Yiguandao
ไธ€่ฒซ้“
PenggolonganAgama keselamatan Tiongkok
Kitab suciSutra Sejati Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan (ๅผฅๅ‹’ๆ•‘่‹ฆ็œŸ็ป)

Jawaban atas Keraguan dan Pertanyaan Mengenai Yi-guan Dao (ไธ€่ฒซ้“็–‘ๅ•่งฃ็ญ”)
Kitab Uraian Metafisika (ๆ€ง็†้กŒ้‡‹)
Ritual Sementara (ๆš‚่ฎขไฝ›่ง„)
Tujuan dari Tao (้“ไน‹ๅฎ—ๆ—จ)
Kitab 100 Bakti (็™พๅญ็ป)

Kanon Yiguandao (ไธ€่ฒซ้“่—)
PendiriWang Jueyi
Didirikanakhir abad ke-19
Shandong
UmatChina, 1940 (sebelum persekusi)ย : 12 juta[1]
Jepang: ~50,000[2]
Korea Selatan, 2015: 1.3 juta[3]
Taiwan, 2005: 810,000[4]
Nama lainAliran Maitreya, Aliran Buddha Maitreya, Bai Laomu (ๆ‹œ่€ๆฏ), Zhenli Tiandao (็œž็†ๅคฉ้“), Tiandao (ๅคฉ้“)
Tempat ibadah Mile Dadao (pecahan dari Ikuanisme) di Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia. Di Indonesia, agama ini dianggap sebagai bagian dari agama Buddha, sebagai "Aliran Buddha Maitreya". Di Taiwan, agama ini berdiri sendiri dan terpisah dari agama Buddha.

Ikuanisme (Hanzi: ไธ€่ฒซ้“; Pinyin: Yฤซguร ndร o), I Kuan Tao, juga dikenal sebagai Aliran Buddha Maitreya di Indonesia, adalah agama keselamatan Tiongkok yang muncul pada akhir abad ke-19, di Shandong, dan pernah menjadi kelompok keagamaan keselamatan terbesar di Tiongkok pada tahun 1930-an sampai 1940an.[5] "I Kuan" berarti persatuan atau kesatuan, sementara "Tao" berarti jalan, kebenaran, atau juga Ketuhanan.

Menurut Sebastien Billioud, Ikuanisme dapat dilihat sebagai gabungan antara versi terbaru dari tradisi Tridharma (sinkretisme Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme) yang juga menggabungkan ajaran agama Kristen dan Islam (dengan demikian menjadi satu kesatuan dari lima ajaran) dan eskatologi mileniarisme yang menonjolkan bencana akhir zaman dan misi penyelamatan.[6] Seiring perkembangannya, terbentuk aliran Ikuanisme baru seperti Mile Dadao (ๅฝŒๅ‹’ๅคง้“) yang sepenuhnya memisahkan diri karena perbedaan pendapat doktrinal.[7]

I Kuan Tao awalnya adalah kelompok kecil di daerah Shandong berjumlah ribuan pengikut, tetapi di bawah kepemimpinan Zhang Tianran dan Sun Suzhen melalui kegiatan misionaris, kelompok ini berkembang menjadi gerakan terbesar di Tiongkok pada tahun 1940-an dengan jutaan pengikut.[8] Pada tahun 1949, Yiguandao dilarang di daratan Tiongkok dan dianggap sebagai organisasi rahasia ilegal dan sekte sesat sebagai bagian dari kampanye anti-agama yang lebih luas yang berlangsung saat itu. Yiguandao kemudian berkembang pesat di Taiwan, meskipun mengalami penganiayaan selama puluhan tahun oleh Kuomintang yang secara resmi berakhir pada tahun 1987 dengan legalisasi Yiguandao.[9]

Di Indonesia, meskipun timbul beberapa kontroversi dari berbagai aliran arus utama Buddhisme,[a] Ikuanisme secara resmi diakui oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan dikenal sebagai Aliran Buddha Maitreya dengan "Jalan Ketuhanan" di bawah naungan Majelis Agama Buddha I Kuan Tao Indonesia.[19] Sementara itu, Mile Dadao juga diakui di bawah naungan Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia.[20] Ikuanisme di Indonesia berasal dari Taiwan sekitar tahun 1950-an. Akan tetapi, di Taiwan, Ikuanisme berdiri sendiri sebagai sebuah agama resmi yang diakui pemerintah dan terpisah dari agama Buddha.

Sejarah

sunting

Sebelum abad 19

sunting

Kelompok-kelompok agama rakyat dan agama keselamatan sangat populer pada zaman dinasti Ming (1368-1644), dan Luo Qing yang menulis Wubu Liuce (ไบ”้ƒจๅ…ญๅ†Š) pada tahun 1509 adalah salah satu tokoh yang menonjol pada kala itu.[21] Para pengikut Luo Qing mendirikan kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Luoisme (็พ…ๆ•™). Luoisme yang telah tersebar di banyak daerah memiliki dua cabang utama: Wuweiisme (็„ก็‚บๆ•™ Wuwei Jiao) dan sekte Mahayana (ๅคงไน˜ๆ•™ Dacheng Jiao).[22] Kelompok Dachengjiao dibagi menjadi dua grup, grup timur dan grup barat. Kelompok timur dipimpin oleh anak perempuan dari Luoqing, Luo Foguang (็พ…ไฝ›ๅนฟ) dan cucu menantunya Wang Sen (็Ž‹ๆฃฎ). Kelompok bagian timur terbagi menjadi sekte Longhua (้พ่ฏๆ•™), sekte Bendera Emas (้‡‘ๅนขๆ•™) dan sekte Seroja Hijau (้’่“ฎๆ•™). Ketiga ajaran ini dinamakan Sekte Vegetarian (้ฝ‹ๆ•™ Zhaijiao) yang juga dikenal dengan Laoguan Zhaijiao (่€ๅฎ˜ๆ–‹ๆ•™).[23]

Salah satu keturunan dari Luo Qing yang bernama Luo Weiqun (็พ…่”š็พค) / Luo Weixing (็พ…็ปด่กŒ) dari sekte Mahayana Timur menyebarkan ajaran di daerah Jiangxi.[b][24][25][26][27] Kalangan I Kuan Tao meyakini Luo Weiqun mendapatkan Firman Tuhan dari Maha Guru ke 7, Bai Yuchan (็™ฝ็މ่Ÿพ) dan Mao Daoyi (้ฆฌ้“ไธ€) yang dianggap sebagai penerus garis silsilah patriark Buddhisme.[c][24][28][29][30] Luo Weiqun memiliki seorang pengikut yang menjadi penerusnya bernama Huang Dehui (้ปƒๅพท่ผ, di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-9).[25] Pada masa pemerintahan kaisar Yongzheng pada Dinasti Qing, setelah Luo Weiqun dihukum mati oleh pemerintah,[31] Huang Dehui mendirikan sekte Seroja Hijau atau juga dikenal dengan nama Xiantiandao (ๅ…ˆๅคฉ้“).[32] Sekte ini menyatukan tiga agama dengan mempraktikkan tata krama Konfusianisme, praktik-praktik Taoisme, dan sila-sila Buddhisme. Dinamakan Seroja Hijau untuk bersaing dengan sekte Seroja Putih yang populer saat itu.[33] Sekte ini sangat populer di Sichuan, Yunnan-Guizhou dan Hubei, dan melancarkan banyak pemberontakan demi menggulingkan dinasti Qing dan mengembalikan dinasti Ming, tetapi berhasil ditekan oleh pemerintahan Dinasti Qing.[34] Pada tahun 1690, Huang Dehui ditangkap dan dihukum mati.[35][31] Kepemimpinan di lanjutkan beberapa puluh tahun kemudian oleh Wu Zixiang (ๅดๅญ็ฅฅ, di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-10). Ia juga pada akhirnya ditangkap oleh pemerintah dan juga dihukum mati.[35] Pada tahun 1790, sebagai pemimpin kelompok, He Liaoku (ไฝ•ไบ†่‹ฆ, di I Kuan Tao dikenal sebagai Maha Guru ke-11), dikirim ke Longli, Guizhou menjadi tentara sebagai hukuman dari pemerintah, sehingga sekte Seroja Hijau menyebar ke Guizhou. Murid He Liao Ku, yaitu Yuan Zhiqian (่ขๅฟ—่ฌ™, di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-12) menyebarkan ajaran dari Guizhou ke Yunnan, Sichuan, dan Hubei, dan berkembang pesat.[36]

Abad 19 sampai era revolusi Tiongkok

sunting

Sekte Seroja Hijau terus ditekan pemerintah pada awal abad 19 tetapi berhasil bertahan. Pada tahun 1828, setelah patriak ke-13 yaitu Xu Ji'nan (ๅพๅ‰ๅ—) dan Yang Shouyi (ๆฅŠๅฎˆไธ€) ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah Qing,[37][31] sekte Seroja Hijau terpecah, dan para pemimpin bersembunyi, menyebar menjadi banyak kelompok kecil.[32] Pada tahun 1843, sekte Seroja Hijau kemudian bersatu dengan partai dan kelompok bersenjata untuk melawan para perwira dan tentara, dan menjadi kelompok agama rahasia, menyebabkan banyak kerusuhan.[32][38] Pada tahun 1845, sekte Seroja Hijau melancarkan pemberontakan di Wuchang tetapi gagal.[39] Lin Yimi (ๆž—ไพ็ง˜), salah satu dari pemimpin 5 elemen Xiantiandao yang lolos dari tangkapan pemerintah saat itu, kemudian mendirikan Aula Surga Barat (่ฅฟไนพๅ ‚) sebagai tempat untuk menampung anggota-anggota sekte Seroja Hijau.[40] Pada tahun 1873, Yao Hetian (ๅงš้ถดๅคฉ, di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-14) diangkat sebagai pengawas Aula Surga Barat. Selanjutnya patriark Yao mengklaim bahwa dia mempunyai Firman Tuhan dan mendirikan kelompok sendiri.[40] Pada tahun 1877, Wang Jueyi (็Ž‹่ฆบไธ€) meneruskan kepemimpinan kelompok Yao berdasarkan titah Ibu Suci yang menunjuk Wang Jue Yi sebagai maha guru ke-15.[41] Dan kelompok cabang yang dia pimpin selanjutnya dinamakan Sekte Penyelamatan Paling Akhir (ๆœซๅŽไธ€็€ๆ•™ Mohou Yizhao Jiao).[21] Maha Guru Wang mengubah teologis, ritual dan juga menghapus syarat "bervegetarian" dan "menjalankan pantangan" sebagai syarat untuk bergabung, sehingga membuat kelompoknya berkembang cepat saat itu. Pada tahun 1883, Mohou Yizhao Jiao merencanakan pemberontakan yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 bulan 3 secara serentak di beberapa kota.[42] Rencana tersebut ketahuan oleh pemerintahan Qing dan langsung menangkap para pemimpin kelompok ini sekaligus menekannya. Maha Guru Wang kabur ke Hankou kemudian ke Sichuan dan hidup bersembunyi sampai meninggal.[43][44] Mohou Yizhao Jiao di bawah kepemimpinan Wang Jue Yi secara signifikan banyak menggunakan ajaran Konfusius sebagai dasar ajarannya. Para praktisi harus mengikuti kitab suci Daxue (ๅคงๅญธ), sementara praktik Taoisme seperti pertapaan dan pengobatan dihapuskan. Dari patriark ke-15, silsilah Tao berlanjut ke Liu Huapu / Liu Qingxu (ๅЉๅŒ–ๆ™ฎ / ๅЉๆธ…่™›) sebagai patriark ke-16.[45] Pada tahun 1886, maha guru ke 16 menggunakan kata-kata Konfusius yang berkata bahwa "jalan yang saya ikuti adalah jalan yang menyatukan semua" (ๅด้“ไธ€ไปฅ่ดฏไน‹) yang selanjutnya menamakan kalangan Tao dengan nama I Kuan Tao (ไธ€่ฒซ้“).[45][46] Pada 1905, Lao Mu melalui tulisan roh memberikan petunjuk bahwa Lu Zhongyi ditetapkan menjadi pemimpin selanjutnya dan Firman Tuhan diberikan kepadanya pada tahun itu.[d][45][47][48] Kalangan I Kuan Tao meyakini Lu Zhongyi sebagai maha guru pertama pada era Pancaran Putih, era terakhir dari Tiga Pancaran, dan merupakan reinkarnasi dari Buddha Maitreya.

