Injil Yohanes
Yohanes 18:31โ€“33 yang dituliskan pada Papirus 52 (recto; caโ€‰150 M).[1] P52 dipamerkan di Perpustakaan John Rylands di Manchester, Inggris.
Informasi
AgamaKristen
PenulisSecara tradisional Yohanes sang Rasul
BahasaYunani Koine
Periode90-100 M
Bab atau Surah21
Ayat879

Injil Yohanes[a] adalah Injil keempat dalam rangkaian empat Injil kanonik dalam Perjanjian Baru. Kitab ini berisi uraian yang sangat skematis mengenai pelayanan Yesus, dengan tujuh "tanda" yang berpuncak pada Yesus membangkitkan Lazarus (bayang-bayang dari kebangkitan Yesus) dan tujuh diskursus "Akulah" (yang berkaitan dengan perdebatan antara gereja dan sinagoge pada saat kitab itu ditulis)[4] berpuncak pada pernyataan Tomas mengenai Yesus yang sudah bangkit sebagai "Tuhanku dan Allahku".[5] Ayat kesimpulan dari pasal kedua terakhir menjelaskan tujuan kitab ini dituliskan, "supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya."[6][7]

Injil Yohanes dituliskan antara tahun 90โ€“100 M.[8][9] Seperti tiga Injil lainnya, Injil Yohanes bersifat anonim, meskipun Injil ini menyebutkan "murid yang dikasihi Yesus" yang tidak disebutkan namanya sebagai sumber tradisinya dan kemungkinan besar penulisnya.[10][11][12] Kesarjanaan abad ke-20 menafsirkan Injil ini dalam paradigma sebuah "komunitas Yohanes",[13][14][15] tetapi hal ini semakin banyak dipertanyakan di abad ke-21,[16] dan saat ini terdapat perdebatan yang signifikan mengenai konteks sosial, keagamaan, dan historis Injil ini.[17] Karena sangat terkait dalam gaya dan isinya dengan tiga surat-surat Yohanes, sebagian besar sarjana memperlakukan keempat buku tersebut, bersama Kitab Wahyu, sebagai kesatuan korpus kesusastraan Yohanes, meskipun bukan oleh penulis yang sama.[18]

Sebagian besar sarjana membagi Injil Yohanes menjadi empat bagian: sebuah pendahuluan (1:1โ€“18); sebuah riwayat pelayanan Yesus, sering disebut sebagai "Kitab Tanda-Tanda" (1:19โ€“12:50); riwayat malam terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya dan penderitaan dan kebangkitan (13:1โ€“20:31);[19] dan sebuah kesimpulan (20:30โ€“31), serta sebuah penutup (Pasal 21).[20] Injil ini dikenal atas pandangan Kristologinya yang tinggi.[21] Para sarjana umumnya memandang Injil Yohanes lebih tidak dapat diandalkan dibandingkan Injil-Injil Sinoptik, meskipun kesarjanaan terkini memiliki pandangan yang lebih positif mengenai historisitas Injil Yohanes.

Kepengarangan

sunting

Penulisan

sunting

Injil Yohanes secara tradisional diatribusikan sebagai karya Yohanes sang Rasul. Banyak sarjana modern yang masih mengakui atribusi tradisional tersebut,[22] tetapi Injil ini bersifat anonim secara internal, dan sebagian besar sarjana menolak hipotesis ini, atau hanya memegangnya secara sementara.[23][24][25] Yohanes 21:22[26] merujuk pada murid yang dikasihi Yesus dan Yohanes 21:24โ€“25[27] mengatakan: "Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar".[13] Sebagian besar sarjana percaya bahwa ayat-ayat tersebut mengeklaim bahwa murid yang dikasihi adalah penulis Injil tersebut, tetapi para sarjana lainnya berpendapat bahwa penulisnya sedang mengeklaim bahwa dirinya adalah orang lain yang merekam kesaksian sang murid.[28][b][29][c] Para sarjana Yohanes sepakat bahwa murid yang dikasihi merupakan figur historis yang benar-benar ada,[30] tetapi tidak ada konsensus mengenai siapa murid yang dikasihi itu.[31] Konsensus kesarjanaan menempatkan waktu penulisan Injil ini antara 90โ€“100 M.[9][8] Injil ini kemungkinan dituliskan di Efesus, sebagaimana dinyatakan orang Kristen abad kedua dan mayoritas sarjana modern.[32]

Kesarjanaan terkini cenderung untuk menentang asumsi mengenai adanya sumber-sumber hipotetis Injil Yohanes.[33] Meskipun beberapa sarjana mendukung gagasan-gagasan lama mengenai sumber-sumber yang diperdebatkan seperti "sumber tanda-tanda" dan "sumber perkataan-perkataan",[34] atau mengembangkan teori-teori baru, sebagian besar sarjana berpandangan bahwa Yohanes sebaliknya menggunakan tradisi sinoptik dalam tulisannya.[35] Penulis Injil Yohanes tampaknya mengetahui beberapa versi Injil Markus dan Injil Yohanes, karena Yohanes memiliki beberapa kosakata dan urutan serangkaian kejadian yang sama dengan Injil-Injil tersebut,[36][37] tetapi istilah-istilah utama dari Injil-Injil tersebut tidak ada, menyiratkan bahwa meskipun jika penulis mengetahui Injil-Injil tersebut ia merasa bebas untuk menyusun tulisannya secara mandiri.[37] Kitab-kitab suci Ibrani merupakan sumber yang penting,[38] dengan 14 kutipan langsung (versus 27 dalam Injil Markus, 54 dalam Injil Matius, 24 dalam Injil Lukas), dan pengaruh kitab-kitab tersebut meningkat secara drastis ketika alusio ikut diperhitungkan,[39] tetapi sebagian besar kutipan langsung Injil Yohanes tidak sepenuhnya sama dengan versi kitab suci Ibrani apa pun yang diketahui.[40] Meskipun penulis mungkin mengeklaim dirinya sebagai saksi mata dalam Yohanes 21, sebagian besar sarjana berpandangan bahwa bagian tersebut merupakan sebuah tambahan belakangan oleh penulis pasal 1-20 atau oleh seorang redaktur lainnya,[41] meskipun pandangan minoritas yang terus bertambah pendukungnya adalah bahwa pasal tersebut merupakan bagian dari teks yang paling awal.[42] Sang penulis juga mungkin mengeklaim sebagai saksi mata dalam Yohanes 19:35.[43][44] Sebagian besar sarjana sepakat bahwa keempat Injil bukanlah riwayat saksi mata langsung, meskipun hal ini sebagian merupakan akibat dari asumsi yang meragukan berdasarkan kritik bentuk.[45][46] Tom Thatcher mengemukakan bahwa meskipun murid yang dikasihi tidak menuliskan Injil ini dalam bentuknya yang sekarang, hal ini tidak berarti bahwa penulis harus direkonstruksi sebagai berada beberapa tahap atau generasi setelah murid tersebut. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa penulis Injil Yohanes merupakan rekan dari murid yang dikasihi, yang kemungkinan adalah seorang amanuensis atau seseorang yang menggunakan sumber yang lebih awal yang diatribusikan kepada murid tersebut tidak lama setelah kematiannya.[47] Renรฉ Kiefferย [sv] mencatat kemungkinan adanya edisi pertama yang kemudian disusul oleh edisi kedua.[48]

