Stasiun Rangkasbitung
Kereta Api Indonesia KAI Commuter
R22LM01

Tampak depan bangunan lama Stasiun Rangkasbitung yang kini berstatus cagar budaya, Oktober 2024
Nama lainStasiun Rangkas
Lokasi
Koordinat6ยฐ21โ€ฒ9.58โ€ณS 106ยฐ15โ€ฒ5.51โ€ณE๏ปฟ / ๏ปฟ6.3526611ยฐS 106.2515306ยฐE๏ปฟ / -6.3526611; 106.2515306
Ketinggian+22 m
Operator
Letak
Jumlahย peron4 (1 Peron sisi rendah, 1 Peron pulau rendah, 2 Peron Pulau Tinggi)
Jumlahย jalur9
LayananLokal: Commuter Line Merak
Komuter: Commuter Line Rangkasbitung
Konstruksi
Jenisย strukturPolonceau (kanopi)
Informasi lain
Kodeย stasiun
  • RK
  • 0130[2]
  • RANGKAS
KlasifikasiBesar tipe A[2]
Sejarah
Dibuka1 Oktober 1899
Elektrifikasi2015-2017
Namaย sebelumnyaRangkas Betoeng, Rangkasbitoeng, Rangkasbetung
Perusahaanย awalStaatsspoorwegen
Operasi layanan
Stasiun sebelumnya Stasiun berikutnya
Citeras Commuter Line Rangkasbitung
Tanah Abangโ€“Rangkasbitung
Terminus
Terminus Commuter Line Merak
Merakโ€”Rangkasbitung, p.p.
Jambu Baru
menuju Merak
Fasilitas dan teknis
FasilitasParkirย Mesin tiketย Pemesanan langsung di loketย Musalaย Toiletย Isi bateraiย Air minumย Pertokoan/area komersialย 
Jenisย persinyalan
  • Elektrik tipe DBRI Vital Processor Interlocking[3]
Cagar budaya Indonesia
Stasiun/Depo Rangkasbitung
PeringkatNasional
KategoriBangunan
No. RegnasKB004983
No. SK420/Kep.587-DINDIKBUD/2020 Tanggal SKย : 2020-11-04
PemilikPT Kereta Api Indonesia (Persero)
PengelolaKAI Commuter
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Lokasi pada peta
Peta
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Stasiun Rangkasbitung (RK), atau lebih dikenal masyarakat setempat dengan bentuk singkatnya Stasiun Rangkas, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Muara Ciujung Timur, Rangkasbitung, Lebak. Stasiun yang terletak pada ketinggian +22 meter ini termasuk dalam pengelolaan KAI Commuter dan merupakan stasiun utama di Provinsi Banten[a] dengan jarak 80,9 km arah timur laut dari Kampung Bandan. Stasiun ini terletak berdekatan dengan Pasar Rangkasbitung serta melayani perjalanan KRL Commuter Line Rangkasbitung dan kereta api lokal Commuter Line Merak.

Sejarah

sunting

Agar mobilitas penumpang dari Batavia hingga kawasan Banten semakin lancar, maka pada tahun 1890-an perusahaan Staatsspoorwegen (SS) berencana membangun sebuah jalur kereta api yang menghubungkan daerah Duri hingga daerah Serang, melalui daerah Tangerang dan Cikande.[4]

Proyek jalur pun sudah dikerjakan. Di tengah jalannya pembangunan, rencana trase jalur ini akhirnya dibatalkan dan diubah menjadi melalui daerah Parung Panjang hingga ke Rangkasbitung,[4] jalur ini selesai pada 1 Oktober 1899.[5] Trase jalur kereta api pertama yang sudah telanjur dibangun pun dicukupkan pembangunannya hanya sampai di daerah Tangerang saja, dan diresmikan sebagai jalur kereta api Tangerangโ€”Duri yang berstatus sebagai jalur cabang. Jalur ini selesai dibangun pada 2 Januari 1899.[6]

