115-116.
  6. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 116.
  7. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 117.
  8. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 117-118.
  9. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 119.
  10. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 121-122.
  11. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 122-123.
  12. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 124.
  13. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 125-126.
  14. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 126-128.
  15. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 130-131.
  16. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 131-135.
  17. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 135-136.
  18. ^ a b Ledi Paññāsiha, hlm. 136.
  19. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 138.
  20. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 139.
  21. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 140.
  22. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 140-141.
  23. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 144-145.
  24. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 146-147.
  25. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 148-149.
  26. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 151-152.
  27. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 164-165.
  28. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 168.
  29. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 168-169.
  30. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 172-173.
  31. ^ Ledi Paññāsiha, hlm. 176.

Bibliografi

sunting
  • Ledi Paññāsiha. A Brief Biography of Anāgām Sayāgyi U Thet And His Teaching (PDF). Diterjemahkan oleh U Nyi.
  • Anāgām Sayāgyi U Thet And His Teaching / Ledi Sayadaw Phayargyi And Saya Thet-gyi / A Shortcut To Ditthadhamma Ñānadassana: A Manual of Insight Meditation Practice di Internet Archive

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kammaṭṭhāna

terkenal mencapai tingkat Arahat dengan meditasi menggunakan kasiṇa api (tejo) sebagai objek meditasinya. Dari empat puluh objek yang dimeditasikan sebagai

Rupa (Buddhisme)

yang terpisah karena dianggap sebagai kombinasi dari 3 mahābhūta (pathavī, tejo, vāyo) sehingga tidak ikut dihitung. Daftar yang berisi 24 unsur turunan

Unsur (Buddhisme)

nanah, darah, keringat, air mata, dll. Unsur api adalah api atau panas (tejo), atau sesuatu yang berapi-api (tejogataṃ) —misalnya, panas dalam tubuh yang

Krembung, Sidoarjo

CENTRAL BERITA. 2023-05-05. "Peningkatan Jalan Porong-Krembung Telan Anggaran Rp 18 M". SIDOARJO TERKINI. 2015-11-19. M. Anis (2023-03-25). Amir Tejo

Kāyagatāsati

akan perlahan membuka kesadaran batin terhadap manifestasi unsur panas (tejo-dhātu) dan unsur angin penggerak (vāyo-dhātu) di dalam jasmani. Ketika empat

Suku Jawa

Suriname. Sosrokartono, Wartawan, Penerjemah, Dokter, Cendekiawan. Sujiwo Tejo, Penulis, Seniman, Sutradara. Sultan Agung Anyakrakusuma, Sultan Mataram

Abhidhamma Theravāda

fluiditas, mengalir, menetes, mengikat, dan kohesivitas. Api (teja atau tejo) melambangkan panas dan kehangatan; jika tidak ada panas, maka yang ada adalah

Kabupaten Jember

Anang Hermansyah (Musisi), Opick (Musisi), Jack Lesmana (Musisi), dan Sujiwo Tejo (Budayawan), Pak Raden a.k.a Drs. Suyadi (pencipta tokoh boneka Si Unyil)