Stasiun Yogyakarta
Kereta Api Indonesia KAI Commuter Kereta Api Indonesia#Kereta api bandara
Y01P01YA01JS04

Tampak depan dari pintu timur Stasiun Yogyakarta, saat proses percantikan bangunan utama stasiun, 2024
Nama lainStasiun Tugu
Lokasi
Koordinat7ยฐ47โ€ฒ21.2946โ€ณS 110ยฐ21โ€ฒ48.4956โ€ณE๏ปฟ / ๏ปฟ7.789248500ยฐS 110.363471000ยฐE๏ปฟ / -7.789248500; 110.363471000
Ketinggian+113 m
Operator
Otoritasย transportasiDirektorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (hanya untuk layanan kereta api komuter Commuter Line)
Letak
Jumlahย peron7
Jumlahย jalur9 (jalur 3, 4, dan 5: sepur lurus)
Layanan
Lintas utara Jawa
Aglomerasi
Konstruksi
Jenisย strukturAtas tanah
Gayaย arsitekturArt deco
Informasi lain
Kodeย stasiun
KlasifikasiBesar tipe A[2]
Sejarah
Dibuka20 Juli 1887
Namaย sebelumnyaStation Djocja Toegoe, Djocjakarta, Djokjakarta, Jogjakarta
Penumpang
202415.893/hari (KAI[a])
Peringkat3
Operasi layanan
Stasiun sebelumnya Logo PT KAI Antar Kota Stasiun berikutnya
Lempuyangan Lintas Selatan Jawa Kutoarjo
Stasiun sebelumnya Logo PT KAI Aglomerasi Stasiun berikutnya
Lempuyangan
berlawanan arah jarum jam
Joglosemarkerto Wates
searah jarum jam
Terminus Joglosemarkerto
Yogyakartaโ€“Cilacap, p.p.
Wates
menuju Cilacap
Stasiun sebelumnya Stasiun berikutnya
Wates
menuju YIA
Lin Yogyakarta International Airport Terminus
YIA
Terminus
Lin Yogyakarta International Airport
YIA Xpress
Stasiun sebelumnya Stasiun berikutnya
Terminus Commuter Line Yogyakarta
Yogyakartaโ€“Palur, p.p.
Lempuyangan
menuju Palur
Wates
menuju Kutoarjo
Commuter Line Prameks
Kutoarjoโ€“Yogyakarta, p.p.
Terminus
Fasilitas dan teknis
FasilitasParkirย Gedung parkirย Parkir sepedaย Cetak tiket mandiriย Ruang/area tungguย Pemesanan langsung di loketย Mesin tiketย Layanan pelangganย Pusat informasiย Musalaย Toiletย Wastafelย Jalur difabelย Tempat naik/turunย Ruang menyusuiย Pos kesehatanย Galeri ATMย Restoranย Pertokoan/area komersialย Penginapanย Tempat bermain anakย VIPย Ruang kerja bersamaย Barang hilangย Troliย Penitipan barangย Isi bateraiย Area merokokย Tangga naik/turunย Eskalatorย Wi-Fiย Sistem pengenalan wajahย Air minumย Pengering payung/payung gratisย 
Jenisย persinyalan
Cagar budaya Indonesia
Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta
PeringkatNasional
KategoriBangunan
No. RegnasKB000108
Tanggal SK2007 dan 2015
PemilikPT Kereta Api Indonesia (Persero)
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Lokasi pada peta
Peta
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Stasiun Yogyakarta (YK) (bahasa Jawa: ๊ฆฑ๊ง€๊ฆ ๊ฆฑ๊ฆถ๊ฆช๊ฆธ๊ฆค๊ง€๊ฆช๊ฆบ๊ฆด๊ฆ’๊ฆพ๊ฆ๊ฆ‚๊ฆ /๊ฆ”๊ฆช๊ฆบ๊ฆด๊ฆ’๊ฆพ๊ฆ๊ฆ‚๊ฆ , translit.ย Stasiyun Yogyakarta/Ngayogyakarta), terkadang ditulis Stasiun Jogjakarta[b], dan juga dikenal sebagai Stasiun Tugu, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta pada ketinggian +113 meter di atas permukaan laut dengan jarak 516ยฝ km arah tenggara dari Jakarta Kota. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api utama di Daerah Istimewa Yogyakarta serta dalam pengelolaan Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi VI Yogyakarta bersama dengan anak perusahaan PT KAI (Persero) seperti KAI Commuter dan KAI Bandara. Bangunan stasiun beserta rel Kereta Api yang membujur dari barat ke timur berada di Gedongtengen. Letak stasiun ini tidak jauh dari objek wisata Jalan Malioboro.

Sebagai penghubung utama di jalur selatan Pulau Jawa, Stasiun Yogyakarta melayani kereta api antarkota kelas eksekutif dan sebagian besar kelas campuran beserta kereta bandara YIA dan komuter seperti Commuter Line Yogyakarta dan Prambanan Ekspres. Stasiun besar lainnya di Kota Yogyakarta, yaitu Stasiun Lempuyangan dikhususkan untuk melayani KA antarkota lintas selatan kelas ekonomi, kereta rangkaian panjang (KA Jayakarta), sebagian kecil kelas campuran, dan Commuter Line Yogyakarta.[4]

Berdasarkan jumlah penumpang kereta api antarkota yang dirilis PT Kereta Api Indonesia (KAI) antara Januariโ€“Oktober 2024, Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun kereta api tersibuk di luar Jabodetabek dengan mencatatkan 4.847.417 penumpang berdasarkan total jumlah penumpang naik maupun turun.[a]

Sejarah

sunting

Generasi pertama (1887โ€“1928)

sunting
Stasiun Tugu pada masa kolonial, 1890-an.

