Mangkubumi
๊ฆฉ๊ฆ๊ฆ๊ฆธ๊ฆจ๊ฆธ๊ฆฉ๊ฆถ
Gusti Kanjeng Ratu
Ratu Mangkubumi pada 2025
Putri Mahkota Yogyakarta
Pemahkotaan5 Mei 2015
KelahiranGusti Raden Ajeng Nurmalitasari
24 Februari 1972 (umurย 54)
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Pasangan
โ€‹
(m.ย 2002)โ€‹
Keturunan
  • Raden Ajeng Artie Ayya Fatimasari
  • Raden Mas Drasthya Wironegoro
Nama lengkap
Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng ing Mataram
WangsaMataram
AyahHamengkubuwana X
IbuRatu Hemas
AgamaIslam

Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi (bahasa Jawa: ๊ฆ’๊ฆธ๊ฆฑ๊ง€๊ฆ ๊ฆถ๊ฆ๊ฆ๊ฆ—๊ฆผ๊ฆ๊ฆซ๊ฆ ๊ฆธ๊ฆฉ๊ฆ๊ฆ๊ฆธ๊ฆจ๊ฆธ๊ฆฉ๊ฆถ; lahir 24 Februari 1972 dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurmalitasari), sebelumnya bernama Gusti Kanjeng Ratu Pembayun adalah keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan putri pertama dari pasangan Hamengkubuwana X dengan Ratu Hemas dan diasumsikan sebagai pewaris utama suksesi.

Kehidupan awal dan pendidikan

sunting

Nurmalitasari dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Ia kemudian dibesarkan di lingkungan Keraton Yogyakarta hingga usia sekolah menengah atas, dengan pernah bersekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta sebelum pindah ke Singapura. Nurmalitasari kemudian masuk di ISS International School. Setelah lulus SMA, ia kuliah di Cuesta College di California, Amerika Serikat hingga gempa bumi Loma Prieta tahun 1989,[1] pindah ke Citrus College, sebelum akhirnya lulus sarjana di bidang manajemen retail dari Universitas Griffith di Queensland, Australia.

Pada 28 Juni 2023, Mangkubumi secara khusus menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (Dr. (H.C)) untuk Doctor of Humane Letters dari Universitas Illinois Utara (NIU) di DeKalb, Illinois, Amerika Serikat. Prosesi penganugerahan dilaksanakan di Universitas Widya Mataram, dengan ijazah diserahkan khusus oleh Wakil Presiden Eksekutif dan Provos NIU, Laurie Elish-Piper.[2][3][4]

Kehidupan pribadi

sunting
Mangkubumi (atas, kedua dari kiri) dan keluarganya bersama keluarga para adiknya di Keraton Yogyakarta.

Pembayun menikah dengan Nieko Messa Yudha yang diwisuda menjadi Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Wironegoro pada tanggal 28 Mei 2002. Berhubung ia adalah putri tertua, pernikahan tersebut mendapat banyak perhatian dan sorotan dari publik, khususnya masyarakat Yogyakarta. Pernikahan tersebut juga menjadi acuan bagi pernikahan-pernikahan ketiga adiknya yang belum menikah.[5]

Rangkaian acara pernikahan diawali dengan prosesi Nyantri,[6] di mana calon pengantin pria mulai memasuki Keraton Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2002. Sesuai dengan adat yang berlaku di keraton, ayahnya sendiri yang menikahkan putrinya dengan Wironegoro. Prosesi Panggih pernikahan dihadiri oleh pejabat tinggi negara, termasuk presiden Megawati Soekarnoputri serta duta-duta besar perwakilan negara-negara sahabat.[7] Sebagai putri raja, ia melewati prosesi Pondongan di mana mempelai pria dibantu salah seorang paman dari mempelai wanita yaitu Yudhaningrat untuk memondong (mengangkat) mempelai wanita sebagai simbol 'meninggikan' posisi seorang istri.[8]

Usai Panggih, kedua mempelai kemudian dikenalkan kepada masyarakat melalui prosesi kirab. Sebagai putri pertama, Pembayun harus dikirab keliling benteng Baluwerti, menggunakan kereta pusaka Kanjeng Kyai Jongwiyat, sesuai dengan adat yang berlaku. Prosesi Kirab yang sudah tidak pernah digelar lagi sejak zaman pemerintahan Hamengkubuwana VIII ini dihadiri oleh ratusan ribu warga Yogyakarta.[5] Pernikahan Agung ini mengikuti tradisi yang dipertahankan sejak ratusan tahun dan diteruskan hingga adik-adik dari Pembayun: Maduretno, Hayu, dan Bendara.

