Artikel ini dilindungi.

Aksara Sunda Baku
ᮃᮊ᮪ᮞᮛ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮊᮥ
أَكْسَارَا سُونْدَا بَاكُو
Kata "Aksara Sunda" menggunakan aksara Sunda.
Jenis aksara
Diciptakan16 Juni 1999
Disiarkan
April 2008
Periode
ca (sekitar) abad ke-14–18 (seperti aksara Sunda kuno)
1999 hingga sekarang (seperti aksara Sunda)
StatusAktif di-digitalisasi
Aksara resmiAksara Sunda
DaerahJawa Barat, Banten, sebagian Jawa Tengah
Arah penulisanKiri ke kanan
Aksara terkait
Silsilah
*Hieroglif Mesir
Aksara kerabat
Bali
Batak
Baybayin
Bugis
Incung
Jawa
Lampung
Makassar
Sunda
Ulu
ISO 15924
ISO 15924Sund, 362 Sunting ini di Wikidata, ​Sunda
Pengkodean Unicode
Nama Unicode
Sundanese
U+1B80–U+1BBF
U+1CC0–U+1CCF
Informasi tambahan mengenai aksara Sunda ada di [sini] (dalam bahasa Inggris).
 Artikel ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFI). Untuk bantuan dalam membaca simbol AFI, lihat Bantuan:Pengucapan. Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan  , Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi.
Bagian dari artikel tentang
Aksara yang digunakan di Indonesia
Abugida (Brahmik)
Abjad
Alfabet
Lainnya
Terkait

Aksara Sunda Baku (ᮃᮊ᮪ᮞᮛ  ᮞᮥᮔ᮪ᮓ  ᮘᮊᮥ) merupakan sistem penulisan tradisional yang digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda kontemporer. Aksara ini merupakan hasil penyesuaian dari Aksara Sunda Kuno, yang digunakan di wilayah Sunda sejak sekitar abad ke-14 hingga abad ke-18. Saat ini, Aksara Sunda Baku lazim disebut sebagai Aksara Sunda.[1] Karena susunan aksara konsonannya yang diawali dengan pola "ka-ga-nga", aksara ini sering keliru diidentifikasi sebagai Aksara Kaganga (Surat Ulu), yaitu kelompok aksara tradisional yang berkembang di wilayah Sumatera bagian selatan dan Bengkulu.

Sejarah

sunting
Perbandingan aksara Kawi, aksara Sunda kuno, dan aksara Sunda baku
Sebuah Prasasti Ciaruteun dengan ukiran tulisan beraksara Pallawa di kawasan perkebunan Semplak, Buitenzorg atau sekarang Bogor.
Dokumentasi Prasasti Ciaruteun beraksara Pallawa di perkebunan Semplak, Buitenzorg (Bogor)

Aksara Sunda merupakan sistem tulisan yang berkembang dan digunakan oleh masyarakat Sunda di wilayah Jawa bagian barat. Tradisi tulis masyarakat Sunda telah dikenal sejak sekitar abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, yang dibuktikan melalui sejumlah prasasti beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Tradisi tersebut kemudian berkembang hingga melahirkan bentuk aksara khas Sunda yang dikenal sebagai Aksara Sunda Kuno, yang sebagian besar telah dibahas oleh Kern (1917) dalam karyanya yang berjudul Verspreide Geschriften: Inscripties van den Indischen Archipel.[2]

Sebuah batu prasasti berwarna abu-abu gelap dengan permukaan agak kasar dan bentuk tidak beraturan. Pada bagian depannya terdapat ukiran aksara Sunda Kuno yang tersusun dalam beberapa baris. Batu prasasti ditempatkan di area terbuka.
Prasasti Kawali 1 yang menggunakan Aksara Sunda Kawali.
Lempeng tembaga Prasasti Kebantenan dengan tulisan Aksara Sunda Kuno gaya Kawali.
Prasasti Kebantenan beraksara Sunda Kuno gaya Kawali.
Halaman naskah Wirid Nur Muhammad yang ditulis dengan Aksara Sunda Kuno gaya Ratu Pakuan.
Naskah Wirid Nur Muhammad beraksara Sunda Kuno gaya Ratu Pakuan
Contoh tulisan Aksara Sunda Kuno dengan gaya Ratu Pakuan.
Aksara Sunda Kuno bergaya Ratu Pakuan.

Aksara Sunda Kuno diperkirakan digunakan sejak abad ke-14 hingga abad ke-18 untuk menuliskan bahasa Sunda Kuno dalam prasasti, naskah lontar, serta dokumen keagamaan dan kesusastraan. Beberapa bukti penggunaan aksara ini dapat ditemukan pada Prasasti Kawali di Kawali, Ciamis, serta Prasasti Kebantenan di Bogor. Secara paleografis, Aksara Sunda Kuno merupakan hasil perkembangan dari aksara turunan Pallawa yang juga berkaitan dengan aksara Kawi.

Halaman kitab hukum Hindia Belanda berbahasa Sunda yang ditulis menggunakan aksara Cacarakan.
Kitab undang-undang Hindia Belanda dalam bahasa Sunda menggunakan Aksara Cacarakan.
Teks Yohanes 3:16 dalam bahasa Sunda yang ditulis menggunakan aksara Pegon.
Contoh penulisan bahasa Sunda menggunakan Aksara Pegon berupa teks Yohanes 3:16.
Contoh teks bahasa Sunda dialek Lelea dari Indramayu yang ditulis dengan huruf Latin.
Teks berbahasa Sunda Indramayu menggunakan aksara Latin.

Selain Aksara Sunda Kuno, masyarakat Sunda juga mengenal dan menggunakan beberapa sistem tulisan lain sesuai dengan perkembangan budaya dan pengaruh politik pada masanya. Aksara Pallawa digunakan pada masa awal pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara, sedangkan aksara Jawa dan Cacarakan mulai berkembang di Tatar Sunda setelah masuknya pengaruh budaya Jawa dan Islam. Di lingkungan pesantren, aksara Pegon digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda maupun bahasa Arab. Sementara itu, aksara Latin mulai digunakan secara luas sejak masa kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.

Penelitian terhadap prasasti dan naskah beraksara Sunda mulai dilakukan secara intensif pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 oleh sejumlah sarjana asing, seperti Karel Frederik Holle dan Cornelis Marinus Pleyte. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan oleh peneliti Indonesia, antara lain Atja dan Edi S. Ekadjati. Hasil penelitian tersebut berperan dalam meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan Aksara Sunda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda.[2]

Upaya pelestarian dan standardisasi Aksara Sunda mulai dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada akhir abad ke-20. Pada tahun 1996 diterbitkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Peraturan tersebut kemudian diperbarui melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 dan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014.[3]

Pada tanggal 21 Oktober 1997, diselenggarakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus Unpad, Jatinangor, yang merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Fakultas Sastra Unpad. Lokakarya tersebut menghasilkan rumusan aksara standar yang kemudian dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Berdasarkan hasil kajian tersebut, pada tanggal 16 Juni 1999 diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 434/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bentuk baku Aksara Sunda, yang kemudian dikenal sebagai Aksara Sunda Baku.

Penggunaan

sunting

Saat ini, Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas, antara lain melalui berbagai kegiatan kebudayaan daerah yang diselenggarakan di Bandung. Selain itu, aksara ini juga digunakan pada papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda serta Kantor Dinas Pariwisata Kota Bandung.

Pemerintah daerah di beberapa wilayah juga mulai mengadopsi penggunaan Aksara Sunda Baku. Pemerintah Kota Tasikmalaya, misalnya, telah menggunakan aksara ini pada papan nama jalan-jalan utama. Sementara itu, di Kota Bandung dan Kota Bogor, penggunaan bahasa Sunda dengan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan ditempatkan berdampingan dengan penulisan dalam bahasa Indonesia (alfabet Latin).[4][5][6]

Namun demikian, hingga akhir tahun 2008, pembelajaran Aksara Sunda Baku belum diwajibkan secara formal di sekolah oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, meskipun bahasa Sunda telah menjadi mata pelajaran wajib. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian aksara belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pendidikan formal.[7][8]

Sebagai perbandingan, beberapa daerah lain, seperti Provinsi Lampung dan Provinsi Jawa Tengah, telah lebih dulu mewajibkan pembelajaran aksara daerah bersamaan dengan bahasa daerah di tingkat sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi bahasa dan aksara dalam pendidikan formal dapat mempercepat pelestarian budaya tulis lokal. [9]

Dalam praktiknya, penerapan Aksara Sunda Baku di ruang publik masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait akurasi penulisan. Kesalahan penulisan pernah terjadi pada papan nama di depan Balai Kota Sukabumi yang menyebabkan perubahan makna dari "Balai Kota Sukabumi" menjadi "Nyala Kata Sukanyama". Kasus ini mendapat kritik dari pegiat budaya karena menunjukkan lemahnya validasi teknis dalam penggunaan aksara daerah.[10]

Menanggapi hal tersebut, pemerintah setempat kemudian melakukan perbaikan dengan mencopot dan memperbaiki penulisan aksara yang keliru. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kesalahan tersebut terjadi akibat hilangnya tanda diakritik (rarangkén) pada aksara, yang berdampak signifikan terhadap perubahan makna.[11]

Penggunaan, pemeliharaan, dan pengembangan bahasa, sastra, dan Aksara Sunda di Kota Bandung sendiri diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012. Regulasi ini menjadi landasan formal dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya Sunda, termasuk aksaranya.[12]

Bentuk

sunting

Aksara Sunda Baku terdiri atas 32 aksara dasar, yaitu 7 aksara swara (vokal mandiri) dan 23 aksara ngalagena (konsonan bervokal /a/). Aksara swara meliputi a, é, i, o, u, e, dan eu.

Aksara Swara (trapesium modern)
Pelafalan Depan Madya Belakang Gelungan Dental
Tertutup (Tinggi)

[i]
i


[u]
u
Setengah tertutup (Sedang)

[ɛ]
é


[ə]
e[1]


[ɤ]
eu[2]


[ɔ]
o[2]
Terbuka (Rendah)

[a]
a
Vokal silabis / historis

[r̩ɤ]
reu[3]


[l̩ɤ]
leu[3]
Catatan:

  • ^1 Vokal e [ə] (pepet) berada di tengah trapesium karena posisi lidahnya paling netral.
  • ^2 Vokal eu [ɤ] dan o [ɔ] sama-sama berada pada posisi sedang-belakang, tetapi eu merupakan vokal tidak bulat sedangkan o vokal bulat.
  • ^3 Vokal konsonan pangreureu reu [r̩ɤ] dan pangliwet leu [l̩ɤ] dari bahasa Sanskerta tidak dimasukkan ke dalam trapesium vokal karena keduanya merupakan konsonan silabis, bukan vokal murni. Contoh berturut-turut: kata reup (ᮻᮕ᮪), artinya "gelap, merem", dan kata leuwih (ᮼᮝᮤᮂ), artinya "jauh, lebih".

Sedangkan aksara ngalagena tersusun dalam kelompok ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, dan wa-sa-ha. Lima aksara ngalagena tambahan dimunculkan untuk merekam perkembangan bahasa Sunda, termasuk merepresentasikan bunyi serapan dari bahasa asing. Namun demikian, bentuk aksara tambahan tersebut bukan merupakan kreasi baru, melainkan hasil modifikasi dari aksara yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, aksara fa dan va merupakan modifikasi dari aksara pa; aksara qa dan xa merupakan modifikasi dari aksara ka; sedangkan aksara za merupakan modifikasi dari aksara ja. Dua aksara tambahan lainnya, yaitu kha dan sya, digunakan untuk melambangkan fonem yang berasal dari abjad Arab خ dan ش.

Aksara Ngalagena (dengan huruf serapan)
Tempat pelafalan Nirsuara Bersuara Sengauan Semivokal Tril Lateral Sibilan Celah-suara
Nirhembus Berhembus Nirhembus Berhembus
Lelangit-belakang

[ka]
ka


[kʷa]
qa[4]


[xa]
kha[8]


[ga]
ga


[ŋa]
nga[1]


[ha]
ha
Lelangit

[tʃa]
ca


[dʒa]
ja


[za]
za[5]


[ɲa]
nya[2]


[ja]
ya


[ʃa]
sya[9]
Gelungan

[da]
[t̪̚a] (akhir)
da


[ra]
ra


[la]
la


[sa]
sa


[kˈsa]
xa[7]
Gigi

[t̪a]
[t̪̚a] (akhir)
ta


[n̪a]
na
Gigi-bibir

[fa]
fa


[va]
va[6]
Bibir

[pa]
pa


[ba]
ba


[bʰa]
bha[3]


[ma]
ma


[wa]
wa
Catatan:

