Surya
Dewa Matahari[1]
Pemimpin planet-planet
Parabrahman[a]
Anggota Navagraha
Nama lain
  • Aditya
  • Wiwaswat
  • Martanda
  • Sawitra
  • Baskara
  • Banu
  • Diwakara
  • Suryanarayana
  • Rawi
  • Katirawan
  • Prabakara
Afiliasi
KediamanSuryaloka
PlanetMatahari
Mantra
  • Gayatri Mantra[2]
  • Oแนƒ ฤdityฤya namo namaแธฅ
  • Oแนƒ sลซryadevฤya namaแธฅ
Senjata
WahanaKereta yang ditarik delapan kuda, dikendalikan oleh Aruna.[3]
HariMinggu
Angka1
Pemujaan
PerayaanPongal, Sankranti[4] ,Chhath, Samba Dashami
Keluarga
Orang tua
SaudaraPara Aditya, meliputi:
PasanganSaranya dan Caya[note 1]
AnakPutra: Putri:

Surya (Dewanagari: เคธเฅ‚เคฐเฅเคฏ;ย ,IAST:ย Sลซrya, เคธเฅ‚เคฐเฅเคฏ) adalah sebutan untuk Matahari,[8] sekaligus dewa Matahari dalam agama Hindu.[8] Surya memiliki berbagai nama lain dalam sastra Hindu, di antaranya ialah Aditya (Dewanagari: เค†เคฆเคฟเคคเฅเคฏ;ย ,IAST:ย ฤ€ditya, เค†เคฆเคฟเคคเฅเคฏ), Rawi (Dewanagari: เคฐเคพเคตเคฟ;ย ,IAST:ย Ravi, เคฐเคพเคตเคฟ) dan Wiwaswat (Dewanagari: เคตเคฟเคตเคธเฅเคตเคคเฅ;ย ,IAST:ย Vivasvat, เคตเคฟเคตเคธเฅเคตเคคเฅ).[9][10][11] Secara tradisional, dia dipuja sebagai lima dewa utama dalam tradisi Hindu Smarta, yang kelimanya dianggap setara dalam Panchayatana puja dan dimaksudkan untuk merealisasikan Brahman.[12]

Dalam ikonografi, Surya sering digambarkan sedang mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda, biasanya berjumlah tujuh,[3] melambangkan tujuh warna dari suatu cahaya, dan tujuh hari dalam sepekan.[9][13] Surya juga dilambangkan dengan Cakra, ditafsirkan sebagai Darmacakra. Surya merupakan penguasa rasi Singha (Leo), salah satu dari 12 rasi bintang zodiak menurut astrologi Hindu. Surya (alias Aditya atau Rawi) juga menjadi penamaan untuk hari Minggu, menurut kalender Hindu.[14]

Surya juga disebut sebagai ayah Sugriwa dan Karna, yang memegang peran penting dalam dua wiracarita Hindu, masing-masing berjudul Ramayana dan Mahabharata. Surya menjadi dewa utama yang dipuja-puja oleh tokoh-tokoh dalam dua wiracarita tersebut.[15][16]

Pemujaan

sunting

Selama abad pertengahan, Surya dipuja bersama-sama dengan Brahma saat pagi hari, Siwa saat siang, dan Wisnu saat senja.[9][17] Dalam beberapa pustaka dan kesenian dari zaman kuno, Surya tampil secara sinkretis bersama dengan Indra, Ganesa, dan dewata lainnya.[9][13] Surya juga merpakan dewa yang dapat ditemukan dalam kesenian dan sastra Buddhisme dan Jainisme.

Setelah sempat bertahan sebagai dewa utama dalam Hinduismeโ€•lebih lama daripada dewa-dewi Weda lainnyaโ€•pemujaan terhadap Surya mengalami penurunan drastis sekitar abad ke-13 Masehi, kemungkinannya disebabkan oleh penghancuran kuil dan candi Matahari oleh Muslim di India Utara. Kuil dan candi untuk pemujaan Surya tidak dibangun lagi di tempat lain, dan beberapa kuil lama dipugar ulang untuk memuja dewa (atau dewi) lainnya. Beberapa kuil utama Dewa Surya masih tersisa dan berdiri hingga sekarang, tetapi banyak yang tidak dipakai untuk tempat peribadatan utama. Dalam aspek-aspek tertentu, pemujaan Dewa Surya digabungkan bersama dengan pemujaan dewa-dewi yang lebih populer seperti Wisnu dan Siwa, atau dipuja sebagai dewa yang posisinya di bawah naungan mereka.[18]

Dewa Surya terutama dimuliakan secara istimewa dalam aliran Hinduisme yang disebut Saura dan Smarta, di negara bagian Rajasthan, Gujarat, Madhya Pradesh, Bihar, Maharashtra, Uttar Pradesh, Jharkhand, dan Odisha. Perayaan-perayaan besar dan perziarahan untuk memuja Surya meliputi: Makar Sankranti, Pongal, Samba Dashami, Ratha Saptami, Chath puja, dan Kumbha Mela.[19][20][21]

Mitologi

sunting
Arca Surya dengan Saranyu dan Caya.

Surya memiliki tiga istri: Saranyu (juga disebut Saraniya, Saranya, Sanjna, atau Sangya) dan Caya. Saranyu adalah ibu dari Waiwaswata Manu (Manu ketujuh), dan si kembar Yama (dewa kematian) dan adiknya Yami. Dia juga melahirkan dewa kembar yang dikenal sebagai Aswin, dokter para dewa.

Purana

sunting

Dalam pustaka Purana dikisahkan bahwa Saranyuโ€•karena tidak sanggup menyaksikan cahaya terang dari Suryaโ€•menciptakan tiruan dirinya yang bernama Caya dan memerintahkannya untuk bertindak sebagai istri Surya selama dia tidak ada. Caya memiliki dua putra dari Surya: Sawarni Manu (Manu kedelapan) dan Sani (dewa planet Saturnus). Dua putra Surya, Sani dan Yama bertanggung jawab untuk mengadili kehidupan manusia. Sani memberi hasil dari perbuatan seseorang saat mereka masih hidupโ€•melalui hukuman dan pahala yang setimpalโ€•sementara Yama memberi hasil dari perbuatan seseorang setelah kematian.[22]

Itihasa

sunting

Dalam salah satu pustaka Itihasa yaitu Mahabharata, dikisahkan bahwa Putri Kunti dari bangsa Yadawa mempelajari sebuah mantra dari seorang resi, Durwasa. Jika mantra diucapkan, ia dapat memanggil setiap dewa dan melahirkan anak dari dewa tersebut. Untuk menguji kekuatan mantra ini, Kunti mencoba memanggil Surya. Ketika Surya muncul, ia takut dan memohon agar sang dewa kembali ke asalnya. Namun sebelum kembali, Surya merasa wajib untuk memberikan keturunan kepada Kunti sebagai keistimewaan dari mantra yang telah diucapkan.

Secara ajaib, Surya menyebabkan Kunti melahirkan anak, tetapi keperawanannya akan tetap terjaga sehingga Kuntiโ€•sebagai putri yang belum menikahโ€•tidak perlu merasa malu atau menjadi cibiran masyarakatnya. Akan tetapi, Kunti memutuskan untuk membuang anaknya. Akhirnya anak tersebut dipungut oleh pasangan Adirata dan Radha, dan diberi nama Karna. Ia menjadi salah satu karakter utama dalam kisah perang besar di Kurukshetra.

Pewayangan

sunting

Batara Surya ini adalah Dewa yang menjadi tumpuan mahluk hidup di alam dunia ini terutama tumbuhan dan hewan, Batara Surya terkenal sangat sakti mandraguna dan menjadi salah satu Dewa andalan di kahyangan. Batara Surya terkenal senang memberikan pusaka-pusaka atau ajian-ajian yang dimilikinya terhadap orang-orang yang dipilihnya.

Dewa ini terkenal mempunyai banyak anak dari berbagai wanita (diantaranya dari Dewi Kunti yang melahirkan Adipati Karna dalam kisah Mahabharata).

Batara Surya kena batunya ketika Anoman menyalahkan Batara Surya atas kejadian yang menimpa Ibunya Dewi Anjani dan neneknya yang dikutuk menjadi tugu oleh suaminya sendiri. Anoman merasa Batara Surya harus bertanggung jawab sehingga Anoman dengan ajiannya mengumpulkan awan dari seluruh dunia untuk menutupi alam dunia sehingga sinar sang surya tidak bisa mencapai bumi. Untungnya kejadian ini dapat diselesaikan secara baik-baik sehingga Anoman dengan sukarela menyingkirkan kembali awan-awannya sehingga alam dunia terkena sinar mentari kembali.

Mantra Surya Stawa

sunting

Om Adityasya Param Jyoti, Rakta Teja Namo'stute, Sweta Pangkaja Madhyasta, Bhaskaraya Namo Stute.

Arti: Om Ya Tuan yang berwujud kemegahan yang agung, putra Aditi, dengan cahaya merah sembah kehadapanmu, dikau yang berstana di tengah teratai putih, sembah kepadamu, pembuat sinar.

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Menurut agama Hindu aliran Saura, Surya diyakini sebagai Tuhan Yang Mahakuasa.

Referensi

sunting
  1. ^ Encyclopaedia of Hinduism. Sarup & Sons. 1999. ISBNย 9788176250641.
  2. ^ Wendy Doniger (1999). Merriam-Webster's Encyclopedia of World Religions. Merriam-Webster. hlm.ย 1039. ISBNย 978-0-87779-044-0.
  3. ^ a b Jansen, Eva Rudy. The Book of Hindu Imagery: Gods, manifestations, and their meaning. hlm.ย 65.
  4. ^ South Indian Hindu Festivals and Traditions. Abhinav Publications. 2005. ISBNย 9788170174158.
  5. ^ Pฤแน‡แธeya, Lฤlatฤ Prasฤda (1971). "Sun-worship in Ancient India".
  6. ^ Dalal, Roshen (18 April 2014). The Religions of India: A Concise Guide to Nine Major Faiths. Penguin UK. ISBNย 978-81-8475-396-7.
  7. ^ Bhattacharyya, Asoke Kumar (1995). A Pageant of Indian Culture: Art and Archaeology. Abhinav Publications. ISBNย 978-81-7017-273-4.
  8. ^ a b Dalal, p. 399
  9. ^ a b c d Dalal, pp. 5, 311
  10. ^ van der Geer, Alexandra Anna Enrica (2008). Animals in Stone: Indian Mammals Sculptured Through Time. BRILL. hlm.ย 236โ€“. ISBNย 978-90-04-16819-0.
  11. ^ Gopal, Madan (1990). K. S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm.ย 76.
  12. ^ Flood, Gavin (1996). An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press. ISBNย 9780521438780.
  13. ^ a b Shimkhada, Deepak (1984). "The Masquerading Sun: A Unique Syncretic Image in Nepal". Artibus Asiae. 45 (2/3): 223โ€“229. doi:10.2307/3249732. JSTORย 3249732.
  14. ^ Dalal, p. 89
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama kumarkumar
  16. ^ Vyas, R. T.; Shah, Umakant Premanand (1995). Studies in Jaina Art and Iconography and Allied Subjects. Abhinav Publications. hlm.ย 23โ€“24. ISBNย 978-81-7017-316-8.
  17. ^ Blurton, T. Richard (1993). Hindu Art. Harvard University Press. hlm.ย 118. ISBNย 978-0-674-39189-5.
  18. ^ Pathak, Ratnesh K., Humes, Cynthia Ann (1993) "Lolark Kund: Sun and Shiva Worship in the City of Light", [in] Living Banaras: Hindu Religion in Cultural Context, Bradley R. Hertel, Cynthia Ann Humes, [eds] pp. 206โ€“211, SUNY Press, ISBN 0791413314
  19. ^ Melton, J. Gordon (2011). Religious Celebrations: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations. ABC-CLIO. hlm.ย 547โ€“548. ISBNย 978-1-59884-205-0. Makar Sankranti is a festival held across India, under a variety of names, to honour the god of the sun, Surya.
  20. ^ Eck, Diana L. (2013). India: A Sacred Geography. Random House. hlm.ย 152โ€“154. ISBNย 978-0-385-53192-4.
  21. ^ Lochtefeld, James G. (2002). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism. Vol.ย Nโ€“Z. The Rosen Publishing Group. hlm.ย 514. ISBNย 978-0-8239-3180-4.
  22. ^ Effectuation of Shani Adoration, pg. 10, at http://books.google.com/books?id=RnzLgxvmOFkC&pg=PA9&dq=shani+karma&cd=2#v=onepage&q=shani%20karma&f=false



Kesalahan pengutipan: Ditemukan tanda <ref> untuk kelompok bernama "note", tapi tidak ditemukan tanda <references group="note"/> yang berkaitan

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Filsafat

Grayling 2019, Chinese Philosophy Kim 2019, hlm.ย 161 Littlejohn 2023, 2a. Syncretic Philosophies in the Qin and Han Periods Littlejohn 2023, ยง Early Buddhism

Tarekat Syattariyah

Sekaten, Pelal, dan Panjang Jimat". Burman, J. J. Roy (2002). Hindu-Muslim Syncretic Shrines and Communities (dalam bahasa Inggris). Mittal Publications.

Agama keselamatan Tionghoa

Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Broy, Nikolas (2015), "Syncretic Sects and Redemptive Societies. Toward a New Understanding of "Sectarianism"

Silat Melayu

Tan, Sooi Beng (2004), The Music of Malaysia: The Classical, Folk and Syncretic Traditions, Routledge, ISBNย 978-0754608318 McQuaid, Scott (2012), The

Zaili Jiao

ISBNย 0226304167. Tertitski, Konstantin (2007). "Zailijiao in Russia: A Chinese Syncretic Religion in Diaspora". International Sinological Symposium. 4. Taipei:

Pohon kehidupan (Kabbalah)

Oedipus Aegyptiacus. Kircher mungkin telah mendesain diagramnya dalam usaha syncretic untuk rekonsiliasi beberapa ide distrik. Versi yang mempunyai anotasi

Kontrabas

Matusky, Patricia. (2017). The Music of Malaysiaย : the Classical, Folk and Syncretic Traditions (Edisi 2nd ed). London: Taylor and Francis. ISBNย 9781351839648

Ali Musliyar

2014, the ICHR has been accused of trying to revise and โ€œsaffroniseโ€ its syncretic history." Paragraphs 26-31. Diakses tanggal 2022-03-09. Pemeliharaan CS1: