Nimrod, lukisan karya David Scott, tahun 1832

Nimrod[a] adalah tokoh Alkitab yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian dan Kitab Tawarikh. Menurut Alkitab, Nimrod adalah anak Kusy bin Ham bin Nuh, dan raja di tanah Sinear (Mesopotamia Hilir), "seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN [dan] ... orang perkasa pertama di bumi".[1] Tradisi-tradisi Alkitabiah maupun non-Alkitabiah menyifatkan Nimrod sebagai raja yang memerintahkan pembangunan Menara Babel, dan penyifatan seperti inilah yang membentuk citra buruknya sebagai raja yang mendurhakai Allah.

Tidak ada bukti langsung dari rekam sejarah maupun daftar resmi dan senarai nama raja-raja di luar Alkitab (termasuk dari Mesopotamia, yang dianggap lebih tua daripada keterangan Alkitab) yang menunjukkan bahwa Nimrod benar-benar adalah seorang tokoh sejarah. Para sejarawan tidak mendapati seorangpun tokoh sejarah yang dapat disamakan dengan Nimrod, dan tidak pula dapat menemukan kaitan sejarah, kebahasaan, maupun genetis di antara bangsa Sumer dan bangsa Semit Mesopotamia dengan Kerajaan Kusy yang muncul lebih kemudian nun jauh di Sudan. Pada tahun 2002, ada sarjana yang berpendapat bahwa kemunculan tokoh Nimrod di dalam Alkitab terilhami oleh seorang tokoh sejarah Mesopotamia, yaitu Raja Akad yang bernama Naram-Sin, cucu Sargon. Sarjana-sarjana lain juga sudah berusaha menisbatkan sumber ilham di balik kemunculan tokoh Nimrod di dalam Alkitab kepada seorang atau lebih dari seorang raja Asyur, Akad, dan Babel, maupun kepada Ninurta, dewa bangsa Asyur dan Babel.[2][3]

Kemudian hari (sesudah kedatangan Islam), beberapa situs reruntuhan di Timur Tengah diberi nama yang terambil dari nama Nimrod.[4]

Alkitab

sunting
Nimrod tampak sedang menginspeksi tukang-tukang batu dalam lukisan Menara Babel karya Pieter Bruegel

Di dalam Alkitab, nama Nimrod pertama kali muncul di dalam senarai anak cucu Nuh.[5] Ia disebut sebagai anak Kusy bin Ham bin Nuh, serta disifatkan sebagai "orang perkasa pertama di bumi" dan "seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN". Penyifatan ini kembali muncul di dalam Kitab Tawarikh (1 Tawarikh 1:10), dan frasa "negeri Nimrod" digunakan sebagai sinonim untuk Asyur atau Mesopotamia di dalam Kitab Mikha (Mikha 5:6):

Mereka akan meremukkan negeri Asyur dengan pedang,
dan negeri Nimrod di pintu-pintu masuk.
Dia akan membebaskan kita dari Asyur,
ketika dia masuk ke negeri kita dan menginjak daerah kita.

Nas Kejadian 10:10 menyebutkan bahwa "wilayah kerajaannya" (bahasa Ibrani: רֵאשִׁית מַמְלַכְתּוֹ‎, rēsyit̲ mamlak̲to) meliputi Babel, Erekh, Akad, dan Kalne di tanah Sinear (Mesopotamia). Nas ini bisa berarti Nimrod yang mendirikan, bisa pula berarti Nimrod yang memerintah, bahkan bisa berarti Nimrod yang mendirikan sekaligus memerintah kota-kota itu. Lantaran ketaksaan nas Ibraninya, tidak dapat dipastikan apakah Nimrod atau Asyur yang mendirikan kota Niniwe, Resen, Rehobot-Ir, dan Kalaḥ. Baik tafsir yang mendapuk Nimrod maupun tafsir yang mendapuk Asyur sebagai pendiri kota-kota itu tercerminkan di dalam berbagai versi Inggris. Walter Raleigh meluangkan beberapa halaman bukunya, History of the World (terbit tahun 1614), untuk memuat petikan dari kajian ilmiah terdahulu tentang perdebatan antara pihak yang mendapuk Nimrod dan pihak yang mendapuk Asyur sebagai tokoh yang membangun kota-kota di negeri Asyur.[6]

Tradisi dan legenda

sunting

Di dalam tradisi Yahudi dan Kristen, Nimrod dianggap sebagai pemimpin masyarakat yang membangun Menara Babel di tanah Sinear,[7] kendati Alkitab tidak pernah menyatakan demikian. Kerajaan Nimrod mencakup kota Babel, Erekh, Akad, dan mungkin juga Kalne, di tanah Sinear (Kejadian 10:10).[8] Flavius Yosefus yakin bahwa atas prakarsa Nimrodlah kota Babel maupun menaranya mulai dibangun. Selain di dalam risalah Yosefus, anggapan semacam ini juga terdapat di dalam Talmud (Hulin 89a, Pesahim 94b, Erubin 53a, Abodah Zarah 53b), maupun di dalam midras yang disusun lebih kemudian, misalnya Kejadian Rabah. Beberapa di antara sumber-sumber Yahudi terdahulu ini juga menyebutkan bahwa Amrafel, raja yang berperang melawan Abraham, tidak lain adalah Nimrod sendiri.

Yosefus menulis sebagai berikut:[9]

Hatta Nimrod yang menghasut mereka untuk mengolok-olok dan menghina Allah seperti itu. Dia adalah cucu Ham bin Nuh, seorang yang nekat dan besar kekuatan tangannya. Dia yakinkan mereka untuk tidak bersyukur kepada Allah, seakan-akan berkat daya upayanyalah mereka dapat mengenyam kebahagiaan, malah supaya yakin bahwa keberanian mereka sendiri yang mendatangkan kebahagiaan itu. Dia juga berangsur-angsur mengubah pemerintahan menjadi tirani, lantaran sudah tidak ada lagi cara lain untuk menjauhkan umat manusia dari ketakwaan kepada Allah, bahkan untuk membuat mereka terus-menerus bergantung kepada kekuasaannya. Dia juga sesumbar hendak menuntut balas kepada Allah, kalau sampai sekali lagi Allah berkehendak menenggelamkan dunia; itulah sebabnya dia bertekad membangun sebuah menara yang menjulang sedemikian tingginya sehingga tidak dapat dilamun air bah; dan bahwa dia sendiri akan menuntut balas kepada Allah sebab sudah membinasakan bapa-bapa leluhur mereka. Syahdan ramai orang bersedia mengikuti pendirian Nimrod, dan menganggap ketakwaan kepada Allah sebagai sikap pengecut. Lalu mereka membangun sebuah menara, tanpa peduli sakit dan sengsara, tanpa sedikitpun lalai bekerja, dan lantaran banyaknya orang yang bekerja, menara itu bertambah-tambah tingginya, lebih cepat daripada perkiraan semua orang. Namun dindingnya sangat tebal, dan dibuat sangat kukuh, sehingga meskipun sangat tinggi, jika diamat-amati, akan tampak seolah-olah tidak betul-betul tinggi. Menara itu dibangun menggunakan bata bakar yang dilepa dengan gala-gala supaya kedap air. Tatkala Allah melihat mereka berlaku sedemikian gilanya, Ia tidak berkehendak untuk memunahkan mereka, sebab kebinasaan orang-orang berdosa terdahulu tidak juga membuat mereka bertambah bijak; akan tetapi Ia menimbulkan huru-hara di tengah-tengah mereka, dengan memunculkan di dalam diri mereka bermacam-macam bahasa, sehingga dengan begitu banyaknya bahasa, mereka tidak dapat memahami perkataan satu sama lain. Tempat mereka membangun menara itu sekarang disebut Babel, lantaran kacau-balaunya bahasa yang tadinya sudah mereka pahami; sebab yang dimaksud orang Ibrani dengan perkataan Babel adalah kekacauan ...

Lantaran Akad diluluhlantakkan dan sirna bersama runtuhnya Kemaharajaan Akad antara tahun 2200 sampai 2154 Pramasehi (kronologi panjang), kisah-kisah tentang Nimrod sepertinya menyiratkan kurun waktu penghujung Zaman Perunggu Awal. Keterkaitan dengan Erekh, kota yang meredup pengaruhnya sekitar tahun 2000 Pramasehi akibat perseteruan di antara Isin, Larsa, dan Elam, juga membuktikan kepurbaan kisah-kisah Nimrod. Menurut beberapa pencetus teori pada zaman modern, pemaktubannya ke dalam Alkitab menyiratkan bahwa kisah-kisah itu berasal dari Babel—kemungkinan besar dimasukkan pada masa pembuangan Babel.[10]

Para mufasir Yahudi, mulai dari Filon dan Yohanan ben Zakai pada abad pertama tarikh Masehi, menafsirkan bahwa frasa di hadapan TUHAN (גבר ציד לפני יהוה gibor-ṣayiḏ lip̄nē Yahweh, yang secara harfiah berarti "di hadapan wajah Yahweh") berarti bertentangan dengan Tuhan. Tafsir serupa terdapat di dalam risalah Filon-Semu dan risalah Simakhos yang ditulis lebih belakangan. Beberapa ulasan Yahudi Rabani juga menghubung-hubungkan nama Nimrod dengan kata Ibrani yang berarti 'pemberontak'.[11] Risalah Filon-Semu (diduga berasal dari sekitar tahun 70 Masehi), yang menampilkan Nimrod sebagai pemimpin Bani Ham, Yoktan sebagai pemimpin Bani Sem, dan Fenekh sebagai pemimpin Bani Yafet, juga mengaitkan Nimrod dengan pembangunan Menara Babel.[12] Pelbagai versi dari kisah ini kembali muncul di dalam karya-karya sastra yang ditulis belakangan, misalnya Apokalipsis Metodios-Semu (dari abad ke-7).

Kitab Yobel hanya menyebut "Nebrod" (bentuk Yunani dari Nimrod) sebagai ayah dari Azurad, istri Eber dan ibu Peleg (bab 8, ayat 7). Keterangan ini membuat Nimrod menjadi salah seorang kakek moyang Abraham, dan oleh karena itu juga kakek moyang segenap bangsa Ibrani.

Nimrod karya Yitzhak Danziger

Talmud Babel (Gittin 56b) menyebutkan bahwa penyebab kematian Titus adalah seekor serangga yang terbang ke dalam lubang hidungnya, dan menggerogoti otaknya selama tujuh tahun, sama seperti legenda penyebab kematian tokoh Alkitab Raja Nimrod.[13][14][15]

Sebuah karya sastra yang lebih tua dalam bahasa Arab yang dinamakan Kitabul Magal atau Kitab Gulungan-Gulungan (bagian dari khazanah sastra Klemens) menyebutkan bahwa Nimrod mendirikan kota Hadāniūn, Elasar, Seleukia, Ktesifon, Rūhīn, Atrapatene, Telalān, dan lain-lain, bahwa dia mulai memerintah sebagai raja di muka bumi ketika Reu berumur 163 tahun, dan bahwa dia memerintah selama 69 tahun, membangun kota Nisibis, Raha (Edesa), serta Haran ketika Peleg berumur 50 tahun. Selanjutnya dikisahkan bahwa Nimrod "melihat di langit sehelai kain hitam dan sebuah mahkota". Dia memanggil Sasan si tukang tenun, dan menyuruhnya membuat sebuah mahkota yang serupa dengan yang dilihatnya di langit, lalu dia tatahinya dengan batu-batu mulia dan dia kenakan. Konon dia adalah raja pertama yang mengenakan mahkota. "Itulah sebabnya orang-orang yang tidak tahu apa-apa mengenai perkara itu berkata sebuah mahkota turun kepadanya dari langit." Risalah ini kemudian menjabarkan bagaimana Nimrod menciptakan upacara pemujaan api dan penyembahan berhala, lalu berguru ilmu tenung selama tiga tahun kepada Bouniter, anak Nuh yang keempat.[16]

Di dalam Pengenalan (R 4.29), salah satu versi sastra Klemens, Nimrod disamakan dengan Ninus, Raja Asyur, tokoh legenda yang pertama kali disebut di dalam risalah sejarawan Yunani Ctesias sebagai pendiri kota Niniwe. Meskipun demikian, di dalam versi sastra Klemens lainnya, Homili (H 9:4–6), Nimrod dijadikan tokoh yang sama dengan Zarathustra.

Gua Harta yang ditulis dalam bahasa Suryani (sekitar tahun 350) memuat sebuah kisah tentang Nimrod yang sangat mirip dengan versi Kitabul Magal, hanya saja Nisibis, Edesa and Haran dikatakan dibangun Nimrod ketika Reu berumur 50 tahun, dan bahwa dia mulai memerintah sebagai raja yang pertama ketika Reu berumur 130 tahun. Di dalam versi ini, si tukang tenun bernama Sisan, dan anak Nuh yang keempat bernama Yonton.

Sekitar tahun 390, Heronimus menjelaskan di dalam risalahnya, Pertanyaan-Pertanyaan Orang Ibrani Perihal Kitab Kejadian, bahwa sesudah Nimrod menjadi raja di Babel, "dia juga menjadi raja di Arakh [Erekh], yakni di Edisa, juga di Akhad [Akad], yang sekarang dinamakan Nisibis, dan di Khalane [Kalneh], yang kelak dinamakan Seleukia, dari nama Raja Seleukos yang memerintah ketika nama kota itu diganti, dan yang sekarang ini ternyata disebut Ktesifon." Meskipun demikian, identifikasi tradisional kota-kota yang dibangun Nimrod menurut kitab Kejadian ini tidak lagi diterima para sarjana modern, yang berpandangan bahwa kota-kota itu terletak di Sumer, bukan di Suriah.

Karya sastra Gi'iz Pertengkaran Adam dan Hawa dengan Setan (sekitar abad ke-5) juga memuat keterangan yang mirip dengan versi Gua Harta, hanya saja nama si pembuat mahkota adalah Santal, dan nama anak keempat Nuh yang mengajari Nimrod adalah Barvin.

Meskipun demikian, Efrem orang Suriah (lahir tahun 306; wafat tahun 373) meriwayatkan sebuah pandangan yang sebaliknya mengatakan bahwa Nimrod adalah orang saleh dan menentang pembangunan Menara Babel. Demikian pula Targum Yonatan-semu (tidak dapat dipastikan tarikh pembuatannya) menyebutkan sebuah tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Nimrod mengungsi Sinear di selatan Mesopotamia ke Asyur di utara Mesopotamia lantaran tidak mau terlibat dalam pembangunan Menara Babel, dan oleh sebab itu Allah mengaruniakan kepadanya empat buah kota di Asyur, sebagai ganti kota-kota yang ditinggalkannya di Babel.

Bab Rabi Eliezer (dari sekitar tahun 833) meriwayatkan tradisi-tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Nimrod mewarisi pakaian Adam dan Hawa dari ayahnya, Kusy. Pakaian itu membuatnya tak terkalahkan. Nimrod dan para pengikutnya kemudian mengalahkan bani Yafet demi menjadi raja sejagat. Kemudian hari, Esau (cucu Abraham) menyergap, memenggal, dan menjarah harta benda Nimrod. Cerita-cerita ini belakangan kembali muncul di dalam sumber-sumber lain, termasuk di dalam Sefer haYasyar dari abad ke-16, yang menambahkan keterangan bahwa Nimrod memiliki seorang anak laki-laki bernama Mardon yang lebih jahat lagi daripada dirinya.[17]

Di dalam risalah Tarikhur Rusul wal Muluk (Sejarah Rasul-Rasul dan Raja-Raja), sejarawan Muslim abad ke-9, Muhammad bin Jarir Attabari, meriwayatkan bahwa Nimrod memerintahkan pembangunan menara di Babil, Allah merubuhkan menara itu dan mengacau-balaukan bahasa umat manusia, yaitu bahasa Suryani, sehingga pecah menjadi 72 macam bahasa. Sejarawan Muslim abad ke-13, Abul Fida, meriwayatkan kisah yang sama, dan menambahkan bahwa Eber (salah seorang leluhur Abraham) diizinkan mempertahankan bahasa asli, yang menurut Abul Fida adalah bahasa Ibrani, sebab Eber tidak ikut membangun Menara Babel. Sejarawan Muslim abad ke-10, Almas'udi meriwayatkan sebuah legenda yang menyebutkan bahwa Nimrod yang membangun Menara Babel adalah anak Mas bin Aram bin Sem, dan menambahkan bahwa Nimrod memerintah bangsa Anbat selama 500 tahun. Almas'udi belakangan mencantumkan nama Nimrod di urutan pertama dalam daftar Raja Babel, serta menyebutkan bahwa Nimrod menggali terusan-terusan besar dan memerintah selama 60 tahun. Di dalam risalah-risalah yang lain, Almas'udi menyebutkan raja lain yang juga bernama Nimrod, yaitu Nimrod bin Kanaan, sebagai orang yang memperkenalkan ilmu nujum dan berusaha membunuh Abraham.

Di dalam legenda Armenia, leluhur bangsa Armenia, Hayk, mengalahkan Nimrod (kadang-kadang disamakan dengan Bel) dalam sebuah pertempuran di dekat danau Van.

Di dalam legenda rusa ajaib (lebih dikenal sebagai rusa putih [Fehér Szarvas] atau rusa perak) dari Hongaria, Raja Nimród (Ménrót), yang kerap dijuluki sebagai "Nimród Raksasa" atau "Raksasa Nimród", keturunan Nuh, adalah orang pertama yang disebut sebagai bapa leluhur orang Hongaria. Raksasa Nimród dan seluruh rakyatnya, yang juga berbadan raksasa, adalah pihak yang membangun menara Babel, yang konon dimulai 201 tahun sesudah peristiwa Air Bah. Sesudah usaha ambisius itu berakhir dengan kegagalan, di tengah-tengah kekacauan bahasa, Raksasa Nimród pindah ke tanah Evilát, tempat istrinya, Enéh, melahirkan si kembar Hunor dan Magyar (alias Magor). Raksasa Nimród dan putra kembarnya adalah pemburu-pemburu andal, tetapi Nimródlah yang dianggap sebagai pemburu dan pemanah perdana, paripurna, dan legendaris. Menurut legenda Hongaria, putra kembar Raja Nimród, Hunor dan Magor, masing-masing menurunkan orang Hun dan orang Magyar (bangsa Hongaria), dengan mengawini dua orang putri Raja Dul, pemimpin orang Alan, yang mereka culik sesudah kehilangan jejak rusa perak saat berburu.[18] Kemahiran bersejarah orang Hun maupun orang Magyar dalam menggunakan busur berluk juga dinisbatkan kepada Nimród (oleh Simon Kézai, "padri istana" pribadi Raja Ladislaus orang Kuman, di dalam risalahnya, Gesta Hungarorum, yang ditulis antara tahun 1282 sampai 1285. Tradisi ini juga terdapat dalam lebih dari 20 babad Abad Pertengahan Hongaria lainnya, maupun dari salah satu babad Jerman, sebagaimana dikemukakan oleh Doktor Antal Endrey di dalam sebuah artikel yang terbit tahun 1979). Nikolaus Olahus, prelatus Hongaria abad ke-16, menyebutkan bahwa Attila menggelari diri sebagai Zuriyat Nimrod Agung.[19]

Nyyrikki, dewa atau roh pemburu, yang digambarkan di dalam Kalevala bangsa Finlandia sebagai penolong Lemminkäinen, dikait-kaitkan dengan Nimrod oleh beberapa peneliti dan linguis.[20]

Benteng Nimrod (Qal'at Namrud) di Dataran Tinggi Golan[21] sebenarnya dibangun pada masa Perang Salib oleh Malikul Aziz Usman, anak kedua Salahuddin, dan secara anakronistis dinisbatkan kepada Nimrod oleh masyarakat yang belakangan bermukim di daerah itu.

Kitab Mormon memuat keterangan yang sangat pendek tentang Nimrod, yakni kalimat "dan nama lembah itu adalah Nimrod, terambil dari nama sang pemburu perkasa".[22]

Nimrod lawan Abraham

sunting
Jibril melindungi Ibrahim dari kobaran api Numrud, lukisan miniatur Persia.
Jibril datang membawa domba untuk mencegah Ibrahim mengurbankan anaknya.

Menurut tradisi Yahudi dan Islam, Nimrod pernah bersengketa dengan Abraham. Beberapa cerita menghadirkan keduanya di dalam suatu bentrok sengit, yang dipandang sebagai lambang pertarungan antara Kebaikan dan Kejahatan, atau pertarungan antara monoteisme dan politeisme. Beberapa tradisi Yahudi menyebutkan bahwa keduanya sekadar berjumpa dan bertukar pikiran. Menurut K. van der Toorn dan P. W. van der Horst, tradisi ini pertama kali mengemuka di dalam risalah-risalah Filon-Semu.[23] Kisah ini juga terdapat di dalam Talmud, dan risalah-risalah para rabi Abad Pertengahan.[24]

Di dalam beberapa versi, misalnya versi Flavius Yosefus, Nimrod adalah orang yang berkehendak melawan kehendak Allah. Di dalam versi-versi lain, Nimrod mendaku diri sebagai dewa, dan dipuja sebagai dewa oleh rakyatnya. Kadang-kadang permaisurinya, Semiramis, juga dipuja sebagai dewi bersama-sama dengannya.

Konon bintang-bintang memberi pertanda yang dibaca Nimrod dan para ahli nujumnya bahwa Abraham akan lahir, dan akan menghapus penyembahan berhala. Oleh sebab itu Nimrod menitahkan pembunuhan semua bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, ibu Abraham mengungsi ke padang belantara dan diam-diam melahirkan di sana. Sejak masih belia, Abraham sudah mengenal Allah dan mulai menyembah-Nya. Dia menghadap Nimrod, dan mengimbaunya supaya tidak lagi menyembah berhala, sehingga Nimrod memerintahkan supaya dia dihukum bakar hidup-hidup di tiang pancang. Di dalam beberapa versi, Nimrod memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan kayu bakar selama empat tahun penuh, lantaran ingin Abraham terbakar di dalam api unggun terbesar yang pernah disaksikan oleh mata dunia. Meskipun demikian, ketika api unggunnya sudah dinyalakan, Abraham berjalan keluar tanpa celaka sedikitpun.

Dalam beberapa versi, Nimrod selanjutnya menantang Abraham untuk bertempur. Tatkala Nimrod maju di depan pasukannya yang besar, Abraham mendatangkan pasukan agas yang membinasakan pasukan Nimrod. Di dalam beberapa cerita, seekor agas atau nyamuk masuk ke dalam otak Nimrod dan membuatnya gila (azab yang menurut tradisi Yahudi juga menimpa Titus, Kaisar Romawi yang menghancurkan Bait Allah di Yerusalem).

Di dalam beberapa versi, Nimrod bertobat dan menaklukkan diri kepada Allah, mempersembahkan banyak kurban yang tidak diterima Allah (sama seperti yang dialami Kain). Di dalam versi-versi lain, Nimrod menyerahkan budak raksasa bernama Eliezer kepada Abraham sebagai hadiah perdamaian. Beberapa risalah menyebut Eliezer sebagai anak kandung Nimrod (di dalam nas Kejadian 15:2, Alkitab menyebut Eliezer sebagai mayordomo Abraham, tetapi sama sekali tidak mengait-ngaitkannya dengan Nimrod).

Di dalam beberapa versi lain, Nimrod tetap mendurhakai Allah, atau kembali mendurhakai Allah. Penghijrahan Abraham dari Mesopotamia ke Kanaan kadang-kadang ditafsirkan sebagai tindakan menghindar dari pembalasan Nimrod. Risalah-risalah yang dianggap sahih menyebutkan bahwa Menara Babel dibangun beberapa generasi sebelum Abraham lahir (sama seperti di dalam Alkitab dan Kitab Yobel), tetapi risalah-risalah lain menyebutkan bahwa pembangunan Menara Babel merupakan pendurhakaan yang dilakukan Nimrod sesudah terkecundang dalam konfrontasi dengan Abraham. Risalah-risalah lain menyebutkan bahwa Nimrod tidak patah semangat sesudah pembangunan menara terbengkalai, malah berusaha menyerbu surga seorang diri dengan mengendarai kereta yang dihela burung-burung.

Cerita ini menisbatkan kepada Abraham unsur-unsur dari kisah kelahiran Musa (pembantaian bayi-bayi tak berdosa, bidan-bidan diperintahkan untuk membunuh bayi) dan dari kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang keluar dari perapian tanpa celaka. Dengan demikian citra Nimrod diimbuhi dengan sifat-sifat dua orang raja yang terkenal zalim, yaitu Nebukadnezar dan Firaun. Beberapa tradisi Yahudi juga menyamakan Nimrod dengan Koresy, yang menurut Herodotos lahir diiringi pertanda-pertanda yang membuat kakeknya ingin membunuhnya.[butuh rujukan]

Alquran juga mengisahkan konfrontasi antara seorang raja, yang tidak disebutkan namanya, dan Ibrahim (bentuk Arab untuk "Abraham"). Menurut beberapa mufasir Muslim, raja yang dimaksud adalah Nimrod. Alquran mengisahkan diskusi Ibrahim dengan raja tersebut. Ibrahim menegaskan bahwa hanya Allah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan. Raja tanpa nama itu membalas dengan mendaku unnamed king replies that he gives life and causes death.[25] Ibrahim membantahnya dengan menyatakan bahwa Allah menerbitkan matahari di ufuk timur, lalu menantang sang raja untuk menerbitkan matahari di ufuk barat. Sang raja menjadi murka lantaran tidak mampu membantah ucapan Ibrahim. Ulasan-ulasan surah ini memperlihatkan beragam tambahan bumbu cerita. Salah satunya adalah ulasan Ibnu Katsir, ulama abad ke-14 yang menambahkan bahwa Nimrod memamerkan kekuasaannya atas hidup dan mati manusia dengan membunuh seorang tawanan dan membebaskan seorang tawanan lain.[26]

Versi Midras Rabah

sunting

Sengketa Abraham lawan Nimrod diriwayatkan di dalam Midras Rabah, sekumpulan besar eksegesis kitab suci Yahudi, tepatnya di bagian Kejadian Rabah (bab 38, ayat 13), yang diyakini berasal dari abad ke-6.

נטלו ומסרו לנמרוד. אמר לו: עבוד לאש. אמר לו אברהם: ואעבוד למים, שמכבים את האש? אמר לו נמרוד: עבוד למים! אמר לו: אם כך, אעבוד לענן, שנושא את המים? אמר לו: עבוד לענן! אמר לו: אם כך, אעבוד לרוח, שמפזרת עננים? אמר לו: עבוד לרוח! אמר לו: ונעבוד לבן אדם, שסובל הרוחות? אמר לו: מילים אתה מכביר, אני איני משתחוה אלא לאוּר - הרי אני משליכך בתוכו, ויבא אלוה שאתה משתחוה לו ויצילך הימנו! היה שם הרן עומד. אמר: מה נפשך, אם ינצח אברהם - אומַר 'משל אברהם אני', ואם ינצח נמרוד - אומַר 'משל נמרוד אני'. כיון שירד אברהם לכבשן האש וניצול, אמרו לו: משל מי אתה? אמר להם: משל אברהם אני! נטלוהו והשליכוהו לאור, ונחמרו בני מעיו ויצא ומת על פני תרח אביו. וכך נאמר: וימת הרן על פני תרח אביו. (בראשית רבה ל"ח, יג)

(...) Mereka menangkap dan menyerahkan dia [Abraham] kepada Nimrod. Kata dia [Nimrod] kepadanya, "sembahlah api!" Kata Abraham kepadanya, "dan haruskah aku menyembah air yang memadamkan api?" Kata Nimrod kepadanya, "sembahlah air!" Kata dia [Abraham] kepadanya, "kalau begitu haruskah aku menyembah awan yang mengangkut air?" Kata dia [Nimrod] kepadanya, "sembahlah awan!" Kata dia [Abraham] kepadanya, "kalau begitu haruskah aku menyembah angin yang menyerakkan awan?" Kata dia [Nimrod] kepadanya, "sembahlah angin!" Kata dia [Abraham] kepadanya, "dan haruskah aku menyembah anak Adam yang menentang angin?" Kata dia [Nimrod] kepadanya, "engkau ini banyak bicara, tidaklah aku bersujud selain kepada api, ke dalamnyalah akan kulemparkan engkau, biarlah Allah yang kepada-Nya engkau bersujud itu datang menyelamatkanmu dari padanya!
Haran [saudara Abraham] berdiri di sana. Kata dia [kepada diri sendiri], "apa yang nanti aku perbuat? Kalau Abraham yang menang, akan kukatakan, "aku ikut Abraham", dan kalau Nimrod yang menang, akan kukatakan, "aku ikut Nimrod". Bakda Abraham masuk ke dalam tungku api dan selamat, berkatalah mereka kepada Haran, "ikut siapakah engkau?" Dia berkata, "ikut Abraham!" Mereka pun menangkap dan melemparkannya ke dalam tungku api itu, maka pecahlah perutnya dan matilah dia mendahului Terah, ayahnya.
Itulah sebabnya dikatakan "Haran mati mendahului Terah, ayahnya." (Kejadian 11:28)

Tafsir kesejarahan

sunting
Prasasti Naram Sin yang ditemukan di kota Marad

Para sejarawan, orientalis, asyurolog, dan mitograf sudah berusaha mencari tautan-tautan yang menghubungkan tokoh Nimrod yang diriwayatkan di dalam Alkitab dengan tokoh sejarah dari Mesopotamia dan sekitarnya. Tidak ada raja yang bernama Nimrod dan tidak ada nama mirip Nimrod di dalam daftar raja Sumer, Akad, Asyur, maupun Babel, yang merupakan sumber sejarah ekstra-Alkitabiah sekaligus pra-Alkitabiah yang jauh lebih tua dan lebih banyak. Nama Nimrod juga tidak tercantum di dalam peninggalan-peninggalan tertulis lain dalam konteks apa saja dari Mesopotamia dan sekitarnya, baik yang berasal dari Zaman Perunggu, Zaman Besi, maupun dari Zaman Klasik pra-Kristen.

Karena kota Akad diluluhlantakkan dan hilang bersama runtuhnya kemaharajaan Akad pada periode 2200–2154 Pramasehi (kronologi panjang), tampaknya kisah-kisah Alkitab yang menyebut nama Nimrod, yang muncul jauh lebih belakangan, terilhami oleh tokoh dan peristiwa Zaman Perunggu. Pengaitan tokoh Nimrod dengan Erekh (Uruk dalam bahasa Sumer-Akad), kota yang kehilangan keutamaannya sekitar tahun 2000 Pramasehi akibat perseteruan di antara Isin, Ur, Larsa, dan Elam, mungkin saja telah memengaruhi kisah-kisah tentang Nimrod yang muncul lebih belakangan.[10] Beberapa reruntuhan petilasan Mesopotamia diberi nama yang terambil dari nama Nimrod oleh bangsa Arab Muslim yang menginvasi negeri itu pada abad Ke-8 Masehi, antara lain reruntuhan kota bangsa Asyur yang bernama Kalhu (Kalah di dalam Alkitab), yang sebenarnya didirikan oleh Maharaja Asyur Madya yang bernama Salmaneser I (bertakhta tahun 1274–1244 Pramasehi), tidak seperti yang dikatakan di dalam Alkitab bahwa kota itu didirikan oleh Nimrod.[5]

Beberapa ikhtiar untuk mengaitkan tokoh Nimrod dengan tokoh-tokoh sejarah tertentu sudah dilakukan, tetapi tidak ada hasilnya.

Uskup Eusebius dari Kaisarea, seawal-awalnya pada permulaan abad ke-4, menyitir pernyataan Berosus, sejarawan Babel abad ke-3 Pramasehi, bahwa raja pertama sesudah air bah Euekhoios dari Kasdim (pada kenyataannya Kasdim adalah sebuah negara kecil di tenggara Mesopotamia yang menurut sejarah baru didirikan pada akhir abad ke-9 Pramasehi), dan menyamakan Euekhoios dengan Nimrod. Gregorius Sinselus (sekitar tahun 800) juga pernah membaca keterangan Berosus, dan menyamakan Euekhoios dengan tokoh Nimrod yang terdapat di dalam Alkitab. Meskipun demikian, sama seperti Nimrod, tidak ada raja dengan nama Euekhoios di dalam satu pun catatan Mesopotamia.

Belum lama ini, para sumerolog telah mengemukakan dugaan yang menghubungkan baik tokoh Euekhoios ini, maupun Raja Babel dan kakek Gilgames yang muncul di dalam salinan-salinan tertua dari risalah Elianus (sekitar tahun 200 M) dengan nama Euekhoros, dengan tokoh pendiri kota Erekh yang termaktub di dalam peninggalan-peninggalan tertulis beraksara baji dengan nama Enmerkar.[27]

Dalam budaya populer

sunting

Sebagai ungkapan

sunting

Dalam bahasa slang Inggris Amerika Utara modern, jamak dijumpai pemakaian istilah "nimrod" dengan makna orang dungu atau bodoh. Sering kali dikatakan bahwa ungkapan ini dipopulerkan oleh Bugs Bunny, tokoh kartun Looney Tunes, yang secara sarkastis menjuluki si pemburu Elmer Fudd dengan sebutan "nimrod"[28][29] untuk menonjolkan perbedaan "sang pemburu perkasa" dengan "si Nimrod kecil yang malang", yaitu Elmer Fudd.[30] Sebenarnya Daffy Duck yang menjuluki Elmer Fudd dengan sebutan "Nimrod kecilku" dalam film kartun pendek tahun 1948 berjudul What Makes Daffy Duck,[31] kendati Bugs Bunny memang menjuluki Yosemite Sam sebagai "si Nimrod kecil" dalam film kartun pendek tahun 1951 berjudul Rabbit Every Monday. Kedua film itu sama-sama diisi suara oleh Mel Blanc dan diproduseri Edward Selzer.[32]

Sebagai tokoh cerita

sunting

Di dalam Divina Commedia karangan Dante Alighieri (ditulis tahun 1308–1321), Nimrod digambarkan sebagai manusia raksasa, sebagaimana yang lumrah terjadi pada Abad Pertengahan. Bersama beberapa raksasa lain, yakni Efialtes, Anteus, Briareus, Titios, dan Tifon, Nimrod berdiri terbelenggu di pinggiran Lingkar Khianat Neraka. Satu-satunya kalimat yang dia ucapkan adalah "Raphèl mai amècche zabì almi", yakni kalimat tak terpahami yang mengisyaratkan dosanya selaku biang keladi kekacaubalauan bahasa karena memerintahkan pembangunan Menara Babel.[33]

Baca juga

sunting

Rujukan

sunting

Keterangan

sunting
  1. ^ bahasa Ibrani: נִמְרוֹד‎, Nīmrōḏ; bahasa Suryani: ܢܡܪܘܕ, Nimrōḏ; bahasa Arab: نُمْرُود, Numrūd

Kutipan

sunting
  1. ^ "Alkitab SABDA".
  2. ^ Levin, Yigal (2002). "Nimrod the Mighty, King of Kish, King of Sumer and Akkad". Vetus Testamentum (dalam bahasa Inggris). 52 (3): 350–366. doi:10.1163/156853302760197494. ISSN 0042-4935.
  3. ^ Jones, Christopher W. (2022). "The Literary-Historical Memory of Sargon of Akkad in Assyria as the Background for Nimrod in Genesis 10:8–12". Journal of Biblical Literature. 141 (4): 595–615. doi:10.15699/jbl.1414.2022.1. ISSN 0021-9231. S2CID 255905070.
  4. ^ Harris, Stephen L. (1985). Understanding the Bible. Palo Alto: Mayfield. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  5. ^ a b Harris, Stephen L. (1985). Understanding the Bible. Palo Alto: Mayfield.
  6. ^ Raleigh, Walter (1820) [1614]. History of the World, Jld. II. Edinburgh: A. Constable. hlm. 125–132.
  7. ^ Menner, Robert J. (1938). "Nimrod and the Wolf in the Old English 'Solomon and Saturn'". Journal of English and Germanic Philology. Vol. 37, no. 3. hlm. 332–84. JSTOR 27704407.
  8. ^ Tergantung cara membacanya, "Kalne" bisa saja adalah nama kota yang keempat, atau bisa saja adalah ungkapan yang berarti "semuanya di tanah Sinear". (Van der Toorn & Van der Horst 1990, hlm. 1).
  9. ^ Josephus, Flavius. "Antiquities of the Jews — Book I". Penelope | James Eason. University of Chicago. Diakses tanggal 7 Juli 2024.
  10. ^ a b Van der Toorn & Van der Horst (1990).
  11. ^ Jeff A. Benner, "Nimrod" Ancient Hebrew Research Center. https://www.ancient-hebrew.org/names/Nimrod.htm
  12. ^ Kugel, James L. (1998). Traditions of the Bible. hlm. 230. ISBN 0674039769.
  13. ^ "Tractate Gittin 56b". www.sefaria.org.il.
  14. ^ Rosner, Fred. Medicine in the Bible and Talmud. hlm.76. Pub. 1995, KTAV Publishing House, ISBN 0-88125-506-8. Petikan dapat dilihat di ([1])
  15. ^ Wikisource:Page:Legends of Old Testament Characters.djvu/178
  16. ^ "the Kitab al-Magall". Sacred-texts.com. Diakses tanggal 5 April 2012.
  17. ^ Lih. Louis Ginsberg Legends of the Jews Jld. I, dan jilid catatan kaki.
  18. ^ Simon of Kéza: The Deeds of the Hungarians (bab. 1.4–5), hlmn. 13–17.
  19. ^ Herbert, William (1838). "Attila, King of the Huns". Google Books. hlm. 49. Diakses tanggal 12 September 2019.
  20. ^ Kalevala. Das finnische Epos des Elias Lönnroth. Mit einem Kommentar von Hans Fromm, Stuttgart: Reclam 1985. (Ulasan Hans Fromm atas Kalevala Elias Lönnroth)
  21. ^ Sharon, Moshe (1999). Corpus Inscriptionum Arabicarum Palaestinae: B v. 1 (Handbook of Oriental Studies) (Edisi Hardcover). Brill Publishers. hlm. 59. ISBN 90-04-11083-6.
  22. ^ "Ether 2". www.churchofjesuschrist.org.
  23. ^ Van der Toorn & Van der Horst (1990), hlm. 19.
  24. ^ Templat:Daat enc
  25. ^ "The Quranic Arabic Corpus - Translation". corpus.quran.com.
  26. ^ "QuranX.com The most complete Quran / Hadith / Tafsir collection available!". quranx.com.
  27. ^ Henkelman, Wouter F. M. "The Birth of Gilgamesh". Altertum und Mittelmeerraum: die antike Welt diesseits und jenseits der Levante. hlm. 819.[perlu rujukan lengkap]
  28. ^ Steinmetz, Sol (2005). Dictionary of Jewish Usage: A Guide to the Use of Jewish Terms. Rowman & Littlefield. hlm. 126. ISBN 978-0-7425-4387-4. Diakses tanggal 11 April 2012.
  29. ^ Garner, Bryan A. (27 August 2009). Garner's Modern American Usage. Oxford University Press. hlm. 53. ISBN 978-0-19-538275-4. Diakses tanggal 11 April 2012.
  30. ^ Bauer, S. Wise (2007). The History of the Ancient World: From the Earliest Accounts to the Fall of Rome. Norton. hlm. 269–70. ISBN 978-0-393-05974-8. Diakses tanggal 11 April 2012.
  31. ^ Arthur Davis (sutradara) (14 February 1948). What Makes Daffy Duck (Animated short) (dalam bahasa English). Terjadi di 5:34. Precisely what I was wondering, my little Nimrod. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  32. ^ Fritz Freleng (sutradara) (10 February 1951). Rabbit Every Monday (Animated short) (dalam bahasa English). Terjadi di 6:50. Nah, I couldn't do that to the little Nimrod. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  33. ^ Dante, Inferno, XXXI.67 and 76.

Kepustakaan

  • Dalley, Stephanie; et al. (1998). The Legacy of Mesopotamia. Oxford: Oxford University Press.
  • Haynes, Stephen R. (2002). Noah's Curse: The Biblical Justification of American Slavery. New York: Oxford University Press.
  • Van der Toorn, K. & Van der Horst, P. W. (January 1990). "Nimrod Before and After the Bible" (PDF). The Harvard Theological Review. Vol. 83, no. 1. hlm. 1–29. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-05-25.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kucing

Prancis). Vol. 1. Paris: Joël Cherbuliez. hlm. 381. Keller, O. (1909). Die antike Tierwelt (dalam bahasa Jerman). Vol. Säugetiere. Leipzig: Walther von Wartburg

Tujuh Langit

Religion and Mythology: Selected Essays. Orientalische Religionen in der Antike. Vol. 15. Tuebingen, Jerman: Mohr Siebeck. hlm. 118. ISBN 978-3-16-153674-8

Zaman Klasik

eigene Sprache wetteifernd neben die griechische setzten: so wurde die antike Kultur zweisprachig, griechisch und lateinisch. Das System dieser

Koloseum

Edizioni Quasar. ISBN 8885020909 Connolly, Peter, et Hazel Dodge. 1998. Die antike Stadt. Coloniae: Könemann. ISBN 3-8290-1104-0. Connolly, Peter. 2005. Colosseum:

Pemberontakan Batavia

pemberontakan Civilis (69 M), sebagian besar kapal tersebut diawaki oleh awak Batavia. replika ini tersimpan di Museum für Antike Schifffahrt, Mainz, Jerman

Filsafat sejarah

Biologistische und zyklische Konzepte in der Geschichtsphilosophie der Antike und des Abendlandes, Brussels: Latomus, 2015. Rickert, Heinrich, Die Probleme

Arsitektur Romawi Kuno

ISBN 978-0-7478-0157-3 Schnitter, Niklaus (1978), "Römische Talsperren", Antike Welt, 8 (2): 25–32 Schnitter, Niklaus (1987a), "Verzeichnis geschichtlicher

Konstantinopel

(London 1968), hal. 133), atau "Kota Konstantinus". Menurut Reallexikon für Antike und Christentum, Jilid 164 (Stuttgart 2005), kolom 442, tidak ada bukti