
Lempar jamrah atau lempar jumrah (bahasa Arab: رمي الجمرات, ramy al-jamarat) adalah ritual dalam ibadah Haji berupa pelemparan kerikil oleh jamaah haji ke tiga jamrah di kawasan Jamarat (Mina), dekat Makkah, Arab Saudi. Dalam tradisi Islam, ritual ini dimaknai sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan dalam kisah Nabi Ibrahim.
Tata cara
suntingLempar jumrah (melontar jumrah) dilakukan di Mina pada hari Nahr dan hari-hari Tasyrik. Jemaah melontarkan batu kerikil ke marma (tempat melontar) pada tiga jamrah—Ula, Wustha, dan Aqabah—secara tertib dari Ula, lalu Wustha, kemudian Aqabah; setiap jamrah dilontar dengan tujuh kerikil. Kerikil dapat diambil di Muzdalifah atau di Mina sesuai ketentuan pelaksanaan.[1][2]
Setelah melontar, jamaah melakukan tahallul dengan mencukur (halq) atau memotong sebagian rambut (taqsir) sesuai ketentuan.[1]
Waktu pelaksanaan
suntingLempar jumrah dilakukan pada rangkaian manasik haji tanggal 10–13 Dzulhijjah. Pada tanggal 10 Dzulhijjah (hari Nahr), jamaah melontar Jamrah Aqabah. Pada tanggal 11–13 Dzulhijjah (hari Tasyrik), jamaah melontar tiga jamrah secara berurutan: Ula, Wustha, lalu Aqabah.[1][2]
Perwakilan
suntingJamaah yang tidak mampu melaksanakan lempar jumrah karena uzur (misalnya sakit, lanjut usia, atau kondisi yang menyulitkan) dapat mewakilkan pelaksanaannya kepada orang lain sesuai ketentuan bimbingan manasik.[1]
Makna
suntingDalam tradisi Islam, lempar jumrah dipahami sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan, terkait kisah Nabi Ibrahim ketika menjalankan perintah Allah.[1]
Referensi
sunting- ^ a b c d e "Tuntunan Manasik Haji dan Umrah" (PDF). Kementerian Agama RI.
- ^ a b "Mina – A Guide for Pilgrims" (PDF). Ministry of Hajj and Umrah (Saudi Arabia).
| Bagian dari seri |
| Islam |
|---|