| Gerakan Perang Salib |
|---|
| Asal mula |
| Teori perang yang sah โข Penitensi โข Ziarah Kristen โข Reforma Gregorian |
| Jenis |
| Perang Salib โข Perang Salib Rakyat โข Perang Salib Iberia โข Perang Salib Utaraโข Perang Salib melawan orang Kristen |
| Teori dan Praktik |
| Indulgensi โข Bula Perang Salib โข Dakwah โข Kaul โข Tata perang โข Ordo militer โข Keuangan โข Kritik |
| Negara |
| Negara-negara Tentara Salib โข Siprus โข Yunani jajahan Peranggi โข Negara Ordo Kesatria Jerman โข Rodos โข Malta |
| Kawan dan Lawan |
| Orang Bizantin โข Orang Armenia โข Umat Yakubi โข Orang Yahudi |
Gerakan Perang Salib adalah gerakan religius, politis, dan militer besar-besaran pada Abad Pertengahan, yang lazimnya dianggap bermula pada penyelenggaraan Konsili Clermont tahun 1095, ketika Paus Urbanus II mencanangkan pelaksanaan ekspedisi bersenjata untuk menolong umat Kristen Timur yang hidup di bawah pemerintahan Muslim. Ekspedisi bersenjata itu dikemas Sri Paus sebagai ziarah penyilih dosa. Pada masa itu, kewibawaan Sri Paus sudah meningkat lewat pembenahan tatanan hidup bergereja, dan ketegangan dengan para penguasa sekuler mendorong tumbuhnya gagasan perang suci, yang memadukan teori perang yang sah dari zaman klasik, preseden-preseden Alkitabiah, dan ajaran Agustinus tentang kekerasan yang dapat dibenarkan. Ziarah bersenjata, yang diselaraskan dengan ajaran agama Katolik yang kristosentris dan militan pada masa itu, menyalakan semangat juang di mana-mana. Ekspansi bangsa Eropa juga kian dimungkinkan oleh pertumbuhan ekonomi, surutnya kekuatan-kekuatan lama Laut Tengah, dan tidak bersatunya umat Islam. Faktor-faktor tersebut membuka peluang bagi tentara salib untuk melakukan perebutan wilayah dan mendirikan empat negara di kawasan Levans. Perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan negara-negara ini menginspirasi perang-perang salib berikutnya. Kepausan juga melancarkan perang salib yang membidik sasaran-sasaran lain, yaitu orang-orang Muslim di jazirah Iberia, orang-orang pagan di kawasan Baltik, dan pihak-pihak lain yang menentang kewibawaan Sri Paus.
Meskipun mengedepankan keikutsertaan orang-orang dari kalangan elit kesatria, yang digugah semangat juangnya dengan cara mengungkit nilai-nilai keutamaan kesatria yang menjadi pedoman hidup mereka, gerakan ini bergantung kepada dukungan luas dari kaum rohaniwan, masyarakat perkotaan, dan rakyat tani. Sekalipun dicegah, kaum wanita pun ikut terseret arus gerakan ini, baik sebagai peserta, sebagai pengemban tugas dan tanggung jawab kaum pria yang menjadi tentara salib dan berangkat ke Tanah Suci, maupun sebagai korban. Banyak orang menjadi tentara salib lantaran ingin mendapatkan indulgensi (penghapusan siksa dosa), tetapi keuntungan materi juga menjadi salah satu daya pikat. Biasanya perang salib dimaklumkan melalui bula Sri Paus, dan para pesertanya mengikrarkan kaul ikut berjuang dengan cara "memikul salib", yang dilambangkan melalui tindakan menjahitkan tanda salib pada pakaian mereka. Kegagalan menunaikan kaul ini dapat membuat seorang peserta diekskomunikasi. Gelora semangat juang yang berulang kali memuncak dari waktu ke waktu memunculkan "perang salib rakyat" yang dilancarkan tanpa izin paus.
Perang-perang yang dilancarkan atas izin paus memunculkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi yang khas. Kendati mula-mula pendanaannya acak-acakan, kemudian hari perang-perang ini didanai dengan cara yang lebih tertata melalui pengenaan pajak kepada rohaniwan dan penjualan indulgensi. Pasukan inti tentara salib beranggotakan kesatria-kesatria aswasada berpersenjataan berat, didukung pasukan infanteri, laskar-laskar pribumi, dan bantuan angkatan laut dari kota-kota maritim. Tentara salib mengukuhkan kekuasaannya dengan cara membangun puri-puri yang kuat, dan penyatuan nilai-nilai keutamaan kesatria dengan nilai-nilai luhur kerahiban menghasilkan ordo-ordo militer. Gerakan ini membuat dunia Kristen Barat bertambah luas dan menciptakan negara-negara perbatasan yang baru, beberapa di antaranya bertahan hingga permulaan zaman modern. Perang salib menyuburkan pertukaran budaya dan masih membekas dalam seni rupa dan seni sastra Eropa. Sekalipun meredup akibat Reformasi Protestan, "liga-liga suci" anti-Usmani terus memelihara semangat gerakan perang salib hingga abad ke-18.
Latar belakang
suntingPada umumnya Perang salib didefinisikan sebagai perang agama Kristen yang dikobarkan oleh para pejuang Eropa Barat pada Abad Pertengahan demi merebut Yerusalem.[1][2] Kampanye-kampanye militer yang berkaitan dengannya berbeda-beda dari segi luas jangkauan, rentang waktu, dan tujuan yang memotivasi.[3][4] Gerakan perang salib yang lebih luas menumbuhkan pranata-pranata dan ideologi-ideologi khas yang membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat di Eropa Katolik maupun di kawasan-kawasan sekitarnya.[5][6]
Teori-teori perang yang sah dari zaman klasik
suntingPada zaman klasik, filsuf-filsuf Yunani dan ahli-ahli hukum Romawi merumuskan teori-teori perang yang sah, yang kelak memengaruhi teologi perang salib. Aristoteles menitikberatkan kebutuhan akan akhir yang sah, dengan menegaskan bahwa "perang semestinya dilakukan demi perdamaian". Hukum Romawi mengharuskan adanya sebab yang sah, dan berpendirian bahwa hanya pemerintah yang sah sajalah yang berhak memaklumkan perang. Bela negara, pemulihan hak, dan penghukuman dianggap sebagai alasan-alasan yang dapat diterima.[7]
Meskipun Alkitabโsusastra pokok agama Kristenโmenyajikan pandangan-pandangan yang saling bertentangan mengenai kekerasan,[keterangan 1][9] kristenisasi Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 menuntun kepada pengembangan teori perang yang sah versi Kristen. Uskup Ambrosius adalah teolog pertama yang menyamakan musuh-musuh negara Kristen dengan musuh-musuh Gereja.[10][11]
Pada tahun 395, Kekaisaran Romawi terbagi permanen menjadi belahan timur dan belahan barat.[12] Peristiwa penyerbuan dan penjarahan kota Roma, yang terjadi 15 tahun kemudian, mendorong Agustinusโanak didik Ambrosiusโuntuk menulis risalah Kota Allah,[13] yang memaparkan pandangannya bahwa larangan membunuh yang termaktub di dalam Alkitab tidak berlaku atas perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah.[14] Agustinus berpendirian bahwa perang yang sah haruslah dimaklumkan oleh pemerintah yang sah, dikobarkan dengan alasan yang sah apabila upaya damai sudah menemui jalan buntu, dan dilaksanakan secara terkendali dengan didasari niat baik.[10][15] Renungan-renungannya nyaris terlupakan sesudah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476.[10][16]
Tiga tatanan peradaban
suntingDi atas puing-puing Kekaisaran Romawi Barat, tumbuh kerajaan-kerajaan Kristen baru, yang rata-rata dipimpin oleh seorang panglima perang Jermani. Kemahiran dalam bertempur dan kesetiakawanan merupakan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh kaum bangsawan di kerajaan-kerajaan baru itu. Kaum rohaniwan kerap menyanjung-nyanjung perilaku kekerasan mereka demi mendapatkan perlindungan, sekalipun Gereja tetap mengecap pembunuhan sebagai perbuatan dosa, sehingga pelakunya harus menjalankan laku tobatโbiasanya puasa[17]โuntuk mendapatkan pengampunan dosa.[18]
Sementara itu, belahan timur Kekaisaran Romawi masih terus bertahan, kendati banyak bagian dari wilayah kedaulatannya, termasuk Yerusalem, sudah jatuh ke tangan Khilafah Islamiyah yang sedang gencar melebarkan sayap pada pertengahan abad ke-7.[19][20] Alquran, susastra tersuci agama Islam, menyerukan jihad, yakni perjuangan untuk menyiarkan dan membela agama.[keterangan 2][22][23] Pada awal abad ke-8, tentara Muslim memasuki Eropa dan menaklukkan sebagian besar jazirah Iberia. Umat Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Muslim harus membayar pajak khusus yang disebut jizyah.[24] Begitu perang-perang penaklukan mereda, muncullah tiga tatanan peradaban, yaitu Eropa Barat yang terfragmentasi, Romawi Timur yang sedang melemah, dan dunia Islam yang kian menanjak.[25]
Perang suci dan ketakwaan
suntingPerlawanan terhadap ekspansi Muslim lambat laun memunculkan sebuah negara kecil di barat laut jazirah Iberia, yaitu Kerajaan Asturias. Seiring bergulirnya waktu, perlawanan ini tumbuh menjadi sebuah gerakan ekspansi, yang dianggap oleh masyarakat setempat sebagai gerakan yang diizinkan Allah. Invasi berulang kelompok-kelompok non-Kristen ke Eropa Barat pada abad ke-9 menghidupkan kembali gagasan perang suci,[15] yaitu perang yang dilancarkan atas izin seorang pemimpin spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat religius, dan berpahalakan keselamatan.[26] Paus Leo IV adalah paus pertama yang menjanjikan pahala keselamatan bagi orang-orang yang berjuang membela wilayah kedaulatan paus pada tahun 846.[27][28]
Ketika perang mulai terjadi terus-menerus, muncul golongan militer baru yang beranggotakan petarung-petarung berkuda, dan dikenal dengan sebutan milites di dalam karya-karya tulis sezaman. Mereka adalah orang-orang yang terampil menggunakan berbagai jenis senjata, misalnya ganjur yang berat.[29][30] Supaya perilaku kekerasan mereka tidak kebablasan, para petinggi Gereja mencetuskan gerakan Damai Allah.[31][32] Ironisnya, usaha-usaha untuk membatasi pertumpahan darah justru membuat Gereja menjadi termiliterisasi, karena para uskup berlomba-lomba membentuk angkatan perang dalam rangka menegakkan Damai Allah.[33]

Saat pemerintah pusat melemah, orang-orang kuat di daerah-daerah merebut kendali atas paroki-paroki maupun biara-biara, dan acap kali mengangkat rohaniwan yang kurang layak. Umat beriman merasa khawatir kalau-kalau pengangkatan yang melangkahi kewenangan Gereja itu akan membuat sakramen-sakramen yang dilayankan oleh si rohaniwan menjadi tidak sah.[34][35] Kekhawatiran ini membuat mereka bertambah cemas memikirkan azab akhirat.[17][36] Orang yang berbuat dosa diharapkan mengakui dosanya dan menjalankan laku tobat untuk dirukunkan kembali dengan Gereja. Lantaran laku tobat bisa sangat memberatkan, para imam mulai menawarkan indulgensi, yaitu pengalihan laku tobat ke dalam bentuk tindakan seperti bersedekah atau berziarah.[37][38] Ziarah laku tobat ke Palestina, yang dikenal sebagai Tanah Suci, dinilai istimewa lantaran keterkaitan erat kawasan itu dengan karya pelayanan Yesus,[39][40] juga lantaran di kawasan itulah orang dapat berziarah ke Gereja Makam Kudus, yang diyakini sebagai lokasi peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus.[41][42]
