Dalam Buddhisme, anagami (KBBI;[catatan 1] Pali: anāgāmī; Sanskerta: anāgāmin),[1] juga diterjemahkan sebagai "tidak kembali", "yang tidak kembali," atau "yang tidak kembali lagi," adalah seseorang yang telah mencapai tahap ketiga (keadaan anāgāmitā) dari empat tingkat pencerahan. Seorang anagami sebelumnya merupakan seorang sotapana (Pali: sotāpanna, "pemasuk-arus") dan sakadagami (sakadāgāmī, "pengembali-sekali"), dan diyakini akan mencapai satu tingkat pencerahan berikutnya hingga menjadi seorang arahat (arahā, "yang layak, yang terbebaskan sepenuhnya").

Seorang anagami memutus lima belenggu pertama yang mengikat batin orang-orang duniawi pada umumnya (Pali: puthujjana). Seorang anagami tidak akan terlahir kembali di alam manusia setelah kematiannya, melainkan terlahir di alam surga "Kediaman Murni" (Suddhāvāsa), yang hanya dihuni oleh para anagami. Di alam tersebut, mereka akan mencapai pencerahan penuh (tingkat arahat).

Belenggu yang disingkirkan

sunting
Empat tingkat kemuliaan sesuai Suttapiṭaka
Bodhi Punarbawa Belenggu yang disingkirkan
sotāpanna ± tujuh kali;
manusia
atau dewa
1. pandangan salah
terhadap jati diri
(sakkāya-diṭṭhi)
2. keraguan
(vicikicchā)
3. kemelekatan
pada ritual dan adat
(sīlabbata-parāmāsa)
belenggu
rendah
sakadāgāmī sekali lagi;
manusia
anāgāmī sekali lagi;
suddhāvāsa
4. hasrat indrawi
(kāmacchanda)
5. rasa benci
(vyāpāda/byāpāda)
arahat tidak ada 6. nafsu punarbawa
di alam materi
(rūparāga)
7. nafsu punarbawa
di alam nonmateri
(arūparāga)
8. kesombongan
(māna)
9. kebingungan
(uddhacca)
10. ketidaktahuan
(avijjā)
belenggu
tinggi

Seorang anagami telah sepenuhnya terbebas dari lima belenggu terbawah (Pali: pañcorambhāgiyāni-saṃyojanāni; Sanskerta: pañcāvarabhāgīya-saṃyojana) yang terdiri dari:

  1. Sakkāya-diṭṭhi (Pali; Sanskerta: satkāya-dṛṣṭi atau svakāya-dṛṣṭi) - Pandangan salah tentang adanya diri, "aku", atau roh kekal (Pali: atta; Sanskerta: ātman)
  2. Sīlabbata-parāmāsa (Pali; Sanskerta: śīlavrata-parāmarśa) - Kemelekatan pada adat/ritus dan ritual
  3. Vicikicchā (Pali; Sanskerta: vicikitsā) - Keraguan skeptis terhadap Dhamma
  4. Kāma-rāga (Pali) - Nafsu indrawi
  5. Vyāpāda atau byāpāda (Pali)[2] - Niat buruk, niat jahat, rasa benci

Lima belenggu yang lebih tinggi (Pali: pañcuddhambhāgiyāni-saṃyojanāni; Sanskerta: pañca-ūrdhvabhāgiya-saṃyojana) yang belum diputus oleh seorang anagami adalah:

  1. Rūpa-rāga (Pali) - Nafsu pada alam materi (4 tingkat jhāna awal; rūpa-jhāna)
  2. Arūpa-rāga (Pali) - Nafsu pada alam nonmateri (4 tingkat jhāna terakhir; arūpa-jhāna)
  3. Māna (Pali) - Kesombongan atau keangkuhan
  4. Uddhacca (Pali; Sanskerta: auddhatya) - Kegelisahan batin
  5. Avijjā (Pali; Sanskerta: avidyā) - Ketidaktahuan atau kebodohan batin

Kāma-rāga dan vyāpāda, yang mana seorang anagami telah terbebas darinya, juga dapat ditafsirkan berturut-turut sebagai kehausan/keinginan atas keberadaan atau penjelmaan (bhava) dan untuk ketidakberadaan (vibhava).[butuh rujukan]

Seorang anagami merupakan suatu tahap di antara sakadagami dan arahat. Seorang arahat telah sepenuhnya terbebas dari sepuluh belenggu tersebut, sedangkan batin seorang anagami sudah sangat murni tetapi masih memiliki sisa lima belenggu halus.

Lima jenis anagami

sunting

Kitab Puggalapaññatti dalam Abhidhammapiṭaka, Tripitaka Pali; serta teks Sanskerta Mahāprajñāpāramitāśāstra dan Abhidharma Vaibhāṣika tradisi Sarvāstivāda, sama-sama mendeskripsikan lima golongan anagami. Ketika seorang anagami terlahir kembali di alam "Kediaman Murni" (Suddhāvāsa), salah satu dari lima skenario berikut akan terjadi:[3][4]

