Narada Mahāthera
නාරද මහා ස්ථවිරයන් වහන්සේ
Mahāthera, sekitar 1920-an
GelarMahāthera
Kehidupan pribadi
Lahir14 Juli 1898
Kotahena, Kolombo, Sri Lanka
Meninggal2 Oktober 1983(1983-10-02) (umur 85)
Vihara Siri Vajiraramaya, Kolombo, Sri Lanka
KebangsaanSri Lanka
EducationSt. Benedict's College, Colombo
Kehidupan religius
AgamaBuddhisme
MazhabTheravāda
Garis keturunanAmarapura Nikāya

Narada Mahāthera (Sinhala: නාරද මහා ස්ථවිරයන් වහන්සේ), lahir dengan nama Sumanapala Perera (14 Juli 1898 – 2 Oktober 1983[1]) adalah seorang biku Buddha Theravāda, cendekiawan, penerjemah, pendidik, dan misionaris Buddhis yang selama bertahun-tahun menjadi Kepala Vihara Vajiraramaya di Kolombo, Sri Lanka. Ia merupakan tokoh yang populer di negara asalnya, Sri Lanka, maupun di mancanegara.

Biografi

sunting

Latar belakang

sunting

Ia lahir di Kotahena, Kolombo dari keluarga kelas menengah,[1] menempuh pendidikan di St. Benedict's College dan Ceylon University College, serta ditahbiskan pada usia delapan belas tahun.[1]

Penyebaran Buddhisme

sunting

Pada tahun 1929, ia mewakili Sri Lanka pada upacara pembukaan vihara Mulagandhakuti yang baru di Sarnath, India,[1] dan pada tahun 1934 ia mengunjungi Nusantara (wilayah yang di kemudian hari dikenal sebagai Indonesia), menjadikannya sebagai biku Theravāda pertama yang datang ke sana dalam kurun waktu lebih dari 450 tahun setelah jatuhnya kerajaan Hindu-Buddha terakhir di kepulauan tersebut.[2] Pada kesempatan tersebut, ia menanam dan memberkati sebuah pohon bodhi di sisi tenggara Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934, dan beberapa umat awam setempat dilantik secara resmi (visuddhi) menjadi upasaka-upasika. Kemudian, pada perayaan Waisak tahun 1959, ia menahbiskan beberapa upasaka menjadi samanera (calon biku).[3] Sejak saat itu, ia bepergian ke berbagai negara untuk melakukan pekerjaan misionaris: Taiwan, Kamboja, Laos, Vietnam Selatan, Singapura, Jepang, Nepal, dan Australia. Pada tahun 1956, ia mengunjungi Britania Raya dan Amerika Serikat, serta berceramah di hadapan kerumunan besar di Monumen Washington. Pada tanggal 2 November 1960, Narada Maha Thera membawa sebuah pohon bodhi ke wihara Vietnam Selatan, Thích Ca Phật Đài, dan melakukan banyak kunjungan ke negara tersebut selama tahun 1960-an.

Bersama dengan tokoh-tokoh lainnya (seperti Piyadassi Mahāthera), ia berkontribusi pada populerisasi ceramah Dhamma bergaya bana (Sinhala: බණ), yakni metode khotbah yang lebih membumi dan praktis, pada tahun 1960-an; dan membawa ajaran Buddha "ke dalam kehidupan sehari-hari kelas menengah kebarat-baratan di Sri Lanka".[4]

Warisan di Indonesia

sunting

Kebangkitan agama Buddha

sunting

Narada Mahāthera diakui luas sebagai tokoh sentral yang memicu kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia pada abad ke-20 setelah redup sejak keruntuhan era Majapahit dan Sriwijaya. Ia pertama kali datang ke Indonesia pada 4 Maret 1934 atas undangan Kwee Tek Hoay, Mengelaar Meertens (Ketua Perhimpunan Teosofi cabang Indonesia), dan Pandita Josias van Dienst. Sebagai biku Theravāda pertama yang berkunjung ke Nusantara pada abad ke-20, kehadirannya disambut sangat antusias, bahkan di kalangan umat kelenteng Mahāyāna. Hal ini dikarenakan ia secara aktif membabarkan makna Dhamma. Pada masa itu, ritual di kelenteng umumnya hanya sebatas pelafalan mantra tanpa penjelasan makna.[5]

Penanaman pohon bodhi

sunting

Kunjungan pertamanya ditandai dengan penanaman sebuah pohon bodhi di pelataran Borobudur pada 10 Maret 1934. Meskipun pohon tersebut sempat ditebang pada tahun 1980 akibat proyek restorasi candi, Narada kembali membawa cangkokan pohon bodhi baru dari situs kuno Anuradhapura, Sri Lanka, yang kemudian ditanam kembali di Borobudur pada tahun 1981.[5]

Pelantikan upasaka-upasika

sunting

Selain upacara simbolis tersebut, langkah nyatanya dalam melantik umat awam lokal menjadi upasaka-upasika membawa dampak penggerak yang luar biasa. Salah satu tokoh angkatan pertama yang ia lantik adalah S. Mangunkawatja, seorang guru asal Jawa yang kemudian bergelar Maha Upasaka dan menjadi representasi umat Buddha di MPR. Pembinaan ini terus berlanjut hingga memunculkan tokoh-tokoh pionir lainnya seperti Suhirkam dan Sosro Utomo (yang kelak memimpin Persatuan Buddhis Indonesia). Tokoh-tokoh pionir inilah yang di kemudian hari meletakkan fondasi perkembangan dan organisasi agama Buddha di Nusantara.[5]