Latar: perdebatan komunitas Yohanes

sunting

Selama sebagian besar abad ke-20, para sarjana menafsirkan Injil Yohanes dalam paradigma "komunitas Yohanes" yang hipotetis,[15] artinya Injil Yohanes dipandang muncul dari komunitas Kristen akhir abad ke-1 yang dikucilkan dari sinagoge Yahudi (kemungkinan juga komunitas Yahudi)[49] atas kepercayaan mereka bahwa Yesus adalah mesias yang dijanjikan.[50] Penafsiran ini, yang melihat komunitas tersebut sebagai sebuah kelompok sektarian dan di luar dari Kekristenan awal arus utama, telah semakin banyak dipertanyakan dalam dekade pertama abad ke-21,[16] dan sekarang terdapat perdebatan yang cukup besar mengenai konteks sosial, keagamaan, dan historis dari Injil tersebut.[17]

Struktur dan isi

sunting

Yesus memberikan Diskursus Perpisahan kepada 11 muridnya yang tersisa, dari Maestร  di Duccio, 1308โ€“1311

Sebagian besar sarjana membagi Injil Yohanes menjadi empat bagian: sebuah pendahuluan (1:1โ€“18); sebuah riwayat pelayanan Yesus, sering disebut sebagai "Kitab Tanda-Tanda" (1:19โ€“12:50); riwayat malam terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya, serta penderitaan dan kebangkitan-Nya, yang terkadang disebut sebagai Kitab Kemuliaan atau Kitab Pengagungan (13:1โ€“20:31);[19] dan sebuah kesimpulan (20:30โ€“31); kemudian ditambahkan bagian penutup yang sebagian besar sarjana yakini merupakan tambahan belakangan oleh penulis pasal 1-20 atau oleh orang lain (Pasal 21).[20][51] Perdebatan pun ada; beberapa sarjana dalam jumlah yang terus bertambah, termasuk Bauckham, mengemukakan bahwa Yohanes 21 merupakan bagian dari karya orisinal.[52][42][53]

  • Bagian pendahuluan memberi tahu pembaca mengenai identitas Yesus yang sebenarnya, Firman Allah yang melaluinya dunia diciptakan dan yang mengambil bentuk manusia;[54] ia datang kepada orang-orang Yahudi dan mereka menolaknya, tetapi "semua orang yang menerima-Nya (orang-orang Kristen yang percaya) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya."[55]
  • Kitab Tanda-Tanda (pelayanan Yesus): Yesus memanggil murid-murid-Nya dan memulai pelayanannya di dunia.[56] Ia bepergian dari tempat ke tempat memberitakan kepada para pendengarnya mengenai Allah Bapa melalui diskursus-diskursus panjang, menawarkan hidup kekal kepada semua yang akan percaya, dan melakukan mukjizat yang membuktikan keaslian pengajarannya, yang membuat adanya ketegangan dengan pihak berwenang keagamaan (sudah tampak sejak Yohanes 5:17โ€“18), yang memutuskan bahwa Ia harus disingkirkan.[56][57]
  • Kitab Kemuliaan menceritakan kembalinya Yesus kepada Bapa surgawinya: kitab ini menceritakan bagaimana Ia mempersiapkan murid-murid-Nya untuk kehidupan mereka tanpa kehadiran-Nya secara jasmani, serta doa Yesus bagi diri-Nya sendiri dan bagi mereka, disusul oleh bagaimana Ia dikhianati, ditangkap, diadili, disalibkan, dan menampilkan diri pasca-kebangkitan.[57]
  • Bagian kesimpulan menyatakan tujuan Injil Yohanes dituliskan, yaitu "supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya."[6]
  • Pasal 21, bagian adendum, menceritakan bagaimana Yesus menampilkan diri di Galilea setelah kebangkitan-Nya, termasuk mukjizat penangkapan ikan, nubuatan mengenai penyaliban Petrus, dan nasib murid yang dikasihi.[6]

Strukturnya sangat skematis: terdapat tujuh "tanda" yang berpuncak pada Yesus membangkitkan Lazarus (bayang-bayang dari kebangkitan Yesus) dan tujuh perkataan "Akulah" dan diskursus yang berpuncak pada pernyataan Tomas mengenai Yesus yang sudah bangkit sebagai "Tuhanku dan Allahku" (gelar yang sama, dominus et deus, diklaim oleh Kaisar Domitianus, menunjukkan tanggal penulisannya).[5]

Teologi

sunting
Papirus P52 Perpustakaan Rylands adalah fragmen Perjanjian Baru tertua yang diketahui, diperkirakan berasal dari sekitar tahun 125โ€“175 M.[58]

Kristologi

sunting

Para sarjana sepakat bahwa meskipun Injil Yohanes dengan jelas menganggap Yesus sebagai ilahi, Injil ini juga dengan jelas menempatkannya sebagai lebih rendah (subordinat) dari Allah yang satu itu.[59] Joseph Ratzinger menyoroti kaitan Injil Yohanes dengan Perjanjian Lama,[60] sedangkan menurut James Dunn, Kristologi ini tidak menggambarkan sebuah hubungan yang subordinasionis tetapi sebaliknya menggambarkan otoritas dan keabsahan "pewahyuan" Sang Anak mengenai Sang Bapa, yaitu keberlanjutan antara Sang Bapa dan Sang Anak. Dunn melihat hal ini sebagai ditujukan untuk mendukung Kristologi Logos,[61] sedangkan lainnya (misalnya, Andrew Loke) melihatnya sebagai berhubungan dengan tema inkarnasi Yohanes.[62] James Barker mengemukakan bahwa aspek-aspek penting dari doktrin Tritunggal ada dalam Perjanjian Baru dan bahwa Tritunggal ekonomis "sudah ada dalam bentuk jadinya dalam Injil Yohanes."[63] Larry Hurtado berpendapat bahwa meskipun doktrin Tritunggal yang sudah berkembang tidak ada secara tersurat dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, kitab-kitab tersebut memiliki pengertian akan Allah yang triadik[64] dan berisi sejumlah rumusan Tritunggal.[65][66] "Kristologi tinggi" Yohanes menggambarkan Yesus sebagai ilahi dan berpraeksistensi, membela Yesus terhadap klaim-klaim Yahudi bahwa Ia "menyamakan diri-Nya dengan Allah",[67][21] dan berbicara terang-terangan mengenai peran ilahi-Nya dan menggemakan "Akulah Aku" Yahweh dengan tujuh deklarasi "Akulah"-Nya sendiri.[68][d] Pada saat yang sama ada sebuah penekanan, seperti dalam Injil Lukas, pada keberlanjutan jasmani tubuh kebangkitan Yesus karena Yesus berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."[76][77]

Logos

sunting

Di dalam bagian pendahuluannya, Injil Yohanes mengidentifikasi Yesus sebagai Sang Logos atau Firman. Dalam filsafat Yunani Kuno, istilah logos memiliki arti prinsip dari rasio kosmis.[78] Dalam artian ini, istilah logos mirip dengan konsep Ibrani mengenai Hikmat, pendamping dan penolong Allah dalam penciptaan.[79] Filsuf Yahudi Hellenistik, Philo, menggabungkan kedua tema ini ketika ia menjelaskan Sang Logos sebagai pencipta dan pengantara Allah dengan dunia materi. Menurut Stephen Harris, Injil Yohanes mengadaptasi penjelasan Philo mengenai Sang Logos, menerapkannya pada Yesus, inkarnasi dari Logos.[80]

