Artikel ini dilindungi.
| Aksara Sunda Baku ᮃᮊ᮪ᮞᮛ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮊᮥ أَكْسَارَا سُونْدَا بَاكُو | |
|---|---|
Kata "Aksara Sunda" menggunakan aksara Sunda. | |
| Jenis aksara | |
| Diciptakan | 16 Juni 1999 |
| Disiarkan | April 2008
|
Periode | ca (sekitar) abad ke-14–18 (seperti aksara Sunda kuno) 1999 hingga sekarang (seperti aksara Sunda) |
| Status | Aktif di-digitalisasi |
| Aksara resmi | Aksara Sunda |
| Daerah | Jawa Barat, Banten, sebagian Jawa Tengah |
| Arah penulisan | Kiri ke kanan |
| Aksara terkait | |
Silsilah | *Hieroglif Mesir
|
Aksara kerabat | Bali Batak Baybayin Bugis Incung Jawa Lampung Makassar Sunda Ulu |
| ISO 15924 | |
| ISO 15924 | Sund, 362 |
| Pengkodean Unicode | |
Nama Unicode | Sundanese |
| U+1B80–U+1BBF U+1CC0–U+1CCF | |
Informasi tambahan mengenai aksara Sunda ada di [sini] (dalam bahasa Inggris). | |
| Bagian dari artikel tentang | |
|---|---|
|
| |
| Aksara yang digunakan di Indonesia | |
| Abugida (Brahmik) | |
| Abjad | |
| Alfabet | |
| Lainnya | |
| Terkait | |
Aksara Sunda Baku (ᮃᮊ᮪ᮞᮛ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮊᮥ) merupakan sistem penulisan tradisional yang digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda kontemporer. Aksara ini merupakan hasil penyesuaian dari Aksara Sunda Kuno, yang digunakan di wilayah Sunda sejak sekitar abad ke-14 hingga abad ke-18. Saat ini, Aksara Sunda Baku lazim disebut sebagai Aksara Sunda.[1] Karena susunan aksara konsonannya yang diawali dengan pola "ka-ga-nga", aksara ini sering keliru diidentifikasi sebagai Aksara Kaganga (Surat Ulu), yaitu kelompok aksara tradisional yang berkembang di wilayah Sumatera bagian selatan dan Bengkulu.
Sejarah
sunting

Aksara Sunda merupakan sistem tulisan yang berkembang dan digunakan oleh masyarakat Sunda di wilayah Jawa bagian barat. Tradisi tulis masyarakat Sunda telah dikenal sejak sekitar abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, yang dibuktikan melalui sejumlah prasasti beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Tradisi tersebut kemudian berkembang hingga melahirkan bentuk aksara khas Sunda yang dikenal sebagai Aksara Sunda Kuno, yang sebagian besar telah dibahas oleh Kern (1917) dalam karyanya yang berjudul Verspreide Geschriften: Inscripties van den Indischen Archipel.[2]




Aksara Sunda Kuno diperkirakan digunakan sejak abad ke-14 hingga abad ke-18 untuk menuliskan bahasa Sunda Kuno dalam prasasti, naskah lontar, serta dokumen keagamaan dan kesusastraan. Beberapa bukti penggunaan aksara ini dapat ditemukan pada Prasasti Kawali di Kawali, Ciamis, serta Prasasti Kebantenan di Bogor. Secara paleografis, Aksara Sunda Kuno merupakan hasil perkembangan dari aksara turunan Pallawa yang juga berkaitan dengan aksara Kawi.



Selain Aksara Sunda Kuno, masyarakat Sunda juga mengenal dan menggunakan beberapa sistem tulisan lain sesuai dengan perkembangan budaya dan pengaruh politik pada masanya. Aksara Pallawa digunakan pada masa awal pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara, sedangkan aksara Jawa dan Cacarakan mulai berkembang di Tatar Sunda setelah masuknya pengaruh budaya Jawa dan Islam. Di lingkungan pesantren, aksara Pegon digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda maupun bahasa Arab. Sementara itu, aksara Latin mulai digunakan secara luas sejak masa kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.