Para Patriark / Maha Guru I Kuan Tao Wang Jueyi dan Liu Qingxu
Maha Guru ke-17 Lu Zhongyi yang diyakini merupakan reinkarnasi dari Buddha Maitreya

Kepemimpinan Zhang Tianran pada tahun 1930-an

sunting

I Kuan Tao mulai berkembang pesat saat sesepuh ke-18 Zhang Tianran (ๅผตๅคฉ็„ถ) memegang kepemimpinan. Sesepuh Zhang masuk ke dalam I Kuan Tao sejak tahun 1915.[49] Patriark ke-17 Lu Zhongyi melihat talenta sesepuh Zhang dan menyuruhnya untuk bergabung dengannya di Jining. Dan setelah meninggalnya maha guru ke-17 pada tahun 1925, sesepuh Zhang diangkat menjadi patriark ke-18 pada tahun 1930. Sesepuh Zhang dikatakan sebagai inkarnasi Buddha Ji Gong (ๆฟŸๅ…ฌ) , atau disebut Buddha Hidup Ji Gong (ๆฟŸๅ…ฌๆดปไฝ›). Sesepuh Zhang Tian Ran disebut sebagai Shi Zun (ๅธซๅฐŠ), yang berarti Bapak Guru Agung. Sesepuh Zhang dan sesepuh Sun Suzhen (ๅญซ็ด ็œŸ) berdasarkan atas mandat Lao Mu, dinyatakan bersama menjadi suami-istri dan menjabat sebagai maha guru ke-18 I Kuan Tao.[e][50][51] Sesepuh Sun disebut sebagai inkarnasi Bodhisatwa Yue Huei (ๆœˆๆ…ง่ฉ่–ฉ). Sesepuh Sun dihormati sebagai Shi Mu (ๅธซๆฏ), yang berarti Ibu Guru Suci.

I Kuan Tao menyebar pesat dari tahun 1930 sampai 1936. Dari tahun 1937-1947 selama kekuasaan Jepang, I Kuan Tao juga berhasil menarik penganut dari utara, tengah sampai selatan Tiongkok. Melalui aktivitas misionaris, dalam kekacauan politik dan sosial yang disebabkan oleh invasi Jepang ke Tiongkok pada tahun 1940-an, yang membuat kepercayaan milenarianisme I Kuan Tao menjadi meyakinkan buat masyarakat saat itu, agama ini berkembang dengan sangat cepat, hingga mencapai lebih dari 10 juta orang pengikut. Sesepuh Zhang Tianran meninggal tahun 1947 saat komunis mulai berkuasa di Tiongkok.

Maha Guru ke-18 Zhang Tianran dan Sun Suzhen

Penindasan di Tiongkok setelah tahun 1949

sunting

Setelah meninggalnya Sesepuh Zhang, dan bangkitnya Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1949, I Kuan Tao mengalami tekanan dari pemerintah Tiongkok waktu itu.[52] I Kuan Tao ditindas, karena dianggap sebagai kelompok reaksioner terbesar (ๅๅ‹•ๆœƒ้“้–€). Pada bulan Desember 1950, The People's Daily (ไบบๆฐ‘ๆ—ฅๆŠฅ) menerbitkan editorial โ€œMelarang Keras I Kuan Taoโ€ (ๅ …ๆฑบๅ–็ท ไธ€่ฒซ้“), yang menyatakan bahwa gerakan ini telah digunakan sebagai alat kontrarevolusi oleh kaum imperialis dan Kuomintang.[53] Editorial tersebut menandai dimulainya kampanye nasional pemberantasan I Kuan Tao di China. Target utama dari kampanye ini adalah untuk menghancurkan organisasi dan kepemimpinan gerakan tersebut sampai ke akarnya. Para pemimpin tertinggi dieksekusi atau dikirim ke penjara, para anggota dipaksa untuk menjalani pendidikan ulang politik dan mereka diawasi dengan ketat.[54]

Sebuah pameran yang mengecam I Kuan Tao diadakan di Beijing pada bulan Januari 1951. Pada tahun 1952, pemerintah merilis โ€œSang Jalan yang terus menerus merugikan masyarakatโ€ (ไธ€่ดฏๅฎณไบบ้“), sebuah film yang menentang I Kuan Tao.[55] Sejumlah penganut I Kuan Tao, termasuk Sun Suzhen, melarikan diri ke Hong Kong dan kemudian ke Taiwan, di mana agama tersebut berkembang pesat.[55] Sementara itu, para murid Sesepuh Zhang secara individual juga menyebarkan ajaran I Kuan Tao di Taiwan, sehingga muncul kelompok-kelompok I Kuan Tao dengan sesepuh atau pemimpin yang berbeda-beda.[56]

Penyebaran ajaran di Taiwan

sunting

Di Taiwan, I Kuan Tao juga dilarang sejak tahun 1952. Namun kelompok-kelompok I Kuan Tao tetap bergerak secara sembunyi-sembunyi dan menyebarkan ajaran. Selama tiga dekade, I Kuan Tao terus mendapatkan kritik dari agama Buddha ortodoks dan mendapatkan stigma yang kurang baik dari masyarakat. Saat itu, banyak yang menyebut kalangan I Kuan Tao dengan sebutan Agama Telur Bebek (้ดจ่›‹ๆ•™).[57] Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Taiwan pada tahun 1960 membawa banyak perubahan pada I Kuan Tao. Beberapa pemimpin I Kuan Tao bisnisnya sukses dan menjadi konglomerat yang memiliki perusahaan raksasa. Mereka mengkombinasikan usaha bisnis mereka dengan kegiatan misionaris.[58] Perusahaan-perusahaan mereka merekrut karyawan yang kemudian menjadi pengikut kalangan Tao. Seringkali, mereka menambahkan beberapa aktivitas keagamaan ke dalam kursus pelatihan perusahaan, mempromosikan I Kuan Tao pada para pekerja, dan kemudian mendorong para pekerja untuk dilintasi. I Kuan Tao juga banyak masuk ke dalam universitas-universitas, dengan membentuk adanya kelompok makan (ไผ™้ฃŸๅœ˜). Pada awal tahun 1980an, I Kuan Tao telah membentuk ratusan kelompok makan di berbagai universitas di Taiwan.[59] Walaupun saat itu pemerintah masih berusaha menekan dan menghalangi segala kegiatan I Kuan Tao, dengan masuk ke dalam lingkungan perusahaan-perusahaan dan universitas-universitas, I Kuan Tao telah menemukan cara yang efektif untuk menarik umat dalam skala besar. Pada tanggal 13 Januari 1987, pemerintah Kuomintang di Taiwan pada akhirnya secara resmi melegalkan I Kuan Tao. I Kuan Tao menjadi agama pertama yang bertransformasi dari kelompok yang ditindas menjadi kelompok agama yang sah di kalangan masyarakat Tiongkok modern.[60]

Tianyan Foyuan (ๅคฉๅ…ƒไฝ›้™ข) yang merupakan pusat dari kalangan Tao Grup Fayi di Taiwan

Doktrin dan Ajaran

sunting

Dewa dan Dewi

sunting

Lao Mu

sunting
Lampu minyak yang melambangkan sinar rohani dari Wuji Laomu biasanya ada di tengah altar sembahyang I Kuan Tao

Pemujaan tertinggi kalangan I Kuan Tao tertuju pada Ibu Tua Tanpa Batas (่ˆžๆฅตๆฏ Wujimu), disebut juga Ming Ming Shangdi (ๆ˜Žๆ˜ŽไธŠๅธ), yang juga dikenal sebagai Ibu Mulia Abadi (็„ก็”Ÿ่€ๆฏ Wusheng Laomu) atau disingkat Lao Mu, sosok yang menjadi ciri khas dari agama-agama rakyat Tiongkok lainnya.[61] Lao Mu di sini dianggap sebagai sumber dari segala sesuatu, bukan laki-laki maupun perempuan, meskipun disebut โ€œIbuโ€ atau โ€œIbu Surgawiโ€.[62] Di kalangan I Kuan Tao Indonesia, Lao Mu ini sering diterjemahkan sebagai "Tuhan".

Pada abad ke-16, sebuah mitologi seputar Lao Mu mulai terbentuk, diintegrasikan kepercayaan tentang Maitreya, yang telah tersebar luas sejak dinasti Yuan. Kepercayaan Maitreya bersifat milenarian, yang menyatakan bahwa dunia akan segera berakhir dan Maitreya akan menjelma di alam fisik untuk menyelamatkan umat manusia. Dalam keyakinan terhadap Lao Mu, Maitreya adalah salah satu dari tiga makhluk yang tercerahkan yang dikirim oleh Ibu Suci untuk membawa misi penyelamatan.[62]

Sosok Lao Mu berasal dari sosok Xiwangmu, โ€œIbu Ratu dari Baratโ€, dewi ibu kuno Tiongkok, yang terkait dengan mitos Kunlun, poros dunia, dan dengan demikian juga dengan Hundun.[63] Ibu Mulia Tanpa Batas dianggap sebagai mahakuasa, dan dianggap oleh pengikut I Kuan Tao sebagai sosok yang penuh welas asih, yang mengkhawatirkan putra-putrinya yang sudah kehilangan sifat aslinya, dan karena itu berusaha membawa mereka kembali ke surga yang merupakan kampung halaman mereka.[64]

Buddha Maitreya

sunting

Setelah Lao Mu, pemujaan tertinggi kedua para pengikut Ikuanisme ditujukan kepada Buddha Maitreya yang sering mereka sebut dengan nama Mile Zushi (ๅฝŒๅ‹’็ฅ–ๅธซ), yang artinya Patriark / Eyang Guru / Maha Guru Maitreya. Sosok patung yang digunakan dan dianggap sebagai Buddha Maitreya di dalam vihara-vihara I Kuan Tao adalah Budai. I Kuan Tao meyakini bahwa Maitreya sudah turun ke dunia beberapa kali dan telah mencapai Kebuddhaan dan yang terakhir adalah saat bereinkarnasi menjadi Lu Zhongyi sebagai patriark yang ke-17. Dimulai sejak masa itulah, masa pancaran merah telah berakhir dan dimulainya masa pancaran putih, yang juga berarti bahwa masa Buddha Sakyamuni sudah berakhir dan dimulainya masa Buddha Maitreya. Buddha Maitreya diyakini menjadi pemimpin kuasa alam (ๅคฉ็›ค), sedangkan Buddha Jigong menjadi pemimpin kuasa Tao (้“็›ค).[65] Ini sesuai dengan eskatologi tiga masa pancaran Ikuanisme di mana sekarang manusia ini sudah memasuki masa akhir dari dunia ini. Pada masa pancaran terakhir, Tao yang agung yang sebelumnya merupakan rahasia langit diturunkan secara global kepada masyarakat biasa.[66] Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan (ๅฝŒๅ‹’ๆ•‘่‹ฆ็œŸ็ถ“ mile jiuku zhenjing) yang dihasilkan pada 3 Maret 1926, di Shandong menjadi dasar dari keyakinan ini.[67][68]

Dewa-Dewi lain

sunting

I Kuan Tao juga melakukan pemujaan kepada banyak dewa dan dewi dalam ritual sembahyang mereka yang secara umum disebut dengan nama Zhutian Shensheng (่ซธๅคฉ็ฅž่–) atau sering disebut dengan istilah Xianfo (ไป™ไฝ›). Beberapa dewa-dewi yang disembahyangi dengan cara kowtow dalam ritual sembahyang persembahan dupa (็ป้ฆ™) antara lain adalah Dewi Guanyin yang disebut dengan nama Nanhai Gufo (ๅ—ๆตทๅคไฝ›, Buddha Kuno Nanhai), Jigong yang disebut dengan nama Huofo Shizun (ๆดปไฝ›ๅธซๅฐŠ, Buddha Hidup Jigong), Yueguang yang disebut dengan nama Yuehui Pusa (ๆœˆๆ…ง่ฉ่–ฉ, Bodhisatwa Kebijaksanaan Bulan), Guangong yang disebut dengan nama Guansheng Dijun (้—œ่–ๅธๅ›) atau sebagai Guan Falรผzhu (้—œๆณ•ๅพ‹ไธป, Dewa Penjaga Guan), Lรผ Dongbin yang disebut dengan nama Fuyou Dijun (ๅญšไฝ‘ๅธๅ›) atau sebagai Lรผ Falรผzhu (ๅ‘‚ๆณ•ๅพ‹ไธป, Dewa Penjaga Lรผ), Nanji Laoren yang disebut dengan nama Changshen Dadi (้•ท็”Ÿๅคงๅธ, Dewa Umur Panjang), Dewa Dapur yang disebut dengan nama Zaojun (็ถๅ›), 5 Nabi Agama (Laozi, Konfusius, Sakyamuni, Yesus dan Muhammad), para patriark / maha guru masa pancaran putih (Lu Zhongyi, Zhang Tianran, Sun Suzhen), serta senior-senior kalangan masing-masing yang diyakini telah mencapai kesempurnaan (ๆˆ้“).[69][70] Senior-senior yang masuk dalam kategori ini diberi gelar tertentu melalui tulisan roh (ๆ‰ถไนฉ) dengan sebutan seperti โ€œbodhisattvaโ€ (่ฉ่–ฉ), shengdi (่–ๅธ), dadi (ๅคงๅธ), zhenjun (็œŸๅ›), zhenxian (็œŸไป™), daxian (ๅคงไป™), tianxian (ๅคฉไป™), dll. Umat I Kuan Tao meyakini gelar-gelar tersebut diberikan oleh Laomu dan merupakan bukti bahwa mereka telah mencapai Kesempurnaan (ๆˆ้“).