Kemungkinan lainnya adalah bahwa gelar logos didasarkan pada konsep Firman ilahi yang ditemukan dalam Targum (terjemahan atau penafsiran dalam bahasa Aram yang diucapkan luar kepala di sinagoge setelah pembacaan Kitab Suci Ibrani). Di dalam Targum (yang semuanya dituliskan setelah abad pertama tetapi menunjukkan bukti bahwa mereka mempertahankan materi awal), konsep Firman ilahi digunakan dengan cara yang mirip dengan Philo, yaitu untuk interaksi Allah dengan dunia (dimulai dari penciptaan) dan khususnya dengan umat-Nya. Israel, contohnya, diselamatkan dari Mesir oleh perbuatan "Firman TUHAN", dan baik Philo maupun Targum membayangkan Firman sebagai terwujudkan di antara kerubim dengan Ruang Maha Kudus.[81]

Salib

sunting

Penggambaran kematian Yesus dalam Injil Yohanes berbeda dari Injil-Injil lainnya. Penggambaran tersebut tidak tampak bergantung pada jenis teologi penebusan yang melibatkan pengorbanan sebagai pengganti[82] melainkan kematian Yesus disajikan sebagai pemuliaan-Nya dan kembali-Nya kepada Bapa. Demikian pula, tiga "pemberitahuan penderitaan" dalam Injil-Injil Sinoptik[83] digantikan dengan tiga kali Yesus menjelaskan bagaimana Ia akan dimuliakan atau "ditinggikan".[84] Kata kerja untuk "ditinggikan" (bahasa Yunani Kuno: แฝ‘ฯˆฯ‰ฮธแฟ†ฮฝฮฑฮน, hypsลthฤ“nai) mencerminkan makna ganda yang ada dalam teologi salib Yohanes, karena Yesus tidak hanya ditinggikan secara jasmani dari tanah saat disalibkan melainkan juga, pada saat yang sama, diagungkan dan dimuliakan.[85]

Injil Yohanes mengaitkan erat penyaliban dengan tema-tema seperti kelahiran baru dan hidup yang kekal. Pernyataan Yesus dalam Yohanes 3:14-15 mempersamakan diri-Nya "ditinggikan" dengan ular tembaga di padang belantara, menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Kristus yang disalibkan memberikan hidup yang kekal. Oleh sebab itu, salib memulai sebuah kenyataan kovenantal yang baru dan menjadikan kelahiran baru secara rohani hal yang memungkinkan. Hal ini lebih menekankan aspek memberi hidup dari kematian Yesus alih-alih aspek penghukumannya.[86]

Sakramen

sunting

Para sarjana tidak dapat sepakat mengenai apakah dan berapa sering Yohanes merujuk pada sakramen-sakramen, tetapi pandangan kesarjanaan saat ini adalah bahwa ada sangat sedikit rujukan yang mungkin, dan jika pun rujukan-rujukan itu ada mereka hanya terbatas pada baptisan dan perjamuan kudus.[87] Bahkan, tidak ada penetapan perjamuan kudus dalam riwayat Yohanes mengenai Perjamuan Terakhir (hal ini digantikan dengan Yesus mencuci kaki para murid-Nya), dan tidak ada teks Perjanjian Baru mana pun yang tanpa ambigu mengaitkan baptisan dengan kelahiran baru.[88]

Individualisme

sunting

Dibandingkan Injil-Injil Sinoptik, Injil Yohanes sangat individualistis, dalam artian bahwa Injil ini memberikan penekanan lebih pada hubungan individual dengan Yesus daripada sifat Gereja sebagai satu tubuh.[89][90] Hal ini sebagian besar dilakukan melalui struktur tata bahasa perkataan-perkataan aforistik Yesus yang secara konsisten berbentuk tunggal.[89][e] Penekanan pada orang percaya masuk ke dalam sebuah kelompok baru setelah pertobatan mereka secara jelas tidak ada dalam Injil Yohanes,[89] dan ada sebuah tema mengenai "kesaling-tinggal-dalaman yang pribadi", yaitu, hubungan pribadi yang intim antara orang percaya dengan Yesus di mana orang percaya tersebut "tinggal" di dalam Yesus dan Yesus di dalam orang percaya.[90][89][f] Kecenderungan individualistis dalam Injil Yohanes dapat melahirkan konsep mengenai eskatologi terealisasi pada tingkat individu-individu orang percaya, tetapi eskatologi terealisasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengharapan eskatologis yang "ortodoks" dan futuris, tetapi "hanya untuk menjadi pelengkap [mereka]".[91]

Yohanes Pembaptis

sunting

Catatan Injil Yohanes mengenai Yohanes Pembaptis berbeda dengan Injil-Injil Sinoptik. Dalam Injil ini, Yohanes tidak disebut sebagai "Pembaptis".[92] Pelayanan Yohanes Pembaptis beririsan dengan pelayanan Yesus. Pembaptisan Yesus oleh Yohanes tidak disebutkan secara tersurat, tetapi kesaksiannya tentang Yesus sangat jelas dicatat.[92] Penulis Injil Yohanes hampir dapat dipastikan mengetahui kisah pembaptisan Yesus oleh Yohanes, dan menjadikannya sebagai unsur teologis yang sangat penting.[93] Ia menempatkan Yohanes di bawah Yesus, kemungkinan menanggapi anggota-anggota dari sekte Yohanes yang memandang gerakan Yesus sebagai pecahan dari gerakan mereka.[94]

Dalam Injil Yohanes, Yesus dan para murid-Nya pergi ke Yudea pada awal pelayanan Yesus sebelum Yohanes Pembaptis dipenjara dan dihukum mati oleh Herodes Antipas. Ia memimpin pelayanan pembaptisan yang lebih besar daripada Yohanes. Seminar Yesus menilai riwayat ini sebagai hitam, sama sekali tidak mengandung informasi yang akurat secara historis.[95] Menurut para sejarawan biblika dalam Seminar Yesus, Yohanes kemungkinan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam benak masyarakat dibandingkan Yesus.[96]

Gnostisisme

sunting

Dalam paruh pertama abad ke-20, banyak sarjana, khususnya Rudolf Bultmann, mengemukakan bahwa Injil Yohanes memiliki unsur-unsur yang sama dengan Gnostisisme.[94] Beberapa sarjana masih mengeklaim adanya kecenderungan seperti itu dalam Injil Yohanes, tetapi karena teks tertua yang secara pasti diketahui sebagai Gnostik, Apokrifon Yohanes, berasal dari pertengahan abad kedua, paradigma tersebut kemungkinan besar cacat,[97] dan sebagian besar sarjana menganggap masalah Gnostisisme sudah tidak relevan.[98][99] Gnostisisme Kristen belum berkembang sepenuhnya hingga pertengahan abad ke-2, dan oleh sebab itu, orang-orang Kristen proto-ortodoks memusatkan banyak tenaga mereka dalam mengkaji dan menyanggahnya[100] Mengatakan bahwa Injil Yohanes mengandung unsur-unsur Gnostisisme adalah mengasumsikan bahwa Gnostisisme telah berkembang sedemikian rupa sehingga penulis merasa perlu menanggapinya[101] Bultmann, contohnya, mengemukakan bahwa tema pembuka Injil Yohanes, Logos yang berpraeksistensi, beserta dualitas terang versus kegelapan Yohanes, pada awalnya merupakan tema-tema Gnostik yang diadopsi Yohanes. Para sarjana lainnya (contohnya, Raymond E. Brown) telah mengemukakan bahwa tema Logos yang berpraeksistensi berasal dari tulisan-tulisan Yahudi yang lebih kuno dalam pasal kedelapan Kitab Amsal, dan berkembang sepenuhnya sebagai sebuah tema dalam Yudaisme Hellenistik oleh Philo Judaeus.[102] Penemuan Gulungan Laut Mati di Qumran menunjukkan bahwa konsep-konsep ini berasal dari pemikiran Yahudi.[103] April DeConick, beserta beberapa teolog abad ke-19,[104] mengusulkan pembacaan Yohanes 8:44 yang membenarkan teologi Gnostik dan bahwa pembacaan yang alami adalah "kamu adalah bapa dari Iblis",[105] tetapi pandangan ini telah mendapat sanggahan.[106]

Para Gnostik membaca Injil Yohanes tetapi menafsirkannya secara berbeda dari non-Gnostik.[107] Gnostisisme mengajarkan bahwa keselamatan berasal dari gnosis, pengetahuan yang rahasia, dan para Gnostik melihat Yesus bukan sebagai juruselamat, melainkan sebagai penyingkap pengetahuan.[108] Injil Yohanes mengajarkan bahwa keselamatan hanya bisa didapatkan melalui hikmat yang dinyatakan, khususnya percaya kepada (secara literal percaya ke dalam) Yesus.[109] Gambaran Yohanes mengenai seorang juruselamat yang supranatural yang berjanji untuk kembali menjemput mereka yang percaya kepada-Nya ke kediaman surgawi dapat dipadukan dengan pandangan-pandangan Gnostik.[110] Para sarjana telah mengusulkan bahwa kemiripan antara Injil Yohanes dan Gnostisisme kemungkinan berasal dari akar yang sama dalam kesusastraan Apokaliptik Yahudi.[111]

Perbandingan dengan tulisan-tulisan lainnya

sunting
Sebuah penggambaran Kristen Suriah tentang Santo Yohanes sang Penginjil, dari Kitab Injil Rabbula.

Injil-Injil Sinoptik dan kesusastraan Paulus

sunting

Injil Yohanes berbeda secara signifikan dengan Injil-Injil Sinoptik dalam hal pemilihan bahan, penekanan teologis, kronologi, dan gaya penulisan, hingga beberapa perbedaannya dapat dianggap sebagai kontradiksi.[112] Pola variasi yang ditemukan dalam keempat Injil bukanlah hal yang tidak lazim dalam biografi-biografi kuno mengenai tokoh asli dan sejarah.[113] Berikut adalah beberapa contoh dari perbedaan mereka hanya dalam satu bidang, yaitu bahan yang mereka masukkan ke dalam cerita mereka:[114]

Bahan yang hanya ada dalam Injil Sinoptik Bahan yang hanya ada dalam Injil Yohanes
Perumpamaan bersifat narasi Diskursus simbolis
Logia dan Chreia Dialog dan monolog
Rahasia Mesianik Mesianisme yang terang-terangan
Orang-orang Saduki, tua-tua, ahli-ahli Taurat Orang-orang "Ioudaios"
Perjamuan Kudus Pembasuhan kaki
Injil Kerajaan Kelahiran baru secara rohani
Eskatologi konsisten dalam Diskursus Bukit Zaitun Eskatologi terealisasi dalam Diskursus Perpisahan
Yohanes membaptis Yesus Yohanes menyaksikan Yesus
Pengusiran setan Lazarus dibangkitkan
Hades dan Gehenna Tidak menyebutkan neraka
Kelahiran Yesus Pendahuluan "kidung pujian bagi Sang Firman"
Silsilah Yesus "Satu-satunya Allah yang diperanakkan"
Pencobaan Yesus Anak Domba Allah
Khotbah di Bukit Tujuh deklarasi "Akulah"
Transfigurasi Yesus Janji akan datangnya Parakletos
Kenaikan Yesus Tomas yang ragu-ragu

Dalam Injil-Injil Sinoptik, pelayanan Yesus terjadi selama satu tahun, tetapi dalam Injil Yohanes pelayanan Yesus terjadi selama tiga tahun, sebagaimana ditunjukkan oleh adanya tiga Paskah. Peristiwa-peristiwanya pun tidak semua dalam urutan yang sama: tanggal penyaliban berbeda, begitu juga dengan waktu Yesus diurapi di Betania dan Yesus membersihkan Bait Allah, yang terjadi pada awal pelayanan Yesus alih-alih mendekati akhirnya.[115] Kebiasaan menulis zaman kuno meliputi pemindahan dan peringkasan kronologis; hal ini dilakukan oleh bahkan penulis biografi yang andal seperti Plutarkhos.[116]

Banyak peristiwa dalam Injil Yohanes, seperti pernikahan di Kana, pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur, dan kebangkitan Lazarus, tidak memiliki paralel dalam Injil-Injil Sinoptik. Kesarjanaan terkini cenderung untuk menentang asumsi mengenai adanya sumber-sumber hipotetis Injil Yohanes.[33] Sebagian besar sarjana saat ini sepakat bahwa keberadaan satu sumber tunggal untuk mukjizat-mukjizat dalam Injil Yohanes sangat tidak mungkin.[117] Beberapa sarjana meyakini bahwa sang penulis mengambil mukjizat-mukjizat ini dari sumber yang mandiri yang disebut sebagai "Injil Tanda-Tanda", perkataan Yesus dari sumber "diskursus" yang berbeda,[118][37] dan bagian pendahuluan dari sebuah kidung pujian awal.[119] Injil Yohanes secara luas menggunakan kitab-kitab suci Yahudi:[118] Injil Yohanes mengutip langsung dari kitab-kitab tersebut, merujuk pada tokoh-tokoh penting dalam kitab-kitab tersebut, dan menggunakan cerita dari kitab-kitab tersebut sebagai dasar dari beberapa diskursus. Penulis Injil Yohanes juga memiliki pemahaman akan sumber-sumber non-Yahudi: Logos dalam bagian pendahuluan (Firman yang bersama dengan Allah sejak permulaan penciptaan), contohnya, diambil dari konsep Yahudi tentang Hikmat dan dari filsuf-filsuf Yunani, Yohanes 6 menggunakan alusi bukan hanya terhadap peristiwa keluaran tetapi juga terhadap kultus-kultus misteri Yunani-Romawi, dan Yohanes 4 menggunakan alusi terhadap keyakinan-keyakinan mesianik orang Samaria.[120]

Yohanes tidak memiliki adegan-adegan dari Injil-Injil Sinoptik seperti pembaptisan Yesus,[121] pemanggilan 12 murid, pengusiran setan, perumpamaan-perumpamaan, dan peristiwa Transfigurasi. Sebaliknya, Injil Yohanes memiliki adegan-adegan yang tidak ditemukan dalam Injil-Injil Sinoptik, termasuk Yesus mengubah air menjadi anggur dalam perkawinan di Kana, Yesus mencuci kaki para murid, dan beberapa kali mengunjungi Yerusalem.[115]

Dalam Injil Yohanes, Maria, ibu Yesus, disebutkan dalam tiga bagian tetapi tidak disebutkan namanya.[122][123] Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus dikenal sebagai "anak Yusuf" dalam Yohanes 6:42.[124] Bagi penulis Injil Yohanes, kota asal Yesus tidak penting, karena Ia berasal dari luar dunia ini, dari Allah Bapa.[125]

Meskipun Injil Yohanes tidak menyebutkan pembaptisan Yesus secara langsung,[121][115] kitab ini mengutip penggambaran Yohanes Pembaptis mengenai turunnya Roh Kudus sebagai sebuah merpati, sebagaimana terjadi saat Yesus dibaptis dalam Injil-Injil Sinoptik.[126][127] Perkataan-perkataan utama Yesus dalam Injil Sinoptik juga tidak ada dalam Injil Yohanes, termasuk Khotbah di Bukit dan Diskursus Bukit Zaitun,[128] dan pengusiran setan juga tidak disebutkan.[121][129] Yohanes tidak memberikan daftar Dua Belas Murid dan menyebutkan setidaknya nama satu murid, Natanael, yang namanya tidak ditemukan dalam Injil-Injil Sinoptik. Tomas diberikan kepribadian yang melampaui sebuah nama, yaitu digambarkan sebagai "Tomas yang ragu-ragu".[130]

Yesus diidentikkan dengan Firman ("Logos"), dan Firman diidentikkan dengan theos ("allah" dalam bahasa Yunani).[131] Injil-Injil Sinoptik tidak membuat pengidentikkan semacam ini.[132] Dalam Injil Markus, Yesus mendorong murid-murid-Nya untuk merahasiakan keilahian-Nya, tetapi dalam Injil Yohanes Ia membicarakannya dengan sangat terbuka, bahkan memanggil diri-Nya sendiri "AKULAH", gelar yang Allah berikan kepada diri-Nya sendiri dalam Kitab Keluaran dalam pewahyuan diri-Nya kepada Musa. Dalam Injil-Injil Sinoptik, tema utamanya adalah Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga (khususnya dalam Injil Matius), sedangkan tema Yohanes adalah Yesus sebagai sumber dari hidup yang kekal, dan Kerajaan hanya disebutkan dua kali.[115][129] Bertolak belakang dengan pengharapan dalam Injil-Injil Sinoptik akan Kerajaan (menggunakan istilah parousia, yang berarti "kedatangan"), Injil Yohanes menyajikan eskatologi terealisasi yang lebih individualistis.[133][g]

Dalam Injil-Injil Sinoptik, kutipan-kutipan Yesus umumnya dalam bentuk perkataan singkat dan tajam. Dalam Injil Yohanes, kutipan-kutipan yang lebih panjang lebih sering diberikan. Kosa kata yang digunakan juga berbeda, dan diisi dengan makna teologis: dalam Injil Yohanes, Yesus tidak melakukan "mukjizat-mukjizat", tetapi "tanda-tanda" yang menyatakan identitas ilahi-Nya.[115] Sebagian besar sarjana menganggap Yohanes tidak mengandung perumpamaan apa pun. Sebaliknya, Injil Yohanes mengandung cerita-cerita metaforis atau alegori, seperti cerita mengenai Gembala yang Baik dan Pokok Anggur yang Benar, yang di dalamnya setiap unsurnya mewakili suatu orang, kelompok, atau hal tertentu. Para sarjana lainnya menganggap cerita-cerita seperti perempuan yang melahirkan[135] atau biji gandum yang mati[136] sebagai perumpamaan.[h]

Menurut Injil-Injil Sinoptik, penangkapan Yesus merupakan reaksi terhadap Yesus membersihkan Bait Allah. Menurut Yohanes, penangkapan tersebut dipicu oleh Yesus membangkitkan Lazarus.[115] Orang-orang Farisi, yang digambarkan sebagai legalistik dan menentang Yesus secara seragam dalam Injil-Injil Sinoptik, digambarkan sebagai kelompok yang sangat terpecah belah. Mereka sering berdebat. Beberapa, seperti Nikodemus, bahkan simpatis terhadap Yesus. Hal ini dipercaya sebagai penggambaran mengenai orang Farisi yang lebih akurat secara historis karena mereka menjadikan perdebatan sebagai salah satu prinsip utama dalam sistem kepercayaan mereka.[137]

Berbeda dengan penekanan komunal dalam kesusastraan Paulus, Injil Yohanes menekankan hubungan pribadi seorang individu dengan Allah.[89]

Kesusastraan Yohanes

sunting

Injil Yohanes dan ketiga surat Yohanes menunjukkan kesamaan yang kuat dalam hal teologi dan gaya penulisan. Kitab Wahyu juga secara tradisional telah dikaitkan dengan kitab-kitab ini, tetapi berbeda dari Injil dan surat-surat dalam hal gaya penulisan dan bahkan teologi.[138] Surat-surat tersebut dituliskan setelah Injil Yohanes. Injil Yohanes mencerminkan perpisahan antara orang-orang Kristen Yohanes dengan sinagoge, sedangkan dalam surat-sirat komunitas Yohanes itu sendiri mulai terpecah belah ("Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita" - 1 Yohanes 2:19).[139] Perpecahan ini adalah mengenai Kristologi, "pengetahuan akan Kristus", atau lebih akurat pengertian akan natur Kristus, karena mereka yang "keluar" enggan mengidentifikasi Yesus sebagai Kristus, meminimisasi signifikansi pelayanan-Nya di dunia dan menyangkali pentingnya penyelamatan kematian Yesus di atas salib.[140] Surat-surat berargumen melawan pandangan ini, menekankan eksistensi kekal Anak Allah, sifat penyelamatan dari kehidupan dan kematian-Nya, dan unsur-unsur lainnya dari Kristologi "tinggi" Injil Yohanes.[140]

Keandalan historis

sunting

Pengajaran-pengajaran Yesus dalam Injil-Injil Sinoptik sangat berbeda dengan pengajaran-pengajaran dalam Injil Yohanes. Sejak abad ke-19, para sarjana hampir sepenuhnya menerima bahwa diskursus-diskursus dalam Injil Yohanes lebih kecil kemungkinannya bersifat historis dibandingkan perumpamaan-perumpamaan dalam Injil-Injil Sinoptik, dan kemungkinan besar ditulis untuk tujuan-tujuan teologis.[141] Meskipun begitu, mereka umumnya setuju bahwa Yohanes bukanlah tanpa nilai historis. nilai penting yang mungkin terdapat adalah jejak awal bagi bahan-bahan yang digunakan Yohanes, rujukan topografis mengenai Yerusalem dan Yudea, penyaliban Yesus terjadi sebelum Hari Raya Roti Tidak Beragi, dan penangkapan-Nya di dalam taman terjadi setelah musyawarah dari pihak berwenang Yahudi.[142][143][144]

Kesarjanaan terkini telah mengemukakan penilaian ulang yang lebih baik terhadap nilai historis Injil Yohanes dan kepentingannya dalam merekonstruksi Yesus historis, berdasarkan kajian arkeologis dan kesusastraan terkini.[145][146][147][148][149] Karya-karya dari Seminar Yohanes, Yesus, dan Sejarah telah berkontribusi pada lengsernya konsensus sebelumnya bahwa Injil Yohanes tidak memiliki nilai historis, dan banyak sarjana sekarang melihat Injil Yohanes sebagai sumber bagi Yesus Historis.[150]

Penggambaran

sunting
Bede translating the Gospel of John on his deathbed, by James Doyle Penrose, 1902. Depicts the Venerable Bede as an elderly man with a long, white beard, sitting in a darkened room and dictating his translation of the Bible, as a younger scribe, sitting across from him, writes down his words. Two monks, standing together in the corner of the room, look on.
Beda menerjemahkan Injil Yohanes di ranjang kematiannya, karya James Doyle Penrose, 1902

Injil ini telah digambarkan melalui narasi langsung dan didramatisasi dalam berbagai produksi, sketsa, pementasan drama, dan drama Paskah, serta film. Sebuah film adaptasi tahun 2014, The Gospel of John, yang disutradarai oleh David Batty, menampilkan narasi oleh David Harewood dan Brian Cox, dengan Selva Rasalingam sebagai Yesus.[151] Sebuah adaptasi yang lebih awal, film tahun 2003, The Gospel of John, disutradarai oleh Philip Saville dan dinarasikan oleh Christopher Plummer, dengan Henry Ian Cusick sebagai Yesus.[152]

Beberapa bagian dari Injil ini telah digubah menjadi musik. Salah satu gubahan semacam ini adalah lagu karya Steve Warner "Come and See", yang dituliskan untuk ulang tahun ke-20 Aliansi untuk Pendidikan Katolik dan meliputi bagian-bagian syair yang diambil dari Kitab Tanda-Tanda.[153] Selain itu, beberapa komponis telah membuat gubahan Kisah Sengsara seperti yang digambarkan dalam Injil ini, yang paling dikenal adalah Johannes-Passion karya Johann Sebastian Bach, meskipun beberapa ayatnya berasal dari Injil Matius.[154]

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Kitab ini terkadang dipanggil sebagai Injil menurut Yohanes (bahasa Yunani Kuno: ฮ•แฝฮฑฮณฮณฮญฮปฮนฮฟฮฝ ฮบฮฑฯ„แฝฐ แผธฯ‰ฮฌฮฝฮฝฮทฮฝ, translit.ย Euangรฉlion katร  Iลรกnnฤ“n), atau singkatnya Yohanes[2] (yang juga merupakan bentuk singkatan yang paling umum).[3]
  2. ^ Reddish berkata bahwa ayat-ayat ini menyiratkan bahwa inti dari Injil ini bergantung pada kesaksian (mungkin tertulis) dari "murid yang sedang bersaksi", sebagaimana dikumpulkan, dikumpulkan, dijaga, dan disusun ulang oleh sebuah komunitas pengikut ("kita" dalam bagian tersebut), dan bahwa seorang pengikut (sang "aku") menyusun ulang bahan ini dan bahkan menambahkan pasal terakhir dan bagian-bagian lain untuk menghasilkan Injil dalam bentuk akhirnya. Ia mengakui bahwa skenario ini juga bisa menjadi suatu pemahaman yang dipaksakan atau simplistik terhadap teks.[13]
  3. ^ Attridge: Rujukan terakhir (Yohanes 21:24) membuat klaim bahwa tokoh ini "yang telah menuliskannya." Sebagian besar sarjana menafsirkan ayat tersebut sebagai pernyataan bahwa murid yang dikasihilah yang menuliskan teks tersebut, atau setidaknya pasal 1-20. Meskipun begitu, sebagian sarjana berpendapat bahwa bagian tersebut hanya mengklaim bahwa murid yang dikasihi adalah saksi yang berotoritas yang menyebabkan karya ini dituliskan, atau yang mungkin menuliskan riwayat awal mengenai Yesus yang digunakan sebagai dasar penyusunan Injil ini dalam bentuk akhirnya.
  4. ^ Deklarasi-deklarasinya adalah sebagai berikut:
  5. ^ Bauckham 2015a mengkontraskan kata ganti ketiga tunggal yang secara konsisten digunakan oleh Yohanes ("Siapa yang..."; "Barangsiapa..."; "Setiap orang yang..."; "Tidak seorang pun...") dengan kata ganti ketiga jamak yang dapat digunakan oleh sang penulis ("Mereka yang..."; "Semua orang yang..."; dll.). Ia juga mencatat bahwa satu-satunya pengecualian terjadi di bagian pendahuluan, untuk mendukung kepentingan naratif, sedangkan aforisme-aforisme terkemudian mendukung "fungsi paraenetik".
  6. ^ Lihat Yohanesย 6:56, Yohanesย 10:14-15, Yohanesย 10:38, dan Yohanesย 14:10-17.
  7. ^ Eskatologi terealisasi adalah sebuah teori eskatologi Kristen yang dipopulerkan oleh C. H. Dodd (1884โ€“1973). Pandangan ini menyatakan bahwa bagian-bagian eskatologis dalam Perjanjian Baru tidak merujuk pada peristiwa di masa depan, tetapi sebaliknya merujuk pada pelayanan Yesus dan warisannya yang abadi.[134] Dengan kata lain, pandangan ini melihat bahwa pengharapan eskatologis Kristen telah direalisasikan atau digenapi.
  8. ^ Lihat Zimmermann 2015, hlm.ย 333โ€“60.