Jalur kereta api dari Stasiun Rangkasbitung diteruskan pembangunannya oleh Staatsspoorwegen (SS) hingga ke daerah Serang pada 1 Juli 1900,[7] yang kemudian dilanjutkan kembali hingga ke dekat Pelabuhan Anyer Kidul pada 1 Desember 1900. Pada 1 Desember 1914, dibuat sebuah jalur percabangan di Stasiun Krenceng yang mengarah ke daerah Merak untuk mengakomodasi Pelabuhan Merak yang lebih dekat untuk menyebrang ke Lampung.[8]

Jalur yang menuju ke Anyer Kidul pada awalnya berstatus sebagai jalur utama, sedangkan jalur yang menuju ke Merak berstatus sebagai jalur cabang. Di kemudian waktu, status kedua jalur ini ditukar.

Pada 18 Juni 1906, dibuat sebuah jalur percabangan dari Stasiun Rangkasbitung yang mengarah ke daerah Labuan. Wesel percabangan dari jalur ini terletak setelah jembatan kereta api Ciujung dan diatur melalui sebuah rumah sinyal yang berada tepat di depan titik percabangan. Pada lintas Rangkasbitungโ€”Labuan ini, dibangun pula sebuah percabangan di Stasiun Saketi yang menuju ke daerah Bayah saat masa pendudukan Jepang, tepatnya pada tahun 1943โ€”1944.[8] Jalur ini dibangun oleh para tawanan perang Jepang (romusha) untuk mengangkut hasil batu bara dengan moda kereta api.[9]

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1957 Presiden Soekarno melaksanakan kunjungan kerja ke Rangkasbitung. Presiden Soekarno melakukan kunjungan kerja dengan menaiki sebuah rangkaian Kereta Luar Biasa (KLB) yang ditarik oleh lokomotif uap seri C27. Setelah tiba, Presiden dan rombongan meninggalkan Stasiun Rangkasbitung menuju ke Kabupaten Rangkasbitung.

Sejak sekitar tahun 1978, hanya ada 1 perjalanan PP saja pada jalur Rangkasbitungโ€”Labuan dengan B5138 sebagai lokomotifnya, meskipun terkadang juga menggunakan lokomotif BB1005 dan B5132. KA berangkat dari Labuan sekitar pukul 4 pagi, lalu kembali ke Labuan dari Rangkasbitung sekitar pukul 2 atau 3 sore. Lokomotif menginap di emplasemen Stasiun Labuan untuk berdinas di keesokan harinya. Jalur kereta api Rangkasbitungโ€”Labuan akhirnya ditutup pada tahun 1984 karena kalah bersaing dengan moda transportasi massal lainnya. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sempat meminta agar lintas ini kembali diaktifkan beberapa waktu setelah ditutup, tetapi tidak dikabulkan oleh PJKA. Namun, kini jalur kereta api Rangkasbitungโ€”Labuan sudah masuk kembali dalam masterplan reaktivasi.[10]

Pada tahun 1984, masa pakai lokomotif uap di Indonesia resmi berakhir. Semua armada-armada lokomotif uap di lintas ini dikumpulkan dan dirucat di Depo Lokomotif Rangkasbitung. Di kemudian hari, depo lokomotif ini diisi oleh armada lokomotif diesel seperti BB304 untuk dinasan kereta api penumpang Rangkasbitungโ€”Merak.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kereta api komuter, jalur kereta api antara Stasiun Maja hingga Stasiun Rangkasbitung mulai dielektrifikasi pada tahun 2015,[11] dan layanan KRL Tanah Abangโ€”Rangkasbitung diresmikan pada 1 April 2017, menggantikan KA Rangkas Jaya. Layanan kereta api penumpang diesel pada jalur kereta api Tanah Abangโ€”Rangkasbitung ini pun akhirnya tinggal cerita setelah kurang lebih 60 tahun beroperasi.