Patung Budai, Guanyin dan Jigong menjadi ciri khas dari altar sembahyang utama sebuah vihara Yiguandao

Eskatologi

sunting

Ikuanisme meyakini bahwa pencipta alam semesta, bumi, dan seluruh mahluk hidup adalah Lao Mu. Satu lingkaran (ๅ…ƒ) siklus dunia terbentuk sampai musnah kembali adalah selama 129.600 tahun.[71] Satu lingkaran tersebut dibagi 12 fase (ๆœƒ) yang tiap fasenya adalah selama 10.800 tahun, dan I Kuan Tao meyakini bahwa kita kini berada dalam zaman terakhir di mana manusia telah hidup 60.000 tahun.[72] Manusia sebagai anak-anak dari Lao Mu karena telah terlalu lama di bumi, tersesat dalam hidup duniawi, terjerumus dalam dosa menyebabkan mereka hidup dalam roda reinkarnasi dan tidak bisa kembali ke Surga. Lao Mu sangat merindukan anak-anaknya di bumi ini, dan mengutus 10 Buddha untuk menyelamatkan anak-anaknya di bumi. 7 Buddha pertama telah datang saat bermulanya kebudayaan manusia, dan 3 Buddha terakhir mengemban tugas penyelamatan. Sehingga dibagi 3 Masa Pancaran (ไธ‰้™ฝ): Masa Pancaran Hijau, Pancaran Merah, dan Pancaran Putih.[10] Buddha Dipankara diutus saat Masa Pancaran Hijau (sekitar 3000 SM) sampai masa Jiang Taigong (ๅงœๅคชๅ…ฌ). Pada Masa Pancaran Merah diutus Buddha Siddharta Gautama sebagai pemegang kuasa alam. Dan terakhir Masa Pancaran Putih adalah masa di mana Buddha Maitreya diutus turun ke dunia. Kalangan I Kuan Tao meyakini Buddha Maitreya telah datang ke dunia sebagai Patriark ke-17 Lu Zhongyi.[73]

Diagram Eskatologi yang diyakini umat Yiguandao

Sejarah resmi I Kuan Tao membagi perkembangan Tao dalam 3 periode silsilah Tao. Periode pertama disebut sebagai 18 Patriark dari Timur Awal (ๅ‰ๆฑๆ–นๅๅ…ซไปฃ็ฅ–ๅธซ), di mana Tao diturunkan di kalangan raja. Patriark pertama adalah Fu Xi, tokoh legenda dari Tiongkok, pencipta Pa Kua (8 triagram).[73] Kemudian berlanjut ke Shen Nong (penemu pertanian), Huang Di (Kaisar Kuning), diteruskan ke raja-raja Tiongkok, sampai pada masa Jiang Taigong, Tao mulai diturunkan pada kalangan cendekiawan sampai dengan Lao Zi (Penulis Tao Te Ching), Kong Hu Cu dan terakhir adalah Mengzi. Dikatakan bahwa karena perang saudara di daratan Tiongkok, menyebabkan silsilah Tao berpindah ke barat (India) dan Tao dilanjutkan oleh Siddharta Gautama.[73] Di sini bermula periode ke-2 yang disebut 28 Patriark dari Barat (่ฅฟๆ–นไบŒๅๅ…ซไปฃ็ฅ–ๅธซ), bermula dari Siddharta Gautama, diteruskan ke Mahakassapa, Ananda, sampai dengan yang terakhir Bodhidharma. Bodhidharma dikatakan membawa Tao kembali ke Tiongkok, dan bermulalah periode ke-3: 18 Patriark dari Timur Akhir (ๅพŒๆฑๆ–นๅๅ…ซไปฃ็ฅ–ๅธซ). Bermula dari Bodhidharma sampai Maha Guru ke-6 Hui Neng (sama seperti aliran Zen). Dari Patriark ke-7 sampai ke-18 dimulainya periode rumah api di mana Tao diturunkan secara rahasia. Masa pancaran putih dimulai sejak Maha Guru ke-17 Lu Zhongyi di mana Tao saat itu mulai diturunkan ke orang biasa dan patriark yang memegang kuasa Tao terakhir adalah Maha Guru ke-18 Zhang Tianran dan Sun Huiming.[73] Garis silsilah turun temurun ini di kalangan umat I Kuan Tao disebut sebagai seutas "benang emas" (้‡‘็ทš) yang menjadi bagian penting dari legitimasi Tao atau Firman Tuhan sejati yang diemban untuk bisa menyelamatkan umat manusia dari lautan penderitaan.

Tao sebagai jalan keselamatan untuk terlepas dari tumimbal lahir

sunting

I Kuan Tao meyakini bahwa di dunia ini ada yang dinamakan Tao (้“), yaitu Jalan Ketuhanan. Dalam sudut pandang mereka, Tao adalah Tiandao (ๅคฉ้“) yang berarti adalah Jalan ke Surga atau jalan kembali ke kampung halaman. I Kuan Tao menggunakan penjelasan Taoisme untuk menggambarkan Tao sebagai suatu Kebenaran Sejati (็œŸ็†) yang sudah ada sebelum Langit dan Bumi diciptakan, serta bakal tetap ada setelah hancurnya langit dan bumi. Tao juga digambarkan sebagai sumber dan inti dari segalanya, serta berada di setiap hal yang ada di dunia.[74] Menurut doktrin I Kuan Tao, Tao sebenarnya adalah sebuah titik suci yang ada di setiap tubuh manusia yang merupakan jalur kelahiran dan kematian roh. Titik suci ini diyakini merupakan rahasia langit yang dicari oleh para Buddha dan orang suci untuk mencapai kesucian pada zaman dahulu. Dengan berkembangnya zaman, moralitas telah menurun dan hati manusia tidak lagi murni, sehingga bencana turun di mana-mana.[75] Untuk menyelamatkan manusia dari bencana akhir zaman, Lao Mu menurunkan guru-guru penerang yang memiliki Firman Tuhan (ๅคฉๅ‘ฝ) turun ke dunia untuk menurunkan Tao ini kepada umat manusia. Setelah orang mendapatkan Tao, maka roh sejati-nya akan terselamatkan dari bencana akhir.[76] Setelah manusia mendapatkan Tao, maka namanya akan dicoret dari Neraka dan terdaftar di alam Surga Abadi (็†ๅคฉ Li Tian), sehingga terbebas dari kekuasaan Giam Loo Ong serta tidak perlu menjalani pengadilan di neraka setelah meninggal.[77] Pada masa pancaran terakhir, diyakini bahwa manusia bisa "mendapatkan dahulu, membina kemudian" (ๅ…ˆๅพ—ๅพŒไฟฎ), yang artinya orang-orang yang mendapatkan Tao akan mendapatkan akses jalan menuju ke surga terlebih dahulu, baru pelan-pelan melatih dan membina diri.[78][79]

Sejak zaman dahulu, Tao jarang sekali ditunjukkan kepada manusia. Oleh karena itu melampaui siklus kelahiran dan kematian sangat sulit dicapai. Pada masa itu, seseorang harus melatih diri selama banyak kehidupan dan melakukan perjalanan jauh untuk mencari Guru Penerang untuk menerima Tao. Saat ini, umat manusia mendekati Masa Penghakiman Terakhir. Untuk menyelamatkan yang baik, Lao Mu membuat Tao bisa didapatkan oleh semua orang.[73] Pada masa pancaran terakhir ini, keselamatan dapat dicapai dengan cara mendapatkan Tao dalam bentuk "tiga mustika" pada saat upacara memohon Tao (ๆฑ‚้“ qiudao)[80] Tiga mustika ini memungkinkan para pengikut I Kuan Tao untuk melampaui lingkaran kelahiran dan kematian dan langsung naik ke Alam Surga yang Kekal setelah mereka meninggal.[80][81] I Kuan Tao juga meyakini bahwa Tao inilah yang membedakan mereka dengan agama. Tao dianggap sebagai inti dan diibaratkan seperti batang dan akar pohon, sementara semua agama di dunia hanyalah ajaran saja dan diibaratkan sebagai ranting-ranting dari sebuah pohon. Umat I Kuan Tao memiliki keyakinan bahwa hanya mereka yang memiliki Tao saja yang dapat terselamatkan. Dalam kitab mereka, disebutkan sebuah kata-kata "Mendapatkan satu titik lebih berharga daripada membaca ribuan kitab suci." (่ฎ€็ ดๅƒ็ถ“่ฌๅ…ธ๏ผŒไธๅฆ‚ๆ˜Žๅธซไธ€้ปž)[74]

Kesatuan lima agama

sunting

I Kuan Tao adalah sebuah kelompok relatif sinkretis yang dibangun di atas lima ajaran (ๆ•™: Konfusianisme, Buddhisme, Taoisme, Kristen, Islam), yang semuanya mengabdi pada kebenaran yang lebih tinggi bernama Tao.[82] Meskipun I Kuan Tao sangat terbuka untuk mencangkokkan elemen-elemen dari agama lain, kelompok ini berkeyakinan bahwa ajaran agama tidaklah lengkap dan ketinggalan zaman. Sementara dari sudut pandang mereka, I Kuan Tao bukanlah sebuah agama tetapi adalah intisari dari semua agama yang memiliki kebenaran sejati bernama Tao, serta memiliki ajaran yang lengkap, khas, baru yang lebih unggul serta sudah mencakup semua ajaran-ajaran yang baik dari setiap agama.[83] Tokoh-tokoh agama besar dalam sejarah memberikan inspirasi bagi keyakinan sinkretis mereka yang meyakini bahwa โ€œsemua agama adalah satuโ€ (่ฌๆ•™ไธ€). Rangkaian peristiwa turunnya para nabi agama diyakini memang telah dirancang untuk mempersiapkan dunia bagi pewahyuan kebenaran yang lebih besar, dan berpuncak pada pewahyuan ajaran yang sejati, yaitu I Kuan Tao.[84]

Ketika beroperasi di masyarakat non-Tionghoa, Yiguan Dao mencoba untuk menghilangkan ciri-ciri etnosentris dengan mengembangkan seperangkat penjelasan universalistik dari ajarannya. Ajaran ini menggunakan tulisan roh untuk menghasilkan materi wahyu dari dunia para dewa dan roh, membangun kepercayaan dan keyakinan baru.[83] Pada saat yang sama, untuk menarik perhatian penduduk lokal di desa-desa Taiwan, Yiguan Dao juga menyerap elemen-elemen agama populer setempat, hingga ke tingkat dewa-dewa bumi setempat, ketika sekte ini melebarkan sayapnya ke dalam masyarakat yang masih memuja dewa-dewa ini.[83] Singkatnya, Yiguan Dao secara aktif menyesuaikan ajarannya dengan lingkungan yang baru.

Gambar โ€œLima Agamaโ€ yang ditampilkan di Museum Sastra dan Sejarah Maha Vihara Jiren (ๆฟŸไปไฝ›้™ข) di Distrik Sanshia, New Taipei City.

Dalam kelas-kelas pendalaman seperti Fahui (ๆณ•ๆœƒ), Xinmin Ban (ๆ–ฐๆฐ‘็ญ), Zhishan Ban (่‡ณๅ–„็ญ), ada banyak isi ceramahnya yang berisi kutipan kitab-kitab dari lima agama.[85] Namun, pada saat yang sama, I Kuan Tao juga menggarisbawahi secara spesifik salah satu dari lima ajaran ini, yaitu Konfusianisme, yang dianggap menempati posisi istimewa, situasi yang dirangkum dalam ungkapan โ€œKonfusianisme sebagai ajaranโ€ (ไปฅๅ„’็‚บๅฎ—) yang ditemukan di mana-mana dalam literatur I Kuan Tao.[82]

Misi penyelamatan dari bencana akhir zaman

sunting

I Kuan Tao meyakini akan segera datangnya bencana akhir zaman / kiamat.[86] Dunia dalam sudut pandang mereka dianggap semakin hari semakin buruk dan kacau di mana moral manusia juga semakin merosot.[65] Masa sekarang ini diyakini merupakan masa pancaran ketiga berdasarkan eskatologi mereka, sehingga keadaan di dunia ini dikatakan sudah sangat mendesak, sehingga memotivasi para misionaris untuk melakukan upaya prerekrutan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Dalam keyakinan mereka, perekrutan tersebut adalah bentuk penyelamatan secara global agar seluruh manusia dapat bisa dibawa kembali ke kampung halaman asli mereka yaitu Alam Surga Abadi, tempat Lao Mu berada. Pekerjaan misionaris yang penting disebut sebagai kaihuang (้–‹่’, โ€œmembuka lahan baruโ€), yang artinya membuka vihara di tempat yang dirasa belum ada pengikut I Kuan Tao.[87] Dalam beberapa tahun, teknik-teknik untuk menarik umat telah disempurnakan dengan baik. Selama beberapa tahun, gambaran-gambaran yang jelas tentang kehancuran dan kerusakan dibuat untuk mendesak orang-orang agar โ€œbergabung dengan sekte untuk menghindari bencanaโ€ (ๅ…ฅๆ•™้ฟๅŠซ).[87] Salah satu ajaran yang ditekankan adalah, โ€œKarena mereka adalah keluargamu, kamu harus menyelamatkan mereka, karena mereka adalah temanmu, kamu harus menyelamatkan merekaโ€ (ๅ› ่ฆชๅบฆ่ฆช่ฆชๅ‹ๅบฆๅ‹).[87]

Selain untuk bisa terlepas dari bencana akhir zaman, motivasi dari para pengikut Ikuanisme mencari umat sebanyak-banyaknya adalah keyakinan mereka bahwa kesempatan untuk mendapatkan Tao yang sejati sangat sulit didapat.[88] Karena masa Tao diturunkan secara global hanya terjadi pada masa yang sangat terbatas yaitu pada masa pancaran ketiga, sehingga mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.[77]

Hukum karma dan amal jasa

sunting

Ikuanisme meyakini adanya hukum sebab-akibat (karma). Segala tindakan dan sebab akan menghasilkan akibat. Amal jasa pahala (ๅŠŸๅพท) diyakini sebagai sesuatu yang sangat mempengaruhi hukum karma. Karma buruk biasanya akan mendatangkan penyakit dan penderitaan. I Kuan Tao meyakini bahwa setelah memohon Tao, untuk dapat mencapai kesempurnaan seseorang harus melunasi hutang karma yang telah tertumpuk selama 60.000 tahun, sehingga dalam kehidupan ini harus berusaha untuk melunasinya dengan melakukan banyak amal jasa serta mengikis karma pada saat mengalami penderitaan.[89] Dengan melakukan banyak amal jasa pahala maka diyakini itu dapat meringankan penderitaan dan penyakit. Dengan amal jasa pahala yang cukup maka seseorang dapat terbebas dari lingkaran kelahiran dan kematian serta mendapatkan kedudukan tinggi di Surga. Selain itu jasa pahala juga dapat ditransmisikan kepada leluhur dan keturunan.[90] Maka disebutkan satu orang membina Ketuhanan, maka 7 generasi nenek moyang dan 9 generasi keturunannya akan memperoleh pahalanya.

Ada 3 jenis amal jasa yang bisa dilakukan yaitu Amal Materi (่ฒกๆ–ฝ), Amal Dharma (ๆณ•ๆ–ฝ) dan Amal Tenaga (็„ก็•ๆ–ฝ). Beberapa amal pahala dianggap sangat besar kebajikannya seperti melintasi umat manusia untuk mendapatkan Tao, mengorbankan diri untuk kalangan Tao dan mendirikan vihara pribadi, sehingga mendorong banyak umat I Kuan Tao untuk melakukan tugas misionaris, dengan anggapan bahwa semakin banyak orang yang mereka lintasi maka semakin besar amal pahala yang terkumpul.[91]

Enam jalur reinkarnasi

sunting

Ikuanisme meyakini adanya roh yang kekal dalam diri manusia dan setelah meninggal roh tersebut akan memasuki tubuh baru di 6 jalur reinkarnasi (roh keluar dari 6 pintu samping, yaitu lewat mata, telinga, mulut, hidung, pusar dan ubun-ubun). Enam jalur reinkarnasi diyakini merupakan jalur yang akan dilalui oleh orang-orang yang belum memohon Tao (qiu dao), sedangkan yang sudah memohon Tao, rohnya akan masuk ke alam surga yang lebih tinggi yaitu Alam Surga Abadi (็†ๅคฉ Li Tian) dan terbebas dari enam jalur reinkarnasi.[92] Enam jalur reinkarnasi tersebut terbagi menjadi 1 jalur menjadi dewa di Alam Hawa (ๆฐฃๅคฉ), 1 jalur menjadi manusia di Alam Manusia (่ฑกๅคฉ), dan 4 jalur yang dihukum di Alam Neraka (ๅœฐ็„) terlebih dahulu baru kemudian terlahir kembali menjadi 4 jenis binatang di Alam Manusia.[f]

Empat Alam Kehidupan dalam ajaran I Kuan Tao

Ujian pembinaan

sunting

Ikuanisme meyakini adanya โ€œujianโ€ atau "cobaan" (่€ƒ kao). Dari sudut pandang mereka, seseorang harus mengalami berbagai macam cobaan dalam proses pembinaan: jika tidak ada ujian, maka tidak ada peningkatan. I Kuan Tao mengidentifikasi beberapa jenis ujian, seperti ujian dari dalam (ๅ…ง่€ƒ neikao - penderitaan seperti penyakit, rasa sakit, kebakaran, banjir, dan perampokan), ujian dari luar (ๅค–่€ƒ waikao - cemoohan dari kerabat, teman, dan tetangga, penindasan dan kekerasan dari pejabat pemerintah), ujian kemarahan (ๆฐฃ่€ƒ qikao), ujian yang tidak biasa (ๅฅ‡่€ƒ qikao), ujian lancar (้ †่€ƒ shunkao), ujian kesulitan (้€†่€ƒ nikao), ujian kebingungan (้กšๅ€’่€ƒ diandao kao), dan ujian dari kalangan Tao (้“่€ƒ daokao).[93][94] Ujian-ujian ini bisa merupakan pengaturan dari Lao Mu atau juga bisa karena para iblis atau roh yang menagih karmanya.[95]

Teori ini adalah teori yang mereka yakini untuk mengatasi penderitaan selama masa penindasan (ditekan pemerintah). Salah satu ujiannya adalah โ€œujian dari negaraโ€ (็ฎก่€ƒ guankao), yang mengacu pada โ€œpenindasan dan kekerasan dari pejabat pemerintah.โ€[96] Menurut teori I Kuan Tao, penindasan dapat menguntungkan para pengikutnya setidaknya dari aspek-aspek berikut. Pertama, karena penindasan adalah ujian yang diatur oleh Lao Mu untuk memilih orang-orang yang benar-benar beriman, mereka yang lulus ujian akan diberi imbalan setelah mereka memasuki Surga. Secara khusus, status surgawi mereka (ๆžœไฝ) didasarkan pada penderitaan yang mereka alami selama penindasan. Semakin mereka menderita, semakin tinggi status surgawi yang akan mereka peroleh setelah kematian. Kedua, penindasan membantu โ€œmenghilangkan kebiasaan buruk dan memperbaiki sifat burukโ€ (ๅŽปๆฏ›็—… ๆ”น่„พๆฐฃ).[97] I Kuan Tao ini berpandangan bahwa roh-roh asal yang dikirim oleh Lao Mu adalah suci, tetapi mereka berangsur-angsur kehilangan sifat aslinya dan menjadi kejam dan licik.

Penindasan dapat membuat orang merefleksikan diri mereka sendiri dan membuang kebiasaan dan temperamen yang buruk, seperti ketidaksabaran dan kesombongan. Akhirnya, menanggung penganiayaan adalah cara untuk mengurangi karma (ๆฅญ้šœ), yang terakumulasi karena tindakan salah seseorang selama fase-fase kehidupan orang tersebut. Dengan menghadapi dan bertahan dalam penindasan, orang yang percaya dapat memperoleh jasa pahala, yang dapat membantu mereka melenyapkan lingkaran kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali. Singkatnya, semakin banyak umat sekte menderita, semakin banyak karma yang akan mereka kurangi; semakin banyak pahala yang mereka kumpulkan dengan menanggung penderitaan, semakin tinggi status surgawi yang akan mereka capai.[96]

Ikrar

sunting

I Kuan Tao menyerap praktek pengucapan ikrar dari agama-agama lain yang populer dan menjadikannya bagian penting dalam tradisi sebagai cara untuk meningkatkan komitmen para umatnya.[98] Ikrar dianggap penting sebagai panduan dan kekuatan pendorong untuk mencapai kesempurnaan. Menurut keyakinan I Kuan Tao, ada tiga jenis manusia yang tidak bisa diselamatkan dan ditolong oleh Buddha yaitu: 1. Tidak berjodoh, 2. Tidak Percaya, 3. Tidak Berikrar.[99] Kehidupan sebagai umat manusia menurut sudut pandang I Kuan Tao adalah untuk menyelesaikan ikrar (ไบ†ๆ„ฟ) yang diyakini sudah mereka ucapkan sebelum turun ke dunia dan untuk membalas budi atas welas asih dari Laomu yang telah menurunkan Tao.[100]

Semua umat I Kuan Tao mengucapkan 10 ikrar (ๅๆขๅคงๆ„ฟ) pada saat ritual memohon Tao (qiudao).[101][102][103] 10 Ikrar tersebut adalah:

  • "dengan tulus hati memeluk Tao" (่ช ๅฟƒๆŠฑๅฎˆ),
  • "bertobat dengan sepenuh hati" (ๅฏฆๅฟƒๆ‡บๆ‚”) (untuk pria) / "membina dengan sungguh-sungguh" (ๅฏฆๅฟƒไฟฎ็…‰) (untuk wanita)
Bila sampai ada melakukan
  • "berhati pura-pura" (่™›ๅฟƒๅ‡ๆ„)
  • "berkeinginan mundur dan tidak berusaha untuk maju" (้€€็ธฎไธๅ‰)
  • "menghina dan merendahkan guru dan sesepuh" (ๆฌบๅธซๆป…็ฅ–)
  • "memandang rendah senior" (่—่ฆ–ๅ‰ไบบ)
  • "tidak mematuhi aturan Buddha" (ไธ้ตไฝ›่ฆ)
  • "membocorkan rahasia langit" (ๆดฉๆผๅคฉๆฉŸ)
  • "menyembunyikan dan tidak mau memberi tahu Tao kepada orang lain" (ๅŒฟ้“ไธ็พ)
  • "tidak berusaha sesuai kemampuannya" (ไธ้‡ๅŠ›่€Œ็‚บ่€…) (untuk pria) / "tidak membina setulus hati" (ไธ่ช ๅฟƒไฟฎ็…‰่€…) (untuk wanita)
Bersedia menerima hukuman dari langit sebagai ganjarannya (้ก˜ๅ—ๅคฉ่ญด้›ท่ช…).[g][104][105]

Selain itu, pengucapan ikrar juga diadakan setelah selesai mengikuti kelas pembinaan seperti Sidang Dharma (ๆณ•ๆœƒ). Ikrar-ikrar yang bisa dipilih adalah:[98][106]

  • โ€œmengutamakan urusan suci daripada urusan duniawiโ€ (้‡่–่ผ•ๅ‡ก)
  • โ€œmenyumbangkan harta benda dan menyebarkan Taoโ€ (่ฒกๆณ•้›™ๆ–ฝ)
  • โ€œmenjadi vegetarianโ€ (ๆธ…ๅฃ่Œน็ด )
  • โ€œmelintasi orang untuk memohon Taoโ€ (ๅบฆไบบๆฑ‚้“) / "menyerahkan diri melaksanakan Tao" (ๆจ่บซ่พฆ้“)[h]
  • โ€œmendirikan viharaโ€ (่จญ็ซ‹ไฝ›ๅ ‚)
  • โ€œmelakukan misi ke luar negeriโ€ (ๆตทๅค–้–‹่’)

Vegetarisme

sunting

Vegetarisme adalah salah satu ajaran inti dan sangat ditekankan dan disarankan dalam ajaran I Kuan Tao.[107][108] Vegetarianisme diajarkan dari berbagai sudut pandang termasuk kesehatan, ekologi, kelestarian alam, mengurangi penderitaan hewan, dan pengembangan spiritual.[109] Dari sudut pandang I Kuan Tao, seorang pengikut yang tulus haruslah seorang vegetarian. Mereka percaya bahwa membunuh dan memakan hewan adalah tindakan yang tidak bermoral dan berbahaya karena tidak hanya membangun hubungan yang buruk dengan semua makhluk, tetapi juga mengakumulasi karma.[107] Selain itu I Kuan Tao juga meyakini bahwa hanya mereka yang tidak makan daging saja yang akan selamat pada masa bencana akhir. Praktik yang dijalankan menganut prinsip Lima yang Tidak Dimakan dan Tiga Pantangan (ไบ”่‘ทไธ‰ๅŽญ) yaitu tidak memakan daging hewan yang ada di udara, darat, air dan tidak memakan 5 tanaman beraroma kuat (bawang merah, bawang putih, daun bawang, kucai, lokio). Pengikut I Kuan Tao disebut-sebut mengoperasikan 90% restoran vegetarian di Taiwan.[110]

Praktik dan ritual

sunting

Inisiasi dengan tiga mustika

sunting

Inisiasi dalam Yiguandao dilakukan melalui upacara rahasia sekali seumur hidup yang disebut menerima Tao (ๅพ—้“ dedao) atau memohon Tao (ๆฑ‚้“ qiudao) atau juga disebut membuka cahaya (้–‹ๅ…‰ kaiguang), yang dipimpin oleh seorang guru yang diangkat secara resmi dengan otoritas yang berasal dari Zhang Tianran dan Sun Suzhen. Upacara ini berfungsi sebagai pintu masuk eksklusif ke keanggotaan penuh yang membedakan pengikut dari orang luar dengan memberikan pengetahuan esoteris yang mengikat peserta pada kerangka misi penyelamatan global. Proses ini berlangsung di vihara umum ataupun vihara pribadi (ไฝ›ๅ ‚ fotang), biasanya melibatkan ritual kepada altar yang dihiasi ikon-ikon suci, simbolisasi hubungan dengan hierarki surgawi tanpa pengungkapan detail secara publik.[111][112]

Inti dari upacara ini adalah pemberian tiga mustika (ไธ‰ๅฏถ san bao), yang diyakini sebagai rahasia langit yang tidak boleh dibocorkan, yaitu: "pintu suci" (็Ž„้—œ), titik suci dalam tubuh manusia yang diyakini sebagai pintu masuk dan keluarnya roh; "ucapan suci" (ๅฃ่ฏ€), lima kata suci yang disebut sebagai "kitab Suci tanpa kata" (็„กๅญ็œŸ็ถ“); dan "pertanda suci" (ๅˆๅŒ), posisi tangan spesifik yang memiliki makna sebagai segel spiritual.[80] Elemen-elemen ini ditransmisikan secara lisan dan demonstratif, menuntut para penerimanya untuk menjaga kerahasiaan dengan ancaman hukuman dari langit bagi yang melanggar.[111][112]

Ritual

sunting

Praktisi Yiguandao melakukan ritual ibadah harian yang dilaksanakan tiga kali sehariโ€”biasanya antara pukul 5-7 pagi, 11 pagi hingga 1 siang, dan 5-7 malam di altar vihara, melibatkan penyalaan 9-15 batang dupa yang dipersembahkan kepada dewa-dewa utama.[113] Upacara ini meliputi rangkaian sujud, berlutut, dan kowtow (misalnya 10 kali untuk Ming Ming Shang Di, diikuti 5 atau 3 kali untuk dewa-dewa lainnya), disertai Doa Pertobatan untuk mengekspresikan penyesalan dan memohon pemurnian jiwa.[113] Ibadah komunal dilakukan pada tanggal satu dan lima belas imlek di vihara umum dalam bentuk penghormatan dan pemujaan terhadap figur-figur dewa-dewi Tionghoa, para senior serta para leluhur.[114] Rutinitas ini bertujuan untuk membersihkan pikiran dari kotoran, memperbaiki perilaku pribadi, dan menumbuhkan kerendahan hati, sehingga mempertahankan keselarasan spiritual dengan tatanan kosmis di tengah tanggung jawab sehari-hari.[112][113]

Ritual dalam I Kuan Tao antara lain adalah sebagai berikut:[61]

  1. Ritual Datang dan Pamit (ๅƒ/่พญ้ง• can / ci jia): Ritual yang wajib dilakukan ketika memasuki dan meninggalkan vihara.
  2. Ritual Persembahan Dupa (็ป้ฆ™ xianxiang): Ritual sembahyang untuk menghormati para dewa yang wajib dilakukan setiap hari di vihara.
  3. Ritual Persembahan Altar (็ปไพ› xiangong): Ritual yang biasanya dilakukan oleh beberapa orang untuk mempersembahkan makanan dan minuman kepada Laomu dan patung-patung dewa yang ada di altar. Persembahan yang dilakukan sebagian besar biasanya berupa buah-buahan
  4. Ritual Mengundang Kehadiran Ilahi ke Altar (่ซ‹ๅฃ‡ qingtan): Ritual yang dilakukan untuk mengundang kehadiran ilahi Laomu, para dewa ke ruangan vihara pada saat ada orang yang memohon Tao atau pada saat adanya kelas pendalaman.
  5. Ritual Pelaksanaan Tao (่พฆ้“ bandao): Ritual ini digunakan pada saat ada orang yang memohon Tao.

Fuji

sunting

Inti dan sumber ajaran I Kuan Tao banyak yang bersumber dari tulisan roh, sebuah teknik mediumistik yang menggunakan tatakan dengan medium pasir di dalamnya untuk mencatat pesan dari dewa-dewa, para senior, para bijaksana, atau makhluk yang tercerahkan selama sesi komunal. Dalam praktik I Kuan Tao, fuji menghasilkan wahyu, nasihat dan perintah ilahi interpretatif. Ada dua bentuk fuji yang dipratikkan, yaitu "tulisan pasir" (้–‹ๆฒ™ kaisha) dan "meminjam raga sebagai medium" (ๅ€Ÿ็ซ… jieqiao).[115] Metode ini memungkinkan perintah ilahi secara real-time yang dapat diverifikasi melalui keselarasan dengan tradisi pendahulunya seperti Xiantiandao, di mana nubuat-nubuat serupa yang berasal dari fuji dapat ditelusuri hingga tahun 1840-an, termasuk peringatan apokaliptik tentang bencana pada tahun 1845โ€“1847.[116][117] Kitab suci Yiguandao berbeda dari kitab kanon ortodoks dalam sifatnya yang adaptif dan terus-menerus menerima wahyu, memprioritaskan aliran mediumistik daripada kompilasi statis untuk menanggapi garis waktu eskatologis yang terus berkembang.

Fuji merupakan praktik penting untuk menarik minat dan memperkuat keyakinan para pengikut I Kuan Tao khususnya pada tahun sebelum 1980-an.[118] Namun saat ini, hampir semua kelompok I Kuan Tao meninggalkan praktik ini karena banyaknya kritik baik dari para pengikut I Kuan Tao sendiri dan dari pihak luar.[119] Salah satu yang banyak dikritik adalah validitas hasil fuji itu sendiri karena para medium yang bisa mengatur isinya. Faktor utama yang menyebabkan ditinggalkannya praktik ini adalah banyaknya hasil tulisan roh yang menyebabkan perpecahan. Setelah Sun Suzhen meninggal pada tahun 1974, banyak senior I Kuan Tao yang mengklaim diri sebagai patriark yang memegang kuasa Tao selanjutnya. Klaim ini kemudian didukung dengan banyaknya hasil tulisan roh yang dibuat.[120]

Struktur organisasi

sunting

Organisasi dalam I Kuan Tao didefinisikan dengan jelas, dan jajaran para misionaris dan umat dapat dibagi ke dalam urutan berikut:[121][122][123]

  1. Maha Guru / Patriark (็ฅ–ๅธซ zhushi): Secara khusus mengacu pada Zhang Tianran dan Sun Huiming dan semua patriark yang ada dalam silsilah I Kuan Tao
  2. Pemimpin Kelompok (้“้•ท daozhang): Tokoh senior yang menjadi pemimpin kelompok yang tugasnya diberikan langsung oleh Maha Guru. Kelompok-kelompok I Kuan Tao biasanya dibedakan berdasarkan tokoh daozhang yang memimpin ini.
  3. Sesepuh Tua (่€ๅ‰ไบบ lao qianren): Tokoh senior dalam kalangan I Kuan Tao yang sekaligus daozhang ataupun sesepuh yang bertugas di bawah kepemimpinan daozhang.
  4. Sesepuh (ๅ‰ไบบ qianren): Pandita yang menjadi perwakilan senior dan biasanya memimpin kelompok-kelompok yang lebih kecil di bawah sesepuh tua atau daozhang. Seorang sesepuh mendapat firman Tuhan dari Maha Guru sesuai kuota yang disetujui.
  5. Pandita (้ปžๅ‚ณๅธซ dianchuanshi): Pandita yang memiliki firman Tuhan yang bisa mengadakan ritual upacara qiudao. Para pandita biasanya berada di bawah kepemimpinan qianren. Sebutan lain untuk seorang dian chuanshi adalah jingli (็ถ“็†) yang berarti manager.
  6. Pemilik vihara (ๅฃ‡ไธป tanzhu): Umat yang biasanya membuka vihara pribadi di rumahnya disebut dengan tanzhu.
  7. Penceramah (่ฌ›ๅธซ jiangshi): Para pengajar yang biasanya bertugas untuk memberikan khotbah atau ceramah di vihara.
  8. Tiga Medium (ไธ‰ๆ‰ sancai): Tiga gadis yang menjadi medium pada saat ada fuji / peminjaman roh. Terdiri dari Tiancai (ๅคฉๆ‰), Rencai (ไบบๆ‰), dan Dicai (ๅœฐๆ‰).
  9. Para petugas (่พฆไบ‹ banshi): Para petugas suci yang secara sukarela membantu dalam pelaksanaan segala kegiatan di vihara.
  10. Umat (้“่ฆช daoqin): Mereka yang telah memohon Tao (qiudao), disebut dengan "daoqin", yang artinya adalah kerabat Tao. Ini merupakan istilah untuk menunjukkan rasa kasih sayang di antara penganutnya. Para umat pria disebut dengan sebutan "qian dao" (ไนพ้“), sedangkan yang wanita disebut "kun dao" (ๅค้“).

Kitab

sunting

Dalam menjelaskan ajarannya, I Kuan Tao menggunakan teks-teks agama Buddha, Taoisme, Konghucu, Kristen, Islam,[124] dan teks-teksnya sendiri, seperti teks yang dihasilkan melalui tulisan roh, contohnya: Sutra Sejati Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan (ๅผฅๅ‹’ๆ•‘่‹ฆ็œŸ็ป), Sutra Sejati Buddha Hidup Jigong Menyelamatkan Dunia (ๆฟŸๅ…ฌๆดปไฝ›ๆ•‘ไธ–็œŸ็ถ“), Tujuan dari Tao (้“ไน‹ๅฎ—ๆ—จ), Surat dari Kampung Halaman Berisi 10 Petunjuk dari Wusheng Laomu (็„ก็”Ÿ่€ๆฏๅๆŒ‡ๅฎถๆ›ธ), dll.