  • ^1 fonem /nga/ [ŋa], misal kata ngagugu (ᮍᮌᮥᮌᮥ) artinya nurut kepada orang tua.
  • ^2 fonem /nya/ [ɲa], misal kata nyanggakeun (ᮑᮀᮌᮊᮩᮔ᮪) artinya mempersembahkan.
  • ^3 fonem /bha/ [bʰa] berasal dari aksara Sunda kuno untuk penggunaan bahasa Sanskerta dan sudah tidak digunakan lagi dalam pemakaian modern. Masih diperdebatkan apakah ini dibaca /bha/ atau sebenarnya huruf vokal /i/ [i] kuno.
  • Huruf yang berasal dari kata serapan asing:
    • ^4 fonem /qa/ dibaca sama seperti /kwa/ [kʷa]; misal Qur'an dibaca [kur.an].
    • ^5 fonem /za/:
      • Di awal/tengah kata: dibaca /z/ [z]; misalnya Zendaya dibaca [zɛnˈdeɪ.ə].
      • Di akhir kata: dibaca /s/ [s]; misalnya hafiz dibaca hapis [ha.pis].
    • ^6 fonem /fa/ [fa] dan /v/ [va] biasanya disesuaikan menjadi /pa/ [pa]; misalnya faedah → paedah [pa.ɛ.dah], vitamin → pitamin [pi.ta.min], dan Vespapespa [pɛs.pa].
    • ^7 fonem /xa/:
      • Di awal kata: [sa]; misalnya xenon dibaca [sɛ.non].
      • Di akhir kata: /ks/ [k] dan [s]; misalnya fax dibaca [pakˈs] atau [pak], x-ray dibaca [ɛks.rɛi], atau Oxford dibaca [ɔksˈpɔrt].
  • Huruf berikut digunakan dalam lingkungan pesantren:
    • ^8 fonem /kha/ [xa] berasal dari huruf serapan Arab (خ); misalnya khotbah dibaca [xot.bah].
    • ^9 fonem /sya/ [ʃa] berasal dari huruf serapan Arab (ش); misalnya syahid dibaca [ʃa.hid].

Aksara ini juga memiliki rarangkén, yaitu tanda diakritik yang berfungsi untuk mengubah atau menambahkan bunyi serta menghilangkan rarangkén (pamaéh) pada aksara dasar. Tiga belas rarangkén tersebut, berdasarkan posisinya, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) lima rarangkén di atas huruf, (2) tiga rarangkén di bawah huruf, dan (3) lima rarangkén sejajar dengan huruf. Untuk menuliskan angka atau bilangan, aksara ini memiliki 10 angka dasar, yaitu dari 0 sampai 9.

Dari segi bentuk, huruf ngalagena dan rarangkén memiliki sudut 45°–75°. Umumnya, perbandingan dimensi huruf (tinggi:lebar) adalah 4:4, kecuali untuk huruf ra (4:3), ba dan nya (4:6), serta aksara swara i (4:3). Rarangkén memiliki perbandingan dimensi 2:2, kecuali panyecek (1:1), panglayar (4:2), panyakra (2:4), pamaéh (4:2) dan pamingkal (2:4 pada sisi bawah, 3:2 pada sisi kanan). Angka memiliki perbandingan dimensi 4:4, kecuali angka 4 dan 5 yang berukuran 4:3.

Aksara Swara

sunting
Diagram atau tampilan visual aksara swara dalam Aksara Sunda Baku.
Representasi grafis aksara swara dalam Aksara Sunda Baku.
Aksara Swara (deret modern)
Artikulasi Huruf IPA Latin Kategori
Vokal
[a] a[1] Vokal dasar

[ɛ] é[2] Vokal dasar

[i] i[3] Vokal dasar

[ɔ] o[4] Vokal dasar

[u] u[5] Vokal dasar

[ə] e[6] Vokal dasar

[ɤ] eu[7] Vokal dasar
Vokal silabis / historis
[r̩ɤ] reu[8] Historis

[l̩ɤ] leu[9] Historis
Catatan:

^1 baca seperti bapa [bapa].
^2 baca seperti éta [ɛta].
^3 baca seperti imah [imah].
^4 baca seperti oray [ɔray].
^5 baca seperti ucing [ucing].
^6 baca seperti bener [bənər].
^7 baca seperti keur [kɤr].
^8 karakter historis; nilai bunyi: [r̩].
^9 karakter historis; nilai bunyi: [l̩].

Aksara Ngalagena

sunting
Diagram atau tampilan visual huruf-huruf ngalagena dalam Aksara Sunda Baku.
Representasi grafis aksara ngalagena dalam Aksara Sunda Baku.
Aksara Ngalagena (deret modern)
Pola deret ka-ga-nga ka ga nga ca ja nya






ta da na pa ba ma






ya ra la wa sa ha






Serapan asing fa va qa xa za





Serapan Arab kha sya


Rarangkén

sunting

Berdasarkan letak penulisannya, 13+5 Rarangkén dikelompokkan sebagai berikut:

  • Rarangkén di atas huruf = 5 macam
Rarangkén di atas huruf
Rarangkén Keterangan

᮰ᮤ
Panghulu, merubah vokal dari [a] menjadi [i].
Contoh: = ka → ᮊᮤ = ki

᮰ᮨ
Pamepet, merubah vokal dari [a] menjadi [ə].
Contoh: = ka → ᮊᮨ = ke

᮰ᮩ
Paneuleung, merubah vokal dari [a] menjadi [ɤ].
Contoh: = ka → ᮊᮩ = keu

᮰ᮁ
Panglayar, menambah konsonan [r] pada akhir suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮁ = kar

᮰ᮀ
Panyecek, menambah konsonan [ŋ] pada akhir suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮀ = kang
  • Rarangkén di bawah huruf = 3+2[kuno] macam
Rarangkén di bawah huruf
Rarangkén Keterangan

᮰ᮥ
Panyuku, merubah vokal dari [a] menjadi [u].
Contoh: = ka → ᮊᮥ = ku

᮰ᮢ
Panyakra, menambah konsonan [r] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮢ = kra

᮰ᮣ
Panyiku, menambah konsonan [l] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮣ = kla

᮰ᮬ
Pamintel[kuno], menambah konsosnan [m] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮬ = kma; Misalnya: sukma → ᮞᮥᮊᮬ

᮰ᮭ
Papasangan[kuno], menambah konsosnan [w] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮭ = kwa; Misalnya: dwi → ᮓᮭᮤ
Catatan:

(perlu rujukan terhadap nama pasangan kuno ini).

  • Rarangkén sejajar dengan huruf = 5+3[kuno] macam
Rarangkén sejajar dengan huruf
Rarangkén Keterangan

ᮦ᮰
Panéléng, merubah vokal dari [ɑ] menjadi [ɛ].
Contoh: = ka → ᮊᮦ = ké

᮰ᮧ
Panolong, merubah vokal dari [ɑ] menjadi [ɔ].
Contoh: = ka → ᮊᮧ = ko

᮰ᮡ
Pamingkal, menambah konsonan [j] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮡ = kya

᮰ᮂ
Pangwisad, menambah konsonan [h] di akhir suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮂ = kah

᮰᮪
Pamaéh atau patén, meniadakan vokal (∅) pada suku kata.
Contoh: = ka → ᮊ᮪ = k

Avagraha[kuno], adalah tanda yang berfungsi memisahkan bunyi vokal dari huruf tanpa pamaéh.
Contoh: = ka → ᮊᮺ = k'a; Misal: ᮃᮜᮥᮔᮺᮌᮩᮀ : Alun'ageung (tanpa spasi)

Tanda[kuno] ini berfungsi menambah konsonan [k] di akhir suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮾ = kak

ᮿ
Tanda[kuno] ini berfungsi menambah konsonan [m] di akhir suku kata.
Contoh: = ka → ᮊᮿ = kam
Catatan:

(perlu rujukan terhadap tanda kuno ini).

Angka Sunda

sunting
Angka Sunda Angka Arab Bahasa Sunda Bahasa Indonesia

0 ᮈᮔᮧᮜ᮪
Enol
Nol

1 ᮠᮤᮏᮤ
Hiji
Satu

2 ᮓᮥᮃ
Dua
Dua

3 ᮒᮤᮜᮥ
Tilu
Tiga

4 ᮇᮕᮒ᮪
Opat
Empat

5 ᮜᮤᮙ
Lima
Lima

6 ᮌᮨᮔᮨᮕ᮪
Genep
Enam

7 ᮒᮥᮏᮥᮠ᮪
Tujuh
Tujuh

8 ᮓᮜᮕᮔ᮪
Dalapan
Delapan

9 ᮞᮜᮕᮔ᮪
Salapan
Sembilan

Dalam teks, angka diapit oleh dua tanda pipa ( || ).

  • Misalnya:
    • Angka tahun penetapan rumusan Aksara Sunda Baku: |᮱᮹᮹᮹| = 1999
    • Angka tanggal Indonesia merdeka: |᮱᮷-᮰᮸-᮱᮹᮴᮵| = 17-08-1945
    • Hargana (harganya) 2000 Rupiah : ᮠᮁᮌᮔ |᮲᮰᮰᮰| ᮛᮥᮕᮤᮃᮂ
    • Ayeuna jam 7.20 wengi (Sekarang pukul tujuh lebih dua puluh menit): ᮃᮚᮩᮔ ᮏᮙ᮪ |᮷.᮲᮰| ᮝᮨᮍᮤ

Tanda baca

sunting

Pada masa kini, Aksara Sunda Baku menggunakan tanda baca yang diadopsi dari sistem tata tulis Latin, seperti koma ( , ), titik ( . ), titik koma ( ; ), titik dua ( : ), tanda seru ( ! ), tanda tanya ( ? ), tanda kutip ( "…" ), tanda kurung ( (…) ), dan tanda kurung siku ( […] ). Namun, Aksara Sunda Kuno memiliki tanda baca tersendiri yang disebut bindu.