Bangunan dan tata letak

sunting

Stasiun Rangkasbitung pada awalnya memiliki delapan jalur kereta api. Stasiun ini pada awalnya tidak memiliki sepur lurus. Dari arah Merak, jalur 2 merupakan sepur lurus. Sedangkan dari arah Jakarta, jalur 1 merupakan sepur lurus. Setelah jalur ganda Majaโ€”Rangkasbitung resmi beroperasi pada 1 Desember 2019,[12] jalur 1 hanya dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda dari arah Jakarta, sedangkan jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus jalur ganda ke arah Jakarta sekaligus jalur tunggal dari dan ke arah Merak. Stasiun ini dilengkapi dengan 4 peron penumpang yang terdiri dari 1 peron sisi yang rendah, 1 peron pulau yang rendah dan 2 peron pulau tinggi. Stasiun ini memiliki depo lokomotif, depo kereta, serta Pengawas Urusan Kereta Rel Listrik (PUKRL) yang digunakan untuk menyimpan rangkaian KRL. Selain itu, terdapat bekas bangunan menara air yang dahulu digunakan untuk lokomotif uap.

Bangunan stasiun ini, yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen masih dipakai hingga sekarang dan dijadikan sebagai aset cagar budaya.[13][14] Stasiun ini memiliki depo lokomotif beserta pemutar rel, gudang penyimpanan barang, dan menara air untuk lokomotif uap. Bangunan stasiun memiliki desain yang sederhana, dengan kanopi yang menggunakan rangka Polonceau.[15]

Pada tahun 2020, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub) berencana akan mengelektrifikasi jalur KA pada petak Rangkasbitungโ€”Serang agar dapat menambah frekuensi angkutan penumpang dengan moda kereta rel listrik (KRL), serta akan ditambah dengan pembangunan jalur ganda jika frekuensi penumpang KRL tersebut terus meningkat. Rencana ini diawali dengan revitalisasi jalur KA lintas Rangkasbitungโ€”Merak dari rel R42 ke R54 guna meningkatkan kecepatan kereta, dan kemudian akan dilanjutkan dengan pemasangan tiang listrik aliran atas (LAA). Namun, hingga saat ini hanya revitalisasi jalur saja yang baru terlaksana, sedangkan kabar tentang rencana elektrifikasi belum terdengar lagi.[16][17]

Di sebelah barat stasiun, terdapat sebuah jembatan kereta api besar yang membentang di atas Sungai Ciujung. Jembatan tersebut terdiri dari tiga rangka baja di atas dua tiang fondasi. Kedua rangka baja memiliki panjang 36 meter, sementara rangka ketiga memiliki panjang 24 meter dan konstruksinya lebih rendah. Selain jembatan kereta api, jembatan ini juga digunakan sebagai fasilitas bagi pejalan kaki dan kendaraan yang ingin menyeberang Sungai Ciujung.[18] Kini, di sebelah kiri jembatan KA tersebut sudah dibangun jembatan jalan raya, serta rangka baja dari jembatan KA Ciujung ini pun sudah pernah diganti dan bukan lagi peninggalan Staatsspoorwegen (SS).

Stasiun ini dahulunya memiliki banyak rumah dinas yang beberapa sudah tidak dipakai lagi, serta bangunan depo yang khas bangunan lama. Stasiun Rangkasbitung memiliki banyak sepur simpang dan percabangan. Sejak era Hindia Belanda, terdapat layanan kereta api angkutan minyak kelapa di stasiun ini, yang pabrik dan sepur simpangnya terletak di sebelah selatan emplasemen stasiun. Layanan kereta api ini masih bertahan hingga dekade 1980-an.

Stasiun Rangkasbitung saat ini sedang direnovasi besar-besaran demi mewujudkan peran sebagai stasiun pusat di Provinsi Banten. Kementerian Perhubungan melakukan renovasi pada stasiun ini dan memperbesar kapasitas penumpangnya. Pengerjaan renovasi stasiun ini berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pekerjaan jalur dan peron, kemudian tahap kedua adalah pekerjaan bangunan stasiun. Emplasemen jalur di stasiun ini sedang dirombak besar-besaran dan jumlah jalurnya ditambah menjadi sembilan jalur kereta api. Seluruh pekerjaan konstruksi stasiun ditargetkan selesai di tahun 2024 dan dapat beroperasi sepenuhnya di tahun 2025. Nantinya, stasiun ini akan menjadi stasiun pusat untuk sejumlah perjalanan kereta api di provinsi tersebut.[19]

R22LM01

Lantai 1 Concourse stasiun (dalam proses pembangunan)
G Bangunan utama stasiun
P
Lantai peron
Peron sisi (Rendah)
Jalur 1 Memiliki jalur akses langsung ke Depo Lokomotif dan Kereta โ†”
โ† Jalur langsiran lokomotif โ†’
Peron pulau (Rendah)
Jalur 2 โ† Sepur belok โ†’
โ†” (Jambu Baru) ย ย ย ย ย Commuter Line Merak, dari dan ke Merak
Peron pulau (Tinggi)
Jalur 3 โ† Sepur raya untuk jalur berjalan langsung kereta api ke arah Kampung Bandan maupun Anyer Kidul โ†’
Sepur lurus jalur ganda arah Merak โ†”
Jalur 4 ย ย ย ย ย Commuter Line Rangkasbitung, dari dan ke Tanah Abang (Citeras) โ†”
โ†” Sepur lurus jalur tunggal dari dan ke arah Anyer Kidul
Peron pulau (Tinggi)
Jalur 5 ย ย ย ย ย Commuter Line Rangkasbitung, dari dan ke Tanah Abang (Citeras) โ†”
Sepur lurus jalur ganda arah Kampung Bandan โ†”
Jalur 6 Jalur parkir rangkaian kereta โ†”
Jalur 7
Jalur 8
Jalur 9

Layanan kereta api

sunting

Semua kereta api yang melintasi jalur Tanah Abangโ€”Merak berhenti di Stasiun Rangkasbitung. Pada akhir era 1970-an, layanan kereta api penumpang pada segmen Tanah Abangโ€”Rangkasbitung sudah sepenuhnya menggunakan lokomotif diesel maupun KRD, dan tidak lagi menggunakan armada lokomotif uap. Stasiun dan Depo Lokomotif Rangkasbitung pun menjadi tempat berkumpulnya lokomotif uap yang sebagian unitnya dikirim dari Depo Lokomotif Tanah Abang. Lokomotif uap seperti B51, C27, BB10, dan CC10 digunakan untuk dinasan kereta api penumpang ke arah Anyer Kidul, Merak, dan Labuan.

Sebelumnya, stasiun ini juga melayani kereta api penumpang jarak jauh dan kereta api lokal seperti KA Kalimaya, Patas Merak, dan Krakatau. Per 1 April 2017, KA Kalimaya dan Patas Merak dinyatakan berhenti beroperasi karena digantikan oleh layanan baru bernama Commuter Line Rangkasbitung,[20] dan pada tanggal yang sama rute KA Lokal Merak dipangkas menjadi hanya Rangkasbitungโ€”Merak pp saja, dari yang sebelumnya Tanah Abangโ€”Merak PP.[21] Pada 17 Juli 2017, KA Krakatau ikut dipangkas rutenya menjadi Pasar Senenโ€”Blitar PP dari yang sebelumnya Merakโ€”Blitar PP, dan namanya diganti menjadi KA Singasari.[22]

Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 per 1 Februari 2025.[23]

Lokal dan Komuter (Commuter Line)

sunting
Nama Kereta Api Relasi Perjalanan Keterangan
Commuter Line Rangkasbitung Rangkasbitung Tanah Abang Ada sebagian perjalanan hanya sampai di Stasiun Parung Panjang (jadwal malam) dan Stasiun Serpong saja (jadwal sore dan malam).
LM Commuter Line Merak Merak Terdapat Kereta Khusus Petani-Pedagang

Insiden

sunting

Pada 25 Oktober 2001, sekitar pukul 02.40 dini hari, terjadi sebuah tabrakan antara KA penumpang bernomor 930 yang ditarik lokomotif BB303 14 relasi Jakarta Kotaโ€”Rangkasbitung dengan KA batu bara rangkaian pendek bernomor 2123 yang ditarik lokomotif BB304 relasi Cigadingโ€”Bekasi di sinyal masuk Rangkasbitung, sekitar 800 meter dari Stasiun Rangkasbitung ke arah Stasiun Jambu Baru. Kejadian ini berawal dari KA 930 yang mengalami kerusakan rem, sehingga tidak dapat berhenti dan terus melaju melewati emplasemen stasiun, kemudian menabrak KA 2123 yang sedang berhenti di sinyal masuk Rangkasbitung pihak Jambu Baru. Akibat kejadian ini, 3 orang tewas dan 13 penumpang luka-luka.[24][25]