Di Taiwan, buku-buku seperti Jawaban atas Keraguan dan Pertanyaan Mengenai Yi-guan Dao (ไธ€่ฒซ้“็–‘ๅ•่งฃ็ญ”) dan Kitab Uraian Metafisika (ๆ€ง็†้กŒ้‡‹) menjadi dasar yang penting bagi pekerjaan misionaris para pengkhotbah dari daratan Tiongkok di Taiwan pada pertengahan abad ke-20.[125]

Kelompok dan lahirnya Ikuanisme baru

sunting

Grup I Kuan Tao

sunting
Gedung Peringatan para Sesepuh I Kuan Tao , Kuil Pancaran Putihใ€Œ็™ฝ้™ฝ่–ๅปŸใ€di Taiwan

I Kuan Tao adalah kumpulan dari setidaknya sembilan belas kelompok / grup / divisi (็ต„) yang dibagi berdasarkan kepemimpinan daozhang (pemimpin kelompok).[i][126] Setiap grup ini memiliki sub-grup berdasarkan sesepuh (qianren) yang memimpin. Umumnya setiap kelompok memiliki peraturan yang sama untuk tidak saling merebut umat atau masuk cabang lain yang di luar โ€œbenang emasโ€ kelompok mereka masing-masing.[127] Mayoritas grup berafiliasi dengan Asosiasi I-Kuan Tao Republik Tiongkok (ไธญ่ฏๆฐ‘ๅœ‹ไธ€่ฒซ้“็ธฝๆœƒ) pada saat dibentuk tahun 1988.[128] Markas Besar I-Kuan Tao Dunia, yang mencakup federasi-federasi di seluruh dunia, didirikan di Alhambra, California pada tahun 1996.[128] Daftar kelompok I Kuan Tao yang terdaftar secara resmi adalah sebagai berikut:[129]

  1. Grup Jichu (ๅŸบ็คŽ็ต„)
  2. Grup Wenhua (ๆ–‡ๅŒ–็ต„)
  3. Grup Fasheng (ๆณ•่–็ต„)
  4. Grup Qianyi (ไนพไธ€็ต„)
  5. Grup Tianxiang (ๅคฉ็ฅฅ็ต„)
  6. Grup Jinguang (้‡‘ๅ…‰็ต„)
  7. Grup Tianzhen (ๅคฉ็œŸ็ต„)
  8. Grup Huiguang (ๆ…งๅ…‰็ต„)
  9. Grup Haoran (ๆตฉ็„ถ็ต„)
  10. Grup Zhongyong (ไธญๅบธ็ต„)
  11. Grup Andong (ๅฎ‰ๆฑ็ต„)
  12. Grup Baoguang (ๅฏถๅ…‰็ต„)
  13. Grup Mingguang (ๆ˜Žๅ…‰็ต„)
  14. Grup Puguang (ๆตฆๅ…‰็ต„)
  15. Grup Changzhou (ๅธธๅทž็ต„)
  16. Grup Fayi (็™ผไธ€็ต„)
  17. Grup Chande (้—กๅพท็ต„)
  18. Grup Xingyi (่ˆˆๆฏ…็ต„)
  19. Grup Zhengyi (ๆญฃ็พฉ็ต„)

Perpecahan

sunting

Setelah meninggalnya Zhang Tianran pada tahun 1947, kalangan I Kuan Tao terpecah menjadi dua. Mayoritas kelompok yang mengikuti Sun Suzhen disebut Shimu Pai (ๅธซๆฏๆดพ), sementara kelompok minoritas yang mengikuti istri tua Zhang, Liu Shuaizhen (ๅЉ็އ่ฒž) disebut Shixiong Pai (ๅธซๅ…„ๆดพ).[130] Kelompok yang kedua ini sekarang dikenal sebagai Tiandao (ๅคฉ้“) disebut juga sebagai grup Zhengyi (ๆญฃ็พฉ็ต„) atau Zhengyi Fudao Weiyuanhui (ๆญฃ็พฉ่ผ”ๅฐŽๅง”ๅ“กๆœƒ) di bawah naungan Asosiasi Tiandao Republik Tiongkok (ไธญ่ฏๆฐ‘ๅœ‹ๅคฉ้“็ธฝๆœƒ).

Setelah meninggalnya Shun Suzhen pada 4 April 1975, kalangan I Kuan Tao kembali terpecah setelah Wang Hao-te (็Ž‹ๅฅฝๅพท) yang merupakan senior yang mendampingi Shun Suzhen pada masa akhir hidupnya mengklaim bahwa dirinya lah yang memegang Firman Tuhan selanjutnya dan menjadi penerus Benang Emas yang sejati. Hanya melalui dia, Kuasa Firman Tuhan dapat diberikan. Semua sesepuh tua para pemimpin kelompok I Kuan Tao yang lain tidak bisa menerima penunjukkan tersebut sehingga Wang Hao-te pada akhirnya mendirikan kelompok sendiri melepaskan diri dari I Kuan Tao yang kemudian dikenal dengan nama Miledadao atau Maitreya Great Tao.[7]

Selain Miledadao yang didirikan oleh Wang Hao-te, ada sejumlah divisi yang tidak lagi dianggap sebagai bagian dari Yiguandao; beberapa di antaranya adalah: Haizidao (ๅญฉๅญ้“) yang didirikan oleh Lin Jixiong (ๆž—ๅ‰้›„) pada tahun 1984, Asosiasi Suci Tiongkok (ไธญๅŽๅœฃๆ•™) yang didirikan oleh Ma Yongchang (้ฉฌๆฐธๆ˜Œ) pada tahun 1980, Guanyindao (่ง€้Ÿณๅคง้“) yang didirikan oleh Chen Huoguo (้™ณ็ซๅœ‹) pada tahun 1984, Yuande Shentan (ๅ…ƒ็š„็ฅžๅฃ‡) yang didirikan oleh Wu Ruiyuan (ๅณ็‘žๅ…ƒ), dan Jiulian Shengdao (ไน่Žฒๅœฃ้“) yang didirikan oleh Lin Zhenhe (ๆž—้•‡ๅ’Œ) pada tahun 1992.[120]

Sejarah Ikuanisme di Indonesia

sunting

Awal penyebaran ajaran

sunting

Setelah I Kuan Tao mulai masuk ke Taiwan pada tahun 1950an, ada kelompok I Kuan Tao yang mulai menyebarkan ajaran ke luar negeri. Saat itu kelompok I Kuan Tao yang paling awal masuk ke Indonesia adalah Baoguang Jiande (ๅฏถๅ…‰ๅปบๅพท), yang saat itu diprakarsai oleh Chen Boling (้™ณไผฏ้ฝก).ย Pada tahun 1949 setelah diangkat menjadi pandita (dianchuanshi) di Taiwan, Chen Boling yang belakangan dikenal dengan Maitreyawira datang ke Malang, Indonesia untuk menyebarkan ajaran.[131] Dia diutus oleh sesepuh Lวš Shugen (ๅ‘‚ๆจนๆ น) yang merupakan pemimpin dari kelompok Baoguang Jiande dalam rangka misi kaihuang (membuka ladang baru / membuka kalangan Tao di tempat baru) di Indonesia.[7] Dia mendirikan vihara Maitreya pertama di Malang bernama Qiaoguang Tang (ๅƒ‘ๅ…‰ๅ ‚) pada tahun 1950.[131][7] Vihara ini adalah vihara pertama yang berdiri di luar China dan Taiwan. Di bawah pimpinan Chen, ajaran I Kuan Tao disebarkan ke Surabaya, Jakarta, Medan, Bagansiapiapi, Pontianak, dan banyak daerah lainnya, sampai mencakup hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun, lebih dari dua ratus vihara umum dan vihara keluarga telah didirikan di Indonesia.[132]

Aliran Buddha Maitreya di Indonesia

sunting

Dalam perkembangannya, Chen Boling mengubah khotbah-khotbahnya menjadi sangat terlokalisasi serta mengizinkan para umat-umatnya untuk menerjemahkan istilah-istilah bahasa Mandarin menjadi bahasa Indonesia. Pada saat masuk ke dalam Orde Baru, di mana terjadi surpresi terhadap kebudayaan Tionghua, semua vihara yang di bawah kepemimpinan Chen Boling menyesuaikan diri dengan mengubah hampir semua istilah-istilah bahasa mandarin di dalam vihara menjadi bahasa Indonesia.[133] Pada masa Orde Baru ini, kelompok-kelompok Yiguandao yang lain di Taiwan tidak berani menyebarkan ajaran di Indonesia karena adanya kebijakan anti-Tionghua yang dijalankan Orde Baru.[134] Sementara itu, kalangan Tao yang berada di bawah kepemimpinan Chen Boling ini terus berkembang menjadi salah satu aliran dari agama Buddha di Indonesia. Kalangan Tao yang dipimpin Chen Boling juga mulai mengadopsi istilah-istilah bahasa Indonesia dari bahasa Sanskerta serta mengubah semua liturgi dan upacara keagamaan ke dalam Bahasa Indonesia.[134] Vihara-vihara pun tercantum kalimat "Tuhan Maha Esa", dan mulai mengikuti perayaan agama Buddha seperti Waisak, Kathina, dan menggantungkan gambar Buddha Siddharta.

Setelah meninggalnya Shi Mu pada tahun 1975, Wang Hao-te di Taiwan mengklaim bahwa dirinya merupakan penerus Firman Tuhan yang diangkat oleh Shi Mu.[133] Kelompok yang berada di bawah kepemimpinan Chen Boling di Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan Wang Hao-te yang kemudian mendirikan Miledadao.[133][7] Karena di Indonesia sebagian besar kalangan I Kuan Tao saat itu di bawah naungan Chen Boling, maka secara otomatis vihara-vihara di Indonesia saat itu mayoritas berubah menjadi Miledadao. Dengan kata lain, sejak itu bisa dibilang para umat yang ada di Indonesia sudah tidak lagi dianggap sebagai bagian dari kalangan I Kuan Tao.

Masuknya kelompok-kelompok I Kuan Tao lain ke Indonesia

sunting

Di sisi lain, setelah sempat vakum akibat kebijakan Anti Tionghua sejak zaman Orde Baru, pada tahun 1990an, kelompok-kelompok I Kuan Tao di Taiwan mulai secara aktif menyebarkan ajaran ke Indonesia. Banyak divisi I Kuan Tao yang mengirimkan misionaris ke Indonesia antara lain adalah kelompok Baoguang (ๅฏถๅ…‰), Fayi (็™ผไธ€), Jichu (ๅŸบ็คŽ), Tianxiang (ๅคฉ็ฅฅ), Haoran (ๆตฉ็„ถ), Andong (ๅฎ‰ๆฑ), ย Changzhou (ๅธธๅทž) dan Xingyi (่ˆˆๆฏ…).[129][135]

Karena masih masa Orde Baru, berbagai kelompok I Kuan Tao yang datang ke Indonesia saat itu masih harus menyebarkan ajaran secara sembunyi-sembunyi, diakibatkan karena buku-buku dan barang-barang yang dibawa semuanya masih berbahasa Mandarin.[136] Vihara yang digunakan rata-rata saat itu adalah rumah biasa sehingga sama sekali tidak terlihat seperti vihara bila dilihat dari luar. Setelah beberapa tahun, I Kuan Tao mulai berkembang di beberapa kota di Indonesia.

Pada tahun 2001, presiden Abdurrahman Wahid, secara bertahap mencabut larangan penggunaan bahasa Mandarin di depan umum, serta mendorong penggunaan bahasa Mandarin oleh masyarakat umum, sehingga memberikan kesempatan besar bagi budaya dan agama Tionghoa untuk berkembang. Dampak dari pencabutan larangan ini, membuat mulai banyak vihara-vihara I Kuan Tao berukuran besar yang didirikan di beberapa kota di Indonesia.[137]

Maha Vihara Hongyi di Surabaya
Maha Vihara Chongde di Medan

Legalitas Ikuanisme di Indonesia

sunting

Karena pemerintah Indonesia hanya mengakui 6 agama resmi, baik I Kuan Tao dan Miledadao pada akhirnya muncul sebagai salah satu aliran dari Agama Buddha untuk bisa beroperasi secara legal di Indonesia. I Kuan Tao dan Miledadao didaftarkan sebagai agama yang berbeda di Kementerian Agama Indonesia. Miledadao mendaftarkan diri ke Kementerian Agama pada tahun 2000 dan membentuk Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) yang bernaung di bawah Walubi.