Pernikahan Pembayun dan Wironegoro dikaruniai dua orang anak, yaitu Raden Ajeng Artie Ayya Fatimasari Wironegoro dan Raden Mas Drasthya Wironegoro, masing-masing berhak untuk gelar putri dan pangeran. Putri pertamanya sudah cukup dewasa untuk menjalani upacara adat Tetesan pada tanggal 22 Desember 2013. Upacara ini menandai bahwa seorang anak perempuan sudah menginjak usia dewasa.[9] Putranya, Drasthya Wironegoro, bersekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta.[10]

Kiprah di keraton

sunting
Mangkubumi di upacara pernikahan adik ketiganya Hayu di Keraton Yogyakarta, Oktober 2013.

Sebagai putri tertua, Mangkubumi menjabat sebagai Lurah putri yang bertugas memimpin seluruh Sentana dalem putri atau keluarga keraton perempuan dan abdi dalem Keparak atau abdi dalem perempuan di lingkungan Keraton Yogyakarta.[11] Sebagai pemimpin abdi dalem Keparak, ia bertugas mengelola urusan domestik keraton termasuk seperti penyiapan upacara-upaacra adat, misalnya upacara rutin pemberian sesaji atau caos dhahar, penjagaan ruang pusaka, hingga pelayanan keperluan raja, permaisuri, dan para putra-putri keluarga keraton.[12] Ia juga mendapat tugas dari ayahnya untuk mengharmoniskan hubungan antara adik-adiknya dan keluarga besar keraton pada umumnya.[13] Jabatannya sebagai salah satu penghageng (pemegang jabatan) juga menuntutnya untuk memimpin beberapa upacara adat di lingkungan keraton, seperti Tumplak Wajik, Peksi Burak, juga beberapa upacara adat lainnya.[14][15]

Selain sebagai Lurah Putri, Mangkubumi juga menjabat sebagai penghageng untuk Kawedanan Hageng Datu Danasuyasa, sebuah kawedanan atau lembaga yang memiliki kewenangan mulai dari pemeliharaan kecil dan ringan bagian-bagian keraton, misalnya Benteng Cepuri dan Benteng Baluwerti; pengelolaan tanah-tanah kasultanan (Sultanaat Ground), baik itu tanah keprabon maupun tanah bukan keprabon; dan pengelolaan aset-aset bangunan dan sejenisnya di luar kompleks keraton. Kawedanan ini juga membawahi tiga kawedanan: Kawedanan Reksa Suyasa, Kawedanan Panitikisma, dan Kawedanan Sasana Pura.[16] Di keraton, Mangkubumi juga berusaha melestarikan budaya melalui keaktifannya dalam seni tari. Ia merupakan penari andalan keraton bersama tiga adiknya: Condrokirono, Hayu, dan Bendara.

Mangkubumi mewakili raja melakukan pembagian surat Palilah kekancingan untuk tanah-tanah kasultanan yang sedang dikelola oleh rakyat dan pihak-pihak lain.[17] Ia seringkali mengurus urusan terakait situs-situs milik atau terkait Keraton Yogyakarta, termasuk mempimpin pemindahan makam Mbah Celeng atau Kyai Kromo Ijoyo yang terdampak proyek Jalan Tol Yogyakarta-Surakarta di Mlati, Sleman pada tahun 2025.[18] Mangkubumi juga adalah salah satu orang yang peduli terhadap pemeliharaan keraton dan mendukung Sumbu Filosofis Yogyakarta dan situs-situsnya untuk dilindungi secara hukum internasional sebagai Situs Warisan Dunia. Pada 2025, ia memimpin upaya rehabilitasi dan konservasi Plengkung Gading yang mengalami kerusakan sebagai upaya penjagaan aset-aset Keraton Yogyakarta telah ditetapkan UNESCO.[19] Menurutnya, keraton sebagai pusat kebudayaan harus menjadi saringan dari pengaruh modernisasi yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Pada saat yang sama, keraton juga harus membuka diri dengan kemajuan zaman.[20]

Karier

sunting
Mangkubumi (berkebaya) beserta keluarga menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo di Keraton Yogyakarta pada Juni 2019.

Keorganisasian

sunting

Dalam bidang keorganisasian, Mangkubumi dikenal aktif memimpin berbagai lembaga sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Karang Taruna DIY (2002โ€“2012), Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Andalan Kelompok UPPKA DIY (2003โ€“2011), serta Ketua Umum Koperasi Aku Sejahtera (2005โ€“2009). Pada lingkup internasional, ia tercatat sebagai Wakil Ketua International Association of Wild Silk Moth berbasis di Jepang (2003โ€“2008). Selain itu, ia juga memimpin berbagai asosiasi, di antaranya Ketua Pembina Yayasan Royal Silk (2006โ€“2010), Ketua Asosiasi Masyarakat Persuteraan Alam Liar Indonesia (2006โ€“2010), dan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DIY (2006โ€“2011). Pada periode sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Masyarakat Sutera Alam DIY (2002โ€“2006) serta Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) DIY (2002โ€“2006).

Di bidang kepemudaan, Mangkubumi dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DIY (2012โ€“2015), sekaligus aktif mengembangkan program pemberdayaan generasi muda.[21] Kiprahnya berlanjut dalam organisasi lingkungan melalui Pusat Penyelamatan Satwa Jogja (2012โ€“sekarang), tempat ia mendorong upaya konservasi satwa dan pendidikan lingkungan. Selain itu, ia juga memimpin dunia usaha sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY sejak 2015, yang berperan penting dalam membangun jejaring ekonomi daerah dan kemitraan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan. Keterlibatan tersebut menjadikan Mangkubumi sebagai salah satu tokoh perempuan Yogyakarta yang memiliki pengaruh luas dalam ranah sosial, kepemudaan, lingkungan, serta ekonomi.

Bisnis

sunting

Mangkubumi juga menekuni dunia usaha dengan memegang sejumlah posisi strategis di berbagai perusahaan. Ia menjabat sebagai Direktur PT Yogyakarta Tembakau Indonesia, sebuah perusahaan rokok kretek yang didirikan dengan tujuan mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Bantul sekaligus memberdayakan tenaga kerja lokal. Selain itu, ia juga memimpin PT Yarsilk Gora Mahottama, perusahaan yang bergerak dalam pengembangan sutera alam sebagai komoditas unggulan sekaligus sarana pelestarian budaya dan kerajinan tradisional. Di sektor industri perkebunan, ia menduduki posisi sebagai Komisaris Utama PT Madu Baru, sebuah perusahaan gula dan spiritus di Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dan industri daerah.[22]

Kepramukaan

sunting

Pada 28 Maret 2015, Musyawarah Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta secara aklamasi memilih Pembayun sebagai Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) DIY. Setelah dilantik, ia menyampaikan visinya untuk memperluas jangkauan Gerakan Pramuka kepada anak-anak sejak tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, termasuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi kegiatan. Dalam berbagai kesempatan, ia juga mendorong anggota Gerakan Pramuka DIY untuk meraih prestasi hingga tingkat internasional dengan melanjutkan warisan kakeknya, Hamengkubuwana IX, yang dikenal sebagai "Bapak Pramuka Indonesia".

Pada periode kepengurusan Kwartir Nasional 2018โ€“2023, Mangkubumi dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua sekaligus Ketua Komisi Pengabdian Masyarakat (Abdimas). Melalui posisi ini, ia menggagas berbagai program kemitraan dengan lembaga pemerintah maupun swasta untuk memperluas kegiatan Pramuka yang berbasis pengabdian masyarakat. Ia juga memprioritaskan publikasi kegiatan melalui berbagai media agar lebih dikenal oleh generasi muda. Sejak 2015 hingga kini, Mangkubumi tetap menjabat sebagai Ketua Kwartir Daerah DIY.

Filantropi

sunting

Konservasi alam dan satwa liar

sunting

Mangkubumi tercatat aktif dalam bidang konservasi alam melalui keterlibatannya di Pusat Penyelamatan Satwa Jogja (PPSJ) di Kulon Progo, Yogyakarta. Kegiatan ini berfokus pada upaya penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar, khususnya orang utan, dengan menjalin kerja sama bersama organisasi masyarakat, sektor swasta, serta dukungan media internasional dari Luksemburg.[23][24][25] Selain orang utan, ia juga menaruh perhatian pada upaya pelestarian elang jawa (Nisaetus bartelsi), burung endemik Jawa yang memiliki nilai penting sebagai simbol nasional karena menjadi inspirasi lambang negara Indonesia.[26]

Menjadikan Yogyakarta sebagai cyber province

sunting

Pada awal tahun 2012, Mangkubumi mengemukakan gagasan untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi berbasis digital atau cyber province pertama di Indonesia. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam bentuk proposal saat menjadi pembicara kunci pada pertemuan The Education World Forum 2012 yang berlangsung di The Queen Elizabeth II Conference Centre di London, Inggris, pada 9 hingga11 Januari 2012. Inisiatif ini menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan daerah, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi kreatif, dan tata kelola pemerintahan.[27]

Aktivitas sosial

sunting

Saat suaminya, Wironegoro, mulai meniti karier di dunia politik, sempat muncul pertanyaan publik apakah Mangkubumi akan mengikuti jejak suami maupun ibunya. Ia menepis anggapan tersebut dengan menegaskan bahwa dirinya lebih nyaman berkonsentrasi pada kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.[28][29] Sebagai aktivis di bidang sosial, Mangkubumi aktif mendukung berbagai program yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, kesehatan keluarga, hingga pembangunan berbasis komunitas. Atas dedikasinya tersebut, ia pernah memperoleh penghargaan "Sunsilk Unbreakable Woman" yang diberikan Sunsilk kepada tokoh perempuan inspiratif atas kiprahnya dalam memberdayakan perempuan di pedesaan.[30][31]

Mangkubumi aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja dan kesetaraan gender melalui kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).[32] Selain itu, ia juga menunjukkan perhatian besar terhadap bidang pendidikan, baik melalui aktivitas organisasi maupun perannya sebagai seorang ibu yang berupaya mendampingi putra-putrinya dalam proses belajar.[28] Di samping keterlibatannya dalam isu kepemudaan dan pendidikan, Mangkubumi juga berperan dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Ia tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah posisi yang menegaskan kontribusinya dalam mendukung misi kemanusiaan di tingkat daerah.[33]

Bibliografi

sunting
  • Pendidikan Berwawasan Kebangsaan: Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme (2008)[34]

Gelar, gaya, dan kehormatan

sunting

Gelar dan gaya

sunting

Nurmalitasari dilahirkan sebagai bangsawan keraton, wangsanya adalah Mataram. Secara tradisional, ketika dilahirkan gelarnya adalah Gusti Raden Ajeng (GRAj), gelar sebelum menikah untuk putri raja dari permaisuri. Sebelum pernikahannya pada 28 Mei 2002, ayahnya mengubah namanya yang semula Nurmalitasari menjadi Pembayun. Ia juga langsung menerima gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) alih-alih Gusti Raden Ayu (GRAy). Pemberian gelar ini dilangsungkan melalui upacara wisuda yang digelar di Keraton Yogyakarta pada 6 Mei 2002.[35]

Secara umum, Mangkubumi adalah Putri Yogyakarta, namun menurut tradisi, ia bergelar "ratu". Gelar ini diberikan kepada permaisuri serta kepada putri raja dari permaisuri ketika sudah dewasa. Sebagai putri penguasa, ia juga menerima gaya Paduka Kerajaan (bahasa Inggris: Royal Highness), tetapi secara adat, budaya, dan masyarakat, permaisuri dan para putri penguasa yang telah bergelar Gusti Kanjeng Ratu biasanya digayakan dengan sapaan setara, yaitu "Gusti" atau "Gusti Ratu".

Pada 5 Mei 2015, ayahnya mengeluarkan Dhawuh raja yang menyatakan Pembayun menerima gelar baru sebagai Mangkubumi, gelarnya kemudian berubah menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi. Dia sekaligus dinobatkan sebagai putri mahkota dengan gelar lengkap "Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng ing Mataram".[36][37] Dalam sejarah monarki, ia merupakan satu-satunya perempuan yang pernah dinobatkan. "Mangkubumi" memang sering kali diasosiasikan sebagai nama yang disandang oleh calon penerus takhta, tetapi dalam lingkup keraton, Mangkubumi tidak selalu menjadi seorang penguasa.