Penahbisan samanera dan biku

sunting

Peran misionarisnya berlanjut hingga tercatat 15 kali melakukan kunjungan ke Indonesia. Pada perayaan Waisak di Borobudur tahun 1959, ia memimpin penahbisan biku dan samanera Indonesia pertama dalam sejarah modern. Kedekatannya dengan umat Buddhis lokal sangat mendalam. Pada perayaan ulang tahunnya ke-85 di Vihara Buddha Metta Arama, Jakarta, tanggal 14 Juli 1983, di tengah kondisi fisiknya yang sudah sangat lemah, ia menolak untuk menyerah dalam membabarkan Dhamma dan menyatakan bahwa Indonesia adalah "negara asalnya yang kedua" (my second home country).[5]

Kritik terhadap konsep ketuhanan

sunting

Meskipun berperan besar dalam membimbing umat, Narada Mahāthera tetap bersikap kritis terhadap perkembangan teologi Buddhis di Indonesia pasca-1965. Ia menolak keras konsep Sanghyang Adi Buddha yang dipopulerkan oleh Ashin Jinarakkhita sebagai bentuk kompromi agar agama Buddha selaras dengan sila pertama Pancasila. Sebagai penganut ortodoksi Theravāda yang non-teistik, Narada menegaskan ketidaksetujuannya melalui sepucuk surat kepada Parwati Soepangat, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris Ashin Jinarakkhita. Dalam pesan tersebut, ia menuliskan teguran tajam: "Katakan pada gurumu bahwa tidak ada Tuhan dalam agama Buddha" (Please, tell your teacher that there is no God in Buddhism).[6][7][8]

Bentuk penghormatan

sunting

Sebagai bentuk penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa besarnya, balai perpustakaan di Vihara Dhammacakka Jaya, Jakarta Utara, diberi nama "Wisma Narada".[5] Selain itu, sebuah institusi pendidikan di wilayah Kosambi bernama "Sekolah Narada" (Narada School), didirikan pada 2 Februari 2005 oleh Yayasan Buddhis Theravada Indonesia, menjadikan nama Narada Mahāthera sebagai dedikasi atas kerja keras misionarisnya.[9]

Karya tulis

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d Vihanage, Gunaseela. "Venerable Narada Maha Thera: A Biographical Sketch". Narada Felicitation Volume. BPS. Diakses tanggal July 26, 2017.
  2. ^ Ramstedt, Martin (2004). Hinduism in modern Indonesia: a minority religion between local, national, and global interests. Routledge. hlm. 49ff. ISBN 978-0415405980.
  3. ^ "Buddhism in Indonesia". Buddhanet. Diarsipkan dari asli tanggal 12 November 2020. Diakses tanggal 4 May 2015.
  4. ^ Wickremeratne, Swarna (2006). Buddha in Sri Lanka: Remembered Yesterdays. State University of New York Press. hlm. 97. ISBN 978-0791468821.
  5. ^ a b c d e Jayamedho, Bhikkhu (2015). "Bab 6: Agama Buddha Bangkit dari Tidur Panjang". Menapak Pasti: Kisah Spiritual Anak Madura. Jakarta: Penerbit CENAS. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Juangari, Edij (2022). Menabur Benih Dharma dengan Kasih Sayang: Riwayat Singkat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Jakarta: Karaniya. hlm. 151.
  7. ^ Syukur, Abdul (2022). "Theological debate among Buddhist sects in Indonesia". HTS Teologiese Studies / Theological Studies. 78 (4): a7054. doi:10.4102/hts.v78i4.7054. ISSN 2072-8050.
  8. ^ Chia, Jack Meng-Tat (2018). "Neither Mahāyāna Nor Theravāda: Ashin Jinarakkhita and the Indonesian Buddhayāna Movement". History of Religions. 58 (1): 24–63. doi:10.1086/697932.
  9. ^ "History". Narada School (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-15.

Pranala luar

sunting


Peringatan: Kunci pengurutan baku "Narada" mengabaikan kunci pengurutan baku "Narada Maha Thera" sebelumnya.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Thera-therī

digunakan. Beberapa thera dan therī terkemuka: Ananda Thera Rerukane Chandawimala Maha Thera Katukurunde Nyanananda Thera Narada Mahathera Nyanatiloka

Ketuhanan dalam Buddhisme

Christian Exploration and Appraisal", hlm. 184 - 186. InterVarsity Press. Narada Thera (2006) "The Buddha and His Teachings," hlm. 268-269, Jaico Publishing

Buddhisme

Theravāda berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu, dan vada berarti perkataan

Abhidhammatthasaṅgaha

menghindari kontroversi filosofis. “A Comprehensive Manual of Abhidhamma” oleh Narada Thera, Bhikkhu Bodhi, dan U Rewata Dhamma mencakup pengantar dan komentar penjelasan

Cetasika

Ashin Kheminda Abhidhammattha-saṅgaha (Chapter 2) diterjemahkan oleh Nārada Thera, et al. The Abhidhamma in Practice: The Cetasikas Daftar faktor mental

Buddhisme di Indonesia

tentang ajaran Buddhisme, Dharma Moestika (1932–1934). Pada tahun 1934, Narada Thera, seorang biku misionaris Theravāda dari Sri Lanka, mengunjungi Hindia

Borobudur

sebagai pertanda kebangkitan ajaran Buddha di Indonesia. Pada 1934, Narada Thera, seorang biksu penceramah dari Sri Lanka, mengunjungi Indonesia untuk

Sigālovāda Sutta

Research Institute. 14: 80–86. Narada, Thera (1995). "Everyman's Ethics: Four Discourses of the Buddha". Narada, Thera (1996). "DN 31, Sigalovada Sutta: