| Bagian dari seri |
| Sastra Hindu |
|---|
|
|

Purana (Sanskerta: เคชเฅเคฐเคพเคฃย ; purฤแนa, berarti "cerita zaman dulu") adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata Purana berarti sejarah kuno atau cerita kuno. Ada 18 kitab Purana yang terkenal dengan sebutan โMahapuranaโ. Penulisan kitab-kitab Purana diperkirakan dimulai pada tahun 500 SM.
Untuk mempermudah umat mempelajari Weda, Maharsi Wyasa menyusun kitab Purana. Kitab Purana ditulis dalam bentuk cerita keagamaan. Cerita-cerita itu disusun untuk menyampaikan ajaran agama Hindu. Kitab Purana merupakan bagian dari Weda. Purana terdiri atas dua kata, yaitu kata Pura dan Ana. Kata Pura artinya masa lampau atau masa silam. Sedangkan Ana berarti mengatakan. Jadi Purana berarti kisah-kisah masa lampau atau koleksi cerita. [1]
Purana merupakan kitab yang berisi cerita para Dewa, Raja, Rsi pada masa lampau. Setiap cerita Purana selalu mengandung ajaran agama. Cerita-cerita tersebut memberi tuntunan hidup umat manusia. Dengan membaca kita Purana, akan membangkitkan rasa bhakti umatnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.[2]
Ajaran agama yang dijumpai dalam kitab Purana, yaitu:[3]
- Ajaran Sraddha (Keimanan)
- Ajaran Etika (Etika moral)
- Ajaran Acara (Ritual)
- Tuntunan dalam berbhakti kepada Hyang Widhi Wasa
- Berbagai keutamaan tempat-tempat suci untuk melakukan Tirtha Yatra.
Daftar kitab Purana (Mahapurana):
- Matsyapurana
- Wisnupurana
- Bhagawatapurana
- Warahapurana
- Wamanapurana
- Markandeyapurana
- Wayupurana
- Agnipurana
- Naradapurana
- Garudapurana
- Linggapurana
- Padmapurana
- Skandapurana
- Bhawisyapurana
- Brahmapurana
- Brahmandapurana
- Brahmawaiwartapurana
- Kurmapurana
Beberapa Purana (Mahapurana) lainnya terkadang ada beberapa kitab Purana (Mahapurana) yang masuk daftar menggantikan Purana (Mahapurana) lain seperti:
Kitab Purana mengajarkan pemujaan kepada Hyang Widhi Wasa. Agama Hindu menganal tiga perwujudan Hyang Widhi Wasa, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Brahma dikenal sebagai pencipta. Wisnu sebagai pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur atau pengharmonis. [4]
Berdasarkan isi ajarannya, dan dihubungkan dengan ketiga dewa-dewa tersebut di atas, maka kedelapan belas kitab Mahapurna digolongkan ke dalam tiga kelompok sebagai berikut. [5]
- Satwikka Purana, yang merupakan kitab Purana dimana ajarannya menguraikan tentang Dewa Wisnu. Kategori Sattwika Purana tersebut terdiri dari:
- Wisnupurana
- Bhagawatapurana
- Padmapurana
- Garudapurana
- Warahapurana
- Naradapurana
- Rajasika Purana, yang merupakan kitab Purana yang menguraikan proses tentang penciptaan. Kitab Purana ini berkaitan dengan Dewa Brahma. Kitab-kitab yang termaksud dalam kelompok Rajasika Purana adalah:
- Brahmapurana
- Brahamandapurana
- Brahmanawaiwartapurana
- Bhawisyapurana
- Wamanapurana
- Markandeyapurana
- Tamasika Purana, yang merupakan kitab Purana dimana isinya menguraikan tentang cerita pemujaan kepada Dewa Siwa. Kitab-kitab yang tergolong dalam kelompok Tamasika Purana adalah:
- Siwapurana
- Linggapurana
- Matsyapurana
- Kurmapurana
- Skandapurana
- Agnipurana
- ^ I Made Rajendra, 2022. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Kementerian Agama Republik Indonesia
- ^ I Made Rajendra, 2022. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Kementerian Agama Republik Indonesia.
- ^ I Made Rajendra, 2022. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Kementerian Agama Republik Indonesia.
- ^ I Made Rajendra, 2022. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Kementerian Agama Republik Indonesia.
- ^ I Made Rajendra, 2022. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Kementerian Agama Republik Indonesia.