Luoisme
็พ…ๆ•™
PenggolonganAgama keselamatan Tiongkok
Kitab suciWubuliuce (ไบ”้ƒจๅ…ญๅ†Œ)
PendiriLuo Menghong
Didirikanakhir abad ke-15
Shandong
Nama lainWuweiisme (ๆ— ไธบๆ•™), Wuweizhengjiao ((ๆ— ไธบๆญฃๆ•™)), Luozuisme (็ฝ—็ฅ–ๆ•™) Sekte Kendaraan Besar / Mahayana (ๅคงไน˜ๆ•™), Perkumpulan Bunga Naga (้พ™ๅŽไผš) Changshengdao (้•ฟ็”Ÿ้“ Jalan Kehidupan Abadi), Sancheng (ไธ‰ไน˜), Wukong (ๆ‚Ÿ็ฉบ Kekosongan), Wunian (ๆ— ๅนด), Ajaran Yuandun (ๅœ†้กฟ), Yaoisme, Nanwujiao (ๅ—็„กๆ•™), Zhaijiao (ๆ–‹ๆ•™), Ajaran Satu Karakter (ไธ€ๅญ—ๆ•™)
Xihuatang (่ฅฟ่ฏๅ ‚), di Tainan, Taiwan, yang didirikan tahun 1750. Kuil ini adalah salah satu kuil dari Sekte Bendera Emas (้‡‘ๅนขๆ•™) yang berakar dari Luoisme

Luoisme (Hanzi: ็ฝ—ๆ•™; Pinyin: Luลjiร o, Luรณjiร o; harfiah: 'Ajaran Luo') atau Luozuisme (Hanzi: ็ฝ—็ฅ–ๆ•™; Pinyin: Luลzว”jiร o, Luรณzว”jiร o; harfiah: 'Ajaran Patriark Luo'), yang aslinya dikenal sebagai Wuweiisme (Hanzi: ็„ก็‚บๆ•™; Pinyin: Wรบwรฉijiร o; harfiah: 'agama non-aksi'),[1] merujuk kepada sebutan secara umum untuk berbagai organisasi-organisasi agama dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang mengikuti pengajaran Luo Menghong (็พ…ๅคข้ดป)[2] alias Luo Qing (็พ…ๆธ…) atau Luozu ("Patriark Luo") dan ajarannya terdapat dalam skriptur utamanya, "Lima Kitab dalam Enam Jilid" (ไบ”้ƒจๅ…ญๅ†Œ).[3]

Patriark Luo dan ajarannya dianggap sebagai tokoh dan ajaran paling penting dan berpengaruh pada banyak sekali tradisi-tradisi keagamaan yang lahir pada dinasti Ming dan Qing.[3] Berbagai kelompok sekte agama keselamatan dan agama rahasia seperti Sekte Abadi (้•ท็”Ÿๆ•™), Zhenkong (็œŸ็ฉบๆ•™), Zhaijiao (้ฝ‹ๆ•™), Longhua Jiao (้พ่ฏๆ•™), Xiantiandao (ๅ…ˆๅคฉ้“) dan Yiguandao (ไธ€่ฒซ้“) dapat ditelusuri berasal ajaran Luo ini.

Sekte-sekte yang dianggap sebagai Luoisme adalah:[4]

Sejarah

sunting

Pada masa dinasti Ming (1368-1644) organisasi keagamaan tumbuh subur, sehingga banyak sekali agama rakyat dan agama keselamatan yang lahir dan bermunculan. Salah satu tokoh paling berpengaruh saat itu adalah seseorang bernama Luo Qing / Luo Menghong (็พ…ๆธ… /็พ…ๅคข้ดป) yang menulis Wubu Liuce / "Five Books in Six Volumes" (ไบ”้ƒจๅ…ญๅ†Š). Luo Qing yang populer dengan sebutan Patriark Luo mendirikan sebuah aula untuk berkhotbah di daerah Simatai dan orang-orang yang menghadiri khotbahnya sebagian besar adalah para prajurit.[5] Dia kemudian menyebut dirinya Jalan Luo (็พ…้“) dan memindahkan keluarganya ke Shixia (็ŸณๅŒฃ), sekitar 20ย km arah barat laut dari Miyun. Luo Menghong dan ajarannya memberikan pengaruh yang besar terhadap pasukan dan penduduk setempat. Orang-orang yang percaya kepada Luo Menghong tidak hanya terbatas pada yang berpangkat dan yang punya jabatan tapi juga para perwira eselon bawah.[5] Kepopuleran dan ketenaran patriark Luo membuat banyak orang yang mengklaim diri sebagai pemimpin kelompok yang menyebarkan ajarannya.[6] Sehingga saat itu muncul banyak kelompok-kelompok agama baru yang bersumber dari ajaran-ajaran patriark Luo. Kelompok dari murid-murid Luo Qing beserta kelompok baru yang mengklaim mengikuti ajarannya kemudian dikenal dengan nama Luoisme / Luojiao (็พ…ๆ•™). Ajaran ini dikatakan menjalankan praktik keagamaan mereka secara bebas pada jaman pemerintahan Kaisar Zhengde (1505 - 1521) dari Dinasti Ming (1368 - 1644). Seperti halnya agama-agama lain, kematian sang pendiri menyebabkan fragmentasi dan diversifikasi ajarannya. Di dalam Ajaran Luo, situasinya ditandai dengan โ€œtidak ada satu kitab suci dan tidak ada satu kelompok pun.โ€ Dalam proses ini, Ajaran Luo mempengaruhi daerah-daerah di seluruh Tiongkok. Seiring berjalannya waktu, beberapa cabang dari ajaran ini tetap mempertahankan penampilan aslinya, sementara yang lain berubah tanpa bisa dikenali.[7] Beberapa kelompok sektarian lain seperti Huangtian Jiao (้ป„ๅคฉๆ•™) dan Sekte Pancaran Merah (ๅผ˜ๆšๆ•™) pada masa itu juga terpengaruh dengan ajaran Luo ini, di sisi lain tradisi dan ajaran kelompok mereka juga mempengaruhi kelompok-kelompok Luoisme yang berkembang saat itu.[8]

Transmisi di antara keluarga patriark Luo

sunting

Selama Patriark Luo masih hidup, sosoknya menjadi semacam jaminan yang mempersatukan para pengikutnya. Meskipun beberapa muridnya mungkin telah membentuk kelompok atau sekte baru yang terpisah, mereka tidak menentang posisi Luo sebagai guru dan pemimpin mereka.[9] Setelah Luo meninggal dunia, yang rupanya tanpa memilih penerus kepemimpinannya, ajaran Luo mulai terpecah menjadi beberapa cabang yang berbeda. Beberapa muridnya mengklaim untuk melanjutkan tradisinya dan menjadi pemimpin sekte-sekte independen yang memiliki penghormatan yang sama terhadap Patriark Luo dan tulisan-tulisannya.[9] Posisi yang paling menonjol di antara anggota terkemuka gerakannya mungkin ditempati oleh keluarga Luo, yaitu istrinya, dan kedua anaknya Fozheng (ไฝ›ๆญฃ) dan Foguang (ไฝ›ๅนฟ).[10] Istri dari Luo melanjutkan ajaran berdasarkan tradisi sebelumnya. Dia mendirikan sebuah cabang yang disebut Yundun Zhengjiao (ๅœ“้ “ๆญฃไบค).[11] Kedua anaknya mengikuti ibunya sebagai pemimpin sekte. Pusat dari aliran dari keluarga patriark Luo ini ada di daerah Miyun, tempat di mana makam Luo Menghong berada.[11] Setelah generasi kesembilan dari keturunan Patriark, garis kepemimpinan turun-temurun ini berakhir.