Pembenahan tatanan hidup bergereja
suntingDi zaman yang penuh dengan kekerasan itu, kepedulian terhadap urusan azab akhirat semakin meningkat, sehingga menyuburkan gerakan-gerakan berbenah di dalam lingkungan Gereja, lembaga yang dipercaya sebagai saluran pengalir rahmat Allah. Pada tahun 910, piagam pendirian biara Kluni menetapkan preseden dengan memberikan hak kepada para rahib untuk bebas memilih abas mereka. Upaya pembenahan tatanan hidup bergereja yang diprakarsai biara Kluni merembet dengan cepat ke mana-mana, didukung oleh kaum bangsawan yang menghargai syafaat para rahib bagi keselamatan jiwa mereka.[43][44] Pusat maupun cabang-cabang biara Kluni hanya tunduk kepada kewibawaan paus.[45][46]
Para paus, yang dihormati sebagai pengganti Rasul Petrus, menyatakan diri sebagai pemimpin tertinggi Gereja, dengan menyitir kata-kata pujian Yesus kepada Petrus.[47] Pada kenyataannya, keluarga-keluarga bangsawan Roma mengendalikan kepausan sampai Kaisar Hendrikus III memasuki kota Roma pada tahun 1053. Kaisar Hendrikus mengangkat rohaniwan-rohaniwan yang mencetuskan Pembenahan Gregorius demi tegaknya "kebebasan Gereja", melarang simoni alias praktik jual-beli jabatan gerejawi, dan menjadikan para kardinal, yakni rohaniwan-rohaniwan senior, sebagai satu-satunya pihak yang berhak memilih paus.[48][49] Andrew Latham, sarjana hubungan internasional, berpendapat bahwa Pembenahan Gregorius membuat Gereja Barat berkonflik dengan "sederet kekuatan sosial di dalam maupun di luar dunia Kristen".[50] Pada masa itu, perbedaan-perbedaan teologi dan liturgi di antara kelompok Kristen arus utama di Barat dan kelompok Kristen arus utama di Timur sudah semakin dalam,[keterangan 3] dan berbuntut aksi saling ekskomunikasi pada tahun 1054 dan perpecahan antara Gereja Katolik di barat dan Gereja-Gereja Ortodoks di timur.[51][52]
Kebangkitan semangat bergama mulai mengakar seiring munculnya komunitas-komunitas rahib seperti tarekat Kartusian dan tarekat Sistersien, dan menyebarnya Tata Tertib Santo Agustinus di kalangan rohaniwan sekuler. Kristosentrismeโfokus baru kepada hidup dan sengsara Kristusโjuga turut menempa corak kehidupan pada masa itu, dan menginspirasi para penceramah keliling.[53]
Situasi dunia menjelang perang salib pertama
sunting
Sekitar tahun 1000, ada empat kekuatan besar yang mendominasi kawasan sekitar Laut Tengah, yaitu khilafah bani Umayah di Andalus, khilafah bani Fatimah di Mesir, khilafah bani Abas (secara nominal) di Timur Tengah, dan Kekaisaran Romawi Timur di Eropa Selatan dan Anatolia. Dalam hitungan beberapa dasawarsa, semuanya mengalami krisis serius, khususnya di timur, tempat kekeringan dan gelombang dingin memicu kelaparan dan kerawanan.[54][55] Perubahan iklim menguntungkan Eropa Barat, memicu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan populasi.[56] Kota-kota di Eropa Barat masih relatif kecil-kecil ukurannya. Kota-kota terbesar sekalipun, seperti Venesia dan Roma, hanya berpenduduk kurang dari 40.000 jiwa.[keterangan 4][56]
Andalus melemah akibat konflik dan pecah menjadi beberapa negara kecil yang rawan terhadap ekspansi Kristen alias Reconquista.[57] Di Mesir dan Palestina, akibat sungai Nil berulang kali tidak meluap saat tiba musimnya, terjadi bencana kelaparan dan ketegangan antarumat beragama. Pada tahun 1009, Gereja Makam Kudus dihancurkan atas perintah Khalifah Alhakim dari bani Fatimah,[keterangan 5][59] kendati kelak dibangun kembali dengan dukungan Romawi Timur.[60] Sementara itu, migrasi-migrasi orang Turkoman dari Asia Tengah mengguncang stabilitas Timur Tengah. Togril I, pemimpin Turkoman dari kabilah Seljuk, merebut kekuasaan dari khilafah bani Abas pada tahun 1055.[61][62] Penggantinya, Alp Arslan, mengalahkan Romawi Timur di Manzikert pada tahun 1072, dan dengan demikian melapangkan jalan bagi orang Turkoman untuk masuk dan menetap di Anatolia.[63][64]
Dengan memudarnya kekuatan-kekuatan tradisional, kaum saudagar Italia menguasai perdagangan di Laut Tengah.[65] Orang-orang Norman dari kawasan utara Prancis menaklukkan bagian selatan jazirah Italia dan pulau Sisilia pada tahun 1091.[66][67] Lantaran ekspansi mereka mengancam kepentingan kepausan, Paus Leo IX terdorong untuk memerangi mereka. Meskipun mengalami kekalahan, Sri Paus menjanjikan pengampunan dosa kepada orang-orang yang ikut serta berjuang di pihak kepausan,[68][69] menunjukkan bahwa kepausan tidak segan-segan melimpahkan insentif spiritual bagi kepentingan perang.[70]
Hasrat kesatria-kesatria Eropa Barat akan tanah dan kekuasaan cocok dengan paus-paus yang kian lama kian lugas, yang menganugerahkan pengampunan dosa untuk kepentingan perang melawan kekuatan-kekuatan Muslim di Sisilia dan Iberia.[keterangan 6][71][72][73] Kenyataan bahwa negeri-negeri itu dulunya Kristen membuat kepausan teringat akan nasib Palestina. Pada tahun 1074 Paus Gregorius VII mengusulkan perang untuk merebut kembali Yerusalem, tetapi tak kunjung terlaksana.[74] Tidak lama kemudian, timbul kontroversi investitur yang dipicu oleh perdebatan seputar kewenangan paus dan kewenangan raja. Konflik bersenjata yang terjadi selama kontroversi itu berlangsung menggugah kembali minat orang terhadap teori-teori perang yang sah.[75][76] Anselmus dari Lucca, seorang ahli hukum kanonik, menghimpun risalah-risalah Agustinus untuk mengukuhkan dalilnya bahwa perang yang ditujukan untuk mencegah terjadinya dosa merupakan tindakan cinta kasih. Teolog Bonizo dari Sutri menganggap orang-orang yang gugur dalam perang semacam itu sebagai martir.[75][77] Gagasan-gagasan ini bermuara kepada keyakinan bahwa perang yang sah bisa dijadikan laku tobat.[78]
Perang salib
suntingBerkat pulihnya minat mengkaji ajaran Agustinus tentang kekerasan yang sah, Gereja Barat mendapatkan kerangka ideologis bagi pertembungan militer.[73] Menjelang akhir abad ke-11, ketika kepedulian orang terhadap urusan dosa sedang tinggi-tingginya, kepausan berada di posisi yang tepat untuk menggerakkan nilai-nilai yang dipedomani golongan kesatria.[79]