Penelitian terhadap prasasti dan naskah beraksara Sunda mulai dilakukan secara intensif pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 oleh sejumlah sarjana asing, seperti Karel Frederik Holle dan Cornelis Marinus Pleyte. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan oleh peneliti Indonesia, antara lain Atja dan Edi S. Ekadjati. Hasil penelitian tersebut berperan dalam meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan Aksara Sunda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda.[2]
Upaya pelestarian dan standardisasi Aksara Sunda mulai dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada akhir abad ke-20. Pada tahun 1996 diterbitkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Peraturan tersebut kemudian diperbarui melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 dan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014.[3]
Pada tanggal 21 Oktober 1997, diselenggarakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus Unpad, Jatinangor, yang merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Fakultas Sastra Unpad. Lokakarya tersebut menghasilkan rumusan aksara standar yang kemudian dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Berdasarkan hasil kajian tersebut, pada tanggal 16 Juni 1999 diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 434/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bentuk baku Aksara Sunda, yang kemudian dikenal sebagai Aksara Sunda Baku.
Penggunaan
suntingSaat ini, Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas, antara lain melalui berbagai kegiatan kebudayaan daerah yang diselenggarakan di Bandung. Selain itu, aksara ini juga digunakan pada papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda serta Kantor Dinas Pariwisata Kota Bandung.
Pemerintah daerah di beberapa wilayah juga mulai mengadopsi penggunaan Aksara Sunda Baku. Pemerintah Kota Tasikmalaya, misalnya, telah menggunakan aksara ini pada papan nama jalan-jalan utama. Sementara itu, di Kota Bandung dan Kota Bogor, penggunaan bahasa Sunda dengan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan ditempatkan berdampingan dengan penulisan dalam bahasa Indonesia (alfabet Latin).[4][5][6]
Namun demikian, hingga akhir tahun 2008, pembelajaran Aksara Sunda Baku belum diwajibkan secara formal di sekolah oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, meskipun bahasa Sunda telah menjadi mata pelajaran wajib. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian aksara belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pendidikan formal.[7][8]
Sebagai perbandingan, beberapa daerah lain, seperti Provinsi Lampung dan Provinsi Jawa Tengah, telah lebih dulu mewajibkan pembelajaran aksara daerah bersamaan dengan bahasa daerah di tingkat sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi bahasa dan aksara dalam pendidikan formal dapat mempercepat pelestarian budaya tulis lokal. [9]
Dalam praktiknya, penerapan Aksara Sunda Baku di ruang publik masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait akurasi penulisan. Kesalahan penulisan pernah terjadi pada papan nama di depan Balai Kota Sukabumi yang menyebabkan perubahan makna dari "Balai Kota Sukabumi" menjadi "Nyala Kata Sukanyama". Kasus ini mendapat kritik dari pegiat budaya karena menunjukkan lemahnya validasi teknis dalam penggunaan aksara daerah.[10]
Menanggapi hal tersebut, pemerintah setempat kemudian melakukan perbaikan dengan mencopot dan memperbaiki penulisan aksara yang keliru. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kesalahan tersebut terjadi akibat hilangnya tanda diakritik (rarangkén) pada aksara, yang berdampak signifikan terhadap perubahan makna.[11]
Penggunaan, pemeliharaan, dan pengembangan bahasa, sastra, dan Aksara Sunda di Kota Bandung sendiri diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012. Regulasi ini menjadi landasan formal dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya Sunda, termasuk aksaranya.[12]
Bentuk
suntingAksara Sunda Baku terdiri atas 32 aksara dasar, yaitu 7 aksara swara (vokal mandiri) dan 23 aksara ngalagena (konsonan bervokal /a/). Aksara swara meliputi a, é, i, o, u, e, dan eu.