Dalam sistem lama, bindu surya yang menggambarkan matahari ⟨⟩ digunakan pada ⟨᳆᳀᳆⟩, sedangkan bindu panglong yang menggambarkan bulan separuh ⟨⟩ digunakan pada ⟨᳆᳁᳆⟩. Kedua tanda tersebut berfungsi untuk menandai naskah yang bernilai religius, termasuk ba satanga᳇᳇⟩ Adapun bindu purnama yang menggambarkan bulan purnama ⟨⟩ digunakan pada ⟨᳅᳂᳅⟩ untuk menandai naskah sejarah. Bindu cakra⟩ umumnya dipakai sebagai tanda koma; dalam beberapa konteks, bindu purnama juga dapat berfungsi sebagai koma ketika bindu surya dipakai sebagai penutup.

Selain itu, terdapat bindu leu satanga⟩ dari aksara ⟨⟩, bindu ka satanga⟩, bindu da satanga⟩, dan bindu ba satanga⟩. Dari keempatnya, makna semantis bindu leu satanga masih belum jelas[13], sedangkan tiga lainnya merupakan bentuk dekoratif yang berasal dari aksara dasar yang bersangkutan.

Penggunaan pasangan

sunting
Contoh tulisan kata “Sunda” menggunakan gabungan aksara dalam Aksara Sunda Kuno.
Contoh penggunaan pasangan (gabungan dua aksara) dalam Aksara Sunda Kuno dengan teks berbunyi “Sunda”

Kata atau kalimat sederhana dalam Aksara Sunda Baku dapat ditulis secara langsung dengan menyusun aksara ngalagena yang mewakili bunyi dasar. Namun, pada kata tertentu dapat ditemukan gugus konsonan. Dalam hal ini, terdapat dua cara penulisan, yaitu menggunakan pamaéh atau pasangan.

Penggunaan pamaéh merupakan cara dasar untuk menghilangkan vokal inheren /a/ pada aksara ngalagena. Sementara itu, pasangan digunakan untuk menghindari penggunaan pamaéh di tengah kata serta untuk menghemat ruang penulisan. Bentuk pasangan ditulis dengan melekatan aksara ngalagena kedua pada aksara sebelumnya, sehingga vokal /a/ pada aksara pertama dihilangkan.

Unicode

sunting

Aksara Sunda ditambahkan ke dalam standar Unicode pada April 2008 melalui perilisan Unicode versi 5.1. Penambahan ini memungkinkan Aksara Sunda digunakan secara lebih luas pada perangkat digital, termasuk komputer, telepon genggam, dna media elektronik lainnya.

Blok Unicode untuk Aksara Sunda mencakup aksara dasar, rarangkén, angka, serta berbagai tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan Sunda modern. Dukungan digital tersebut turut mendukung upaya pelestarian dan pengembangan Aksara Sunda di era teknologi informasi, terutama dalam bidang pendidikan, penerbitan, tipografi, dan komunikasi digital.

Pada Unicode versi 6.3, dukungan tambahan untuk bentuk pasangan serta beberapa karakter dari aksara Sunda Kuno juga diperkenalkan. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan kelengkapan representasi aksara Sunda dalam sistem Unicode, termasuk untuk kebutuhan penulisan naskah historis dan kajian filologis.

Saat ini, Aksara Sunda telah didukung ileh berbagai jenis huruf digital (font) dan dapat digunakan pada sejumlah sistem operasi serta aplikasi yang mendukung standar Unicode.

Blok

sunting

Blok Unicode untuk Aksara Sunda terletak pada rentang kode U+1B80–U+1BBF. Blok ini mencakup aksara dasar, rarangkén, angka, serta berbagai tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan Aksara Sunda modern.

Selain itu, Unicode juga menyediakan blok tambahan untuk Aksara Sunda pada rentang U+1CC0–U+1CCF. Blok tambahan ini memuat sejumlah karakter pelengkap yang digunakan dalam penulisan dan kajian naskah Sunda kuno.

Sundanese[1]
Official Unicode Consortium code chart (PDF)
  0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F
U+1B8x
U+1B9x
U+1BAx  ᮫ 
U+1BBx ᮿ
Catatan
1.^ Sejak versi Unicode 16.0
Sundanese Supplement[1][2]
Official Unicode Consortium code chart (PDF)
  0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F
U+1CCx
Catatan
1.^ Sejak versi Unicode 16.0
2.^ Area abu-abu menunjukkan titik kode kosong

Contoh

sunting
Teks Pupuh Ladrang berbahasa Sunda yang ditulis menggunakan Aksara Sunda.
Pupuh Ladrang dalam bahasa Sunda menggunakan Aksara Sunda.

ᮜᮓᮢᮀ

ᮃᮚ ᮠᮤᮏᮤ ᮛᮥᮕ ᮞᮒᮧ ᮜᮩᮒᮤᮊ᮪,

ᮆᮀᮊᮀ-ᮆᮀᮊᮀ, ᮆᮀᮊᮀ-ᮆᮀᮊᮀ,

ᮞᮧᮊ᮪ ᮜᮥᮜᮥᮙ᮪ᮕᮒᮔ᮪ ᮓᮤ ᮎᮄ,

ᮃᮛᮤ ᮘᮍᮥᮔ᮪ ᮃᮛᮦᮊ᮪ ᮞᮛᮥᮕ ᮏᮀ ᮜᮔ᮪ᮎᮂ.

Ladrang

Aya hiji rupa sato leutik,

Éngkang-éngkang, éngkang-éngkang,

Sok lulumpatan di cai,

Ari bangun arék sarupa jang lancah.

Teks Pupuh Asmarandana berbahasa Sunda yang ditulis menggunakan Aksara Sunda.
Pupuh Asmarandana dalam bahasa Sunda menggunakan Aksara Sunda.

ᮃᮞᮬᮛᮔ᮪ᮓᮔ

ᮆᮜᮤᮀ ᮆᮜᮤᮀ ᮙᮀᮊ ᮆᮜᮤᮀ,

ᮛᮥᮙᮤᮀᮊᮀ ᮓᮤ ᮘᮥᮙᮤ ᮃᮜᮙ᮪,

ᮓᮁᮙ ᮝᮝᮚᮍᮔ᮪ ᮘᮆ,

ᮛᮌ ᮒᮚ ᮕᮍᮝᮞ,

ᮜᮙᮥᮔ᮪ ᮊᮞᮞᮁ ᮜᮙ᮪ᮕᮂ,

ᮔᮕ᮪ᮞᮥ ᮔᮥ ᮙᮒᮊ᮪ ᮊᮓᮥᮠᮥᮀ,

ᮘᮓᮔ᮪ ᮃᮔᮥ ᮊᮒᮨᮙ᮪ᮕᮥᮠᮔ᮪.

Asmarandana

Éling éling mangka éling,

Rumingkang di bumi alam,

Darma wawayangan baé,

Raga taya pangawasa,

Lamun kasasar lampah,

Napsu nu matak kaduhung,

Badan anu katempuhan.

UDHR Pasal 1:

ᮞᮊᮥᮙ᮪ᮔ ᮏᮜᮬ ᮌᮥᮘᮢᮌ᮪ ᮊ ᮃᮜᮙ᮪ ᮓᮥᮑ ᮒᮦᮂ ᮞᮤᮕᮒ᮪ᮔ ᮙᮨᮁᮓᮤᮊ ᮏᮩᮀ ᮘᮧᮌ ᮙᮁᮒᮘᮒ᮪ ᮊᮒᮥᮒ᮪ ᮠᮊ᮪-ᮠᮊ᮪ ᮃᮔᮥ ᮞᮛᮥᮃ. ᮙᮛᮔᮦᮂᮔ ᮓᮤᮘᮦᮛᮦ ᮃᮊᮜ᮪ ᮏᮩᮀ ᮠᮒᮦ ᮔᮥᮛᮔᮤ, ᮎᮙ᮪ᮕᮥᮁ-ᮌᮅᮜ᮪ ᮏᮩᮀ ᮞᮞᮙᮔ ᮃᮚ ᮓᮤᮔ ᮞᮥᮙᮍᮨᮒ᮪ ᮓᮥᮓᮥᮜᮥᮛᮔ᮪.

Sakumna jalma gubrag ka alam dunya téh sipatna merdika jeung boga martabat katut hak-hak anu sarua. Maranéhna dibéré akal jeung haté nurani, campur-gaul jeung sasamana aya dina sumanget duduluran.

Galeri

sunting
Contoh-contoh penggunaan aksara Sunda baku

Dalam budaya populer

sunting

Aksara Sunda bisa ditemui dalam film dan permainan DreadOut.[14][15]

Lihat pula

sunting

Rujukan

sunting
  1. ^ "Sundanese script". omniglot.com. Diakses tanggal 2026-05-07.
  2. ^ a b "Asal Usul Aksara Sunda: Identitas Budaya di Abad Lampau yang Sempat Dilarang Penjajah". m.caping.co.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
  3. ^ "Perda Provinsi Jawa Barat No. 14 Tahun 2014". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-11-27. Diakses tanggal 16-01-2023. ;
  4. ^ "Nama Jalan di Bogor Ditulis Dengan Aksara Sunda". Poskota News (dalam bahasa Inggris). 2012-11-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-14. Diakses tanggal 2019-07-14.
  5. ^ dra. "Terkait Papan Nama Jalan Beraksara Sunda, DBMP Punya Dua Opsi". Tribunnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-14. Diakses tanggal 2019-07-14.
  6. ^ Abdussalam, Muhamad Syarif. "Sukarno Jadi Soekarno, Satu Contoh Salah Papan Nama Jalan Beraksara Sunda". Tribunnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-14. Diakses tanggal 2019-07-14.
  7. ^ "Translate Aksara Sunda (ᮝᮧᮝ᮪) | GoOnlineTools". Diakses tanggal 2025-06-16.
  8. ^ online, inilah (2018-07-11). "Disparbud Gairahkan Kembali Aksara Sunda". Inilah Online. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
  9. ^ Hanan, Shofira (2017-02-24). "Bahasa Sunda Punah Tahun 2026? - Pikiran-Rakyat.com". www.pikiran-rakyat.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
  10. ^ "Sempat Jadi Sorotan, Tulisan Aksara Sunda Baku di Balai Kota Sukabumi Akhirnya Dicopot dan Diperbaiki". suara.com. 2022-11-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-04. Diakses tanggal 2022-12-04.
  11. ^ "Sempat Jadi Sorotan, Tulisan Aksara Sunda Baku di Balai Kota Sukabumi Akhirnya Dicopot dan Diperbaiki". suara.com. 2022-11-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-04. Diakses tanggal 2022-12-04.
  12. ^ "PERDA Kota Bandung No. 9 Tahun 2012 tentang Penggunaan, Pemeliharaan Dan Pengembangan Bahasa, Sastradan Aksara Sunda [JDIH BPK RI]". peraturan.bpk.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
  13. ^ EVERSON, Michael. Proposal untuk pengkodean karakter tambahan Aksara Sunda untuk Aksara Sunda Kuno dalam UCS. Tersedia di sini (dalam bahasa Inggris). 5 September 2009.
  14. ^ Digdo, Ikhsan (2019-01-03). "Film Dread Out". MerahPutih. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-03-15.
  15. ^ Yanuar, Elang Riki (2019-01-03). "Bintangi Film Dread Out, Jefri Nichol Sempat Terkendala Berbahasa Sunda". Medcom.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-03-15.

Sumber

sunting
  • Juniarso Ridwan: Perda Kebudayaan yang Terkesan Chauvinistik, Pikiran Rakyat 4 Desember 2003.
  • Tedi Permadi: Aksara Sunda dan Soal Lainnya, Pikiran Rakyat 15 Februari 2004.
  • Atep Kurnia: Jasa Tuan Hola Buat Sunda, Kompas (Edisi Jawa Barat) 10 November 2007.
  • Djasepudin: Memasyarakatkan Aksara Sunda, Kompas (Edisi Jawa Barat) 07 April 2007.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Aksara Kawi

istilah alternatif seperti “Quadrate Old Javanese,” “Bold Semi-cursive Script of West Java,” dan “Old (West) Javanese Quadratic.” Penggunaan aksara Kawi

Aksara Lontara

Press Leiden: 57–58. J. Noorduyn (1993). Variation in the Bugis/Makasarese script In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Manuscripts of Indonesia

Alfabet Yunani

romawi Suara (fonetik) Pierre Swiggers, Transmission of the Phoenician Script to the West, in Daniels and Bright, The World's Writing Systems, 1996 The

Aksara Sunda Kuno

Library) (Inggris) Nugraha, Dian Tresna, 2008. Aksara Sunda: Sundanese Script and Writing System Diarsipkan 2014-11-29 di Wayback Machine. Aksara Nusantara

Alfabet Latin

memiliki media mengenai Latin alphabet. Jensen, Hans (1970). Sign Symbol and Script. London: George Allen and Unwin Ltd. ISBN 0-04-400021-9.. Transl. of Jensen

Aksara Geʽez

system of Ethiopia (2001) website with lessons on how to write the Ge’ez script omniglot.com ancientscripts.com Chart correlating IPA values for the Amharic

Aksara Bali

Use of The Balinese Script" (PDF). ISO/IEC JTC1/SC2/WG2 (L2/03-118): 6-9. Fox, Richard (2018). More Than Words: Transforming Script, Agency, and Collective

Abjad Arab

Arabic in Windows, major word processors and web browsers Learn the Arabic Script Online Madinaharabic.com: Free Arabic Reading and Language Course (with