Sedangkan I Kuan Tao mendaftarkan diri dengan nama Majelis I-Kuan Dao Indonesia di Kementerian pada tahun 2005.[138] Saat itu, I Kuan Tao hanya mendapatkan izin dari pemerintah daerah, tetapi tidak dari pemerintah pusat.[138] Menurut Kementerian, nama I-Kuan Tao itu harus diubah agar bisa disetujui. Pada bulan November 2014, I Kuan Tao menjadi agama yang legal di bawah naungan Majelis Agama Buddha I-Kuan Dao Indonesia.[19][139] Dengan ini, baik Miledadao dan I Kuan Tao secara resmi terdaftar di Kementerian Agama dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).[138]

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Beberapa penganut Buddhisme menerbitkan pamflet dan tulisan untuk mengkritik Yiguan Dao, dengan menyatakan bahwa garis silsilah ajaran Yiguan Dao sepenuhnya keliru dan teori-teori aliran tersebut dianggap tidak masuk akal.[10][11][12] Beberapa tulisan maupun buku mengenai kesalahan-kesalahan teori yang diajarkan Yiguandao juga ditulis oleh mantan penganut Yiguandao setelah mengenal Buddhisme[13][14][15] Dalam forum daring dan media sosial, juga terjadi perdebatan antara pengikut Buddhisme dan Ikuantao.[16] Beberapa komunitas Buddhis secara tegas menganggap Ikuantao sebagai ajaran yang menyimpang (bukan Buddhisme)[17][18]
  2. ^ Grup Fayi menyangkal bahwa patriark ke-8 adalah Luo Weiqun karena teks Kitab Berharga tentang Garis Silsilah (้“็ตฑๅฏถ้‘‘) hanya menyebutkan marga. Mereka meyakini patriark ke-8 adalah seseorang bermarga Luo lain yang hidup di Dinasti Tang. Sementara grup I Kuan Tao lain tetap beranggapan bahwa patriark ke-8 adalah Luo Weiqun.
  3. ^ Grup Fayi meyakini bahwa Patriark ke-7 adalah 2 orang bermarga Bai dan Ma yang berbeda (Bukan Bai Yuchan dan Ma Daoyi). Sedangkan grup Yiguandao lain masih menganggap Baiyuchan dan Ma Daoyi sebagai Maha Guru ke-7. Teks Yiguandao Kitab Berharga tentang Garis Silsilah (้“็ตฑๅฏถ้‘‘) juga tertulis Bai Yuchan dan Ma Daoyi sebagai patriark ke-7.
  4. ^ Ada beberapa versi tahun di mana Lu Zhongyi mengambil alih kepemimpinan, Yiguandao dan beberapa dokumen sejarah menulis Lu mengambil alih kepemimpinan dan menjadi patriark ke-17 atas petunjuk dari Lao Mu dari Tulisan Roh pada tahun 1905. Sementara menurut buku akademis (Jordan, 1985 & Ma, 2011), Lu mengambil alih kepemimpinan setelah Liu bermimpi mendapat petunjuk pada tahun 1886. Sedangkan referensi tertentu (Lu, 2008 & DuBois, 2005), Lu disebutkan baru mengambil alih kepemimpinan setelah patriark Liu meninggal pada tahun 1919.
  5. ^ Dalam Yiguandao Zhang (ไธ€่ฒซ้“่—, ๆž—ๆฆฎๆพค) dan teks-teks Yiguandao lainnya, tertulis bahwa Zhang dan Sun โ€œditetapkan sebagai pasangan suami-istri, meskipun pada kenyataannya mereka bukanlah pasanganโ€ (ๆœ‰ๅคซๅฉฆไน‹ๅ, ็„กๅคซๅฉฆไน‹ๅฏฆ). Para penganut Yiguandao umumnya menyakini bahwa pernikahan tersebut hanyalah simbolis.
  6. ^ Beberapa kalangan I Kuan Tao berpedoman pada ajaran Buddhisme di mana enam jalur reinkarnasi adalah Alam Surga, Alam Manusia, Alam Ashura, Alam Peta, Alam Binatang dan Alam Neraka. Sementara itu ada yang berpedoman pada Kitab Uraian Metafisika / Explanations of the Answers to the Truth (ๆ€ง็†้กŒ้‡‹) yang menjadi kitab resmi I Kuan Tao Bab 5, di mana enam jalur reinkarnasi adalah 4 jenis binatang (kelahiran melalui janin, telur, larva dan metamorfosis), dan dua jalur kelahiran dan kematian (่ƒŽๅตๆฟ•ๅŒ–็”Ÿๆญป) yang dilambangkan 6 pintu tubuh (mata, telinga, hidung, mulut, pusar dan ubun-ubun)
  7. ^ Arti harafiah dari ๅคฉ่ญด้›ท่ช… adalah "dihukum oleh langit dengan petir sebagai eksekusinya". Menurut Lu, adanya kritik dari banyak penulis dan agama-agama lain termasuk agama Buddha dan Kristen, di mana I Kuan Tao menakut-nakuti umat yang mencoba meninggalkan kalangan Tao dengan ancaman hukuman disambar petir membuat I Kuan Tao mengubah pemaknaan kata-kata dari ikrar tersebut. Makna dari kata-kata tersebut saat ini diartikan sebagai hukuman petir yang mengetuk hati nurani.
  8. ^ Ikrar ini tergantung dari grup I Kuan Tao masing-masing, ada grup yang ikrar ke-4nya adalah "melintasi orang untuk mendapatkan Tao", ada juga yang ikrarnya "menyerahkan diri melaksanakan Tao"
  9. ^ 19 grup I Kuan Tao terdiri dari 18 kelompok dari Shimu pai (kelompok yang ada di bawah kepemimpinan Sun Suzhen) dan 1 kelompok yaitu Zhengyi (ๆญฃ็พฉ็ต„) yang berasal dari Shixiong pai (kelompok di bawah kepemimpinan istri tua Zhang Tianran, Liu Suaizhen yang tidak mengakui kepemimpinan Sun Suzhen)