| Pelafalan | Depan | Madya | Belakang | Gelungan | Dental |
|---|---|---|---|---|---|
| Tertutup (Tinggi) | ᮄ [i] i |
ᮅ [u] u |
|||
| Setengah tertutup (Sedang) | ᮆ [ɛ] é |
ᮈ [ə] e[1] |
ᮉ [ɤ] eu[2] ᮇ [ɔ] o[2] |
||
| Terbuka (Rendah) | ᮃ [a] a |
||||
| Vokal silabis / historis | ᮻ [r̩ɤ] reu[3] |
ᮼ [l̩ɤ] leu[3] | |||
| Catatan: | |||||
|
| |||||
Sedangkan aksara ngalagena tersusun dalam kelompok ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, dan wa-sa-ha. Lima aksara ngalagena tambahan dimunculkan untuk merekam perkembangan bahasa Sunda, termasuk merepresentasikan bunyi serapan dari bahasa asing. Namun demikian, bentuk aksara tambahan tersebut bukan merupakan kreasi baru, melainkan hasil modifikasi dari aksara yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, aksara fa dan va merupakan modifikasi dari aksara pa; aksara qa dan xa merupakan modifikasi dari aksara ka; sedangkan aksara za merupakan modifikasi dari aksara ja. Dua aksara tambahan lainnya, yaitu kha dan sya, digunakan untuk melambangkan fonem yang berasal dari abjad Arab خ dan ش.
| Tempat pelafalan | Nirsuara | Bersuara | Sengauan | Semivokal | Tril | Lateral | Sibilan | Celah-suara | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nirhembus | Berhembus | Nirhembus | Berhembus | |||||||
| Lelangit-belakang | ᮊ [ka] ka ᮋ [kʷa] qa[4] |
ᮮ [xa] kha[8] |
ᮌ [ga] ga |
ᮍ [ŋa] nga[1] |
ᮠ [ha] ha | |||||
| Lelangit | ᮎ [tʃa] ca |
ᮏ [dʒa] ja ᮐ [za] za[5] |
ᮑ [ɲa] nya[2] |
ᮚ [ja] ya |
ᮯ [ʃa] sya[9] |
|||||
| Gelungan | ᮓ [da] [t̪̚a] (akhir) da |
ᮛ [ra] ra |
ᮜ [la] la |
ᮞ [sa] sa ᮟ [kˈsa] xa[7] |
||||||
| Gigi | ᮒ [t̪a] [t̪̚a] (akhir) ta |
ᮔ [n̪a] na |
||||||||
| Gigi-bibir | ᮖ [fa] fa ᮗ [va] va[6] | |||||||||
| Bibir | ᮕ [pa] pa |
ᮘ [ba] ba |
ᮽ [bʰa] bha[3] |
ᮙ [ma] ma |
ᮝ [wa] wa |
|||||
| Catatan: | ||||||||||
|
| ||||||||||
Aksara ini juga memiliki rarangkén, yaitu tanda diakritik yang berfungsi untuk mengubah atau menambahkan bunyi serta menghilangkan rarangkén (pamaéh) pada aksara dasar. Tiga belas rarangkén tersebut, berdasarkan posisinya, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) lima rarangkén di atas huruf, (2) tiga rarangkén di bawah huruf, dan (3) lima rarangkén sejajar dengan huruf. Untuk menuliskan angka atau bilangan, aksara ini memiliki 10 angka dasar, yaitu dari 0 sampai 9.
Dari segi bentuk, huruf ngalagena dan rarangkén memiliki sudut 45°–75°. Umumnya, perbandingan dimensi huruf (tinggi:lebar) adalah 4:4, kecuali untuk huruf ra (4:3), ba dan nya (4:6), serta aksara swara i (4:3). Rarangkén memiliki perbandingan dimensi 2:2, kecuali panyecek (1:1), panglayar (4:2), panyakra (2:4), pamaéh (4:2) dan pamingkal (2:4 pada sisi bawah, 3:2 pada sisi kanan). Angka memiliki perbandingan dimensi 4:4, kecuali angka 4 dan 5 yang berukuran 4:3.