Perang Salib I
sunting
Lantaran kelabakan membendung arus migrasi orang Turkoman ke wilayah Romawi Timur, Kaisar Aleksius Komnenus meminta bantuan militer dari Paus Urbanus II pada tahun 1095. Sri Paus menyambut baik permintaan tersebut sebagai peluang untuk menegaskan kembali wibawa kepausan, lantas menyerukan perang melawan orang Turkoman dalam Konsili Clermont, dengan iming-iming pahala rohani bagi orang-orang yang mematuhi seruannya.[80][81] Sejarawan Jonathan Riley-Smith menyifatkan seruan perang Paus Urbanus sebagai "seruan yang revolusioner" karena menautkan dua hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain, yaitu perang dan ziarah.[78]
Di luar dugaan, seruan Paus Urbanus ternyata mampu membangkitkan semangat juang yang bergelora. Pada awal tahun 1096, rombongan tentara salib yang kurang terpimpin, beranggotakan 20.000 orang, berangkat ke Tanah Suci untuk mendarmabaktikan diri bagi perjuangan yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Perang Salib Rakyat. Sebagian besar gugur atau tewas dibantai dalam perjalanan.[82][83] Gelombang kedua, yang sudah lebih terpimpin, menyusul antara bulan Agustus dan Oktober tahun yang sama, beranggotakan sekurang-kurangnya 30.000 orang petarung dan orang-orang bukan petarung yang sama banyaknya, dipanglimai bangsawan-bangsawan terkemuka, antara lain Raimundus ningrat Saint-Gilles, Boamundus ningrat Taranto, dan Godefridus ningrat Bouillon.[84][85] Rombongan bergerak melintasi wilayah-wilayah kekuasaan Muslim dan merebut kota Edesa, Antiokhia, serta Yerusalem pada bulan Juli 1099.[86][87]
Perang salib demi Tanah Suci
suntingMemikul salib
suntingTentara salib mengikrarkan kaul keikutsertaan dalam perjuangan, dan biasanya diikuti upacara penjahitan lambang salib berbahan kain biasa atau kain sutraโbiasanya berwarna merahโpada mantel mereka. Dengan "memikul salib", mereka membulatkan tekad untuk menanggapi seruan Kristus yang termaktub di dalam Injil Matius, yaitu "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harusย โฆย memikul salibnya dan mengikut Aku".[88][89] Upacara ini menggemakan kembali semangat imitatio Christi (mengikuti jejak Kristus), gerakan spiritual abad ke-11 yang mendorong umat beriman meneladani Kristus dengan cara melayani sesama.[53] Benda-benda khas peziarah seperti tongkat dan pundi-pundi juga dibagi-bagikan.[90] Lambang salib harus terus melekat pada pakaian tentara salib sampai mereka kembali dari medan perang. Pencopotan lambang salib sebelum waktunya dapat dikenai sanksi oleh pihak Gereja,[keterangan 7][92] dengan pengecualian langka seperti sakit, miskin, atau ketidakcakapan.[93] Pada akhir abad ke-12, tentara salib secara luas dikenal dengan sebutan crucesignati (orang-orang yang diberi tanda salib).[94]
Hak istimewa
suntingSelaku orang-orang yang sedang melaksanakan laku tobat dan ziarah bersenjata, tentara salib digolongkan oleh hukum kanonik sebagai rohaniwan sementara di bawah yurisdiksi gerejawi.[95] Hah-hak istimewa sekuler yang mula-mula diberikan kepada mereka tidak terdokumentasi dengan baik. Menurut salah satu kitab kumpulan hukum kanonik, tentara salib perdana berikut barang-barang bawaan mereka berada "di bawah perlindungan keamanan Jeda Allah". Guibertus dari Nogent, mencatat bahwa Paus Urbanus menawarkan perlindungan kepada tentara salib dan seisi rumahnya, dengan ancaman ekskomunikasi bagi siapa saja yang berani mencelakai mereka.[96] Pendekatan hukum semacam ini masih disifatkan sebagai "barang baru" pada tahun 1107 oleh Ivo dari Chartres, ahli hukum kanonik yang enggan mengadili perkara perebutan sebuah benteng tentara salib.[keterangan 8][98] Konsili Lateran I menjadikan keistimewaan tersebut bersifat resmi, melindungi "rumah dan seisi rumah" tentara salib, lengkap dengan ancaman hukuman ekskomunikasi otomatis atau latae sententiae bagi pelanggar, hanya saja pelaksanaannya tidak konsisten.[99] Paus Egenius III juga menangguhkan tindak lanjut tuntutan hukum terhadap tentara salib, menangguhkan kewajiban mereka untuk membayar bunga pinjaman,[100][101] dan memberi kuasa kepada mereka untuk menjual tanahโtermasuk tanah lungguhโtanpa perlu persetujuan anggota keluarga maupun bangsawan majikan.[102]
Seni rupa
sunting
Di tiga negara tentara salib di utara Tanah Suci, karya seni rupa figuratif yang sintas hanya berupa gambar pada kepingan-kepingan uang logam,[keterangan 9] tetapi Kerajaan Yerusalem meninggalkan warisan artistik yang jauh lebih kaya.[104] Artefak-artefak tersebut menyingkap kentalnya pengaruh seni rupa Bizantin,[105] kendati hiasan-hiasan tertua yang sintas menampakkan ciri-ciri seni rupa Barat.[keterangan 10][106] Pada pertengahan abad ke-12, baik Gereja Makam Kudus maupun Gereja Kelahiran dihiasi mozaik.[105][107] Seniman-seniman Barat yang menggarap naskah-naskah gemilap di Yerusalem juga menyerap cita rasa keindahan Bizantin.[108] Contoh yang paling indah adalah buku mazmur Melisendis, yang dibuat atas pesanan Raja Fulko untuk dihadiahkan kepada Ratu Melisendis sekitar tahun 1135.[109][110] Menurut Andrew Jotischky, kepenajaan Peranggi dalam pembuatan ikon-ikon mungkin adalah tanda paling kentara dari "cita rasa Bizantin dalam karya-karya seni rupa tentara salib", yang sebagian besar terlestarikan di Biara Santa Katerina di Gunung Sinai dan di Siprus.[111]
Hanya sedikit karya seni yang sintas dari zaman penjajahan Peranggi di Yunani. Fresko-fresko Santo Fransiskus dari Asisi masih dapat dijumpai di dalam Masjid Jami Kalenderhane di Istambul,[112] dan lukisan dinding Santo Antonius dan Santo Yakobus masih terpampang di salah satu regol di Akronauplia.[113] Di kawasan Baltik, kaum elit pendatang yang hidup selibat atau endogamis menolak tradisi-tradisi seni rupa lokal, sembari melanggengkan seni budaya sendiri yang khas Katolik dan Jerman.[114]
Seni sastra
suntingGerakan perang salib, yang bertepatan dengan "Renesans Abad XII", mengilhami penulisan karya-karya sastra yang sangat beragam,[115] termasuk karya-karya yang disifatkan sebagai sekumpulan sumber naratif "yang besar dan beraneka di luar kelaziman" oleh sejarawan Elizabeth Lapina.[116]