Referensi

sunting
  1. ^ Lu 2008, hlm.ย 37โ€“38.
  2. ^ Ng Ka Shing. Yiguan Dao in Japan: A Case Study of a Chinese Religion in the Japanese Settings.
  3. ^ Kim 2015.
  4. ^ "Taiwan Yearbook 2006". Government of Information Office. 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-07-08. Diakses tanggal 2007-09-01.
  5. ^ Kiely 2015, hlm.ย 702-703.
  6. ^ Billioud 2020, hlm.ย 3.
  7. ^ a b c d e ๆฅŠ, ้›ๆ™บ. "ๅฐๅฐผใ€Œๅคฉๅ‘ฝ้“็ตฑ็œŸๅ‚ณใ€ๆŽจๅปฃๆ•™่‚ฒๅ ฑๅฐŽ" (PDF). ไธ€่ฒซ้“ๅด‡ๅพทๅญธ้™ข. Diakses tanggal 2024-11-21.
  8. ^ Lu 2008, hlm.ย 21.
  9. ^ Goossaert 2011, hlm.ย 340.
  10. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 26.
  11. ^ Lin, Yu-sheng (Yiguan Dao and Buddhism in Thailand). Yiguan Dao and Buddhism in Thailand. Kyoto: Kyoto University. hlm.ย 64โ€“98. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ^ Chia, Jack Meng-Tat (2016-03-19). "The Curious Case of Buddhist Activism in Singapore". Kyoto Review of Southeast Asia.
  13. ^ Shi Wen Du. BAGAIMANA SAYA MELEPASKAN DIRI DARI YI KUAN TAO (PDF). Diterjemahkan oleh Wijaya, Tjahyono. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ^ ๆจ, ็ง€ๅŽ. "ไปŽไธ€่ดฏ้“่ตฐๅ‡บๆฅ็š„ๅฟƒ่ทฏๅކ็จ‹". ไธ‰ๆ‘ฉๅœฐ.
  15. ^ Xiao, Vendy. "Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran ไธ‰้™ฝ". Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ^ "Sejarah Ikuantao". Vihara Buddha Sasana.
  17. ^ "Buddhist Cults". Buddhism Australia. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-02.
  18. ^ "Groups to AVOID: Ultimate comprehensive list of Dangerous or Non-Buddhist Organizations". Reddit. 2025-01-30.
  19. ^ a b RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha-Kementerian Agama. "20 Tahun Majelis I Kuan Tao, Caliadi Ajak Bersinergi Program dan Layanan | Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI". Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha - Kementerian Agama RI. Diakses tanggal 2024-05-22.
  20. ^ "Sejarah Pendirian | Maha Vihara Maitreya". Diakses tanggal 2024-05-22.
  21. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 3.
  22. ^ Ma 2011, hlm.ย 172.
  23. ^ Ma 2011, hlm.ย 174.
  24. ^ a b "ๆŽจๅปฃๆ•™่‚ฒ_ๅฐˆ้กŒๅ ฑๅฐŽ" (PDF). ็™ผไธ€ๅด‡ๅพท.
  25. ^ a b Ma 2011, hlm.ย 300.
  26. ^ Zhuo 2019, hlm.ย 108.
  27. ^ ็Ž‹, ่ฆ‹ๅท (1994). "่‡บ็ฃ้ฝ‹ๆ•™็ ”็ฉถไน‹ไบŒ๏ผšๅ…ˆๅคฉ้“ๅ‰ๆœŸๅฒๅˆๆŽข โ€” ๅ…ผ่ซ–ๅ…ถ่ˆ‡ไธ€่ฒซ้“็š„้—œไฟ‚". ่‡บๅŒ—ๆ–‡็ป (็›ดๅญ—). 108: 121โ€“167.
  28. ^ ้“็ตฑๅฏถ้‘’. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  29. ^ ้ปžๅ‚ณๅธซ, ่€ (September 2007). "็ฌฌไธƒไปฃๅ…ฉ็ฅ–ๅธซ ็™ฝ็މ่ŸพๅฐŠ่€…ใ€้ฆฌ็ซฏ้™ฝๅฐŠ่€…" (PDF). The Great Tao Foundation of America.
  30. ^ ่€, ้ปžๅ‚ณๅธซ, (Oktober 2007). "็ฌฌๅ…ซไปฃ็ฅ–ๅธซ ็พ…่”š็พคๅฐŠ่€…" (PDF). The Great Tao Foundation of America. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  31. ^ a b c Topley 2011, hlm.ย 208.
  32. ^ a b c ่ณ€ๅธ‚ๅญ, ๅฟ— (2011). "ๅ…ˆๅคฉ้“ๅถบๅ—้“่„ˆ็š„ๆ€ๆƒณๅ’Œๅฏฆ่ธ๏ผšไปฅๅปฃๆฑๆธ…้ ้ฃ›้œžๆดž็‚บไพ‹". ๅœ‹ๅฎถๅœ–ๆ›ธ้คจ. 173. ๆฐ‘ไฟ—ๆ›ฒ่—: 23โ€“58. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-06.
  33. ^ ใ€Šไธญๅœ‹ๅ–„ๆ›ธ็ ”็ฉถใ€‹. ๅ—ไบฌ: ๆฑŸ่˜‡ไบบๆฐ‘ๅ‡บ็‰ˆ็คพ. 2010. ISBNย 7214063190. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  34. ^ Palmer, David (2011). "Redemptive Societies in Cultural and Historical Context". Journal of Chinese Theatre, Ritual and Folklore / Minsu Quyi. 173.
  35. ^ a b Mozina, David J. (2019). "Living Redactions: The Salvationist Roots of Daoist Practice in Central Hunan" (PDF). Daoism: Religion, History and Society (No. 11): 1โ€“61.
  36. ^ ๅญๅฎ‰, ้Š; ไธๆ˜Ž, ๅฑ (2011). "ๅ…ˆๅคฉ้“็š„ๅฐŠๅญ”ๅด‡้“". ๅœ‹ๅฎถๅœ–ๆ›ธ้คจ. 173. ๆฐ‘ไฟ—ๆ›ฒ่—: 59โ€“99. Diarsipkan dari asli tanggal 20201203.
  37. ^ ่‹, ๅบ†ๅŽ (2016). "้บฆ้•ฟๅคฉใ€้บฆๆณฐๅผ€ไผฏไพ„ไธŽๆ–ฐใ€้ฉฌ"้ฃž้œž"้“่„‰ๅˆๆŽข" (PDF). Journal of Malaysian Chinese Studies. 18โ€“19 (45โ€“62): 47.
  38. ^ Ma 2011, hlm.ย 173.
  39. ^ T. Rowe, William (1992). Hankow: Conflict and Community in a Chinese City, 1796-1895. Redwood: Stanford University Press. hlm.ย 258. ISBNย 0804721602. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  40. ^ a b Ma 2011, hlm.ย 306.
  41. ^ "ไธ€่ฒซ้“ๆญทไปฃ็ฅ–ๅธซ". ๅคฉๆƒ ็ถฒ็ซ™. Diakses tanggal 2024-11-14.
  42. ^ Ma 2011, hlm.ย 298-299.
  43. ^ "Impact of the State on the Evolution of a Sect" (PDF). Baylor University. 2006. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2024-10-31. Diakses tanggal 2024-10-31.
  44. ^ Ma 2011, hlm.ย 299.
  45. ^ a b c Jordan 1985, hlm.ย 215.
  46. ^ Lu 2008, hlm.ย 4.
  47. ^ "The Late 17th Patriarch - Lu Zhong-yi". Tienshin Temple (Chong Hua Tong Moral Association).
  48. ^ "ไธ€่ฒซ่–ชๅ‚ณ็™ผไธ€ๅนด้‘‘ 1849 ~ 1949". ไธ€่ฒซ้“ๅด‡ๅพทๅญธ้™ข.
  49. ^ Billioud 2020, hlm.ย 94.
  50. ^ Ownby, David; Goossaert, Vincent; Billioud, Sebastian; Zhe, Ji (2016). Making Saints in Modern China. Oxford University Press. ISBNย 0190494565. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  51. ^ Lu 2008, hlm.ย 31.
  52. ^ Irons, Edward A. (2018). "The List: The Evolution of China's List of Illegal and Evil Cults" (PDF). The Journal of CESNUR. 2 (1): 33โ€“57. doi:10.26338/tjoc.2018.2.1.3.
  53. ^ Lu 2008, hlm.ย 39.
  54. ^ Lu 2008, hlm.ย 40-41.
  55. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 41.
  56. ^ Lu 2008, hlm.ย 55.
  57. ^ Lu 2008, hlm.ย 50.
  58. ^ Lu 2008, hlm.ย 59.
  59. ^ Lu 2008, hlm.ย 60.
  60. ^ Lu 2008, hlm.ย 64.
  61. ^ a b Kung Chuang, Tsu. "I-Kuan Tao ไธ€่ฒซ้“ (The Way of Unity): The Emerging Folk Buddhism In China and Taiwan". Diakses tanggal 2024-11-12.
  62. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 23.
  63. ^ Lu 2008, hlm.ย 24.
  64. ^ Lu 2008, hlm.ย 25.
  65. ^ a b Ritzinger 2017, hlm.ย 261.
  66. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 22, (ไธ‰ๅไบ”็ซ ) ๅคง้“ๆ—ขๆ˜ฏๆ€ง็†ๅฟƒๅ‚ณ็‚บไฝ•ไฟก่€…้ƒฝๆ˜ฏๅนณๆฐ‘.
  67. ^ "The Scripture of Deliverance of Maitreya Buddha". Tienshin Temple. Diakses tanggal 2024-11-17.
  68. ^ Xiao, Vendy (2023-09-28). "Terjemahan dan Penjelasan ๅฝŒๅ‹’ๆ•‘่‹ฆ็œŸ็ถ“ Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Sejati Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)". Vendy Xiao's Journal. Diakses tanggal 2025-09-13.
  69. ^ "ไธ€่ฒซ้“็š„ไฟกไปฐ". ้›ปๅญๅœ–ๆ›ธ.
  70. ^ Tsai, Yen-zen (2013). Religious Experience in Contemporary Taiwan and China. Chengchi University Press. hlm.ย 94. ISBNย 9789866475467. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  71. ^ Billioud 2020, hlm.ย 11.
  72. ^ Jordan 1985, hlm.ย 261.
  73. ^ a b c d e ๆฟŸ 1988, hlm.ย 10, (ไธ‰็ซ ) ๅคง้“ไน‹ๆฒฟ้ฉ.
  74. ^ a b ๆฟŸ 1988, hlm.ย 9, (ไธ€็ซ ) ้“็š„็œŸ็พฉ.
  75. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 10, (ไบŒ็ซ ) ้“่ˆ‡ไบบๆœ‰ไฝ•้—œไฟ‚.
  76. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 12, (ไธƒ็ซ ) ๅพ—้“ๆœ‰ๅ››้›ฃๆ€Ž่ฌ›.
  77. ^ a b ๆฟŸ & 1988 (ๅ…ญ็ซ ) ไฝ•่ฌ‚่ถ…็”Ÿไบ†ๆญป, hlm.ย 12.
  78. ^ "ๅ…ˆๅพ—ๅพŒไฟฎๆฉŸ็ทฃๆก". ็™ผไธ€ๅด‡ๅพท้›ปๅญๅ ฑ.
  79. ^ "่ˆˆๆฏ… โ€ง ๅฟ ไฟก". ๅคฉ้“ๅฏถ่ฒด็š„ๅœฐๆ–นๅคฉ้“ไบ”ๅฅ‡.
  80. ^ a b c Billioud 2020, hlm.ย 34.
  81. ^ Lu 2008, hlm.ย 27-28.
  82. ^ a b Billioud 2020, hlm.ย 141.
  83. ^ a b c Lu 2008, hlm.ย 153.
  84. ^ DuBois 2005, hlm.ย 130.
  85. ^ Lu 2008, hlm.ย 74.
  86. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 16, (ๅๅ…ซ็ซ ) ไฝ•่ฌ‚ไธ‰ๆœŸๆœซๅŠซ.
  87. ^ a b c DuBois 2005, hlm.ย 131.
  88. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 12, (ไธƒ) ๅพ—้“ๆœ‰ๅ››้›ฃๆ€Ž่ฌ›.
  89. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 16, ๅๅ…ซ็ซ , ๅ››ๅๅ…ซ็ซ .
  90. ^ Lu 2008, hlm.ย 36.
  91. ^ Lu 2008, hlm.ย 83-86.
  92. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 11-12, ไบ”็ซ , ๅ…ญ็ซ .
  93. ^ Lu 2008, hlm.ย 78.
  94. ^ Jordan 1985, hlm.ย 256-257.
  95. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 23, (ๅ››ๅ็ซ ) ็„š้ฆ™็”จๅทฆๆ‰‹ๅ…ˆ็ซ‹ๅ…ถไธญๆ˜ฏไฝ•ๆ„ๆ€.
  96. ^ a b ็„กๅฆ„, ้ƒญ (1985). ไธ€่ฒซ้“ๅคง็ถฑ. ็™ผ่กŒไบบ้ƒญๆญฃๅฟ . Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  97. ^ Lu 2008, hlm.ย 53.
  98. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 79.
  99. ^ Lie, Chi Hua. 10 Ikrar. Vihara Kuang Te. hlm.ย 1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  100. ^ ้ƒญ, ๆ˜Ž็พฉ. "ๅฆ‚ไฝ•ๅ ฑๆฉไบ†ๆ„ฟ?". ไธ€่ฒซ้“้ƒญๆ˜Ž็พฉ (dalam bahasa Tionghoa).
  101. ^ "The Ten Vows". I-Kuan Tao Zhong Shu Temple.
  102. ^ "ๅๆขๅคงๆ„ฟ ่‹ฑๆ–‡็ฟป่ญฏ". Tian Hua I-Kuan Tao Foundation (dalam bahasa Tionghoa).
  103. ^ ้ƒญ, ๆ˜Ž็พฉ. "ๅๆขๅคงๆ„ฟ ๅ…จ้•ท(็ฌฌ1ๆขๅคงๆ„ฟ ใ€œ ็ฌฌ10ๆขๅคงๆ„ฟ)". ไธ€่ฒซ้“้ƒญๆ˜Ž็พฉ (dalam bahasa Tionghoa).
  104. ^ Lu 2008, hlm.ย 142.
  105. ^ ๆฟŸ 1988, hlm.ย 26, (ๅ››ไน) ๅคฉ่ญด้›ท่ช…ไน‹่ช“ๅฏๅพ—่žไนŽ.
  106. ^ Lin, Yu-sheng (Yiguan Dao and Buddhism in Thailand). Yiguan Dao and Buddhism in Thailand. Kyoto: Kyoto University. hlm.ย 110. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  107. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 85.
  108. ^ Billioud, Sรฉbastien; Thoraval, Joel (2015). The Sage and the People: The Confucian Revival in China. Oxford University Press. ISBNย 978-0190258146. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  109. ^ Billioud 2020, hlm.ย 263.
  110. ^ Davison, Gary Marvin (1998). Culture and Customs of Taiwan. Greenwood Press. ISBNย 978-0313302985. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  111. ^ a b "Australian Government Refugee Review Tribunal" (PDF).
  112. ^ a b c "Yiguan Dao/I-Kuan Tao ไธ€่ฒซ้“ - DRH".
  113. ^ a b c Chen, Joseph J (30 Agustus 2009). I-Kuan Tao Disciplines and Rituals (PDF). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  114. ^ Gee, Francis Lim Khek (Agustus 2011). "The Eternal Mother and State: Circumventing Religious Management in Singapore" (PDF). Asia Research Institute Working Paper Series (161).
  115. ^ Lu 2008, hlm.ย 35.
  116. ^ Ting, Jen-Chieh. The Construction of Fundamentalism in I-Kuan Tao (PDF). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  117. ^ Broy, Nikolas (2003). The Phoenix Perches in the Land of the Kami: Spirit-Writing from Yiguandao to Tendล. Brill. hlm.ย 444โ€“483. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  118. ^ Lu 2008, hlm.ย 95.
  119. ^ Lu 2008, hlm.ย 100.
  120. ^ a b Lu 2008, hlm.ย 101.
  121. ^ Lu 2008, hlm.ย 32.
  122. ^ "้“่ฆช". ๅ…งๆ”ฟ้ƒจๅ…จๅœ‹ๅฎ—ๆ•™่ณ‡่จŠ็ถฒ. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-16. Diakses tanggal 2024-10-31. ;
  123. ^ Lin, Yu-sheng (Yiguan Dao and Buddhism in Thailand). Yiguan Dao and Buddhism in Thailand. Kyoto: Kyoto University. hlm.ย 111โ€“112. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  124. ^ ็พŽๅœ‹ไน‹้Ÿณ. "ๅฏนๆฏ”ๆ–ฐ้—ป๏ผšไธ€่ดฏ้“ๅœจไธญๅ›ฝ". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-23. Diakses tanggal 2010-06-24.
  125. ^ ๆž—ๆฆฎๆพค (2014-06). "ไธ€่ฒซ้“็ ”็ฉถๆ–‡็ปๆฆ‚่ฟฐ". ไธ€่ฒซ้“็ ”็ฉถ (dalam bahasa Chinese (Taiwan)) (3). ๅ—ๆŠ•็ธฃ,ๅŸ”้‡Œ้Žฎ: ไธ€่ฒซ้“ๅด‡ๅพทๅญธ้™ข: 36โ€“64. ISSNย 2226-2652.
  126. ^ Lu 2008, hlm.ย 5.
  127. ^ Lu 2008, hlm.ย 121.
  128. ^ a b "ไธ€่ฒซ้“็พๆณ็™ผๅฑ•". ็™ฝ้™ฝ่–ๅปŸ. Diakses tanggal 2024-11-21.
  129. ^ a b "ไธ€่ฒซ้“ๅ„็ต„็ทš็ฐกไป‹". ็™ฝ้™ฝ่–ๅปŸ. Diakses tanggal 2024-11-21.
  130. ^ Lu 2008, hlm.ย 38-39.
  131. ^ a b Billioud 2022, hlm.ย 223.
  132. ^ Billioud 2022, hlm.ย 224.
  133. ^ a b c Billioud 2022, hlm.ย 226.
  134. ^ a b Billioud 2022, hlm.ย 225.
  135. ^ Billioud 2022, hlm.ย 220.
  136. ^ Billioud 2022, hlm.ย 229.
  137. ^ Billioud 2022, hlm.ย 232.
  138. ^ a b c Billioud 2022, hlm.ย 233.
  139. ^ "Munas Majelis Agama Buddha I Kuan Tao Indonesia". Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI. Diakses tanggal 2022-11-21.

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Aliran Maitreya

Maitreya dapat merujuk pada beberapa agama atau kepercayaan: Maitreyanisme Ikuanisme atau I Kuan Tao Mile Dadao Semua halaman dengan maitreya Semua halaman

Agama di Indonesia

yang sinkretis dengan kepercayaan Tiongkok, yaini Tridharma dan juga Ikuanisme (Maytreya). Menurut sensus nasional tahun 2000, kurang lebih dari 2% dari

Daftar gerakan agama baru

Baru Huna Max Freedom Long 1936 Pemikiran Baru, Zaman Baru, Agama Hawaii Ikuanisme (I Kuan Tao) Wang Jueyi; Chang Thien Ran akhir abad ke-19 Kepercayaan