Referensi

sunting

Rujukan

sunting
  1. ^ Aland, Kurt; Aland, Barbara (1995). The Text of the New Testament: An Introduction to the Critical Editions and to the Theory and Practice of Modern Textual Criticism (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Rhodes, Erroll F. (Edisi 2nd). Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co. hlm.ย 159. ISBNย 978-0-8028-4098-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 5, 2023.
  2. ^ ESV Pew Bible. Wheaton, IL: Crossway. 2018. hlm.ย 886. ISBNย 978-1-4335-6343-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021.
  3. ^ "Bible Book Abbreviations". Logos Bible Software. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 21, 2022. Diakses tanggal April 21, 2022.
  4. ^ Lindars 1990, hlm.ย 53.
  5. ^ a b Witherington 2004, hlm.ย 83.
  6. ^ a b c Edwards 2015, hlm.ย 171.
  7. ^ Burkett 2002, hlm.ย 215.
  8. ^ a b Lincoln 2005, hlm.ย 18.
  9. ^ a b Parsenios, George (2021). The Cambridge Companion to the New Testament. Cambridge University Press. hlm.ย 156. ISBNย 978-1108437707.
  10. ^ Reddish 2011, hlm.ย 13.
  11. ^ Harris, Stephen L., Understanding the Bible. Palo Alto: Mayfield. 1985. "John" hlm. 302โ€“10
  12. ^ Burkett 2002, hlm.ย 214.
  13. ^ a b c Reddish 2011, hlm.ย 41.
  14. ^ Bynum 2012, hlm.ย 15.
  15. ^ a b Lamb 2014, hlm.ย 2.
  16. ^ a b Lamb 2014, hlm.ย 2โ€“3.
  17. ^ a b Bynum 2012, hlm.ย 7, 12.
  18. ^ Harris 2006, hlm.ย 479.
  19. ^ a b Kรถstenberger 2015, hlm.ย 168.
  20. ^ a b Moloney 1998, hlm.ย 23.
  21. ^ a b Hurtado 2005, hlm.ย 51.
  22. ^ Kok, Michael (2017). The Beloved Apostle?. Cascade Books. hlm.ย 13. ISBNย 978-1532610219.
  23. ^ O'Day 1998, hlm.ย 381.
  24. ^ Lindars, Edwards & Court 2000, hlm.ย 41.
  25. ^ Kelly 2012, hlm.ย 115.
  26. ^ Yohanesย 21:22
  27. ^ Yohanesย 21:24-25
  28. ^ Rodriguez, Rafael. Jesus Darkly: Remembering Jesus in the New Testament. Abingdon Press. hlm.ย 177. ISBNย 9781501839115.
  29. ^ Attridge, Harold (2012). Essays on John and Hebrews. Baker Academic. hlm.ย 72. ISBNย 978-0801048500.
  30. ^ Neirynck, Frans (1991). Evangelica II: 1982-1991ย : Collected Essays. Uitgeverij Peeters. ISBNย 9789061864530.
  31. ^ Matkin, J. Michael (2005). The Complete Idiot's Guide to the Gnostic Gospels. Penguin. ISBNย 9781440696510. but there is no consensus as to the Beloved Disciple's actual identity
  32. ^ Anderson, Paul (2024). John, Jesus, and History Volume 4. SBL Press. hlm.ย 2. ISBNย 9781628376074.
  33. ^ a b Keith 2020, hlm.ย 142.
  34. ^ Reddish 2011, hlm.ย 187โ€“188.
  35. ^ The Jesus Handbook. Eerdmans. 2022. hlm.ย 236. ISBNย 9780802876928.
  36. ^ Lincoln 2005, hlm.ย 29โ€“30.
  37. ^ a b c Fredriksen 2008, hlm.ย unpaginated.
  38. ^ Valantasis, Bleyle & Haugh 2009, hlm.ย 14.
  39. ^ Yu Chui Siang Lau 2010, hlm.ย 159.
  40. ^ Menken 1996, hlm.ย 11โ€“13.
  41. ^ Thompson, Marianne (2015). John: A Commentary. Westminster John Knox Press. hlm.ย 432. ISBNย 978-0664221119. Taken together, these features-the plausible ending of the Gospel at 20:30-31; the unanticipated narrative elements introduced in chapter 21; the focused articulation of the distinctive roles of Simon Peter and the beloved disciple, and the anticipation of their deaths-have led some interpreters to regard John 21 as an extended epilogue to the Gospel, added after it was essentially finished, either by the author of the earlier chapters or by someone else.
  42. ^ a b Keith 2020, hlm.ย 132,155: "Placing myself in a growing minority of Johannine scholars, I presently consider John 21 a constituent part of the early text of the Gospel of John. I am not blind to the narrative and vocabulary curiosities of John 21 that cause most scholars to view it as a later addition. Yet, in light of the fact that linguistic style is an unreliable indicator of authorial origin, the fact that one can equally read John 21 as a planned epilogue to the Gospel, and, most important, the absence of any early manuscript or patristic evidence that the Gospel of John circulated without John 21, I view it as original until further evidence emerges."
  43. ^ Goodacre, Mark (2012). Thomas and the Gospels: The Case for Thomas's Familiarity with the Synoptics. Wm. B. Eerdmans Publishing Co. hlm.ย 175. ISBNย 978-0802867483.
  44. ^ Mendez, Hugo (2020). "Did the Johannine Community Exist?". Journal for the Study of the New Testament. 42 (3): 350โ€“374. doi:10.1177/0142064X19890490 โ€“ via Sage.
  45. ^ Eve, Eric (2014). Behind the Gospels: Understanding the Oral Tradition. Fortress Press. hlm.ย 135. ISBNย 978-1-4514-8753-4.
  46. ^ Porter & Fay 2018, hlm.ย 41.
  47. ^ Thatcher, Tom (2018). The Oxford Handbook of Johannine Studies. Oxford University Press. hlm.ย 98. ISBNย 978-0198739982.
  48. ^ Kieffer, R., 60. John, dalam Barton, J. and Muddiman, J. (2001), The Oxford Bible Commentary, hlm. 971, diarsipkan pada tanggal 2 November 2017
  49. ^ Hurtado 2005, hlm.ย 70.
  50. ^ Kรถstenberger 2006, hlm.ย 72.
  51. ^ Thompson, Marianne (2015). John: A Commentary. Westminster John Knox Press. hlm.ย 432. ISBNย 978-0664221119. Taken together, these features-the plausible ending of the Gospel at 20:30-31; the unanticipated narrative elements introduced in chapter 21; the focused articulation of the distinctive roles of Simon Peter and the beloved disciple, and the anticipation of their deaths-have led some interpreters to regard John 21 as an extended epilogue to the Gospel, added after it was essentially finished, either by the author of the earlier chapters or by someone else.
  52. ^ Bauckham 2008, hlm.ย 126.
  53. ^ Mendez, Hugo (2025). The Gospel of John: A New History. Oxford University Press. ISBNย 978-0197686126. Today, however, this still widespread view has lost ground to a spate of studies defending the literary unity of John 1โ€“21 (e.g., Ruckstuhl, "Aussage"; Carson, John, 684; Breck, "John 21"; Ellis, "John 21"; Busse, "Hellenen"; Gaventa, "Archive"; Schlatter, Johannes, 363โ€“64, 375โ€“77; Reim, "Johannes 21"; Hasitschka, "Zeichen"; Spencer, "Narrative Echoes"; Jackson, "Self-Referential Conventions," 17โ€“24; Minear, "John 21"; 85โ€“98; Thyen, "Entwicklungen"; Thyen, Johannesevangelium, 794โ€“95; Keener, John, 2.124; Bauckham, "153 Fish"; Porter, "Ending").
  54. ^ Aune 2003, hlm.ย 245.
  55. ^ Aune 2003, hlm.ย 246.
  56. ^ a b Van der Watt 2008, hlm.ย 10.
  57. ^ a b Kruse 2004, hlm.ย 17.
  58. ^ Orsini, Pasquale, and Willy Clarisse (2012). "Early New Testament Manuscripts and Their Dates: A Critique of Theological Palaeography", in: Ephemerides Theologicae Lovanienses 88/4 (2012), hlm. 443โ€“474, hlm. 470: "...Tab. 1, ๐”“52, 125-175 AD, Orsiniโ€“Clarysse..."
  59. ^ Hurtado 2005, hlm.ย 53.
  60. ^ popebenexvileg (2021-01-22). "Seeing Jesus in the Gospel of John". Pope Benedict XVI Legacy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-02-15.
  61. ^ Dunn, James D. G. (2015). Neither Jew nor Greek: A Contested Identity (Christianity in the Making, Volume 3) (dalam bahasa Arab). Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm.ย 353. ISBNย 978-1-4674-4385-2.
  62. ^ Loke, Andrew. "A Kryptic Model of the Incarnation." Ashgate Publishing, 2014, pp. 28โ€“30
  63. ^ Barker, James (2025). Writing and Rewriting the Gospels. Eerdmans. hlm.ย 289. ISBNย 978-0802874528.
  64. ^ Hurtado 2010, hlm.ย 99โ€“110.
  65. ^ Januariy 2013, hlm.ย 99.
  66. ^ Januariy, Archimandrite (2013) [2003]. "The Elements of Triadology in the New Testament". Dalam Stewart, Melville Y. (ed.). The Trinity: East/West Dialogue. Volume 24 of Studies in Philosophy and Religion. Dordrecht: Springer Science & Business Media. hlm.ย 100. ISBNย 978-94-017-0393-2. Diakses tanggal 21 December 2021. Trinitarian formulas are found in New Testament books such as 1 Peter 1:2; and 2 Cor 13:13. But the formula used by John the mystery-seer is unique. Perhaps it shows John's original adaptation of Paul's dual formula.
  67. ^ Yohanesย 5:18
  68. ^ Harris 2006, hlm.ย 302โ€“10.
  69. ^ Yohanesย 6:35
  70. ^ Yohanesย 8:12
  71. ^ Yohanesย 10:7
  72. ^ Yohanesย 10:11
  73. ^ Yohanesย 11:25
  74. ^ Yohanesย 14:36
  75. ^ Yohanesย 15:1
  76. ^ Cullmann 1965, hlm.ย 11.
  77. ^ Yohanesย 20:27
  78. ^ Greene 2004, hlm.ย p37-.
  79. ^ Dunn 2015, hlm.ย 350โ€“351.
  80. ^ Harris 2006, hlm.ย 302โ€“310.
  81. ^ Ronning 2010.
  82. ^ Markusย 10:45, Romaย 3:25
  83. ^ Markusย 8:31, Markusย 9:31, Markusย 10:33-34 dan paralelnya.
  84. ^ Yohanesย 3:14, Yohanesย 8:28, Yohanesย 12:32.
  85. ^ Kysar 2007a, hlm.ย 49โ€“54.
  86. ^ Niemelรค, John H. (2003). "The Cross in John's Gospel" (PDF). Journal of the Grace Evangelical Society. 16 (30): 17โ€“28.
  87. ^ Bauckham 2015b, hlm.ย 83โ€“84.
  88. ^ Bauckham 2015b, hlm.ย 89,94.
  89. ^ a b c d e Bauckham 2015a.
  90. ^ a b Moule 1962, hlm.ย 172.
  91. ^ Moule 1962, hlm.ย 174.
  92. ^ a b Cross & Livingstone 2005.
  93. ^ Barrett 1978, hlm.ย 16.
  94. ^ a b Harris 2006.
  95. ^ Funk 1998, hlm.ย 365โ€“440.
  96. ^ Funk 1998, hlm.ย 268.
  97. ^ Runesson, Anders (2021). Jesus, New Testament, Christian Origins. Eerdmans. hlm.ย 640โ€“641. ISBNย 9780802868923.
  98. ^ Morris, Leon (1995). The Gospel According to John. The new international commentary on the New Testament. Vol.ย 4. Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm.ย 4โ€“5, 24, 35โ€“7. ISBNย 978-0-8028-2504-9.
  99. ^ Dr. Craig Blomberg, cited in Lee Strobel The Case for Christ, 1998, Chapter 2.
  100. ^ Olson 1999, hlm.ย 36.
  101. ^ Kysar 2005, hlm.ย 88ff.
  102. ^ Brown 1997.
  103. ^ Charlesworth 2010, hlm.ย 42.
  104. ^ Adolf Bernhard Christoph Hilgenfeld, Gustav Volkmarย [de], and Davidson, see Pulpit Commentary on John 8:44
  105. ^ DeConick 2016, hlm.ย 13โ€“.
  106. ^ Llewelyn, Robinson & Wassell 2018, hlm.ย 14โ€“23.
  107. ^ Most 2005, hlm.ย 121ff.
  108. ^ Skarsaune 2008, hlm.ย 247ff.
  109. ^ Lindars 1990, hlm.ย 62.
  110. ^ Brown 1997, hlm.ย 375.
  111. ^ Kovacs 1995.
  112. ^ Burge 2014, hlm.ย 236โ€“237.
  113. ^ Keener, Craig (2019). Christobiography: Memory, History, and the Reliability of the Gospels. Eerdmans. ISBNย 978-0802876751.
  114. ^ Kรถstenberger 2013, hlm.ย unpaginated.
  115. ^ a b c d e f Burge 2014, hlm.ย 236โ€“37.
  116. ^ Vytlaฤilovรก, Magdalena (2023). "Jesus, the Gospels, and the Galilean Crisis by Tucker S. Ferda (review)". Neotestamentica. 57 (1): 197โ€“202. doi:10.1353/neo.2023.a938405.
  117. ^ Runesson, Anders (2021). Jesus, New Testament, Christian Origins. Eerdmans. hlm.ย 644. ISBNย 9780802868923.
  118. ^ a b Reinhartz 2017, hlm.ย 168.
  119. ^ Perkins 1993, hlm.ย 109.
  120. ^ Reinhartz 2017, hlm.ย 171.
  121. ^ a b c Funk & Hoover 1993, hlm.ย 1โ€“30.
  122. ^ Williamson 2004, hlm.ย 265.
  123. ^ Michaels 1971, hlm.ย 733.
  124. ^ Johnย 6:42:DRA
  125. ^ Fredriksen 2008.
  126. ^ Zanzig 1999, hlm.ย 118.
  127. ^ Brown 1988, hlm.ย 25-27.
  128. ^ Pagels 2003.
  129. ^ a b Thompson 2006, hlm.ย 184.
  130. ^ Most 2005, hlm.ย 80.
  131. ^ Ehrman 2005.
  132. ^ Carson 1991, hlm.ย 117.
  133. ^ Moule 1962, hlm.ย 172โ€“74.
  134. ^ Ladd & Hagner 1993, hlm.ย 56.
  135. ^ Yohanesย 16:21
  136. ^ Yohanesย 12:24
  137. ^ Neusner 2003, hlm.ย 8.
  138. ^ Van der Watt 2008, hlm.ย 1.
  139. ^ Moloney 1998, hlm.ย 4.
  140. ^ a b Watson 2014, hlm.ย 112.
  141. ^ Sanders 1995, hlm.ย 57, 70โ€“71.
  142. ^ Theissen & Merz 1998, hlm.ย 36โ€“37.
  143. ^ Brown, Fitzmyer & Murphy 1999, hlm.ย 815,1274.
  144. ^ Brown 1994.
  145. ^ Charlesworth & Pruszinski 2019, hlm.ย 1โ€“3.
  146. ^ "Historical Criticism". The Routledge Encyclopedia of the Historical Jesus. Routledge. 2008. hlm.ย 283. ISBNย 9780415880886.
  147. ^ Davies, W. D.; Sanders, E.P. (2008). "20. Jesus: From the Jewish Point of View". Dalam Horbury, William; Davies, W.D.; Sturdy, John (ed.). The Cambridge History of Judaism. Volume 3: The Early Roman period. Cambridge Univiversity Press. hlm.ย 620. ISBNย 9780521243773.
  148. ^ The Jesus Handbook. William. B. Eerdmans Publishing Company. 2022. hlm.ย 138โ€“140. ISBNย 9780802876928.
  149. ^ Blomberg, Craig (2011). The Historical Reliability of John's Gospel: Issues and Commentary. IVP Academic. ISBNย 978-0830838714.
  150. ^ Massey, Brandon. "The Quest for the Historical Jesus, 2000-2023". Journal for the Study of the Historical Jesus. 21 (1โ€“2): 64.
  151. ^ Brown, Stephen (22 Desember 2016). "A choice of Christs". Church Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 23 Januari 2026.
  152. ^ Greydanus, Steven D. (21 Desember 2003). "Spotlight: The Gospel of John". National Catholic Register (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 23 Januari 2026.
  153. ^ "Sheet Music - Pender's Music Co". Sheet Music - Pender's Music Co. (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 23 Januari 2026.
  154. ^ "St John Passion". Canberra Symphony Orchestra (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 23 Januari 2026.