Tanda jasa

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "GKR Mangkubumi, Penjaga Inti Kebudayaan Keraton Yogyakarta". www.kratonjogja.id. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 19 November 2020.
  2. ^ "GKR Mangkubumi Dianugerahi Doktor Honoris Causa oleh Northern Illinois University". Universitas Widya Mataram. 2023-06-28. Diakses tanggal 2025-08-30.
  3. ^ "Penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada GKR Mangkubumi dari Northern Illinois University". kratonjogja.id. 2023-08-07. Diakses tanggal 2025-08-30.
  4. ^ "Apa Makna Gelar Dr HC yang Diterima GKR Mangkubumi dari Kampus AS NIU bagi DIY?". Kumparan. 2023-06-28. Diakses tanggal 2025-08-30.
  5. ^ a b ICH/Wiwik Susilo (29 Mei 2002). "Kirab Pengantin Keraton Yogyakarta Disambut Meriah". Liputan6.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-07-03. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  6. ^ PUT/DIT (28 Mei 2002). "Nyantri, Awali Pernikahan Putri Sultan GKR Pembayun". BaliPost.co.id. Diakses tanggal 9 Mei 2015. ; ;
  7. ^ LN Idayanie (28 Mei 2002). "Presiden dan Pejabat Tinggi Negara Hadiri Pernikahan Puteri Sultan HB X". Tempo Interaktif. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  8. ^ Joko Syahban, Kristiyanto, Sujoko, dan Sawariyanto (3 Juni 2002). "Perkawinan Agungย : Memurnikan mitos Mataram Islam". Gatra. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 9 Mei 2015. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  9. ^ Andreas Tri Pamungkas (22 Desember 2013). "Tetesan Putri Pembayun, Jaga Kesehatan Sekaligus Lestarikan Budaya". HarianJogja.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  10. ^ "Pelajar SMA Kolese de Britto, Cucu Sultan Ini Punya Hobi Unik". Jatim Poskota. Diakses tanggal 2025-11-19.
  11. ^ crew, kraton. "GKR Mangkubumi, Penjaga Inti Kebudayaan Keraton Yogyakarta". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-16.
  12. ^ crew, kraton. "Tugas dan Fungsi Abdi Dalem". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-16.
  13. ^ islamadina, putri. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 2014-01-15.
  14. ^ crew, kraton. "Putri Dalem Ikuti Pembacaan Riwayat Nabi dalam Rangkaian Prosesi Kondur Gangsa". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-16.
  15. ^ Harminanto, F. X. "Pertama Sejak Era HB VII, Kraton Yogyakarta Berikan Gunungan Garebeg Sawal ke Ndalem Mangkubumen, Ini Alasannya - Krjogja". Pertama Sejak Era HB VII, Kraton Yogyakarta Berikan Gunungan Garebeg Sawal ke Ndalem Mangkubumen, Ini Alasannya - Krjogja. Diakses tanggal 2025-03-16.
  16. ^ Liputan6.com (2024-11-16). "Mengenal Kawedanan Hageng Punakawan Datu Dana Suyasa, Penjaga Warisan Kesultanan Yogyakarta". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-03-16. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  17. ^ crew, kraton. "Realisasikan Hak Warga, Keraton Serahkan Serat Kekancingan". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-16.
  18. ^ Media, Harian Jogja Digital. "Pembangunan Tol Jogja-Solo, Pemindahan Makam Kiai Kromo Ijoyo Dimulai". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-16.
  19. ^ "Mendalami Makna Plengkung Gading, Pintu Masuk Keraton Yogyakarta yang Akhirnya Ditutup Total". Suarajogja.id. Diakses tanggal 2025-03-16.
  20. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-31. Diakses tanggal 2014-01-15.
  21. ^ Akhirul Awal (14 Oktober 2012). "GKR Pembayun Jabat Ketua DPD KNPI DIY". HarianJogja.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-12-23. Diakses tanggal 22 Desember 2015.
  22. ^ "Kondhang: GKR Pembayun "Jadi Raja itu Nggak Enak"". Kabare Jogja Magazine. 19 Juni 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-31. Diakses tanggal 19 Juni 2006.
  23. ^ Pembayun Makin Tua Makin Bermakna[pranala nonaktif permanen], 6 Maret 2012. Tabloid Nova. Rini.
  24. ^ "Ulang Tahun Ke-41 GKR Pembayun di PPSJ". Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. 24 Februari 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-15. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  25. ^ "Gusti Kanjeng Ratu Pembayun Visit Luxembourg Protection and Rehabilitation Orangutan". Embassy of the Republic of Indonesia in Brussels. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 2021-03-24.
  26. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-12-22. Diakses tanggal 2014-01-15.
  27. ^ Kunto Wibisono (12 Januari 2012). "Putri GKR Pembayun: Yogjakarta jadi provinsi cyber pertama". AntaraNews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-05-26. Diakses tanggal 12 Januari 2012.
  28. ^ a b "Gusti Pembayun Miliki Segudang Kegiatan Sosial, Ogah Terjun ke Dunia Politik". MataWanita. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 2014-01-15.
  29. ^ Ujang Hasanudin (8 Februari 2013). "GKR Pembayun Emoh Berpartai". HarianJogja.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 8 Februari 2013.
  30. ^ "GKR Pembayun Terima "Perempuan Tak Terpatahkan". Antaranews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  31. ^ Tomi Sujatmiko (15 Desember 2013). "Resmikan Kampung Wisata Kuliner, 'This Is It'..., Cokies Ubi Ungu GKR Pembayun". Kedaultan Rakyat Online.
  32. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 2014-01-15.
  33. ^ "Website Pmi Mudahkan Masyarakat Ketahui Stok Darah". JogjaTV, PMI Jogja. 30 Maret 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-18. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  34. ^ Anshoriy Ch, M. Nasruddin; Pembayun, G. K. R. (2008). Pendidikan Berwawasan Kebangsaan: Kesadaran Ilmiah Berbasis Multikulturalisme. Seri Satu Abad Kebangkitan Nasional (Edisi Cet. 1). Yogyakarta: LKiS Yogyakarta. ISBNย 978-979-1283-62-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  35. ^ "GRA Nurmalitasari Menyandang Gelar Baru". Liputan6. 2002-05-06. Diakses tanggal 2025-09-02.
  36. ^ Susilo, Wiwik; Mardianto (6 Mei 2002). "GRA Nurmalitasari Menyandang Gelar Baru". Liputan6. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-07-03. Diakses tanggal 9 Mei 2015.
  37. ^ Osdar, Joseph (5 Agustus 2024). "Keraton Yogyakarta Dipimpin Raja (Ratu) Perempuan". Kompas.com. Diakses tanggal 16 Maret 2024.
  38. ^ "GKR Pembayun Terima Satyalencana Kebaktian Sosial". Nova. 2012-12-23. Diakses tanggal 2025-12-08.
  39. ^ Choirise-PusbangJusinfo (2019-08-20). "Inilah Penerima Tanda Penghargaan Lencana Melati dan Lencana Darmabakti dalam Apel Besar Hari Pramuka ke-58". Pramuka DIY (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-26.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023. Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana, juga dikenal sebagai Ratu Pembayun