Pada 11 Oktober 2010, sekitar pukul 01.45 dini hari, beberapa oknum membakar rangkaian-rangkaian kereta penumpang yang sedang terparkir di emplasemen Stasiun Rangkasbitung. Sedikitnya, ada 17 unit kereta penumpang kelas ekonomi (K3) yang terbakar. Berdasarkan kronologi, rangkaian kereta tersebut baru saja dicuci pada pukul 23.00 untuk digunakan keesokan harinya, tetapi secara tiba-tiba terbakar sekitar pukul 01.45. Api baru bisa dipadamkan pada pukul 03.00. Akibat peristiwa ini, perjalanan KA bernomor 901 relasi Rangkasbitungโ€”Pasar Senen dibatalkan.[26]

Pada 21 Maret 2026, seorang ibu melahirkan anaknya di Stasiun Rangkasbitung. Ibu tersebut didapati merupakan warga Kabupaten Pandeglang dan terpaksa melahirkan di toilet bangunan pemungkas (ultimate) stasiun dengan dibantu oleh petugas stasiun. Dengan kondisi ibu dan anak yang selamat, keduanya kemudian dibawa ke RSUD Adjidarmo Rangkasbitung.[27]

Galeri

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Tidak termasuk Kabupaten-Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan yang termasuk ke dalam wilayah metropolitan Jakarta Raya.