Babad
suntingRiwayat-riwayat perdana mengenai perang salib yang pertama menghidupkan kembali tradisi sejarah militer komprehensif yang terakhir kali muncul pada Abad Kuno.[117] Gajak Orang Peranggi, yang rampung ditulis pada tahun 1104, menjadi acuan bagi riwayat-riwayat berikutnya yang terlahir lewat goresan pena Raymundus dari Aguilers, Fulkerus dari Chartres, dan Robertus dari Rheims. Sastrawan-sastrawan pro paus tersebut mendapuk Paus Urbanus sebagai pencetus utama perang salib, kendati pencetus utama perang salib menurut Albertus dari Aachen adalah Petrus Pertapa.[118][119]
Baca juga
suntingKeterangan
sunting- ^ Perjanjian Lama mencitrakan perang-perang bangsa Israel melawan musuh-musuh mereka sebagai perang-perang yang dilancarkan atas izin Allah, tetapi memuat pula Titah Kelima yang melarang pembunuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan bahwa "barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang", tetapi Yesus juga berkata, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang."[8]
- ^ Meskipun jihad maupun perang salib sama-sama adalah wujud dari perang suci, tidak ada bukti keterkaitan yang bersifat langsung di antara keduanya. Sejarawan Paul M. Cobb menisbatkan kemiripan keduanya kepada "akar bersamanya di dalam suatu monoteisme universal yang bertuhankan Allah yang cemburu".[21]
- ^ Perbedaan-perbedaan paling kentara di antara kedua komunitas Kristen itu terletak di dalam pengubahan isi Syahadat Nikea secara sepihak oleh Gereja Barat, dan penggunaan roti beragi alih-alih roti tak beragi dalam perayaan Ekaristiโupacara utama liturgi Kristenโoleh Gereja Timur.[51]
- ^ Sebagai perbandingan, Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, diperkirakan berpenduduk 600.000 jiwa, sementara Bagdad, ibu kota bani Abas, maupun Kairo, ibu kota bani Fatimah, berpenduduk kira-kira 500.000 jiwa, dan Kordoba, ibu kota bani Umayah berpenduduk sekurang-kurangnya 100.000 jiwa.[56]
- ^ Sebuah ensiklikโyang diduga diterbitkan oleh Paus Sergius IV pascapenghancuran Gereja Makam Kudusโmengungkapkan niat Paus Sergius untuk memimpin sebuah armada berlayar ke timur dan membangun kembali gereja itu, tetapi ensiklik tersebut adalah dokumen palsu dari akhir abad ke-11 yang dibuat di biara Moissac.[58]
- ^ Paus Aleksander II menawarkan pengampunan dosa kepada orang-orang Norman yang memerangi negara Islam Sisilia, dan menjanjikan penghapusan siksa dosa kepada para kesatria yang berangkat ke Iberia.[71]
- ^ Ekskomunikasi Kaisar Frederikus II merupakan contoh nyata. Sang kaisar bertolak menuju medan perang pada tahun 1227, tetapi wabah penyakit memaksanya pulang. Meskipun demikian, Paus Gregorius IX menjatuhkan pidana ekskomunikasi kepadanya karena sudah gagal menunaikan kaul. Jotischky berpendapat bahwa mungkin saja alasan sebenarnya di balik ekskomunikasi Frederikus adalah usaha-usaha yang dilakukannya untuk mengukuhkan kekuasaannya atas Gereja di Sisilia.[91]
- ^ Paus Paskalis II sudah mengamanatkan kepada Ivo untuk mengekskomunikasi Rotrodus III, Bupati Perche, lantaran priagung Prancis itu membangun benteng di atas lahan milik Hugo II, bangsawan Le Puiset. Ivo ragu-ragu, dan mengungkapkan bahwa dia tidak mau "menghukum orang seperti hasasin, tanpa diadili lebih dulu".[97]
- ^ Sejarawan seni rupa Jaroslav Folda mengidentifikasi sebuah Alkitab format-besar, yang kini tersimpan di San Daniele del Friuli, sebagai perkecualian lantaran gaya seninya yang khas, memadukan unsur-unsur seni rupa Armenia, Bizantin, dan Suryaniโsangat cocok dengan konteks Antiokhia.[103]
- ^ Jaroslav Folda menduga bahwa arca Kristus dari perak seukuran orang dewasa adalah artefak pertama yang ditempatkan di Aedicula pada zaman tentara salib, yakni arca yang hanya diketahui keberadaannya dari catatan peninggalan Daniel Musafir, seorang peziarah asal Rus.[106]
Rujukan
sunting- ^ Hornby 2005, hlm.ย 370.
- ^ Nicholson 2004, hlm.ย xlviii.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 10โ11.
- ^ Nicholson 2004, hlm.ย xlโxli, xlviii.
- ^ Murray 2006, hlm.ย xxxi.
- ^ Lloyd 2002, hlm.ย 65.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย 13โ14.
- ^ Asbridge 2012, hlm.ย 14โ15.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 14.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm.ย 14.
- ^ Madden 2013, hlm.ย 2.
- ^ Lock 2006, hlm.ย 358.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 56โ59.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย 15, 482 (note 21).
- ^ a b Jaspert 2006, hlm.ย 15.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 14โ15.
- ^ a b Thomson 1998, hlm.ย 69โ70.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 14, 30โ31.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 126, 141โ143.
- ^ Lock 2006, hlm.ย 4.
- ^ Cobb 2016, hlm.ย 29.
- ^ Hillenbrand 2018, hlm.ย 89โ91.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 75.
- ^ Cobb 2016, hlm.ย 30.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 144โ146.
- ^ Dennis 2001, hlm.ย 31.
- ^ Tyerman 2007, hlm.ย 38.
- ^ Bysted 2014, hlm.ย 53โ54.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 16.
- ^ Bull 2002, hlm.ย 24.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 213โ214.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 17โ18.
- ^ Morris 2001, hlm.ย 144.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 214โ215.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 25.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 30โ31.
- ^ Mayer 2009, hlm.ย 25โ27.
- ^ Bysted 2014, hlm.ย 20, 96.
- ^ Cobb 2016, hlm.ย 33โ34.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 21โ22.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย xxiiiโxxv.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 34โ36.
- ^ Thomson 1998, hlm.ย 33โ35.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 27โ28.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 27.
- ^ Latham 2011, hlm.ย 231.
- ^ Thomson 1998, hlm.ย 39.
- ^ Thomson 1998, hlm.ย 82โ85.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 25.
- ^ Latham 2011, hlm.ย 240.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm.ย 4.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 28โ29.
- ^ a b Jaspert 2006, hlm.ย 29.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย 33โ41, 47.
- ^ Ellenblum 2012, hlm.ย 3.
- ^ a b c Tyerman 2019, hlm.ย 47.
- ^ Cobb 2016, hlm.ย 60โ70.
- ^ Mayer 2009, hlm.ย 17.
- ^ Ellenblum 2012, hlm.ย 46โ47.
- ^ Lock 2006, hlm.ย 12.
- ^ Ellenblum 2012, hlm.ย 61โ122.
- ^ Lock 2006, hlm.ย 12โ14.
- ^ Cobb 2016, hlm.ย 71โ72.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 45.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย 57.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 287โ288.
- ^ Cobb 2016, hlm.ย 49โ60.
- ^ Bysted 2014, hlm.ย 57.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 26.
- ^ Morris 2001, hlm.ย 144โ145.
- ^ a b Bysted 2014, hlm.ย 57โ58.
- ^ France 1999, hlm.ย 188โ189.
- ^ a b Bull 2002, hlm.ย 18.
- ^ Tyerman 2007, hlm.ย 49.
- ^ a b Jotischky 2017, hlm.ย 25โ27.
- ^ Backman 2022, hlm.ย 301โ302.
- ^ Bysted 2014, hlm.ย 209.
- ^ a b Riley-Smith 2002a, hlm.ย 78.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 33.
- ^ Asbridge 2012, hlm.ย 34โ38.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 54.
- ^ Lloyd 2002, hlm.ย 35โ36.
- ^ Lock 2006, hlm.ย 20โ21.
- ^ Asbridge 2012, hlm.ย 43โ46.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 40โ45.
- ^ Irwin 2002, hlm.ย 215โ217.
- ^ Lock 2006, hlm.ย 20โ26.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm.ย 69.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย 4โ5.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm.ย 691.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 237โ238.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm.ย 71.
- ^ Lloyd 2002, hlm.ย 48.
- ^ Tyerman 2019, hlm.ย 5.
- ^ Riley-Smith 2005, hlm.ย 128.
- ^ Brundage 1997, hlm.ย 141โ143.
- ^ Brundage 1997, hlm.ย 144โ145.
- ^ Riley-Smith 2002a, hlm.ย 71โ72.
- ^ Brundage 1997, hlm.ย 146-147, 152โ153.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 64.
- ^ Brundage 1997, hlm.ย 147.
- ^ Blaydes & Paik 2016, hlm.ย 558.
- ^ Folda 2002, hlm.ย 148.
- ^ Folda 2002, hlm.ย 139.
- ^ a b Dodwell 1993, hlm.ย 241.
- ^ a b Folda 2002, hlm.ย 140.
- ^ Folda 2002, hlm.ย 143โ145.
- ^ Dodwell 1993, hlm.ย 241, 243.
- ^ Dodwell 1993, hlm.ย 242.
- ^ Folda 2002, hlm.ย 141.
- ^ Jotischky 2017, hlm.ย 160.
- ^ Folda 2002, hlm.ย 148โ149.
- ^ Gerstel 2001, hlm.ย 264โ266.
- ^ Christiansen 1997, hlm.ย 218.
- ^ Routledge 2002, hlm.ย 91.
- ^ Lapina 2019, hlm.ย 11.
- ^ Lapina 2019, hlm.ย 19.
- ^ Tyerman 2011, hlm.ย 8โ11, 15.
- ^ Jaspert 2006, hlm.ย 38.
Kepustakaan
sunting- Ailes, Marianne (2019). "The Chanson de geste". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm.ย 25โ38. ISBNย 978-1-1084-7451-1.
- Al'Zoby, Mazhar (2021). "'Frankish Invasions' and 'A Cosmic Struggle between Islam and Christianity'โA View from Jordan". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial HistoriesโCurrent Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol.ย Three. Routledge. hlm.ย 24โ25. ISBNย 978-0-367-51127-2.
- Asbridge, Thomas (2012) [2010]. The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBNย 978-1-8498-3688-3.
- Backman, Clifford R. (2022) [2009]. The Worlds of Medieval Europe (Edisi Fourth). Oxford University Press. ISBNย 978-0-1975-7153-8.
- Blaydes, Lisa; Paik, Christopher (Summer 2016). "The Impact of Holy Land Crusades on State Formation: War Mobilization, Trade Integration, and Political Development in Medieval Europe". International Organization. 70 (3): 551โ586. doi:10.1017/S0020818316000096. ISSNย 0020-8183. JSTORย 24758130.
- Bartlett, Robert (1994) [1993]. The Making of Europe: Conquest, Colonization and Cultural Change, 950โ1350. Penguin Books. ISBNย 978-0-140-15409-2.
- Bouras, Charalambos (2001). "The Impact of Frankish Architecture on Thirteenth-Century Byzantine Architecture". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 247โ262. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Brundage, James A. (1997). "Crusaders and Jurists: The Legal Consequences of Crusader Status". Dalam Vauchez, Andrรฉ (ed.). Le concile de Clermont de 1095 et l'appel ร la croisade. Actes du Colloque Universitaire International de Clermont-Ferrand (23-25 juin 1995). Publications de l'รcole franรงaise de Rome. Vol.ย 236. รcole franรงaise de Rome. hlm.ย 141โ154. ISBNย 978-2-7283-0388-5.
- Bull, Marcus (2002) [1999]. "Origins". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 15โ34. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Bysted, Ane L. (2014). The Crusade Indulgence: Spiritual Rewards and the Theology of the Crusades, ca 1095โ1216. History of Warfare. Vol.ย 103. BRILL. ISBNย 978-9-0042-8043-4.
- Carr, Mike (2016) [2014]. Merchant Crusaders in the Aegean, 1291โ1352. Warfare in History. The Boydell Press. ISBNย 978-1-7832-7405-5.
- Caspi-Reisfeld, Keren (2001). "Women Warriors during the Crusades, 1095โ1254". Dalam Edgington, Susan B.; Lambert, Sarah (ed.). Gendering the Crusades. University of Wales Press. hlm.ย 94โ107. ISBNย 978-0-7083-1698-6.
- Cassidy-Welch, Megan (2023). Crusades and Violence. ARC Humanities Press. ISBNย 978-1-6418-9475-3.
- Chazan, Robert (2006). The Jews of Medieval Western Christendom, 1000โ1500. Cambridge Medieval Textbooks. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-521-84666-0.