Kepemimpinan patriark Yin dan patriark Yao

sunting

Pada abad ke-16, ajaran Luo meluas ke Prefektur Chu, di mana Yin Ji'nan (ๆฎท็ปงๅ—) / Ying Ji'nan (ๆ‡‰็ปงๅ—) mengorganisir kelompok agama yang terkonsolidasi dan meminta anggotanya untuk melafalkan lima kitab suci yang ditulis oleh Patriark Luo. Kelompok ini menyebut dirinya โ€œAliran Sejati Wuweiโ€ (ๆ— ไธบๆญฃๆดพ).[12] Berdasarkan arsip sejarah, diketahui bahwa Yin Ji'nan sendiri merupakan murid dari Lu Benshi (็›งๆœฌๅธซ) dan pada awalnya berasal dari kelompok Huangtian Jiao.[13][14] Patriark Yin kemudian menklaim bahwa dirinya adalah titisan dari Patriark Luo.[15] Karena karisma dari patriark Luo, Yin Ji'nan mempunyai banyak pengikut, dan gerakan kelompoknya kemudian dikenal sebagai kelompok Luoisme bagian selatan dan berhasil menyebar ke seluruh provinsi asal mereka, Fujian, Jiangxi, dan provinsi-provinsi selatan di sekitarnya.[16] Selain menjunjung tinggi ajaran Luo Qing, ia juga mengadopsi beberapa tradisi Hunyuan dari Huangtian Jiao yang mempunyai keyakinan Maitreyanisme, keyakinan pada Tiga Masa Pancaran, pemujaan terhadap Wusheng Laomu dan Buddha Maitreya.[17][16][13] Pada tahun 1576, Yin Jinan dipenjara selama enam tahun di Tiantai (ๅคฉๅฐ), tetapi setelah dibebaskan dari penjara, dia terus berkhotbah, dan dalam beberapa bulan kemudian ditangkap lagi dan dihukum mati oleh pemerintah pada tahun 1582.[18] Setelah kematiannya, murid perempuan Qiong Xiao (็“Šๅญƒ) melanjutkan kepemimpinan.[19] Pada masa Yin Ji'neng (ๆฎท็ปง่ƒฝ), kelompok ini menyebar ke lebih dari sepuluh kabupaten di timur dan barat Zhejiang.

Empat puluh tahun kemudian, pada tahun 1621, Yao Wenyu (ๅงšๆ–‡ๅฎ‡) yang berasal dari Kabupaten Qingyuan, Prefektur Chu pergi ke Wuyi, Zhejiang, untuk berkotbah dan mengembangkan sekte ini.[20] Patriark Yao menyebut dirinya adalah titisan dari Patriark Yin.[a][15] Dalam beberapa dekade berikutnya ketika dia memimpin sekte ini, agama ini berpengaruh sampai ke Zhejiang dan meluas ke Jiangxi, Fujian, Jiangsu dan Anhui. Sayangnya, Yang Dingchen dan putranya, sepasang panglima perang setempat, membunuh Yao pada tahun 1646.[20] Bersama dengan Luo Qing, Yin Ji'nan dan Yao Wenyu dipuja oleh gerakan ini sebagai tiga patriark. Hingga awal tahun 1950-an di beberapa daerah, keturunan Yao Wenyu terus dihormati secara luas karena dianggap mewujudkan karisma, daya tarik dan legitimasi dari leluhur mereka.[22]

Pada masa Dinasti Qing, keluarga Yao menjadi keluarga turun-temurun untuk pekerjaan misionaris dan โ€œAliran Sejati Wuweiโ€ berubah nama menjadi Sekte Vegetarian Para Sesepuh (Laoguan zhaijiao ่€ๅฎ˜ๆ–‹ๆ•™). Kelompok-kelompok Luoisme saat itu terpecah-pecah menjadi banyak kelompok dan dikenal dengan banyak nama antara lain Sekte Patriark Luo (Luozu jiao ็ฝ—็ฅ–ๆ•™), Sekte Mahayana (Dacheng Jiao ๅคงไน˜ๆ•™) , Ajaran Tiga Kendaraan (Sancheng jiao ไธ‰ไน˜ๆ•™), Sekte Bunga Naga (Longhua jiao ้พ่ฏๆ•™), Sekte Kue Beras (Ciba jiao ็ณ็ฒ‘ๆ•™), atau Sekte Satu Aksara (Yizi jiao ไธ€ๅญ—ๆ•™). Di antara nama-nama tersebut, โ€œLaoguan zhaijiaoโ€ adalah yang paling terkenal. Pihak berwenang menyebutnya โ€œAjaran Vegetarianโ€ atau โ€œBandit Vegetarianโ€.[20]

Secara umum Luoisme sebenarnya terbagi menjadi 2 cabang utama, yaitu Wuwei jiao (็„ก็‚บๆ•™), sekte Mahayana / Dacheng Jiao (ๅคงไน˜ๆ•™).[23]

Wuwei Jiao

sunting

Wuwei Jiao adalah aliran murni dari Luoisme, yang mengacu pada prinsip ketenangan dan wuwei, sama seperti yang patriark Luo ajarkan. Konsep ajarannya juga digabungkan dengan konsep Buddha tentang kesunyataan dan wuwei dalam Taoisme untuk membentuk pemikiran mendasar dari konsep wuwei. Para pemimpin kultus ini terdiri dari keturunan Patriark Luo dan tujuh murid besarnya yang beberapa merupakan putra, putri, cucu dan cicitnya antara lain Luo Fozheng (็ฝ—ไฝ›ๆญฃ), Luo Foguang (็ฝ—ไฝ›ๅนฟ), Luo Wenju (็ฝ—ๆ–‡ไธพ), dan Luo Congshan (็ฝ—ไปŽๅ–„).[24] Kelompok ini dianggap sebagai cabang-cabang kelompok yang paling murni yang masih mempertahankan ajaran-ajaran dan tradisi asli dari patriark Luo di kemudian hari dalam sejarah.[25]

Sekte Mahayana

sunting

Sekte Mahayana atau Sekte Kendaraan Besar (ๅคงไน˜ๆ•™ Dachengjiao) pada masa Dinasti Ming dibagi menjadi dua kelompok, Timur dan Barat. Kelompok Barat adalah Sekte Mahayana Barat (่ฅฟๅคงไน˜ๆ•™) yang didirikan di desa Huang, Beijing oleh Lวš Pusa (ๅ‘‚่ฉ่–ฉ). [26] Salah satu dari kelompok barat adalah Sekte Mahayana Gunung Jizu (้ธก่ถณๅฑฑๅคงไน˜ๆ•™) yang didirikan oleh Zhang Baotai (ๅผ ไฟๅคช) di Yunnan. Pada tahun 1746, pemerintah dinasti Qing sangatlah gelisah dengan pergerakan sekte Mahayana Gunung Jizhu ini sehingga mengadakan pemberantasan dan hukuman mati kepada para pengikutnya.[27] Sedangkan kelompok timur adalah Sekte Mahayana Timur (ๆฑๅคงไน˜ๆ•™) juga dikenal sebagai Sekte Bau Dupa (้—ป้ฆ™ๆ•™ Wenxiang jiao), Sekte Segel Luas (ๅผ˜ๅฐๆ•™ Hongfeng jiao), Yuantun Jiao (ๅœ†้กฟๆ•™) dan Sekte Teh Murni (ๆธ…่Œถ้—จๆ•™ Qingchamen jiao).[24] Pendiri sekte ini adalah Luo Foguang (็ฝ—ไฝ›ๅนฟ), putri Patriark Luo, dan Wang Sen (็Ž‹ๆฃฎ), menantu Luo Foguang. Kemudian, Wang dikirim ke Shifokou (็Ÿณไฝ›ๅฃ) dari Prefektur Luan di Zhili untuk melakukan pekerjaan misionaris. Pada akhir zaman Ming, Sekte Mahayana Timur pimpinan Wang Sen menjadi agama yang sangat berpengaruh dan dikatakan memiliki lebih dari dua juta pengikut di enam provinsi.[24] Sekte ini juga menjalin hubungan dengan para kasim yang berkuasa dan orang-orang berpangkat.[24] Setelah terjadinya pemberontakan yang dilakukan salah satu kelompoknya akibat bencana kelaparan, Wang Sen ditangkap dan pada akhirnya meninggal di penjara pada tahun 1519.[28] Pada tahun 1622, Sekte Mahayana melakukan pemberontakan besar, yang menurut pejabat yang bertanggung jawab atas penumpasannya merupakan โ€œkrisis paling serius dalam sejarah dinasti selama dua ratus enam puluh tahun.โ€[29][24] Pemimpin pemberontakan ini adalah Xu Hongru (ๅพ้ดปๅ„’), seorang mantan murid Wang Sen yang telah mengambil alih salah satu cabang utama. Xu Hongru bergabung bersama anak dari Wang Sen, Wang Haoxian (็Ž‹ๅฅฝ่ณข), yang merupakan pemimpin kelompok Dachengjiao lainnya. Mereka menjadi ancaman serius bagi pemerintah yang dalam keadaan lemah karena serangan Manchu di Utara dan di saat bersamaan juga lagi terkena krisis ekonomi yang parah. Beberapa kota berhasil direbut oleh para pemberontak sebelum akhirnya pasukan pemerintah berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Xu Hongru dan Wang Haoxian pada akhirnya dihukum mati.[29]