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting
Injil Yohanes
Didahului oleh:
Injil Lukas
Perjanjian Baru
Alkitab
Diteruskanย oleh:
Kisah Para Rasul


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Paus Yohanes Paulus I

Paus Yohanes Paulus I (bahasa Latin: Ioannes Paulus Icode: la is deprecated ; bahasa Italia: Giovanni Paolo Icode: it is deprecated ; nama lahir Albino

Paus Yohanes XXIII

Paus Yohanes XXIII (lahir Angelo Giuseppe Roncalli) (25 November 1881ย โ€“ย 3 Juni 1963) adalah kepala Gereja Katolik dan penguasa Kota Vatikan sejak 28 Oktober

Paus Yohanes Paulus II

Paus Yohanes Paulus II (18 Mei 1920ย โ€“ย 2 April 2005), yang bernama asli Karol Jรณzef Wojtyล‚a, adalah Paus, Uskup Roma, dan kepala Gereja Katolik Roma sejak

Surat Yohanes yang Pertama

Surat Yohanes yang Pertama adalah salah satu surat Yohanes pertama yang terdapat di dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen dan surat keempat dalam surat-surat

Surat Yohanes yang Kedua

Surat Yohanes yang Kedua adalah salah satu surat yang terdapat di dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen yang dikaitkan dengan Yohanes Penginjil, yang

Surat Yohanes yang Ketiga

Yohanes yang Ketiga adalah bagian kitab ketiga terakhir dari Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen secara keseluruhan, dan dikaitkan dengan Yohanes Penginjil

Yohanes Surya

Yohanes Surya (lahir 6 November 1963) adalah seorang ilmuwan, fisikawan, matematikawan, dan pengajar berkebangsaan Indonesia. Selain itu ia dikenal juga

Wahyu kepada Yohanes

Kitab Wahyu kepada Yohanes (singkatnya Kitab Wahyu) adalah kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, dan oleh karena itu merupakan kitab terakhir dalam Alkitab