- Chrissis, Nikolaos G. (2021). "Western Agression and GrecoโLatin InteractionโA View from Syria". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial HistoriesโCurrent Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol.ย Three. Routledge. hlm.ย 42โ44. ISBNย 978-0-367-51127-2.
- Christiansen, Eric (1997) [1980]. The Northern Crusades (Edisi Second). Penguin Books. ISBNย 978-0-14-026653-5.
- Cobb, Paul M. (2016) [2014]. The Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades. Oxford University Press. ISBNย 978-0-1987-8799-0.
- Constable, Giles (2001). "The Historiography of the Crusades". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 1โ22. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Cortest, Luis (1998). "Introduction". Dalam Economou, George (ed.). Poem of the Cid: A Modern Translation with Notes by Paul Blackburn. University of Oklahoma Press. hlm.ย xiโxvi. ISBNย 978-0-8061-3022-4.
- Coureas, Nicholas (2021). "The Crusades Confront the OrthdoxsโA Greek Cypriot Viewpoint". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial HistoriesโCurrent Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol.ย Three. Routledge. hlm.ย 39โ41. ISBNย 978-0-367-51127-2.
- Dennis, George T. (2001). "Defenders of the Christian People: Holy War in Byzantium". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 31โ40. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Dickson, Gary (2006). "Popular Crusades". Dalam Murray, Alan V. (ed.). KโQ. The Crusades: An Encyclopedia. Vol.ย III. ABC Clio. hlm.ย 975โ979. ISBNย 978-1-57607-862-4.
- Dodwell, C. R. (1993). The Pictorial Arts of the West: 800โ1200. Pelican History of Art. Yale University Press. ISBNย 978-0-300-06493-3.
- Edbury, Peter (2002) [1999]. "The Latin East, 1291โ1661". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 291โ322. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- El-Azhari, Taef Kamal (2021). "The Former Victors over the Crusades in PalestineโA View from Egypt". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial HistoriesโCurrent Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol.ย Three. Routledge. hlm.ย 45โ46. ISBNย 978-0-367-51127-2.
- Ellenblum, Ronnie (2012). The Collapse of the Eastern Mediterranean: Climate Change and the Decline of the East, 950โ1072. Cambridge University Press. ISBNย 978-1-1070-2335-2.
- Folda, Jaroslav (2002) [1999]. "Art in the Latin East, 1098โ1291". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 138โ154. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Forey, Alan (2002) [1999]. "The Military Orders, 1120โ1312". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 15โ34. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- France, John (1999). Western Warfare in the Age of the Crusades, 1000โ1300. Cornell University Press. ISBNย 978-0-8014-3671-0.
- Friedman, Yvonne (2001). "Captivity and Randsom: The Experience of Women". Dalam Edgington, Susan B.; Lambert, Sarah (ed.). Gendering the Crusades. University of Wales Press. hlm.ย 121โ139. ISBNย 978-0-7083-1698-6.
- Gerstel, Sharon E. J. (2001). "Art and Identity in the Medieval Morea". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 263โ286. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Ghazarian, Jacob G. (2005) [2000]. The Armenian Kingdom in Cilicia during the Crusades: The Integration of Cilician Armenians with the Latins, 1080โ1393. RoutledgeCurzon. ISBNย 978-0-7007-1418-6.
- Haydock, Nickolas (2009a). "'The Unseen Cross Upon the Breast': Medievalism, Orientalism, and Discontent". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and ChristianโMuslim Clashes. McFarland & Company. hlm.ย 1โ38. ISBNย 978-0-7864-4156-3.
- Haydock, Nickolas (2009b). "Homeland Security: Northern Crusades through the EastโEuropean Eyes of Alexander Nevsky and the Nevsky Tradition". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and ChristianโMuslim Clashes. McFarland & Company. hlm.ย 47โ96. ISBNย 978-0-7864-4156-3.
- Hillenbrand, Carole (2018) [1999]. The Crusades: Islamic Perspectives. Edinburgh University Press. ISBNย 978-0-7486-0630-6.
- Hodgson, Natasha R. (2017) [2007]. Women, Crusading and the Holy Land in Historical Narrative. Warfare in History. The Boydell Press. ISBNย 978-1-78327-270-9.
- Hornby, A. S. (2005) [1948]. Wehmeier, Sally; McIntosh, Colin; Turnbull, Joanna; Ashby, Michael (ed.). Oxford Advanced Learner's Dictionary (Edisi Seventh). Oxford University Press. ISBNย 978-0-1943-1606-4.
- Housley, Norman (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1274โ1700". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 258โ290. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Irwin, Robert (2002) [1999]. "Islam and the Crusades, 1096โ1699". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 211โ257. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Isa, Mohamad (2021). "A Sate of Continuous Rape and ViolationโA View from Syria". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial HistoriesโCurrent Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol.ย Three. Routledge. hlm.ย 62โ63. ISBNย 978-0-367-51127-2.
- Jaspert, Nikolas (2006) [2003]. The Crusades. Routledge. ISBNย 978-0-4153-5968-9.
- Jeffreys, Elizabeth; Jeffreys, Michael (2001). "The "Wild Beast from the West": Immediate Literary Reactions in Byzantium to the Second Crusade". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 101โ116. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Jotischky, Andrew (2017) [2004]. Crusading and the Crusader States (Edisi Second). Routledge. ISBNย 978-1-1388-0806-5.
- Kazhdan, Alexander (2001). "Latins and Franks in Byzantium: Perception and Reality from the Eleventh to the Twelfth Century". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 83โ100. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Kostick, Conor (2008). The Social Structure of the First Crusade. The Medieval Mediterranean: Peoples, Economies and Cultures, 400โ1500. Vol.ย 76. Brill. ISBNย 978-90-04-16665-3.
- Lapina, Elizabeth (2019). "Crusader Chronicles". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm.ย 11โ24. ISBNย 978-1-1084-7451-1.
- Latham, Andrew (March 2011). "Theorizing the Crusades: Identity, Institutions, and Religious War in Medieval Latin Christendom". International Studies Quarterly. 5 (1): 223โ243. doi:10.1111/j.1468-2478.2010.00642.x. ISSNย 0020-8833. JSTORย 23019520.
- Lilie, Ralph-Johannes (1993) [1981]. Byzantium and the Crusader States, 1096-1204. Oxford University Press. ISBNย 978-0-19-820407-7.
- Lloyd, Simon (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1096โ1274". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 35โ67. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Lock, Peter (1995). The Franks in the Aegean, 1204โ1500. Longman. ISBNย 978-0-58-205139-3.
- Lock, Peter (2006). The Routledge Companion to the Crusades. Routledge Companion to History. Routledge. ISBNย 978-0-4153-9312-6.
- Luttrell, Anthony (2002) [1999]. "The Military Orders, 1312โ1798". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 323โ362. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- MacEvitt, Christopher (2008). The Crusades and the Christian World of the East: Rough Tolerance. The Middle Ages. University of Pennsylvania Press. ISBNย 978-0-8122-2083-4.
- Madden, Thomas F. (2013). The Concise History of the Crusades. Critical Issues in World and International History (Edisi Third). Rowman & Littlefield. ISBNย 978-1-4422-1575-7.
- Mallett, Alex (2020) [2014]. Popular Muslim Reactions to the Franks in the Levant, 1097โ1291. Routledge. ISBNย 978-0-367-60103-4.
- Mayer, Hans Eberhard (2009) [1965]. The Crusades. Diterjemahkan oleh John Gillingham (Edisi Second). Oxford University Press. ISBNย 978-0-19-873097-2.
- Menache, Sophia (2021). "In the Frontier of the Former Kingdom of Jerusalem: Risk of MisunderstandingโA View from Israel". Dalam Hinz, Felix; Meyer-Hamme, Johannes (ed.). Controversial HistoriesโCurrent Views on the Crusades. Engaging the Crusades. Vol.ย Three. Routledge. hlm.ย 72โ74. ISBNย 978-0-367-51127-2.
- Morris, Colin (2001) [1989]. The Papal Monarchy: The Western Church from 1050 to 1250. Oxford History of the Christian Church. Clarendon Press. ISBNย 978-0-19-826925-0.
- Murray, Alan V. (2006). "Preface". Dalam Murray, Alan V. (ed.). AโC. The Crusades: An Encyclopedia. Vol.ย I. ABC Clio. hlm.ย xxxiโxxxii. ISBNย 978-1-57607-862-4.
- Nicholson, Helen (2004). The Crusades. Greenwood Guides to Historic Events of the Medieval World. Greenwood Press. ISBNย 978-0-313-32685-1.
- O'Callaghan, Joseph F. (2003). Reconquest and Crusade in Medieval Spain. The Middle Ages. University of Pennsylvania Press. ISBNย 978-0-8122-1889-3.
- Paterson, Linda (2019). "The Troubadours and Their Lyrics". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm.ย 39โ53. ISBNย 978-1-1084-7451-1.
- Phillips, Jonathan (2002) [1999]. "The Latin East, 1098โ1291". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 111โ137. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Phillips, Jonathan (2014) [2002]. The Crusades, 1095โ1204. Seminar Studies (Edisi Second). Routledge. ISBNย 978-1-4058-7293-5.
- Pringle, Denys (2002) [1999]. "Architecture in the Latin East, 1098โ1571". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 155โ175. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2002a) [1999]. "The State of Mind of Crusaders to the East, 1095โ1300". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 68โ89. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2002b) [1999]. "Revival and Survival". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 385โ389. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Riley-Smith, Jonathan (2005) [2001]. "The Crusading Movement". Dalam Hartmann, Anja V.; Hauser, Beatrice (ed.). War, Peace and World Orders in European History. Routledge. hlm.ย 127โ140. ISBNย 978-0-415-24440-4.
- Routledge, Michael (2002) [1999]. "Songs". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm.ย 90โ110. ISBNย 978-0-1928-0312-2.
- Shachar, Uri Zvi (2019). "Hebrew Crusade Literature in Its Latin and Arabic Contexts". Dalam Bale, Anthony (ed.). The Cambridge Companion to the Literature of the Crusades. Cambridge Companions to Literature. Cambridge University Press. hlm.ย 102โ118. ISBNย 978-1-1084-7451-1.
- Sturtevant, Paul B. (2009). "SaladiNasser: Nasser's Political Crusade in El Naser Salah Ad-Din". Dalam Haydock, Nickolas; Risden, E. L. (ed.). Hollywood in the Holy Land: Essays on Film Depictions of the Crusades and ChristianโMuslim Clashes. McFarland & Company. hlm.ย 123โ146. ISBNย 978-0-7864-4156-3.
- Thomson, John A. (1998). The Western Church in the Middle Ages. Arnold. ISBNย 978-0-340-60118-1.
- Thomson, Robert W. (2001). "The Crusaders through Armenian Eyes". Dalam Laiou, Angeliki E.; Mottahedeh, Roy Parviz (ed.). The Crusades from the Perspectives of Byzantium and the Muslim World. Dumbarton Oaks Research Library. hlm.ย 71โ82. ISBNย 978-0-88402-277-0.
- Tibble, Steve (2025) [2024]. Crusader Criminals: The Knights Who Went Rogue in the Holy Land. Yale University Press. ISBNย 978-0-300-28429-4.
- Tyerman, Christopher (2007) [2006]. God's War: A History of the Crusades. Penguin Books. ISBNย 978-0-1402-6980-2.
- Tyerman, Christopher (2011). The Debate on the Crusades, 1099โ2010. Issues in Historiography. Manchester University Press. ISBNย 978-0-7190-7320-5.
- Tyerman, Christopher (2019). The World of the Crusades: An Illustrated History. Yale University Press. ISBNย 978-0-3002-1739-1.
- Wicks, Jared (September 1967). "Martin Luther's Treatise on Indulgences". Theological Studies. 28 (3): 481โ518. doi:10.1177/004056396702800302.
Bacaan tambahan
sunting- Boas, Adrian J., ed. (2016). The Crusader World. The Routledge Worlds. Routledge. ISBNย 978-0-415-82494-1.
- Maier, Christophe T. (2010). Crusade Propaganda and Ideology: Model Sermons for the Preaching of the Cross. Cambridge University Press. doi:10.1017/CBO9780511496554. ISBNย 978-0-5114-9655-4.
- Nicholson, Helen J, ed. (2005). Palgrave Advances in the Crusades. Palgrave Macmillan. doi:10.1057/9780230524095. ISBNย 978-1-4039-1237-4.
- Polk, William R. (2018). Crusade and Jihad: The Thousand-Year War Between the Muslim World and the Global North. The Henry L. Stimson Lectures Series. Yale University Press. ISBNย 978-0-3002-2290-6.
- Spencer, Stephen J. (2019). Emotions in a Crusading Context, 1095-1291. Oxford University Press. ISBNย 978-0-1988-3336-9.
- Tyerman, Christopher (1995). "Were There Any Crusades in the Twelfth Century?". The English Historical Review. 110 (437). Oxford University Press: 553โ577. doi:10.1093/ehr/CX.437.553. JSTORย 578335.