  1. Ia akan mencapai tingkat arahat segera setelah terlahir kembali, atau dalam paruh pertama kehidupannya di Suddhāvāsa. Makhluk seperti ini disebut "yang mencapai Nibbāna dalam paruh pertama kehidupan" (Pali: antarā-parinibbāyī; Sanskerta: antarāparinirvāyin).
  2. Ia akan mencapai tingkat arahat dalam paruh kedua kehidupannya di Suddhāvāsa, atau pada saat menjelang kematian. Makhluk seperti ini disebut "yang mencapai Nibbāna setelah melewati paruh kehidupan" (Pali: upahacca-parinibbāyī; Sanskerta: upapadyaparinirvāyin).
  3. Ia harus mengerahkan upaya yang keras untuk mencapai tingkat arahat. Makhluk seperti ini disebut "yang mencapai Nibbāna dengan dorongan" (Pali: sasaṅkhāra-parinibbāyī; Sanskerta: sābhisaṃskāraparinirvāyin).
  4. Ia tidak mengerahkan upaya yang keras, tetapi tetap mencapai tingkat arahat. Makhluk seperti ini disebut "yang mencapai Nibbāna tanpa dorongan" (Pali: asaṅkhāra-parinibbāyī; Sanskerta: anabhisaṃskāraparinirvāyin).
  5. Ia melewati lima tingkat surga di Suddhāvāsa secara berurutan dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi sebelum mencapai tingkat arahat. Makhluk seperti ini disebut "yang mengarungi arus ke atas menuju alam akaniṭṭha" (Pali: uddhaṃsota-akaniṭṭha-gāmī; Sanskerta: ūrdhvasrotas). Akaniṭṭha merupakan alam jenis Suddhāvāsa yang tertinggi.

Tokoh-tokoh anagami

sunting

Beberapa tokoh yang muncul dalam kepustakaan buddhis disebutkan telah mencapai tingkat anāgāmitā. Beberapa di antaranya meliputi:

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Istilah-istilah ini sudah diserap dalam KBBI: sotapana, sakadagami, anagami, dan arahat; tanpa konsonan ganda dan tanda diakritik sebagaimana dalam bahasa Pali.

Referensi

sunting
  1. ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 31, 95, entri untuk "Anāgāmin" (diakses pada 17 November 2018 di https://dsalsrv04.uchicago.edu/cgi-bin/app/pali_query.py?qs=An%C4%81g%C4%81min&searchhws=yes) dan "Āgāmin" (di https://dsalsrv04.uchicago.edu/cgi-bin/app/pali_query.py?qs=%C4%80g%C4%81min&searchhws=yes).
  2. ^ "Byāpāda". Pali Text Society Pali-English Dictionary. Diakses tanggal 17 November 2018.
  3. ^ "Anagamin, aka: Anāgāmin, Anāgamin; 4 Definition(s)". Wisdom Library. 2019-08-24. Diakses tanggal 2019-10-25.
  4. ^ "Anāgāmī". Buddhist Dictionary of Pali Proper Names. Diakses tanggal 2019-10-25.
  5. ^ Buswell, Robert E. Jr.; Lopez, Donald S. Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 9781400848058.
  6. ^ Mingun Sayadaw (1990). "40". The Great Chronicle of Buddhas. Myanmar: Tipitaka Nikaya Sasana Organization.
  7. ^ Tin, Daw Mya (2019). The Dhammapada: Verses & Stories. Pariyatti Publishing. ISBN 9781681721200.
  8. ^ "MN 81 Ghatikara Sutta: Ghatikara the Potter".
  9. ^ Karashima, Seishi; Vorobyova-Desyatovskaya, Margarita I., ed. (2015). "The Avadāna Anthology from Merv, Turkmenistan" (PDF). Buddhist Manuscripts from Central Asia: The St. Petersburg Sanskrit Fragments. 1. Tokyo: The Institute of Oriental Manuscripts of the Russian Academy of Sciences; The International Research Institute for Advanced Buddhology; Soka University. Diakses tanggal 2019-10-25.

Daftar pustaka

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Sotapana

hingga menjadi seorang sakadagami (Pali: sakadāgāmī, "kembali-sekali"), anagami (anāgāmī, "tidak-kembali"), dan arahat (arahā, "yang layak, yang terbebaskan

Empat tingkat kemuliaan

(sakadagami, "kembali sekali"), keadaan anāgāmitā yang dicapai oleh seorang anāgāmī (anagami, "tidak kembali"), dan keadaan arahatta yang dicapai oleh seorang arahā

Ketuhanan dalam Buddhisme

kematangan batinnya. Lima alam Suddhavasa adalah khusus tempat kelahiran para anagami dan dari alam-akam Suddhavasa ini mereka akan parinibbana yang berarti

Arahat

"pemasuk-arus"), sakadagami (sakadāgāmī, "pengembali-sekali"), dan anagami (anāgāmī, "tidak-kembali"); dan diyakini telah mencapai tingkat pencerahan yang

Sakadagami

mencapai dua tingkat pencerahan berikutnya hingga menjadi seorang anagami (anāgāmī, "tidak-kembali") dan arahat (arahā, "yang layak, yang terbebaskan

Buddhisme

Khujjuttarā Veḷukaṇḍakiyā Visākhā 4 tingkat kemuliaan Sotapana Sakadagami Anagami Arahat Tempat ibadah Wihara Wat Kyaung Dhammasālā Sima Kuti Cetiya Stupa

Kassapa

memiliki cukup dana untuk menyelesaikan stupa tersebut. Seorang pengikut anāgāmī bernama Sorata berkelana mengunjungi Jambudipa, meminta bantuan dana dari

Nirwana

Pemenang-Arus (sotāpanna), Yang-Kembali-Sekali (sakadāgāmī), Yang-Tak-Kembali (anāgāmī), dan pencapaian Nirwana (arahat). Buddha juga menguraikan cara mencapai