Referensi

sunting
  1. ^ Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2025 (PDF). Bandung: Kereta Api Indonesia (Persero). 2024-12-30. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-01-27 โ€“ via Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020.
  3. ^ Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia" (PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46).
  4. ^ a b Anne Reitsma, Steven (1916). Indische Spoorweg-Politiek. Batavia: Landsdrukkerij. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V.
  6. ^ Anne Reitsma, Steven (1928). Korte Geschiesdenis der Nederlands-Indische Staatsspoor- en Tramwegen. Weltevreden: G. KOLLF & Co. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Staatsspoorwegen (1921โ€“1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indiรซ 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken.
  8. ^ a b "ZWP - Haltestempels Ned.Indiรซ". studiegroep-zwp.nl. Diakses tanggal 2022-10-22.
  9. ^ Idris, Muhammad. "Ada Rel Mati di Banten, Dibangun Romusha Zaman Jepang". detikcom. Diakses tanggal 2017-10-16.
  10. ^ "Reaktivasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Labuan jadi Harapan Warga Lebak". Pelita Banten. 2017-09-21. Diakses tanggal 2017-10-16.
  11. ^ "Elektrifikasi Jalur Maja-Rangkasbitung Telan Anggaran Rp 172 Miliar". kumparan. Diakses tanggal 2023-06-03.
  12. ^ djka.dephub.go.id. "PEMBANGUNAN DOUBLE TRACK MAJA - RANGKASBITUNG TINGKATKAN KAPASITAS KRL MENJADI DUA KALI LIPAT". djka.dephub.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-03.
  13. ^ Difa (2019-08-06). "Bangunan Stasiun Rangkasbitung Jadi Cagar Budaya". Redaksi24.com. Diakses tanggal 2021-07-22.
  14. ^ de Jong, Michiel van Ballegoijen (1993). Spoorwegstations op Java. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw. hlm.ย 119. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ^ de Jong, Michiel van Ballegoijen (1993). Spoorwegstations op Java. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw. hlm.ย 118. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ^ Televisi, PT Cakrawala Andalas (2020-01-18). "Pemetaan Elektrifikasi Jalur Kereta Api, Menhub Kunjungi Stasiun Serang-Banten". www.antvklik.com. Diakses tanggal 2023-07-22.
  17. ^ Sulistyo, Bayu Tri (2020-01-18). "April 2020 Elektrifikasi Rangkasbitung - Serang Dimulai". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2023-07-22.
  18. ^ Johannes Raap, Olivier (2017). Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). hlm.ย 118. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ^ Fajrin, Muhammad Pascal (2022-06-23). "Kementerian Perhubungan Renovasi Stasiun Rangkasbitung, Perbesar Kapasitasnya". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2023-06-03.
  20. ^ Abdullah, Fariz (2017-03-19). "Empat Perjalanan KA Lokal Rangkasbitung โ€“ Tanah Abang Dihapus 1 April 2017". bantenhits (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2021-02-16.
  21. ^ "April 2017, KA Lokal Hanya Layani Rute Rangkasbitung-Merak". April 2017, KA Lokal Hanya Layani Rute Rangkasbitung-Merak. 2017-03-20. Diakses tanggal 2019-10-11.
  22. ^ Fahmi, M Iqbal (2017-07-02). Rastika, Icha (ed.). "KA Krakatau Berubah Jadi KA Singasari, Berikut Jadwal dan Rute Barunya". Kompas.com. Diakses tanggal 2019-10-10.
  23. ^ Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2025 (PDF). Bandung: Kereta Api Indonesia (Persero). 2024-12-30. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-01-27 โ€“ via Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
  24. ^ Liputan6.com (2001-10-26). "Dipastikan, Tiga Orang Tewas dan 14 Cedera". liputan6.com. Diakses tanggal 2023-08-06. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  25. ^ Liputan6.com (2001-10-26). "Kerusakan Teknis Penyebab Kecelakaan". liputan6.com. Diakses tanggal 2023-08-06. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  26. ^ "BELASAN KERETA PARKIR TERBAKAR DI STASIUN RANGKASBITUNG Kementerian Perhubungan Republik Indonesia". dephub.go.id. Diakses tanggal 2023-06-03.
  27. ^ Nurandi (2026-03-22). Mulyana, Bayu (ed.). "Penumpang Commuter Line Melahirkan di Toilet Stasiun Rangkasbitung". Radar Banten. Lebak: Wahana Semesta Banten. Diakses tanggal 2026-04-05.
Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Jambu Baru
menuju Merak
Merakโ€“Tanah Abangโ€“Kampung Bandan Citeras
Warunggunung
menuju Labuan
Labuanโ€“Rangkasbitung Terminus

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Commuter Line Rangkasbitung

Line Rangkasbitung (atau disebut juga Lin Rangkasbitung) merupakan salah satu relasi Commuter Line Jabodetabek dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkasbitung

Rangkasbitung, Lebak

Kecamatan Rangkasbitung terletak di Jalan Sunan Kalijaga, yang letaknya sekitar 1 km dari Pasar Rangkasbitung menuju arah Jakarta dan Bogor. Rangkasbitung merupakan

Stasiun Maja

laut dari Kampung Bandan. Sebelum KCI memperpanjang rutenya ke Rangkasbitung, stasiun ini dahulu hanya melayani kereta-kereta api lokal. Dalam rangka

Stasiun Parung Panjang

Commuter Line, stasiun ini juga pernah melayani perjalanan KRL dan kereta api lokal yang menuju Stasiun Rangkasbitung maupun ke Stasiun Merak, serta juga

Stasiun Kebayoran

melalui daerah Parung Panjang hingga ke Rangkasbitung, jalur ini selesai pada 1 Oktober 1899 (termasuk membuka Stasiun Kebajoran). Trase jalur kereta api pertama

Stasiun Merak

Labuan, serta merupakan stasiun terbesar ke-3 di lintas Rangkasbitung-Merak selain Stasiun Serang dan Stasiun Rangkasbitung. Nama Merak sendiri diambil

Jalur kereta api Labuanโ€“Rangkasbitung

Jalur kereta api Labuanโ€“Rangkasbitung adalah jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Labuan dengan Stasiun Rangkasbitung, Banten, termasuk dalam Wilayah

Stasiun Citeras

Stasiun Citeras (CTR) merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Mekarsari, Rangkasbitung, Lebak. Stasiun yang terletak pada ketinggian