Aksara Swara
sunting
| Artikulasi | Huruf | IPA | Latin | Kategori | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Vokal | ᮃ |
[a] | a[1] | Vokal dasar | ||||||
ᮆ |
[ɛ] | é[2] | Vokal dasar | |||||||
ᮄ |
[i] | i[3] | Vokal dasar | |||||||
ᮇ |
[ɔ] | o[4] | Vokal dasar | |||||||
ᮅ |
[u] | u[5] | Vokal dasar | |||||||
ᮈ |
[ə] | e[6] | Vokal dasar | |||||||
ᮉ |
[ɤ] | eu[7] | Vokal dasar | |||||||
| Vokal silabis / historis | ᮻ |
[r̩ɤ] | reu[8] | Historis | ||||||
ᮼ |
[l̩ɤ] | leu[9] | Historis | |||||||
| Catatan: | ||||||||||
|
| ||||||||||
Aksara Ngalagena
sunting
| Pola deret ka-ga-nga | ka | ga | nga | ca | ja | nya |
|---|---|---|---|---|---|---|
ᮊ |
ᮌ |
ᮍ |
ᮎ |
ᮏ |
ᮑ | |
| ta | da | na | pa | ba | ma | |
ᮒ |
ᮓ |
ᮔ |
ᮕ |
ᮘ |
ᮙ | |
| ya | ra | la | wa | sa | ha | |
ᮚ |
ᮛ |
ᮜ |
ᮝ |
ᮞ |
ᮠ | |
| Serapan asing | fa | va | qa | xa | za | — |
ᮖ |
ᮗ |
ᮋ |
ᮟ |
ᮐ |
— | |
| Serapan Arab | kha | sya | — | — | — | — |
ᮮ |
ᮯ |
— | — | — | — |
Rarangkén
suntingBerdasarkan letak penulisannya, 13+5 Rarangkén dikelompokkan sebagai berikut:
- Rarangkén di atas huruf = 5 macam
| Rarangkén | Keterangan |
|---|---|
᮰ᮤ |
Panghulu, merubah vokal dari [a] menjadi [i].
|
᮰ᮨ |
Pamepet, merubah vokal dari [a] menjadi [ə].
|
᮰ᮩ |
Paneuleung, merubah vokal dari [a] menjadi [ɤ].
|
᮰ᮁ |
Panglayar, menambah konsonan [r] pada akhir suku kata.
|
᮰ᮀ |
Panyecek, menambah konsonan [ŋ] pada akhir suku kata.
|
- Rarangkén di bawah huruf = 3+2[kuno] macam
| Rarangkén | Keterangan |
|---|---|
᮰ᮥ |
Panyuku, merubah vokal dari [a] menjadi [u].
|
᮰ᮢ |
Panyakra, menambah konsonan [r] di tengah suku kata.
|
᮰ᮣ |
Panyiku, menambah konsonan [l] di tengah suku kata.
|
᮰ᮬ |
Pamintel[kuno], menambah konsosnan [m] di tengah suku kata.
|
᮰ᮭ |
Papasangan[kuno], menambah konsosnan [w] di tengah suku kata.
|
| Catatan: | |
|
| |
- Rarangkén sejajar dengan huruf = 5+3[kuno] macam
| Rarangkén | Keterangan |
|---|---|
ᮦ᮰ |
Panéléng, merubah vokal dari [ɑ] menjadi [ɛ].
|
᮰ᮧ |
Panolong, merubah vokal dari [ɑ] menjadi [ɔ].
|
᮰ᮡ |
Pamingkal, menambah konsonan [j] di tengah suku kata.
|
᮰ᮂ |
Pangwisad, menambah konsonan [h] di akhir suku kata.
|
᮰᮪ |
Pamaéh atau patén, meniadakan vokal (∅) pada suku kata.
|
ᮺ |
Avagraha[kuno], adalah tanda yang berfungsi memisahkan bunyi vokal dari huruf tanpa pamaéh.
|
ᮾ |
Tanda[kuno] ini berfungsi menambah konsonan [k] di akhir suku kata.
|
ᮿ |
Tanda[kuno] ini berfungsi menambah konsonan [m] di akhir suku kata.
|
| Catatan: | |
|
| |
Angka Sunda
sunting| Angka Sunda | Angka Arab | Bahasa Sunda | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|---|
᮰ |
0 | ᮈᮔᮧᮜ᮪ Enol |
Nol |
᮱ |
1 | ᮠᮤᮏᮤ Hiji |
Satu |
᮲ |
2 | ᮓᮥᮃ Dua |
Dua |
᮳ |
3 | ᮒᮤᮜᮥ Tilu |
Tiga |
᮴ |
4 | ᮇᮕᮒ᮪ Opat |
Empat |
᮵ |
5 | ᮜᮤᮙ Lima |
Lima |
᮶ |
6 | ᮌᮨᮔᮨᮕ᮪ Genep |
Enam |
᮷ |
7 | ᮒᮥᮏᮥᮠ᮪ Tujuh |
Tujuh |
᮸ |
8 | ᮓᮜᮕᮔ᮪ Dalapan |
Delapan |
᮹ |
9 | ᮞᮜᮕᮔ᮪ Salapan |
Sembilan |
|
Dalam teks, angka diapit oleh dua tanda pipa ( |…| ). | |||
|
| |||
Tanda baca
suntingPada masa kini, Aksara Sunda Baku menggunakan tanda baca yang diadopsi dari sistem tata tulis Latin, seperti koma ( , ), titik ( . ), titik koma ( ; ), titik dua ( : ), tanda seru ( ! ), tanda tanya ( ? ), tanda kutip ( "…" ), tanda kurung ( (…) ), dan tanda kurung siku ( […] ). Namun, Aksara Sunda Kuno memiliki tanda baca tersendiri yang disebut bindu.
Dalam sistem lama, bindu surya yang menggambarkan matahari ⟨᳀⟩ digunakan pada ⟨᳆᳀᳆⟩, sedangkan bindu panglong yang menggambarkan bulan separuh ⟨᳁⟩ digunakan pada ⟨᳆᳁᳆⟩. Kedua tanda tersebut berfungsi untuk menandai naskah yang bernilai religius, termasuk ba satanga ⟨᳇᳇⟩ Adapun bindu purnama yang menggambarkan bulan purnama ⟨᳂⟩ digunakan pada ⟨᳅᳂᳅⟩ untuk menandai naskah sejarah. Bindu cakra ⟨᳃⟩ umumnya dipakai sebagai tanda koma; dalam beberapa konteks, bindu purnama juga dapat berfungsi sebagai koma ketika bindu surya dipakai sebagai penutup.
Selain itu, terdapat bindu leu satanga ⟨᳄⟩ dari aksara ⟨ᮼ⟩, bindu ka satanga ⟨᳅⟩, bindu da satanga ⟨᳆⟩, dan bindu ba satanga ⟨᳇⟩. Dari keempatnya, makna semantis bindu leu satanga masih belum jelas[13], sedangkan tiga lainnya merupakan bentuk dekoratif yang berasal dari aksara dasar yang bersangkutan.
Penggunaan pasangan
sunting
Kata atau kalimat sederhana dalam Aksara Sunda Baku dapat ditulis secara langsung dengan menyusun aksara ngalagena yang mewakili bunyi dasar. Namun, pada kata tertentu dapat ditemukan gugus konsonan. Dalam hal ini, terdapat dua cara penulisan, yaitu menggunakan pamaéh atau pasangan.
Penggunaan pamaéh merupakan cara dasar untuk menghilangkan vokal inheren /a/ pada aksara ngalagena. Sementara itu, pasangan digunakan untuk menghindari penggunaan pamaéh di tengah kata serta untuk menghemat ruang penulisan. Bentuk pasangan ditulis dengan melekatan aksara ngalagena kedua pada aksara sebelumnya, sehingga vokal /a/ pada aksara pertama dihilangkan.
Unicode
suntingAksara Sunda ditambahkan ke dalam standar Unicode pada April 2008 melalui perilisan Unicode versi 5.1. Penambahan ini memungkinkan Aksara Sunda digunakan secara lebih luas pada perangkat digital, termasuk komputer, telepon genggam, dna media elektronik lainnya.
Blok Unicode untuk Aksara Sunda mencakup aksara dasar, rarangkén, angka, serta berbagai tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan Sunda modern. Dukungan digital tersebut turut mendukung upaya pelestarian dan pengembangan Aksara Sunda di era teknologi informasi, terutama dalam bidang pendidikan, penerbitan, tipografi, dan komunikasi digital.
Pada Unicode versi 6.3, dukungan tambahan untuk bentuk pasangan serta beberapa karakter dari aksara Sunda Kuno juga diperkenalkan. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan kelengkapan representasi aksara Sunda dalam sistem Unicode, termasuk untuk kebutuhan penulisan naskah historis dan kajian filologis.
Saat ini, Aksara Sunda telah didukung ileh berbagai jenis huruf digital (font) dan dapat digunakan pada sejumlah sistem operasi serta aplikasi yang mendukung standar Unicode.
Blok
suntingBlok Unicode untuk Aksara Sunda terletak pada rentang kode U+1B80–U+1BBF. Blok ini mencakup aksara dasar, rarangkén, angka, serta berbagai tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan Aksara Sunda modern.
Selain itu, Unicode juga menyediakan blok tambahan untuk Aksara Sunda pada rentang U+1CC0–U+1CCF. Blok tambahan ini memuat sejumlah karakter pelengkap yang digunakan dalam penulisan dan kajian naskah Sunda kuno.
| Sundanese[1] Official Unicode Consortium code chart (PDF) | ||||||||||||||||
| 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | A | B | C | D | E | F | |
| U+1B8x | ᮀ | ᮁ | ᮂ | ᮃ | ᮄ | ᮅ | ᮆ | ᮇ | ᮈ | ᮉ | ᮊ | ᮋ | ᮌ | ᮍ | ᮎ | ᮏ |
| U+1B9x | ᮐ | ᮑ | ᮒ | ᮓ | ᮔ | ᮕ | ᮖ | ᮗ | ᮘ | ᮙ | ᮚ | ᮛ | ᮜ | ᮝ | ᮞ | ᮟ |
| U+1BAx | ᮠ | ᮡ | ᮢ | ᮣ | ᮤ | ᮥ | ᮦ | ᮧ | ᮨ | ᮩ | ᮪ | ᮫ | ᮬ | ᮭ | ᮮ | ᮯ |
| U+1BBx | ᮰ | ᮱ | ᮲ | ᮳ | ᮴ | ᮵ | ᮶ | ᮷ | ᮸ | ᮹ | ᮺ | ᮻ | ᮼ | ᮽ | ᮾ | ᮿ |
Catatan
| ||||||||||||||||
| Sundanese Supplement[1][2] Official Unicode Consortium code chart (PDF) | ||||||||||||||||
| 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | A | B | C | D | E | F | |
| U+1CCx | ᳀ | ᳁ | ᳂ | ᳃ | ᳄ | ᳅ | ᳆ | ᳇ | ||||||||
| Catatan | ||||||||||||||||
Contoh
sunting
ᮜᮓᮢᮀ
ᮃᮚ ᮠᮤᮏᮤ ᮛᮥᮕ ᮞᮒᮧ ᮜᮩᮒᮤᮊ᮪,
ᮆᮀᮊᮀ-ᮆᮀᮊᮀ, ᮆᮀᮊᮀ-ᮆᮀᮊᮀ,
ᮞᮧᮊ᮪ ᮜᮥᮜᮥᮙ᮪ᮕᮒᮔ᮪ ᮓᮤ ᮎᮄ,
ᮃᮛᮤ ᮘᮍᮥᮔ᮪ ᮃᮛᮦᮊ᮪ ᮞᮛᮥᮕ ᮏᮀ ᮜᮔ᮪ᮎᮂ.
Ladrang
Aya hiji rupa sato leutik,
Éngkang-éngkang, éngkang-éngkang,
Sok lulumpatan di cai,
Ari bangun arék sarupa jang lancah.

ᮃᮞᮬᮛᮔ᮪ᮓᮔ
ᮆᮜᮤᮀ ᮆᮜᮤᮀ ᮙᮀᮊ ᮆᮜᮤᮀ,
ᮛᮥᮙᮤᮀᮊᮀ ᮓᮤ ᮘᮥᮙᮤ ᮃᮜᮙ᮪,
ᮓᮁᮙ ᮝᮝᮚᮍᮔ᮪ ᮘᮆ,
ᮛᮌ ᮒᮚ ᮕᮍᮝᮞ,
ᮜᮙᮥᮔ᮪ ᮊᮞᮞᮁ ᮜᮙ᮪ᮕᮂ,
ᮔᮕ᮪ᮞᮥ ᮔᮥ ᮙᮒᮊ᮪ ᮊᮓᮥᮠᮥᮀ,
ᮘᮓᮔ᮪ ᮃᮔᮥ ᮊᮒᮨᮙ᮪ᮕᮥᮠᮔ᮪.
Asmarandana
Éling éling mangka éling,
Rumingkang di bumi alam,
Darma wawayangan baé,
Raga taya pangawasa,
Lamun kasasar lampah,
Napsu nu matak kaduhung,
Badan anu katempuhan.
UDHR Pasal 1:
ᮞᮊᮥᮙ᮪ᮔ ᮏᮜᮬ ᮌᮥᮘᮢᮌ᮪ ᮊ ᮃᮜᮙ᮪ ᮓᮥᮑ ᮒᮦᮂ ᮞᮤᮕᮒ᮪ᮔ ᮙᮨᮁᮓᮤᮊ ᮏᮩᮀ ᮘᮧᮌ ᮙᮁᮒᮘᮒ᮪ ᮊᮒᮥᮒ᮪ ᮠᮊ᮪-ᮠᮊ᮪ ᮃᮔᮥ ᮞᮛᮥᮃ. ᮙᮛᮔᮦᮂᮔ ᮓᮤᮘᮦᮛᮦ ᮃᮊᮜ᮪ ᮏᮩᮀ ᮠᮒᮦ ᮔᮥᮛᮔᮤ, ᮎᮙ᮪ᮕᮥᮁ-ᮌᮅᮜ᮪ ᮏᮩᮀ ᮞᮞᮙᮔ ᮃᮚ ᮓᮤᮔ ᮞᮥᮙᮍᮨᮒ᮪ ᮓᮥᮓᮥᮜᮥᮛᮔ᮪.
Sakumna jalma gubrag ka alam dunya téh sipatna merdika jeung boga martabat katut hak-hak anu sarua. Maranéhna dibéré akal jeung haté nurani, campur-gaul jeung sasamana aya dina sumanget duduluran.
Galeri
sunting| Contoh-contoh penggunaan aksara Sunda baku | |
|
Dalam budaya populer
suntingAksara Sunda bisa ditemui dalam film dan permainan DreadOut.[14][15]
Lihat pula
sunting- Aksara Sunda Kuno
- Angka Sunda
- Aksara Buda
- Sastra Sunda
- Bahasa Sunda
- Budaya Sunda
- Kongres Bahasa Sunda
Rujukan
sunting- ^ "Sundanese script". omniglot.com. Diakses tanggal 2026-05-07.
- ^ a b "Asal Usul Aksara Sunda: Identitas Budaya di Abad Lampau yang Sempat Dilarang Penjajah". m.caping.co.id (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
- ^ "Perda Provinsi Jawa Barat No. 14 Tahun 2014". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-11-27. Diakses tanggal 16-01-2023. ;
- ^ "Nama Jalan di Bogor Ditulis Dengan Aksara Sunda". Poskota News (dalam bahasa Inggris). 2012-11-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-14. Diakses tanggal 2019-07-14.
- ^ dra. "Terkait Papan Nama Jalan Beraksara Sunda, DBMP Punya Dua Opsi". Tribunnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-14. Diakses tanggal 2019-07-14.
- ^ Abdussalam, Muhamad Syarif. "Sukarno Jadi Soekarno, Satu Contoh Salah Papan Nama Jalan Beraksara Sunda". Tribunnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-14. Diakses tanggal 2019-07-14.
- ^ "Translate Aksara Sunda (ᮝᮧᮝ᮪) | GoOnlineTools". Diakses tanggal 2025-06-16.
- ^ online, inilah (2018-07-11). "Disparbud Gairahkan Kembali Aksara Sunda". Inilah Online. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
- ^ Hanan, Shofira (2017-02-24). "Bahasa Sunda Punah Tahun 2026? - Pikiran-Rakyat.com". www.pikiran-rakyat.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
- ^ "Sempat Jadi Sorotan, Tulisan Aksara Sunda Baku di Balai Kota Sukabumi Akhirnya Dicopot dan Diperbaiki". suara.com. 2022-11-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-04. Diakses tanggal 2022-12-04.
- ^ "Sempat Jadi Sorotan, Tulisan Aksara Sunda Baku di Balai Kota Sukabumi Akhirnya Dicopot dan Diperbaiki". suara.com. 2022-11-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-12-04. Diakses tanggal 2022-12-04.
- ^ "PERDA Kota Bandung No. 9 Tahun 2012 tentang Penggunaan, Pemeliharaan Dan Pengembangan Bahasa, Sastradan Aksara Sunda [JDIH BPK RI]". peraturan.bpk.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
- ^ EVERSON, Michael. Proposal untuk pengkodean karakter tambahan Aksara Sunda untuk Aksara Sunda Kuno dalam UCS. Tersedia di sini (dalam bahasa Inggris). 5 September 2009.
- ^ Digdo, Ikhsan (2019-01-03). "Film Dread Out". MerahPutih. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-03-15.
- ^ Yanuar, Elang Riki (2019-01-03). "Bintangi Film Dread Out, Jefri Nichol Sempat Terkendala Berbahasa Sunda". Medcom.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-03-15.
Sumber
sunting- Juniarso Ridwan: Perda Kebudayaan yang Terkesan Chauvinistik, Pikiran Rakyat 4 Desember 2003.
- Tedi Permadi: Aksara Sunda dan Soal Lainnya, Pikiran Rakyat 15 Februari 2004.
- Atep Kurnia: Jasa Tuan Hola Buat Sunda, Kompas (Edisi Jawa Barat) 10 November 2007.
- Djasepudin: Memasyarakatkan Aksara Sunda, Kompas (Edisi Jawa Barat) 07 April 2007.
Pranala luar
sunting- Proposal pengkodean karakter aksara Sunda
- https://symbl.cc/en/unicode/blocks/sundanese/
- Pedoman Ejaan Bahasa Sunda Yang Disempurnakan
- Kamus Sunda-Indonesia Repositori Kemdikbud
- Kamus Bahasa Sunda-Inggris oleh F.S. Eringa
- Konverter Aksara Latin-Aksara Sunda di kairaga.com
- Tabel Karakter Unicode Aksara Sunda di unicode-table.com
