
| Bagian dari seri tentang |
| Kepercayaan tradisional Tionghoa ๅไบบๆฐ้ดไฟกไปฐ |
|---|
Wusheng Laomu (Hanzi: ็ก็่ๆฏ; Pinyin: Wรบshฤng Lวomว; harfiah: '"Ibu Tua yang Abadi"'), juga dikenal dengan nama Wujimu (็กๆฅตๆฏ "Ibu Tanpa Batas") atau disingkat Laomu, adalah sesosok Dewi dalam kepercayaan tradisional Tiongkok dan menjadi figur utama yang dipuja oleh beberapa sekte agama keselamatan Tiongkok,[1] antara lain Luojiao, Bailianjiao, Jizushan Dachengjiao, Zhaojiao, Wenxiangjiao, Huangtian Jiao, Hongyangjiao, Tianlijiao, dan Yiguandao. Gelarnya yang lain adalah Yaochi Jinmu (Hanzi: ็ถๆฑ ้ๆฏ; Pinyin: Yรกochรญ Jฤซnmว; harfiah: '"Ibu Emas dari Danau Giok"'),[2] gelar yang juga diberikan kepada Xiwangmu. Di ajaran Yiguandao, sosok Laomu ini juga dikenal dengan sebutan Mingming Shangdi (ๆๆไธๅธ).[3]

Pada tradisi sektarian, Wusheng Laomu merupakan personifikasi simbol dari prinsip absolut realitas, dikenal melalui simbol-simbol yang lebih abstrak yaitu "Kekosongan yang sejati" (็็ฉบ), "Tanpa Batas" (็กๆฅต), "Kebenaran" (็), "Buddha Kuno" (ๅคไฝ), atau "Patriark" (็ฅ). Simbol-simbol yang abstrak dipakai oleh sekte-sekte awal dinasti Ming seperti Luoisme.[4]
Simbol-simbol ini umumnya dikombinasikan dalam buku-buku tradisi sektarian untuk mengekspresikan prinsip absolut impersonal (misalnya sebagai Wuji Zhenkong [็กๆฅต็็ฉบ, "Kekosongan sejati yang tanpa batas"]) atau representasi personal (misalnya Wusheng Laomu [็ก็่ๆฏ], Wuji Shengzu [็กๆฅต็็ฅ, "Patriark Suci Tanpa Batas"], atau Wuji Gufo [็กๆฅตๅคไฝ, "Pencapaian Kebuddhaan Kuno yang Tanpa Batas"]). Asal mula semua makluk juga secara tradisional direpresentasikan sebagai asterisma bintang biduk.[4] Simbol-simbol atau nama-nama lain dari matriks ini adalah Hunyuan Laozu (ๆททๅ ่็ฅ, "Patriark Asal Mula"), Wuji Laozu (็กๆฅต่็ฅ, "Patriark Tak Terhingga"), atau Tianzhen Gufo (ๅคฉ็ๅคไฝ, "Buddha Kuno Surgawi Sejati"). Pada tradisi sekte-sekte yang paling awal, perwujudan wanita dianggap sebagai pasangan dari perwujudan pria, sebagaimana yin dan yang.[5]
Asal-usul
suntingWusheng Laomu dianggap sebagai bentuk turunan dari Xi Wangmu, sesosok dewi ibu kuno Tiongkok yang diasosiasikan dengan Gunung Kunlun yang menjadi axis mundi.[6] Setidaknya semenjak Dinasti Han, banyak gerakan milenarian yang berpusat pada Xi Wangmu. Xi Wangmu memiliki silsilah yang sangat tua dan muncul di Kitab Gunung dan Laut (ๅฑฑๆตท็ถ).[7]
Di awal Dinasti Han, Xi Wangmu dibayangkan sebagai sosok penguasa Alam Surga yang memimpin para dewa. Kehadiran patungnya di makam-makam pada masa itu mengindikasikan adanya harapan bahwa roh-roh orang yang meninggal akan dituntun Xi Wangmu kembali ke surga abadi.[8] Pemujaan terhadap Xi Wangmu ini menunjukkan beberapa ciri-ciri gerakan apokaliptik. Orang-orang pada masa itu mengalami bencana kekeringan parah pada masa itu. Ini menjadi ladang subur untuk ramalan-ramalan yang mengatakan bahwa bencana besar akan segera terjadi. Dalam keadaan ini, Xi Wangmu dianggap sebagai dewi yang mampu menyelamatkan orang-orang beriman dari bencana tersebut.[9]

Pada masa Dinasti Han, kedudukan Xi Wangmu meningkat lebih tinggi dan dihubungkan dengan kepercayaan mengenai keabadian. Xi Wangmu diyakini tinggal di Surga Barat di mana dia menyimpan semacam ramuan keabadian.[8] Terlepas dari kecantikannya yang tak tertandingi, dia awalnya digambarkan sebagai iblis.[10] Pemujaan terhadap Xi Wangmu mencapai puncaknya pada masa Dinasti Tang, dan kemudian digantikan oleh pemujaan yang dipancarkan melalui gerakan sektarian dan kelompok-kelompok kecil yang sering mempraktikkan tulisan roh.[10]
Pada masa Dinasti Ming dan Qing, kepercayaan yang beredar di masyarakat mengenai Xi Wangmu mengalami pergeseran. Pada masa itu, karena pengaruh dari Lima Kitab dalam Enam Jilid tulisan Luo Qing, banyak orang yang membuat citra baru dari sosok dewi Xi Wangmu. Dalam tulisan-tulisan Luo, prinsip yang dianut adalah โKekosongan Sejatiโ (็็ฉบ Zhฤnkลng) yang merupakan induk dari segala hal.[4] Dalam kitab patriark Luo terdapat kata-kata:
Tiba-tiba, setelah mencapai satu langkah, hati saya penuh dengan sukacita yang luar biasa. Saya menyadari bahwa tidak ada jalan kembali ke yang bukan wujud dan juga tidak ada jalan kembali ke yang berwujud, Aku adalah Kekosongan Sejati. Ibu (niang ๅจ) adalah saya dan saya adalah Ibu, pada dasarnya tidak ada dualitas. Batin adalah kosong, lahir adalah kosong, Aku adalah Kekosongan Sejati.[11]
Dalam tulisan-tulisan Luo, simbol wรบshฤng (็ก็ โtidak lahirโ) berarti keadaan โtidak ada kelahiran dan tidak ada kematianโ yang memberikan pencerahan.[12] Karena dalam tulisan-tulisan sektarian sering muncul tulisan Wusheng, ada godaan tertentu untuk mengartikan Wusheng sebagai bentuk ringkas dari Wusheng Laomu (็ก็่ๆฏ).[13] Adanya istilah Wusheng Fumu (็ก็็ถๆฏ) dalam kitab Lima Kitab dalam Enam Jilid selanjutnya diterjemahkan para pengikutnya sebagai sosok Ibu Mulia Abadi (Wusheng Laomu). Beberapa simbol-simbol seperti Wuji (่ๆ โYang Tak Terbatasโ), Zhen (็ โSejatiโ, โKebenaran Sejatiโ), Gufo (ๅคไฝ โBuddha Kunoโ) diasosiasikan sebagai sifat dari sosok Dewi Tertinggi yaitu Ibu Suci Abadi yang bertempat di Surga.[4] Karena dalam kitab patriark Luo, "Yang Mutlak" digambarkan secara impersonal dan abstrak, maka secara bertahap, gambaran dari dewi wanita cantik yang dipuja pun berubah menjadi tidak lagi berbentuk. Di beberapa sekte aliran Taoisme, Wusheng Laomu merupakan pasangan dari Yuhuang Dadi, yang menjadi pasangan Dewa dan Dewi yang menciptakan surga pada masa kekacauan primordial.[14] Dalam agama keselamatan tertentu, Laomu ini dikatakan merupakan pasangan dari Huanyuan Laozu (ๆททๅ ่็ฅ) atau Wuji Gufo (็กๆฅตๅคไฝ).[15] Dalam beberapa kitab suci mereka, Huanyuan Laozu dan Wuji Gufo adalah dewa tertinggi dalam nama saja, sementara Laomu memiliki otoritas yang sesungguhnya. Sementara itu di kitab sektarian tertentu seperti Longhua Jing (้พ่ฏ็ถ), Laomu, Wuji Gufo dan Tianzhen Gufo (ๅคฉ็ๅคไฝ) digambarkan sebagai tiga maha pencipta yang menciptakan seluruh dunia ini berserta isinya.[16] Seiring berjalannya waktu, kedudukan Wusheng Laomu menjadi semakin dominan dalam keyakinan agama-agama keselamatan yang muncul di dinasti Ming.[15] Pada dinasti Qing, Wusheng Laomu menggeser semua dewa-dewi lain dan naik ke posisi tertinggi dalam sekte-sekte Luoisme dan sekte-sekte utama yang menjalankan tradisi SerojaPutih.[15][17]

Sejarawan Huang Yu-pian, berpendapat bahwa mitos Lao Mu ini pertama kali muncul pada akhir dinasti Ming. Bukti keyakinan pada Lao Mu pada masa itu ada pada pernyataan di sebuah prasasti di kuil Wu-sheng yang ada di kota Zhangzhou.[18] Prasasti tersebut diperkirakan dibuat pada masa dinasti Ming oleh seorang pejabat. Selain itu, ada juga catatan yang lebih rinci yang ditulis oleh Zong Wanghua dari kabupaten Anhua, Gansu (sekarang daerah Qingyang) yang mengatakan bahwa Lao Mu adalah reinkarnasi dari seekor bagal putih yang terbunuh karena tersambar petir setelah mengkhotbahkan "agama sesat" bersama dengan seorang pemimpin sekte yang ada di pegunungan Taihang pada dinasti Ming akhir bernama Piaokao (้ฃ้ซ) pada tahun 1573.[18] Setelah Lao-mu meninggal, Piao Kao mulai memujanya sebagai pendiri agama dan menulis teks-teks yang meninggikannya sebagai pencipta umat manusia, dan seterusnya. Kemudian para pemimpin sekte semua menerima ajarannya dan mulai menyembah Wusheng Laomu.[18]
Agama-agama rahasia dari Dinasti Qing tidak hanya menyembah Yang Mulia Ibu sebagai dewa tertinggi dan menggunakan kata-kata โKampung Halaman Yang Sejati dan Wusheng Laomuโ (็็ฉบๅฎถไนก ็ก็่ๆฏ) sebagai mantra, tetapi mereka juga memuliakan Laomu sebagai pelindung sekte dan para pengikutnya, dan menjadikannya dewa pelindung ketika mereka melakukan pemberontakan. Sebagai contoh, dalam Pemberontakan Wang Lun, yang meletus pada tahun 1774), Wang Lun menguduskan Laomu dan menyatakan โLaomu telah hadir di antara kami dan kami menjadi kebal.โ[19]
Definisi menurut kitab-kitab sektarian
suntingPenjelasan dalam kitab-kitab sektarian menggambarkan bahwa manusia adalah anak-anak yang dilahirkan dan berasal dari Laomu, tetapi mereka telah melupakan-Nya dan kehilangan kontak dengan tempat asalnya.[16] Sebagian besar kitab-kitab agama rakyat rahasia mendeskripsikan Wusheng Laomu sebagai ibu yang lembut dan penuh perhatian. Dia cemas dengan putra-putrinya yang mengembara di Tanah Timur dan menangisi penderitaan mereka. Dengan susah payah ia berusaha keras untuk membantu mereka mengatasi segala macam kesulitan, dengan harapan bahwa semua anak-anaknya dapat kembali ke kampung halaman dan berkumpul kembali sesegera mungkin.[20]
Pencipta Alam Semesta dan Manusia
suntingKitab Berharga Bunga-Naga yang diverifikasi oleh Buddha Kuno (ๅคไฝๅคฉ็่่ญ้พ่ฏๅฏถ็ถ) atau biasanya disingkat dengan Kitab Bunga Naga (้พ่ฏ็ถ) yang ditulis oleh Gongchang (ๅผ้ท), salah satu pengikut sekte Mahayana Timur (ๆฑๅคงไนๆ) menggambarkan Lao Mu sebagai pencipta manusia yang disebut sebagai: โanak-anak yang berasal dari surgaโ (็่ๅฟๅฅณ), โmanusia asalโ (ๅไบบ), โmanusia yang sejatiโ (ๅ ไบบ), โketurunan asli Buddhaโ (ๅไฝๅญ) atau โyang berbudi luhurโ (่ดค่ฏ). Di Kitab tersebut digambarkan penciptaan dunia yang diawali dengan penciptaan Surga Asal (ๅ ๅคฉ) dari kekosongan sejati, Wusheng Laomu kemudian melahirkan yin dan yang. Yin adalah anak perempuan dan Yang adalah anak laki-laki. Nama mereka masing-masing adalah Fuxi dan Nรผwa. Buddha Kuno Tianzhen (ๅคฉ็ๅคไฝ) mengundang Wusheng Laomu, yang berada di istana Tusita dari kerajaan Surga, berbicara denganNya, dan kemudian mereka mengatur pernikahan Nรผwa dan Fuxi , yang menjadi nenek moyang dari manusia,[15][21] melahirkan sembilan puluh enam juta anak dari rahim kekaisaran langit. Lao Mu kemudian mengirim anak-anaknya ke Tanah Timur (ๆฑๅ) untuk hidup di dunia.[22] Di sini kepala mereka dikelilingi oleh cahaya, di tubuh mereka mengenakan pakaian lima warna, dan dengan kaki mereka mengendarai dua kincir ajaib. Namun setelah mereka sampai di Tanah Timur, mereka semua tersesat di dunia debu merah. Dan Lao Mu mengirim surat memanggil mereka kembali untuk bertemu lagi di perkumpulan bunga Naga.[23] Karena telah lupa dengan sifat asli mereka akibat godaan duniawi, mereka perlu dituntun dan diantarkan kembali ke rumah surgawi mereka, yaitu โkampung halaman kekosongan yang sejatiโ (็็ฉบๅฎถไนก).[24]
Cerita serupa juga dapat ditemukan di kitab Bejana Emas Embun Giok (้จ้ฒ้็ค), sebuah kitab hasil "tulisan roh" kelompok Yaochidao yang diterbitkan di Taipei pada tahun 1880.[25][26]
Dari kabut purba terbentuklah dua prinsip keberadaan (ๅ ฉๅ), dan kekacauan (ๆททๆฒ) pun mulai terbuka. Manusia dan segala sesuatu di dunia lahir dari gerak dan diam yang silih berganti antara yin dan yang. Lalu aku mengambil setetes tenaga kosmik dari masa sebelum dunia ada (ๅ ๅคฉๆฐฃ) dan memberikannya kepada setiap makhluk serta manusia, sehingga mereka memenuhi seluruh bumi. Sulit menggambarkan seluruh langit dan bumi hanya dengan beberapa kata, tetapi dari sini jelas bahwa semuanya memiliki asal ilahi yang samaโmanusia maupun roh jahat, para abadi maupun dewa. Mereka yang berpaling dari jalanku dan menolak perintahku, dalam kebingungan akan jatuh ke jalan menjadi iblis; sedangkan mereka yang mengenali asal-usulku dan menjalankan jalanku akan menjadi Buddha dan makhluk abadi. Karena pemahaman manusia begitu terbatas, mereka tidak mengerti titah langit. Maka hari ini, melalui air mataku, aku akan menjelaskan semuanya dengan rinci. Aku teringat masa ketika belum ada manusia maupun makhluk lain; langit masih gelap oleh awan, bumi dingin membeku; dan aku duduk seorang diri di gunung suci (้ๅฑฑ), tenggelam dalam renungan mendalam. Lalu aku mengambil benih kuno, roh ilahi dari 9,6 miliar umat manusia, dan melemparkannya ke dunia berdebu merah [dunia samsara ini]. Benih Qian (ไนพ) menjadi laki-laki; benih Kun (ๅค) menjadi perempuan; dan dari mereka lahirlah keturunan. Empat benua dan sepuluh alam kubagikan secara merata ke seluruh penjuru. Pangu (็คๅค) dan Sui-ren Shi (็งไบบๆฐ) kuperintahkan atas namaku, begitu pula Tiga Penguasa dan Lima Kaisar kuutus turun ke bumi. Aku juga menugaskan para bijak untuk turun melindungi dan menopang kalian, agar semua yang berasal dari asal ilahiโyakni umat manusiaโmemiliki pakaian untuk dikenakan saat dingin, makanan dan minuman ketika lapar, serta rumah untuk berlindung dari hujan dan salju.[27]
Kitab Gulungan Berharga Kesetiaan, Berbakti dan Pembebasan dari Raja Obat (ๆ ่ฆๅฟ ๅญ่ฏ็ๅฎๅท) yang menjadi dasar ajaran dari Hongyang Jiao (ๅผ้ฝๆ) menyatakan bahwa semua pria dan wanita adalah sama-sama anak-anak dari Lao Mu. Dengan kata lain, pria dan wanita pada mulanya (di Surga Kuno) setara. Ayat dalam kitab tersebut berbunyi:
"Ada laki-laki. Ada perempuan. Awalnya, mereka tidak memiliki perbedaan. Keduanya berasal dari Ibu Yang Mulia yang Abadi (ๆ ็่ๆฏ) dan dilahirkan dari hembusan nafas suci dari Surga Asal."[28]
Kitab Xiantiandao, Gulungan Berharga tentang Ramuan Emas dan Teratai Berdaun Sembilan untuk memperbaiki Keyakinan, Memulihkan Kesempurnaan Kembali ke Kampung Halaman (็ๆฅต้ไธนไน่ฎๆญฃไฟกๆญธ็้้ๅฏถๅท) menyebutkan bahwa sumber dari segala sesuatu juga disebut dengan Buddha Kuno (ๅคไฝ), Patriark Suci Kekosongan Sejati (็็ฉบ่็ฅ) atau Huangji Laomu (็ๆฅต่ๆฏ). Dalam salah satu ayat dari kitab ini tertulis:
"Menciptakan surga dan bumi, Aku adalah yang paling terhormat; semua ribuan Dharma dihasilkan dari Tao-Ku. Di Barat Aku menjelma menjadi keabadian emas dan menyempurnakan ajaran Buddha, dan kemudian di Tanah Timur Aku mengajar aliran Konghucu. Aku mewariskan Tiga Ajaran, yang tidak terbatas cakupannya; masing-masing membedakan yang baik dan yang buruk dan mengendalikan dunia. Jika Anda ingin menanyakan nama-Ku, [itu adalah] Wuji (็กๆฅต Tidak Terbatas), Laozi (่ๅญ) [atau] Surgawi Kuno yang Sejati (ๅคๅคฉ็)"[29]
Sepuluh Sari Nasehat dari Bunda Suci (็ๆฏ่จๅญๅ่ชก), kitab hasil tulisan roh dari agama I Kuan Tao tertulis:
"Sejak masa Zi Hui (ๅญๆ) unsur kehidupan mulai muncul, Bunda memerintahkan tujuh Buddha untuk menata dunia.Dalam tenggang waktu selama 10.800 tahun, terbentuklah langit, kemudian setelah genapnya masa Zhou Hui (ไธๆ), terbentuklah pulalah bumi, Hawa yang jernih mengambang ke atas sebagai langit, inti sari dari langit menyatu sehingga terciptalah bintang dan planet yang beredar pada orbitnya, Hawa yang keruh membeku dan membentuk bumi, gunung, danau, laut dan sungai."[30]
Membebaskan dari Lautan Penderitaan
suntingGulungan Penjelasan Berharga bahwa Ramalan Kebuddhaan Tidak Memiliki Tanda (้ท้ๆ่จ็ก็ธๅฏถๅท) menyebutkan bahwa Lao Mu tidak hanya menciptakan dunia dan manusia, tetapi juga bertanggung jawab untuk mengantarkan seluruh mahluk hidup ini terlepas dari lautan penderitaan.
โWusheng Laomu membebaskan semua makhluk hidup dan menuntun mereka ke tanah suci yang damai dan kebahagiaan tertinggi. Mereka pulang ke kampung halaman dan tidak akan jatuh ke neraka"[19]
Di dalam Kitab Bunga Naga (้พ่ฏ็ถ), disebutkan bahwa Buddha Kuno (ๅคไฝ) dan Wusheng Laomu mengadakan Pertemuan Bunga Naga pertama (้พ่ฏๆ) di istana langit yang dihadiri oleh sembilan puluh enam ratus juta (ๅ) anak-anak ilahi dari โrahim agungโ. Anak-anak ilahi ini adalah para Buddha, para patriark, bodhisattva agung, arhat, biksu suci, dewa, dan para roh.[31] Selama pertemuan ini, pertanda ajaib dari bunga seroja hijau yang mekar di pohon besi menandakan dimulainya sebuah aeon baru ketika seorang Buddha akan muncul di dunia dan membawa anak-anak Laomu kembali ke kampung halaman.
Di kitab salah satu sekte Luojiao, Gulungan Berharga Aturan Esensial Ramuan Emas Tanpa-Tindakan yang Diucapkan oleh Sang Buddha (ไฝ่ฏดๆ ไธบ้ไธนๆฃ่ฆ็งไปชๅฎๅท), tertulis:
โWusheng Laomu akan membebaskan semua makhluk hidup dan menuntun mereka menuju Istana Surga.โ[19]
masih dari kitab yang sama, juga terdapat kata-kata:
"Lao Mu juga memerintahkan Buddha Amitabha, Buddha Dayi (ๅคงๆไฝ), Taishang laojun (ๅคชไธ่ๅ) dan dewa-dewi lainnya untuk turun dan menyelamatkan semua putra dan putrinya yang tersesat di dunia fana, mengangkat mereka dari lautan penderitaan dan mengembalikan mereka ke Istana Surgawi."[19]
Beberapa kitab juga menjelaskan bahwa Lao Mu juga bereinkarnasi dan mengutus para Buddha, para dewa dan orang suci untuk membawa manusia kembali ke kampung halaman. Gulungan Berharga dari Keturunan Caoxi yang disampaikan oleh Sang Buddha (ไฝ่ฏดไธๅไน่ฝฌไธ็ๆผๆบชๅฎๅท) yang merupakan kitab Luojiao menyatakan:
"Kadang-kadang Dia bereinkarnasi sebagai Patriark Lรผ (ๅ, yaitu, Lรผ Dongbin)."[19]
Kitab suci kelompok Yaochidao, Kitab Suci Sejati Ibu Emas dari Kolam Giok tentang Penyelamatan Universal, Pemulihan Kesempurnaan, Peneguhan Samฤdhi dan Kebijaksanaan, serta Pembebasan (็คๆฑ ้ๆฏๆฎๅบฆๆถๅๅฎๆ ง่งฃ่ซ็็ถ) tertulis:
"Pada zaman dahulu, guruku, Xuanxuan Shangren (็็ไธไบบ), mewariskan Tao kepada Guru Mu (ๆจๅ ฌ), dan Guru Mu kemudian meneruskannya kepada-Ku. Ajaran itu sejak awal diturunkan secara lisan, bukan dalam bentuk tulisan. Kini, Langit telah membuka sebuah Jalan yang luas untuk menyelamatkan semua makhluk di dunia timur (dunia manusia). Aku berharap setiap orang segera mencari guru yang tercerahkan agar dapat benar-benar memahami pikiran dan hakikat dirinya sendiri."[32]
Dalam Sepuluh Sari Nasehat dari Bunda Suci (็ๆฏ่จๅญๅ่ชก) tertulis:
"Sampai kini sudah enam puluh ribu tahun lebih lamanya. Setiap kali memikirkan anak-anakKu yang sedang menderita di dunia, hati Bunda terasa risau sekali, Kini sudah waktunya Bunda menurunkan Tao yang sejati, memerintahkan tiga Buddha melaksanakan Pelintasan Umum di akhir zaman."[30]
Lihat pula
sunting- Pada agama lain
Referensi
sunting- ^ Ma 2008, hlm.ย 11.
- ^ Goossaert, Vincent; Palmer, David (2011). The Religious Question in Modern China. Chicago: University of Chicago Press. hlm.ย 98. ISBNย 0226304167.
- ^ Lindsey, Tim (2005). Chinese Indonesians: Remembering, Distorting, Forgetting. ISEAS Publishing. hlm.ย 138. ISBNย 9812305440. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d Seiwert 2003, hlm.ย 387.
- ^ Ma 2011, hlm.ย 316-319.
- ^ Kung Chuang, Tsu. "I-Kuan Tao ไธ่ฒซ้ (The Way of Unity): The Emerging Folk Buddhism In China and Taiwan". Diakses tanggal 2024-11-12.
- ^ Pregadio 2004, hlm.ย 1119.
- ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 31.
- ^ Seiwert 2003, hlm.ย 32.
- ^ a b Pregadio 2004, hlm.ย 172.
- ^ Seiwert 2003, hlm.ย 220.
- ^ Seiwert 2003, hlm.ย 390.
- ^ Seiwert 2003, hlm.ย 389-390.
- ^ Stevens 1997, hlm.ย 51.
- ^ a b c d Ma 2011, hlm.ย 319.
- ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 369.
- ^ Burton-Rose 2015, hlm.ย 196.
- ^ a b c Overmyer 2013, hlm.ย 140.
- ^ a b c d e Ma 2011, hlm.ย 320.
- ^ Ma 2011, hlm.ย 321.
- ^ Jordan 1985, hlm.ย 22.
- ^ Jordan 1972, hlm.ย 22.
- ^ Lu 2008, hlm.ย 24.
- ^ Ma 2011, hlm.ย 317.
- ^ Jordan 1986, hlm.ย 57.
- ^ ้จ้ฒ้็ค (PDF). Taipei: ็ๅณฏ. 1880. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Jordan 1986, hlm.ย 58.
- ^ Ma 2011, hlm.ย 315-316.
- ^ Seiwert 2003, hlm.ย 285.
- ^ a b ็ก็่ๆฏ. ็ๆฏ่จๅญๅ่ชก. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Seiwert 2003, hlm.ย 370.
- ^ Jordan 1985, hlm.ย 74-75.
Daftar Pustaka
sunting- Ma, Xisha; Meng, Huiying (2011), Popular Religion and Shamanism, BRILL, ISBNย 9004174559 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Seiwert, Hubert Michael (2003), Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History, Brill, ISBNย 9004131469
- Lu, Yunfeng (2008), The Transformation of Yiguan Dao in Taiwan Adapting to a Changing Religious Economy, Lexington Books, ISBNย 9780739117194
- Pregadio, Fabrizio (2004), The Encyclopedia of Taoism: 2-volume Set, Routledge, ISBNย 9780415678155
- Overmyer, Daniel L. (2013), Folk Buddhist Religion: Dissenting Sects in Late Traditional China, Harvard University Press, ISBNย 9780674183162
- Jordan, David; Daniel Overmyer (1985), The Flying Phoenix: Aspects of Chinese Sectarianism in Taiwan, Princeton University Press, ISBNย 069107304X Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Burton-Rose, Daniel (2015), Religious Publishing and Print Culture in Modern China, De Gruyter
- Stevens, Keith (1997), Chinese Gods- The Unseen World of Spirits and Demons (PDF), Colin & Brown Limited, ISBNย 1850284091
Pranala luar
sunting- Linda Anett Lindgren. Shamanism and Chinese Goddesses ~Xi wangmu and Nugua~
- Lee Irwin. Divinity and Salvation: The Great Goddesses of China.