Pada masa dinasti Qing, sekte Mahayana Timur berganti nama menjadi Sekte Teh Murni (ๆธ…่Œถ้—จๆ•™) dan para anggota kelompok Wang Sen pergi ke berbagai provinsi untuk menyebarluaskan ajaran ini, namun di masa pemerintahan Jiaqing, semua pengikutnya ditangkap, dan hal ini menjadi pukulan telak bagi aliran ini.[12] Salah satu cabang kiri adalah Yuandun Jiao (ๅœ†้กฟๆ•™), yang didirikan oleh Zhang Hao (ๅผ ่ฑช) dari Zhili. Ajaran ini diperkenalkan ke Jiangxi pada tahun 1667 oleh Luo Weiqun (็พ…่”š็พค) / Luo Weixing (็ฝ—็ปด่กŒ) dari Zhili. Kelompok yang menyebar di Jiangxi inilah yang menjadi cikal bakal dari banyak sekte-sekte baru yang menjadi populer dan terkenal antara lain Xiantian Jiao (ๅ…ˆๅคฉๆ•™), Yiguan Dao (ไธ€่ดฏ้“) dan Tongshan She (ๅŒๅ–„็คพ). Dengan kata lain, Yiguandao, Xiantian Jiao, dan Tongshan She memiliki asal-usul yang sama, tetapi berkembang di jalur yang berbeda.[12] Sementara itu keluarga keturunan dari patriark Yao memimpin kelompok Luoisme berbeda yang selanjutnya dikenal sebagai sekte Bunga Naga (้พ่ฏๆ•™) di daerah Fujian, Zhejiang dan Jiangxi. Salah satu anggota dari kelompok sekte Mahayana Timur yang bernama Wang Zuotang (็Ž‹ๅทฆๅก˜) memisahkan diri dan mendirikan kelompok sendiri yang kemudian dikenal sebagai sekte Bendera Emas (้‡‘ๅนขๆ•™). Kelompok-kelompok yang berakar dari sekte Mahayana Timur ini terbagi menjadi 3 kelompok besar yaitu sekte Bunga Naga (้พ่ฏๆ•™), sekte Bendera Emas / Jinchuang Jiao (้‡‘ๅนขๆ•™), dan Sekte Seroja Hijau (้’่Žฒๆ•™) / Xiantiandao. Ketiganya ini yang kemudian dikenal sebagai Sekte Vegetarian (Zhaijiao ๆ–‹ๆ•™).[12]

Menurut Hubert Seiwert, sekte Wang Zuotang, meskipun berakar pada tradisi Luoisme, pada akhirnya juga mendapat julukan sekte Seroja Putih, mungkin karena terlibat dalam pemberontakan yang cukup serius. Hal yang sama juga terjadi pada cabang lain dari sekte Wang Sen, yang pada tahun 1622 ikut serta dalam pemberontakan besar Xu Hongru (ๅพ้ดปๅ„’). Bahwa sekte di Shifokou disebut Sekte Mahayana (Dacheng Jiao) pada awal abad ke-17, juga dikonfirmasi di Longhua Baojing (้พ่ฏๅฏถ็ถ“). Dengan menggabungkan seluruh bukti yang ada, tak diragukan lagi bahwa apa yang disebut sebagai sekte Seroja Putih di Shifokou berakar dari tradisi Luo Qing.[30]

Luoisme di kalangan Pelaut

sunting

Selama masa transisi dinasti Ming ke Qing, salah satu cabang dari Luoisme menjadi aktif di wilayah perairan yang luas, yang berpusat di Grand Canal (Terusan Besar) dan didukung oleh sungai-sungai lainnya.[31] Sejak pertengahan dinasti Ming, ada pelaut pengangkut biji-bijian yang menganut Luoisme. Sebagian besar dari mereka adalah tentara yang bertugas di Pos Penjagaan Miyun di utara Zhili.[32] Mereka menyembah patriark Luo, membaca sutra dan menjalankan pola hidup bervegetarian.[33] Pada akhir zaman Ming, Luoisme meluas ke Hangzhou dan membangun kuil-kuil, oleh karena itu, banyak pelaut yang memeluk ajaran ini. Kemudian, para pengikutnya saling terhubung melalui ikatan agama dan menjadikan kuil-kuil Ajaran Luo sebagai basis mereka. Pengikut Ajaran Luo menyebar ke seluruh penjuru Grand Canal dan jumlahnya mencapai sekitar empat puluh atau lima puluh ribu orang.[32] Sekte ini mengembangkan suatu jenis asosiasi perdagangan, yang disatukan oleh keyakinan pada Ajaran Luo. Pada abad ke 18, kelompok ini menjadi salah satu perkumpulan rahasia terbesar di Tiongkok. Mereka memiliki aula jemaat (ๅบต) yang dijaga oleh umat awam di para biksu kadang-kadang juga tinggal di situ.[34] Sebuah laporan pada tahun 1727 menyatakan bahwa di Zhejiang pada awalnya terdapat 72 aula semacam itu, tetapi hanya sekitar tiga puluh yang tersisa saat itu. Aula ini memiliki gambar dewa dan Buddha seperti halnya kuil-kuil pada umumnya. Mereka juga berfungsi sebagai asrama tempat para pelaut bisa tinggal ketika mereka tidak bekerja selama musim dingin.[34] Pemimpin dari kelompok ini adalah Luo Mingzhong (็พ…ๆ˜Žๅฟ ) yang merupakan generasi ke-8 dari keturunan Luo Menghong. Kelompok ini menjadi cikal bakal dari kelompok Geng Hijau.[31]

Abad ke-18 sampai sekarang

sunting

Sepanjang abad ke-18 dan awal abad ke-19, pemerintah Qing berulang kali menindak kelompok-kelompok lokal Luoisme tanpa menghancurkan kelompok yang lebih besar. Para pejabat lokal biasanya merasa bahwa para pengikut Luoisme tidak menimbulkan ancaman bagi ketertiban lokal dan membiarkan mereka, selama tidak ada insiden kekerasan yang memaksa mereka untuk mengambil tindakan.[22] Kelompok Laoguan Zhaijiao tercatat pernah melakukan tindakan kekerasan di Fujian utara pada awal 1748 yang dipicu oleh penangkapan pemimpin lokal mereka yang bernama Chen Guangyao (้™ณๅ…‰่€€) bersama dengan anggota-anggota lainnya.[35] Pemberontakan ini dengan cepat ditumpas oleh para milisi lokal dan pasukan pemerintahan.[36]

Di Taiwan, kelompok ini berkembang relatif bebas sejak abad ke-19 dan tetap tumbuh subur di masa penjajahan Jepang. Sementara itu, di daratan Tiongkok, walaupun sering ditekan oleh pemerintah, kelompok ini tetap bertahan. Beberapa jaringan kecil yang cukup luas adalah kelompok yang dipimpin Zhang Qikun (ๅผต่ตทๅค) di awal tahun 1800-an.[37] Kelompok-kelompok Luoisme mengalami masa-masa sulit saat Perang Taiping meletus antara tahun 1851 hingga 1864. Perang saudara besar ini menghancurkan wilayah Yangzi bagian hilir, termasuk tempat tinggal banyak pengikut ajaran ini. Banyak dari mereka yang ikut tewas atau mengungsi bersama penduduk lainnya. Kehancuran inilah yang kemudian mendorong munculnya gerakan pembaruan yang dipimpin oleh seorang penjahit sederhana bernama Pan Sanduo (ๆฝ˜ไธ‰ๅคš) di daerah Jinhua dan seorang bernama Chen Quan (้™ณๆฌŠ) di daerah Zhuji.[38][39] Di waktu yang hampir bersamaan, para misionaris Kristen mulai berdatangan ke Tiongkok dalam jumlah besar. Ini adalah dampak dari perjanjian yang ditandatangani setelah Perang Candu kedua. Mereka datang dengan dukungan penuh dari negara-negara Barat yang kuat. Gesekan antara kelompok Luoisme dengan Kristen mencapai puncaknya pada tahun 1895, ketika kelompok Laoguan Zhaijiao menyerang para misionaris Protestan, yang dikenal dengan Pembantaian Kucheng.[40][38] Pada tahun itu Longhua Jiao dari kelompok Zhaijiao menyerang para misionaris asal Inggris karena merasa dihina oleh mereka. Hasilnya adalah pembantaian berdarah terhadap pria, wanita dan anak-anak, semuanya berjumlah 11 orang.[41]