Ratu Ratna Pembayun

permaisuri bernama Dewi Amarawati atau Dewi Murdaningrum (Champa). Ratu Ratna Pembayun menjabat sebagai Adipati Agung Kertabhumi (Daerah Khusus ibukota

Pangeran Jayakarta

Jayakarta atau Jayawikarta adalah putra Tubagus Angke dan Ratu Pembayun Fatimah. Adapun ratu Pembayun Fatimah adalah kakak perempuan dari Sultan Hasanuddin

Ki Ageng Mangir

Panembahan Senapati menggunakan Retna Pembayun putrinya sebagai rantai emas. Atas nasihat Juru Mrentani, Retna Pembayun menyamar sebagai ledhek (penari seni

Sri Baduga Maharaja

dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi). Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu

Sunan Kalijaga

widjil di kadilangu Demak. Panembahan Hadi Raden Abdurrahman Ratu Retno Ayu Pembayun Ratu Retno Penenggak Raden Syarif Umar Sa'id At-Tuba Al-Hasani (Sunan

Ahmad Mutamakin

kerajaan Islam Campa. Dari perkawinan ini, lahir Raden Patah dan Ratu Pembayun. Ratu Pembayun mempunyai putra bernama Ki Ageng Pengging dalam babad dijelaskan

Ratu (gelar)

gelar jabatan, yakni untuk perempuan dipakai istilah Ratu, misalnya Ratu Kalinyamat atau Ratu Pembayun, sedangkan untuk lelaki dipakai istilah "Sultan",