Salah satu kelompok Luoisme yang cukup besar adalah Zhenkongdao (็œŸ็ฉบ้“ โ€œJalan Kehampaan Sejatiโ€) yang didirikan di Anhui pada tahun 1860-an. Zhenkongdao adalah cabang Luoisme yang mempromosikan meditasi, penyembuhan, dan pembacaan kitab suci.[42] Kelompok ini meluas ke Fujian pada akhir abad ke-19, dan dari sana menyebar ke seluruh wilayah selatan Tiongkok dan kelompok etnis Tionghoa di Asia Tenggara.[42]

Pada tahun 1950-an, terjadi penindasan besar-besaran terhadap kelompok-kelompok keagamaan baru, yang turut memusnahkan sekte-sekte Luoisme di banyak tempat. Sebelum penindasan agama secara nasional oleh Partai Komunis Tiongkok, ajaran Luoisme masih dapat ditemukan di seluruh provinsi Jiangsu, Zhejiang, Jiangxi, Fujian, dan Taiwan.[43] Akan tetapi represi tersebut telah menyebabkan penurunan secara drastis pada aliran-aliran Luoisme. Beberapa kuil dan vihara ada yang bertahan, tapi banyak sekali yang ditutup.[44] Di Provinsi Fujian saat ini, masih ada sejumlah kecil pengikutnya. Namun demikian, para pengikut ini menyebut diri mereka sebagai umat Buddha dan bergabung dengan perkumpulan Buddha setempat.[20] Di Taiwan sendiri meskipun tidak ditekan seperti di Tiongkok, kelompok-kelompok Luoisme banyak yang kehilangan pijakan dan tidak bertahan. Tapi karena tidak ditindas, ada banyak sekali peninggalan-peninggalan sumber-sumber literasi, bangunan dan artefak-artefak yang masih bertahan dan dimuseumkan di Taiwan.[44]

Dehua Tang (ๅพทๅŒ–ๅ ‚), kuil ini adalah salah satu dari dua kuil yang tersisa di Taiwan yang merupakan kuil yang didirikan Sekte Bunga Naga. Kuil ini didedikasikan untuk memuja Guan Yin.

Kitab Suci

sunting

Teks utama Luojiao adalah lima buku yang ditulis oleh patriark Luo, disebut Wubuliuce / Lima Kitab dalam Enam Jilid (ไบ”้ƒจๅ…ญๅ†Œ) atau juga terkadang dinamakan Lima Buku dalam Enam Volume, berjudul Baojuan (ๅฏถ็œท).[45] Buku ini dicetak untuk pertama kali pada tahun 1509.[46] Judul-judul dari Lima Kitab dalam Enam Jilid biasanya disingkat karena sangat panjang. Judul-judul dalam buku tersebut adalah sebagai berikut:[47]

Kitab Wubuliuce (ไบ”้ƒจๅ…ญๅ†Š), yang merupakan kitab dari Luoisme
  1. Gulungan tentang Praktik Pahit dan Pencerahan di Sang Jalan (่‹ฆๅŠŸๆ‚Ÿ้“ๅท) (satu jilid, tidak ada subdivisi) (singkatan: Gulungan tentang Praktik Pahit [่‹ฆๅŠŸๅท])
  2. Gulungan Meratapi Dunia dan Tanpa Tindakan (ๅ˜†ไธ–็„ก็‚บๅท) (satu jilid; tiga belas subbagian) (singkatan: Gulungan Meratapi Dunia [ๅ˜†ไธ–ๅท])
  3. Gulungan Kunci untuk Menghancurkan Ajaran Sesat dan Memunculkan Bukti (็ ด้‚ช้กฏ่จผ้‘ฐๅŒ™ๅท) (dua jilid; dua puluh empat subbagian) (singkatan: Gulungan Penghancuran Ajaran Sesat [็ ด้‚ชๅท])
  4. Gulungan Berharga tentang Keyakinan Ortodoks dan Menghilangkan Keraguan Tanpa Pembinaan dan Secara Spontan (ๆญฃไฟก้™ค็–‘็„กไฟฎ่จผ่‡ชๅœจๅฏถๅท) (satu jilid; dua puluh lima subbagian) (singkatan: Gulungan Keyakinan Ortodoks [ๆญฃไฟกๅฏถๅท])
  5. Gulungan Berharga [Seteguh] Gunung Tai yang Tinggi dan Tak Tergoyahkan dari Karma yang Menyimpulkan dari Akar yang Mendalam (ๅทๅทไธๅ‹•ๆณฐๅฑฑๆทฑๆ นdๅฏถๅท) (satu jilid; dua puluh empat bagian) (singkatan: Gulungan Gunung Tai [ๆณฐๅฑฑๅฏถๅท])

Pada tahun ke-46 Pemerintahan kaisar Wanli pada Dinasti Ming (1618), Lima Kitab dalam Enam Jilid ini dibakar oleh Kementerian Ritual Nanjing.[48]

Selain kitab Wubuliuce, sekte-sekte turunan Luoisme juga menciptakan kitabnya sendiri, seperti contohnya: sekte Mahayana Timur dengan Kitab Bunga Naga / Longhuajing (้พ่ฏ็ถ“) yang ditulis oleh Gongchang (ๅผ“้•ท) pada tahun 1654,[49] Sekte Patriark Yin yang menekankan pentingnya beberapa kitab seperti Shenglun Baojuan (่–่ซ–ๅฏถ็œท), Mingzong xiaoyi baojuan (ๆ˜Žๅฎ—ๅญ็พฉๅฏถ็œท), dan Dianjing Jiejing (ๅคฉ็ถ“็ต็ถ“);[50] Xiantiandao dengan Huangji jindan (็š‡ๆฅต้‡‘่›‹) yang ditulis oleh Huang Dehui, dan masih banyak lagi.

Doktrin dan Ajaran

sunting

Pada dasarnya, sekte-sekte Luoisme mempunyai ajaran dan tradisi yang berbeda-beda satu sama lain. Beberapa berikut ini adalah keyakinan-keyakinan dari kelompok-kelompok Luoisme yang ditemukan jejaknya dalam sejarah:

Wusheng Laomu

sunting

Dalam banyak sekte-sekte Luoisme, Wusheng Laomu (็„ก็”Ÿ่€ๆฏ) dipuja sebagai dewi pencipta tertinggi. Ia merupakan prinsip feminin abadi yang tidak dilahirkan, yang menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup sebagai "anak-anaknya".[51] Patriark Luo sendiri sebenarnya tidak pernah menyebutkan Lao Mu dalam kitab tulisannya (Wubuliuce) dan menkritik tradisi Seroja Putih dan Maitreyanisme sebagai ajaran yang menyimpang.[52][45] Dalam tulisan-tulisan asli Luo, prinsip yang dianut adalah โ€œKekosongan Sejatiโ€ (็œŸ็ฉบ Zhฤ“nkลng) yang merupakan ibu dari segala hal.[53] Kata-kata dari patriark Luo dalam kitabnya adalah sebagai berikut:

Tiba-tiba, setelah mencapai satu langkah, hati saya penuh dengan sukacita yang luar biasa. Saya menyadari bahwa tidak ada jalan kembali ke yang bukan wujud dan juga tidak ada jalan kembali ke yang berwujud, Aku adalah Kekosongan Sejati. Ibu (niang ๅจ˜) adalah saya dan saya adalah Ibu, pada dasarnya tidak ada dualitas. Batin adalah kosong, lahir adalah kosong, Aku adalah Kekosongan Sejati.[54]

Dalam tulisan-tulisan Luo, simbol wรบshฤ“ng (็„ก็”Ÿ โ€œtidak lahirโ€) berarti keadaan โ€œtidak ada kelahiran dan tidak ada kematianโ€ yang memberikan pencerahan.[55] Karena dalam tulisan-tulisan sektarian sering muncul tulisan Wusheng Laomu, ada godaan tertentu untuk mengartikan Wusheng sebagai bentuk ringkas dari Wusheng Laomu.[56] Dalam perkembangannya banyak kelompok-kelompok pengikutnya yang menintepretasikan tulisan dalam kitab tersebut sebagai Wusheng Laomu.[57] Keyakinan ini dianut oleh banyak sekte-sekte Luoisme salah satunya adalah kelompok di daerah selatan yang dipimpin Yin Ji'nan yang berasal dari Huangtianjiao,[13] dan kelompok sekte Mahayana Timur yang dipimpin oleh Wang Sen.[58] Beberapa simbol-simbol seperti Wuji (่ˆžๆŠ€ โ€œYang Tak Terbatasโ€), Zhen (็œŸ โ€œSejatiโ€, โ€œKebenaran Sejatiโ€), Gufo (ๅคไฝ› โ€œBuddha Kunoโ€) diasosiasikan sebagai sifat dari sosok Ibu Suci Abadi yang bertempat di Istana Bidadari Agung.[53] Meskipun dalam kitab suci Luo Menghong, Yang Mutlak digambarkan secara impersonal dan abstrak, tapi juga disebutkan tentang Wuji Shengzu (็„กๆฅต็”Ÿ็ฅ–), Wuji Fumu (็„กๆฅต็ˆถๆฏ) dan simbol Ibu (ๆฏ atau ๅจ˜), sehingga oleh pengikutnya diasosiasikan sebagai Laomu.[53]

Kitab Bunga Naga (้พ™ๅŽ็ป), kitab yang dibuat oleh Gongchang (ๅผ“้•ท), murid dari Wang Sen, pemimpin Sekte Mahayana Timur menggambarkan bahwa Lao Mu mengirimkan 9,6 miliar putra dan putrinya ke dunia fana yang ada di timur. Setelah lupa dengan sifat asli mereka akibat godaan dunia, mereka perlu dituntun dan diantarkan kembali ke kampung halaman, Surga Tusita yang ada di Barat tempat Lao Mu bernaung.[58]

Daning (ๅคง็”ฏ), seorang biksu yang menjadi murid patriark Luo, menulis sebuah teks untuk menggambarkan Lao Mu dan membuat isinya seolah-olah seperti adalah ucapan Sang Buddha:

Ananda bertanya kepada Sang Buddha: โ€œApa yang dimaksud dengan Wusheng Fumu? Sang Bhagava menjawab: "Yang Tidak Terlahir, ini berarti asal dari semua Buddha, fondasi dari segala sesuatu, tempat kelahiran yang asal (kampung halaman) semua manusia. Ini juga merupakan tubuh dharma dari Yang Tak Terbatas (wuji), yang disebut sebagai penguasa alam.โ€œ[59]

Gambaran mengenai Wusheng Laomu semakin jelas pada masa Mingkong (ๆ˜Ž็ฉบ), generasi ketujuh patriark dari salah satu sekte Luoisme awal. Simbol dari Wusheng Fumu yang tertulis di kitab tulisan patriark Luo sebagai sesuatu yang abstrak telah berubah sepenuhnya menjadi Wusheng Mu, sosok dewa tertinggi yang penuh welas asih yang kehilangan anak-anaknya.[60]

Tiga Masa Pancaran

sunting

Pada dasarnya, Luo Qing tidak pernah menyebutkan teori kosmologi tiga masa pancaran dalam buku-bukunya. Ajaran awal sekte-sekte Luoisme awal sangat jauh dari unsur mesianis yang meyakini akan segera datangnya bencana akhir, termasuk teori tiga masa pancaran. Tetapi di sekte-sekte Luoisme pimpinan Patriark Yin, mulai muncul keyakinan bahwa manusia telah hidup di masa Dharma Akhir (ๆœซๆณ•), di mana ajaran Buddha tidak lagi diajarkan seperti pada masa awalnya.[61] Pada abad ke-17, ajaran Luo mulai digabungkan dengan kepercayaan rakyat lainnya, yaitu milenarianisme Maitreya dan pemujaan terhadap Laomu.[62][63] Dalam representasi mitologi baru dari Luoisme, manusia adalah anak-anak dari dewi primordial.[62] Karena tersesat dengan dunia fana, mereka telah melupakan asal-usul surgawi mereka, dan karenanya sang Ibu mengirim utusan untuk mengingatkan anak-anaknya agar kembali ke surga pada Tiga Masa Pancaran, yaitu Dipankara, Gautama, dan Maitreya yang akan datang.[62] Eskatologi Tiga Masa Pancaran sendiri sebenarnya juga merupakan tradisi Seroja Putih dan Maitreyanisme yang secara keras dikritik dalam tulisan asli patriark Luo. Tapi pada perkembangannya, banyak sekte-sekte Luoisme seperti yang dipimpin oleh Mingkong, Yin Ji'nan, Huang Dehui menggunakan doktrin ini sebagai bagian dari dasar keyakinan sekte.[64][60] Keyakinan ini juga merupakan tradisi Hunyuan dari Huangtiandao, kelompok asal Yin Ji'nan.[13] Dalam sebagian besar kitab suci agama keselamatan, ketiga periode ini dikenal sebagai Periode Pancaran Hijau (ๆธ…้™ฝ qingyang), Pancaran Merah (็ด…้™ฝ hongyang), dan Pancaran Putih (็™ฝ้™ฝ baiyang).[65]

Ikonpobia

sunting

Patriark Luo menolak pemujaan terhadap benda-benda seperti patung, kitab suci, gambar dan sejenisnya dan menganggap itu adalah sesuatu yang berhala.[45] Pandangan yang diyakini adalah semua orang itu dianggap sebagai Buddha, sehingga pemujaan terhadap Buddha menjadi tidak berguna.[66] Selain pemujaan patung, pengikut Luoisme juga menganggap bahwa semua ritual seperti membaca parita, membaca nama Buddha, membakar uang kertas untuk orang yang telah meninggal, serta mengajak orang untuk berdana adalah sia-sia.[67] Menurut Bernard J. Ter Har, keyakinan dan pratek dari Luoisme pada awal berdirinya mempunyai kemiripan dengan tradisi Kristen (terutama Protestan) yang menolak adanya pemujaan terhadap patung dan leluhur.[68] Zhuhong (่ขพๅฎ), salah satu bikhu Buddhisme yang paling terkenal di masa itu mengkritik Wubuliuce atas penolakan para pengikut Luoisme yang menolak penyembahan pada patung.[69]

Kehidupan pasca kematian

sunting

Sama halnya seperti umat awam di Tiongkok, pengikut Luoisme rata-rata masih percaya bahwa setelah kematian, semua roh akan dijemput oleh pengawal akhirat dan menjalani pengadilan di bawah raja Neraka, Raja Yama.[70] Namun, pengikut Luoisme biasanya menolak berbagai macam ritual seperti persembahan makanan, bakar kertas atau pembacaan mantra tertentu, karena hal tersebut dianggap tidak berguna.[71] Para pengikut ajaran memiliki asumsi dasar yang sama, yaitu bahwa Raja Yama mengawasi keseluruhan sistem kematian dan kelahiran kembali secara tidak memihak.[72] Patriark Luo secara khusus juga menganggap aktivitas seperti meditasi tidak berguna di hadapan Raja Neraka.[71] Hal terpenting bagi para pengikut ajaran Luoisme biasanya lebih mementingkan cara hidup yang benar semasa hidup dan bervegetarian.

Inisiasi sebagai Jalan Keselamatan

sunting

Kelompok-kelompok Luoisme memiliki semacam proses inisiasi pada pengikut baru yang disebut โ€œtransmisi terpisah di luar ajaranโ€ (ๆ•™ๅค–ๅˆฅๅ‚ณ) dalam beberapa tingkatan sebagai bentuk transmisi oral untuk kebenaran yang lebih mendalam dan menggunakan karakter pu (ๆ™ฎ) untuk pria dan miao (ๅฆ™) untuk wanita sebagai affiliasi bagi mereka yang telah diinisiasi.[44][73] Ada tiga tingkatan inisiasi, di mana orang yang diinisiasi akan diberikan syair dan "Sutra Sejati Tanpa Aksara" (็„กๅญ—็œŸ็ถ“) serta mengucapkan semacam sumpah untuk tidak membocorkannya, di mana yang melanggar akan dikenai hukuman supernatural dari langit.[66][74] Sekte Luoisme awal menekankan pentingnya untuk menemukan seorang guru yang mencapai penerangan untuk mentransmisikan jalan keselamatan, sebuah ritual inisiasi untuk membuka pintu misterius (็Ž„้—œ).[75] Istilah teknis untuk inisiasi ini disebut sebagai โ€œmendapatkan daoโ€ (ๅพ—้“). Patriark Luo berulang kali memastikan bahwa mereka yang telah diinisiasi (ๅพ—้“ไบบ) dan menjadi anggota komunitasnya (้“ไธญไบบ) akan terselamatkan.[76]

Pada era Patriark Yao atau bahkan sebelumnya, "naik ke atas" (ไธŠ้—œ) adalah istilah untuk insiasi yang mengkonversi seseorang menjadi pengikut ajaran.[77] Pada tahun 1604, pejabat Fujian menggambarkan penyebaran ajaran kelompok-kelompok ini dan pratik mereka sebagai "sebuah mantra saat malam hari di ruang rahasia".[66] Praktik-praktik estoris yang dilakukan di sini adalah pembukaan pintu suci (็Ž„้—œ), transmisi ucapan/mantra rahasia dan segel hati (ๅฟƒๅฐ).[78] Kelompok Luoisme yang dipimpin Yin Ji'nan sangat menekankan pentingnya pembukaan pintu suci ini. Proses transmisi ini juga disebut akan membuat para pengikutnya yang telah diinisiasi akan terbebas dari gerbang neraka dan setan yang mengawal orang yang baru saja meninggal ke alam baka (็„กๅธธ).[79] Di dalam kitab Kitab Bunga Naga (้พ่ฏ็ถ“) juga disebutkan bahwa Laomu mengungkapkan mantra rahasia yang hanya boleh diucapkan dalam hati sebagai jalan keselamatan.[80] Praktik ini kemungkinan berasal dari tradisi Hunyuan pai (ๆธพๅœ“ๆดพ) atau juga dikenal sebagai Hongyang Jiao (ๅผ˜้™ฝๆ•™) yang didirikan oleh Piaogao (้ฃ„้ซ˜) pada tahun 1594.[78] Pembukaan Pintu suci dan transmisi mantra rahasia, yang dibuktikan dalam beberapa kitab suci mereka, menunjukkan pentingnya ritual inisiasi ini bagi kelompok-kelompok Luoisme. Kelompok mereka meyakini keanggotaan adalah golongan orang-orang terpilih, yang ditakdirkan untuk bertemu dengan ajaran yang benar, merupakan prasyarat untuk saling mendukung dan juga untuk keselamatan. Hanya mereka yang โ€œditakdirkanโ€ (ๆœ‰็ทฃไบบ) yang akan diselamatkan.[81] Kelompok Luoisme daerah Jinhua yang dipimpin oleh Pan Sanduo (ๆฝ˜ไธ‰ๅคš) menggunakan istilah "membuka Cahaya" (้–‹ๅ…‰) untuk proses inisiasi ini yang dilakukannya dengan menitik wajah (้ข้ปž).[82]

Tanah Murni Amitabha

sunting

Patriark Luo mengajarkan bahwa ritual membaca parita dan menyebut nama Buddha Amitabha saja tidaklah cukup untuk mencapai alam Sukhavati. Ia ingin para pengikutnya untuk juga menjalankan praktik disiplin pada diri, dan menyebutkan bahwa Tanah Suci Sukhavati itu adalah di dalam diri setiap manusia, bukannya di luaran.[83] Walaupun patriark Luo menganggap membaca parita dan nama Buddha Amitabha sebagai hal yang kurang efektif, tujuan utama dari banyak kelompok Luoisme adalah bisa terlahir di Tanah Suci Amitabha dan bisa menjadi orang yang bisa berkumpul di Pertemuan Bunga Naga (้พ่ฏๆœƒ).[15] Dalam kosmologi Zhaijiao, dijelaskan bahwa selama 3 kali pertemuan Bunga Naga, pertemuan pertama berfokus pada membangkitkan Alkimia Batin, pertemuan kedua berfokus pada meditasi gaya Zen, sedangkan pertemuan ketiga akan berfokus pada โ€œSutra Sejati Tanpa Aksaraโ€.[84]

Sun Zhenkong (ๅญซ็œŸ็ฉบ), generasi keempat dari salah satu sekte Luoisme awal yang bernama Nanwu Jiao (ๅ—็„กๆ•™) menekankan pentingnya sering menyebut nama Amitabha sebagai praktik yang harus sering dilakukan.[75] Ia menulis sebuah buku berjudul "Gulungan Berharga tentang Pembersihan Pikiran Kekosongan Sejati" (้Šท้‡‹็œŸ็ฉบๆŽƒๅฟƒๅฏถ็œท) yang tertulis:

Saya mendorong Anda semua untuk menyebut nama Buddha dan membuat kemajuan dalam pengembangan diri. Karena Wusheng Laomu dan Pertemuan Bunga Naga telah menanti anak-anak sejak lama.

Vegetarianisme

sunting

Para pengikut Luoisme tidak mau makan daging karena meyakini bahwa hal tersebut melibatkan penyembelihan mahluk hidup (menyebabkan karma buruk) dan tidak minum alkohol karena itu menyebabkan hilangnya kesadaran (menyebabkan kemelekatan).[15] Pola makan yang diterapkan oleh Zhaijiao dari Luoisme mengacu pada istilah Zhai (ๆ–‹) yang mengindikasikan pola makan ideal ala Buddhis yang menghindari daging, ikan, anggur dan lima macam rempah-rempah (bawang merah, bawang putih, bawang bombay, kucai, lokio).[85] Di kalangan kekaisaran, istilah ini menunjukkan serangkaian praktik pemurnian yang harus dilakukan oleh semua peserta dalam Pengorbanan di Altar Bundar (yaitu pengorbanan yang dipersembahkan ke surga oleh kaisar) selama tiga hari sebelum acara tersebut.[85]

Ritual

sunting

Ada tiga ritual utama yang biasanya dilakukan oleh sekte-sekte Luoisme. Sedangkan khusus untuk sekte Luoisme aliran Jiangsu, ada tambahan ritual pemakaman yang dilakukan pada anggota mereka yang meninggal.

Ritual inisiasi

sunting

Ritual inisiasi atau juga disebut ritual mengambil perlindungan (็šˆไพ็ง‘) adalah ritual yang dilakukan pada saat ada anggota baru yang bergabung. Ritual ini dibagi menjadi beberapa tahapan, di mana tiga tingkatan pertama disebut sebagai "transmisi khusus di luar kitab suci". Sebelum ritual dilakukan, persembahan buah-buahan dan makanan vegetarian dilakukan di depan altar, dan kemudian calon anggota akan berlutut di mana pria di sebelah kiri dan wanita di sebelah kanan.[86] Sambil memegang dupa, anggota mengucapkan 48 ikrar kepada Buddha Amitabha. Selanjutnya seorang pencatat di samping akan memeriksa nama-nama calon anggota yang diyakini merupakan nama yang tercatat di neraka, dan kemudian dilanjutkan dengan proses transmisi "Sutra Sejati Tanpa Aksara" serta "Segel Hati" (ๅฟƒๅฐ).[87] Para calon anggota juga diharuskan untuk menjaga tiga mustika dan menjalankan lima sila, serta menjaga kerahasiaan sutra sejati tanpa aksara,[88] serta aktif dalam merekrut anggota baru.

Ritual vegetarian

sunting

Ritual puasa vegetarian ini dimulai dengan doa mengucapkan Amitฤbha, dengan harapan terbebas dari siklus kelahiran kembali. Kemudian diikuti pemanggilan Delapan Dewa. Ritual dibuka dengan pembakaran dupa, persembahan teh dan buah, serta penyalaan lilin. Para peserta kemudian membaca Sutra Seroja, dan sutra ajaran mereka Tian Yuan Jing (ๅคฉ็ทฃ็ถ“). Setelah serangkaian ritual tersebut, dilanjutkan memorial dengan menyebut daftar panjang para dewa, termasuk Amitabha, Dewa-Dewi Tertinggi Langit dan Bumi, Lao Mu (sebagai yang mengirim patriark Luo atau Ying ke bumi), Luo Qing, Patriark Ying, Patriark Yao, Guanyin, dan dewa-dewa lain, serta murid-murid Patriark Ying dan Patriark Yao dan juga istri mereka dan keturunannya.[89]

Selanjutnya disebutkan nama-nama tokoh Buddha, seperti Shakyamuni, Maitreya dan Pemimpin Pertemuan Bunga Naga yang akan terlahir di masa depan, Buddha Panjang Umur Tanpa Akhir (ๆ— ้‡ๅฏฟไฝ› Wuliang Shoufo) yang diyakini turun ke altar tempat mereka berada, diikuti dengan penyebutan kembali para Patriark mereka dan Amitabha. Pemimpin lokal kemudian mengundang Patriark Suci, para Buddha, dan dewa-dewa lain untuk datang ke Acara Vegetarian tersebut, yang kemudian ditutup dengan mengundang dewa-dewa lokal dan membaca Sutra Seroja serta melafalkan nama Amitabha sekali lagi. Setelah mempersembahkan dupa dan meyakini semua para Buddha dan dewa makan, barulah mereka makan bersama.[89]

Ritual menyalakan lilin

sunting

Ritual ini dilakukan dengan keyakinan agar cahaya dari ajaran tersebut meresap ke dalam hati setiap orang dan menyebar ke mana-mana, sama seperti pancaran sinar Patriark Luo yang tercerahkan, sama seperti sinar tak terbatas Buddha Amitฤbha. Dalam ritual ini, kitab suci utama mereka, Lima Buku dalam Enam Jilid, dibacakan selama beberapa hari penuh, sementara lilin menyala sebagai simbol cahaya pencerahan Luo. Ritual dimulai dengan membakar dupa, membungkuk, lalu membuka kitab suci. Nama Buddha Amitฤbha dan para dewa pelindung dipanggil agar tidak ada kekuatan jahat yang mengganggu. Kitab suci dibacakan diselingi dengan doa, puisi, dan nyanyian pujian. Setiap bacaan dianggap membawa berkah: memperpanjang umur orang tua, menuntun leluhur hingga sembilan generasi ke Tanah Murni, dan membagikan pahala kepada semua makhluk, termasuk roh di alam bawah. Ritual ditutup dengan pembacaan kembali Sutra Hati, lalu semua merasa telah ikut serta dalam sebuah perayaan cahaya yang mereka namakan sebagai sebuah "Perjamuan Bunga Naga".[90]

Ritual Pemakaman

sunting

Ritual ini biasanya dilakukan untuk mengantar jiwa orang yang telah meninggal agar bisa menuju ke Tanah Murni dan hanya ditemukan di sekte-sekte Luoisme Jiangsu. Ritual ini biasanya dilakukan pada jenazah di dalam peti mati. Sekte Luoisme menolak penggunaan uang kertas untuk arwah dan lebih banyak melakukan pembacaan sutra, puisi serta nama Amitฤbha. Jenazah biasanya akan menerima sebuah sertifikat bernama โ€œdokumen perjalanan pulang,โ€ yang menandakan bahwa Nirwana adalah rumah sejati, sementara kehidupan di dunia hanyalah siklus kelahiran kembali yang tiada akhir. Mereka juga diberi dokumen tambahan sebagai bukti bahwa telah masuk ke Tanah Suci. Ritual ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu pembakaran dupa diikuti pembacaan puisi singkat dan Sutra Hati, serta mantra melindungi dari gangguan roh jahat, pembacaan puisi untuk menenangkan arwah dan petunjuk menggali liang kubur, dan dilanjutkan dengan prosesi membawa peti ke makam. Puisi yang dibacakan menegaskan bahwa arwah tidak akan masuk ke alam baka, melainkan menuju Tanah Suci di Barat. Bagian akhir ritual adalah persembahan dupa secara sistematis. Anak berbakti mempersembahkan sepuluh batang dupa, masingโ€‘masing melambangkan tahap perjalanan arwah dari dunia fana menuju Gerbang Buddha.[91]

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Patriark Yao lahir lima tahun sebelum Patriark Yin meninggal. Patriark Yao mengklaim bahwa Patriark Yin telah memisahkan sebagian "roh sejati"-nya (้ˆๆ€ง) dan bereinkarnasi menjadi dirinya.[21]

Referensi

sunting
  1. ^ Ma 2011, hlm.ย 169.
  2. ^ Nadeau 2012, hlm.ย 230.
  3. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 214-215.
  4. ^ Ma 2011, hlm.ย 172-178.
  5. ^ a b Ma 2011, hlm.ย 171.
  6. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 234.
  7. ^ Ma 2011, hlm.ย 171-172.
  8. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 444.
  9. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 235.
  10. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 236.
  11. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 237.
  12. ^ a b c d Ma 2011, hlm.ย 174.
  13. ^ a b c d ็งฆ, ๅฎ็ฆ. "ๆธ…ไปฃ้’่Žฒๆ•™ๆบๆต่€ƒ". ไธญๅœ‹ไบบๆฐ‘ๅคงๅญธๆธ…ๅฒ็ ”็ฉถ.
  14. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 52.
  15. ^ a b c d ter Haar 2015, hlm.ย 2.
  16. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 251-257.
  17. ^ Overmyer, Daniel L. (2012). ๅฏถๅทโ€”โ€”ๅๅ…ญ่‡ณๅไธƒไธ–็ด€ไธญๅœ‹ๅฎ—ๆ•™็ถ“ๅทๅฐŽ่ซ–. ๅŒ—ไบฌ: ไธญๅคฎ็ทจ่ญฏๅ‡บ็‰ˆ็คพ. ISBNย 7511710999. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 252-253.
  19. ^ ็พ…, ๅฃซๅ‚‘ (2015). ๆฐ‘้–“ๆ•™ๆดพใ€ๅฎ—ๆ•™ๅฎถๅบญ่ˆ‡ๅœฐๆ–น็คพๆœƒโ€”โ€”ไปฅๅไธƒ่‡ณๅไนไธ–็ด€ไธญ่‘‰ๆต™ๆฑŸๆ…ถๅ…ƒๅงšๆฐๅฎถๆ—็‚บไธญๅฟƒใ€Š่‡บๅคงๆญทๅฒๅญธๅ ฑใ€‹ (PDF). ่‡บ็ฃๅคงๅญธ. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-07-22.
  20. ^ a b c d Ma 2011, hlm.ย 175.
  21. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 66.
  22. ^ a b ter Haar 2015, hlm.ย 3.
  23. ^ Ma 2011, hlm.ย 173-175.
  24. ^ a b c d e Ma 2011, hlm.ย 173.
  25. ^ Ma 2011, hlm.ย 172.
  26. ^ Ma 2011, hlm.ย 325.
  27. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 405.
  28. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 378.
  29. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 379.
  30. ^ Seiwert 1992, hlm.ย 49-51.
  31. ^ a b Ma 2011, hlm.ย 167.
  32. ^ a b Ma 2011, hlm.ย 176.
  33. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 22.
  34. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 238.
  35. ^ ter Haar 2014, hlm.ย 163.
  36. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 251.
  37. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 199.
  38. ^ a b ter Haar 2015, hlm.ย 189.
  39. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 200.
  40. ^ Sato, Kimihiko. [2023-01-11 "The Ku-t'ien Anti-missionary Incident (1895)ย : Vegetarian Sect, the shadow of Sino-Japanese War, and the conversion of the missionary diplomacy of the UK and U.S."] Diarsipkan dari asli tanggal https://web.archive.org/web/20230113211724/http://repository.tufs.ac.jp//handle/10108/28715. ; ;
  41. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 8.
  42. ^ a b Goossaert 2011, hlm.ย 209.
  43. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 1.
  44. ^ a b c ter Haar 2015, hlm.ย 4.
  45. ^ a b c ๆญ, ๅคงๅนด (1993). ใ€Šไธญๅœ‹ๆฐ‘้–“ๅฎ—ๆ•™ๆ•™ๆดพ็ ”็ฉถใ€‹. ๅЉๅฟƒๅ‹‡่ญฏ. ไธŠๆตท: ไธŠๆตทๅค็ฑๅ‡บ็‰ˆ็คพ. ISBNย 7532513696. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  46. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 209.
  47. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 18.
  48. ^ Mou, Zhongjian (2023). A Brief History of the Relationship Between Confucianism, Daoism, and Buddhism. Singapore: Springer Verlag. ISBNย 9811972087. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  49. ^ Jordan 1985, hlm.ย 21.
  50. ^ Ter haar 2015, hlm.ย 57.
  51. ^ Shek, Richard; Noguchi, Tetsurล (2023-08-24). "CHAPTER 7 Eternal Mother Religion: Its History and Ethics". De Gruyter Brill (dalam bahasa Inggris). doi:10.1515/9780824842024-009/html.
  52. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 121.
  53. ^ a b c Seiwert 2003, hlm.ย 387.
  54. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 220.
  55. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 390.
  56. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 389-390.
  57. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 331, 444.
  58. ^ a b Jordan 1985, hlm.ย 20.
  59. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 242.
  60. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 246.
  61. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 122.
  62. ^ a b c Nadeau 2012, hlm.ย 231.
  63. ^ ter haar 2015, hlm.ย 122.
  64. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 253.
  65. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 327.
  66. ^ a b c ter Haar 2015, hlm.ย 27.
  67. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 119.
  68. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 6.
  69. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 23.
  70. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 123-124.
  71. ^ a b ter Haar 2015, hlm.ย 93.
  72. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 94.
  73. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 85.
  74. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 131-134.
  75. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 245.
  76. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 232.
  77. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 67.
  78. ^ a b Seiwert 2003, hlm.ย 254.
  79. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 33.
  80. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 371.
  81. ^ Seiwert 2003, hlm.ย 265-266.
  82. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 195.
  83. ^ Ter Haar 2015, hlm.ย 18.
  84. ^ Jones 1999, hlm.ย 18.
  85. ^ a b Jones 1999, hlm.ย 15.
  86. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 130-131.
  87. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 131-136.
  88. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 133-134.
  89. ^ a b ter Haar 2015, hlm.ย 138-141.
  90. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 141-143.
  91. ^ ter Haar 2015, hlm.ย 144-146.

Daftar Pustaka

sunting
  • Seiwert, Hubert Michael (2003), Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History, Brill, ISBNย 9004131469
  • Ma, Xisha; Meng, Huiying (2011), Popular Religion and Shamanism, BRILL, ISBNย 9004174559 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Nadeau, Randall L. (2012), The Wiley-Blackwell Companion to Chinese Religions, John Wiley & Sons
  • ter Haar, Bernard J. (2015), Practicing Scripture: A Lay Buddhist Movement in Late Imperial China, University of Hawai Press, ISBNย 9780824853389
  • Goossaert, Vincent, David Palmer (2011), The Religious Question in Modern China, University of Chicago Press, ISBNย 0226304167 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Jones, Charles B (1999), Buddhism In Taiwan Religion And The State 1660-1990, Univ of Hawaii Pr, ISBNย 0824820614
  • Jordan, David; Daniel Overmyer (1985), The Flying Phoenix: Aspects of Chinese Sectarianism in Taiwan, Princeton University Press, ISBNย 069107304X Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Seiwert, Hubert (1992), "Popular Religious Sects in South-East China: Sect Connections and the Problem of tile Luo Jiao/Balllan Jiao Dichotomy", Journal of Chinese Religions (20), doi:10.1179/073776992805307610

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Wusheng Laomu

yang dipuja oleh beberapa sekte agama keselamatan Tiongkok, antara lain Luojiao, Bailianjiao, Jizushan Dachengjiao, Zhaojiao, Wenxiangjiao, Huangtian Jiao

Konfusianisme

keselamatan Maitreyanisme ๅผฅๅ‹’ๆ•™ Seroja Putih ็™ฝ่“ฎๆ•™ Bฤguร  dร o ๅ…ซๅฆ้“ Hรณngyรกng jiร o ๅผ˜้™ฝๆ•™ Luรณjiร o ็ฝ—ๆ•™ Zhฤijiฤo ๆ–‹ๆ•™ Xiฤntiฤndร o ๅ…ˆๅคฉ้“ Yฤซguร ndร o ไธ€่ดฏ้“ Mรญlรจ Dร dร o ๅผฅๅ‹’ๅคง้“ Dรฉjiร o ๅพทๆ•™

Agama keselamatan Tionghoa

(้ปƒๅคฉ้“ "Jalan Langit Kuning") atau Xuangu (ๆ‚ฌ้ผ“) Ajaran Luo / Luoisme (็ฝ—ๆ•™ Luรณjiร o): Patriark Luo dikabarkan berseberangan dengan Seroja Putih, Maitreyanisme

Dewa-dewi Tionghoa

keselamatan Maitreyanisme ๅผฅๅ‹’ๆ•™ Seroja Putih ็™ฝ่“ฎๆ•™ Bฤguร  dร o ๅ…ซๅฆ้“ Hรณngyรกng jiร o ๅผ˜้™ฝๆ•™ Luรณjiร o ็ฝ—ๆ•™ Zhฤijiฤo ๆ–‹ๆ•™ Xiฤntiฤndร o ๅ…ˆๅคฉ้“ Yฤซguร ndร o ไธ€่ดฏ้“ Mรญlรจ Dร dร o ๅผฅๅ‹’ๅคง้“ Dรฉjiร o ๅพทๆ•™

Taoisme

keselamatan Maitreyanisme ๅผฅๅ‹’ๆ•™ Seroja Putih ็™ฝ่“ฎๆ•™ Bฤguร  dร o ๅ…ซๅฆ้“ Hรณngyรกng jiร o ๅผ˜้™ฝๆ•™ Luรณjiร o ็ฝ—ๆ•™ Zhฤijiฤo ๆ–‹ๆ•™ Xiฤntiฤndร o ๅ…ˆๅคฉ้“ Yฤซguร ndร o ไธ€่ดฏ้“ Mรญlรจ Dร dร o ๅผฅๅ‹’ๅคง้“ Dรฉjiร o ๅพทๆ•™

Shio

keselamatan Maitreyanisme ๅผฅๅ‹’ๆ•™ Seroja Putih ็™ฝ่“ฎๆ•™ Bฤguร  dร o ๅ…ซๅฆ้“ Hรณngyรกng jiร o ๅผ˜้™ฝๆ•™ Luรณjiร o ็ฝ—ๆ•™ Zhฤijiฤo ๆ–‹ๆ•™ Xiฤntiฤndร o ๅ…ˆๅคฉ้“ Yฤซguร ndร o ไธ€่ดฏ้“ Mรญlรจ Dร dร o ๅผฅๅ‹’ๅคง้“ Dรฉjiร o ๅพทๆ•™

Tridharma

keselamatan Maitreyanisme ๅผฅๅ‹’ๆ•™ Seroja Putih ็™ฝ่“ฎๆ•™ Bฤguร  dร o ๅ…ซๅฆ้“ Hรณngyรกng jiร o ๅผ˜้™ฝๆ•™ Luรณjiร o ็ฝ—ๆ•™ Zhฤijiฤo ๆ–‹ๆ•™ Xiฤntiฤndร o ๅ…ˆๅคฉ้“ Yฤซguร ndร o ไธ€่ดฏ้“ Mรญlรจ Dร dร o ๅผฅๅ‹’ๅคง้“ Dรฉjiร o ๅพทๆ•™

Tian Shang Sheng Mu

keselamatan Maitreyanisme ๅผฅๅ‹’ๆ•™ Seroja Putih ็™ฝ่“ฎๆ•™ Bฤguร  dร o ๅ…ซๅฆ้“ Hรณngyรกng jiร o ๅผ˜้™ฝๆ•™ Luรณjiร o ็ฝ—ๆ•™ Zhฤijiฤo ๆ–‹ๆ•™ Xiฤntiฤndร o ๅ…ˆๅคฉ้“ Yฤซguร ndร o ไธ€่ดฏ้“ Mรญlรจ Dร dร o ๅผฅๅ‹’ๅคง้“ Dรฉjiร o ๅพทๆ•™