Menurut rencana yang dibuat oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1884, setelah beberapa tahun berkutat dengan masalah konsesi jalur antara pemerintah dan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan juga rampungnya hubungan Surabayaโ€“Solo dan Bataviaโ€“Bogorโ€“Cicalengka, stasiun terminus untuk Yogyakarta direncanakan akan dibangun di kawasan Tugu, tepatnya di sebelah barat dari terminus Stasiun Lempuyangan (dulunya disebut sebagai Djocja Vorstenlanden atau Djocja NIS) milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dan akan menjadi terminus dari jalur kereta api Cilacapโ€“Yogyakarta yang dibangun pada periode yang sama. Stasiun ini juga ditempatkan di sebelah timur bantaran Kali Winongo. Di masa-masa konstruksi proyek jalurnya, dibangun jembatan gantung untuk lalu lalang pekerja proyek. Hubungan dengan stasiun milik NIS akan membuat lalu lintas kereta api semakin lancar. Jalur Cilacapโ€“Yogyakarta dibangun melalui berbagai daerah yang padat penduduk serta melewati Bagelen dan Banyumas selatan, hingga akhirnya mencapai Cilacap.[6]

Stasiun ini dibangun di depan Hotel Toegoe, dan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang per hari. Selain membangun stasiun, juga membangun rumah dinas pegawai kereta api, dan ditempatkan strategis agar dekat dengan kawasan permukiman Eropa dan Tionghoa, dan tidak berjarak lebih jauh (2 pal) dari pusat kota Yogyakarta. Di samping membangun stasiun, juga membangun penghubung antara stasiun ini dengan Lempuyangan (kelak dikenal sebagai Jembatan Kewek). Buruh-buruh proyek jalur tersebut diupah sebesar 80 sen, sesuatu yang dapat dianggap bernilai besar pada masa itu.[7]

Jembatan Kewek mulai beroperasi pada 7 Juli 1887, memotong Sumbu Filosofis Yogyakarta, sedangkan Stasiun Yogyakarta mulai beroperasi 13 hari kemudian dengan beroperasinya jalur Cilacapโ€“Yogyakarta. Stasiun ini dahulu dirujuk sebagai Djocja Toegoe atau Djokja Toegoe.[8] Menjelang masa operasional penuhnya, Hotel Toegoe, yang menjadi salah satu hotel unggulan di Yogyakarta, mulai membenahi pelayanan. Bahkan, ada seorang Tionghoa yang mencoba ikut mencari peruntungan dengan menjadikan rumahnya sebagai alternatif penginapan.[9]

Beberapa waktu setelah hubungan antara Bataviaโ€“Surabaya lewat jalur selatan selesai terbentuk pada 1894, muncul kembali wacana untuk mengubah jalur kereta api Semarangโ€“Vorstenlanden dari 1.435ย mm (4ย ftย 8+1โ„2ย in) menjadi 1.067ย mm (3ย ftย 6ย in) agar dapat beradaptasi dengan jalur lain. Wacana ini sebenarnya sudah mengemuka sejak 1875, dilakukan antara Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).[8]:โ€Š35โ€Š Pemerintah telah memperkirakan bahwa ketika hubungan Batavia dan Surabaya sudah terbentuk, akan banyak wisatawan yang mengeluh karena terpaksa harus berganti kereta, atau bahkan menginap di Yogyakarta. Alih-alih mengubah lebar sepurnya menjadi 1.067 mm, NIS dan SS memilih sepakat untuk memasang lebar sepur ganda agar kereta api dengan sepur 1.067ย mm dapat berjalan di jalur NIS.[10] Pada 15 Juni 1899, lebar sepur ganda tersebut sudah bisa dilalui kereta api 1.067 mm milik SS.[11]

Generasi kedua (1928โ€“sekarang)

sunting
Bangunan generasi kedua Stasiun Tugu yang masih eksis hingga sekarang

Karena SS menginginkan hubungan satu hari Bataviaโ€“Surabaya dan jalur Yogyakartaโ€“Solo semakin padat, pada tahun 1926, NIS menawarkan SS untuk membangun smalspoorbaan tersendiri agar kereta api SS tidak tercampur dengan NIS. Berdasarkan perjanjian, jika "sepur kembar" yang dikerjakan NIS tersebut selesai, maka jalur tersebut harus diserahkan kepada SS. Pekerjaan pada bangunan hikmat di berbagai lokasi sepanjang jalur tersebut diselesaikan April 1926. Biaya yang diperlukan mencapai ฦ’5.000.000.[12]

Pada Agustus 1928, Stasiun Tugu mulai menjalani renovasi. Pertama, dibangun kantor administrasi dan inspektur angkutan, yang semula masih bersatu dengan ruang kepala stasiun.[13] Berikutnya, hingga Oktober 1928, proyek pembangunan ulang Stasiun Tugu juga merambah ke hall depan, yang mengubah total bentuk arsitektur lama yang berciri Neoklasik menjadi art deco, dan juga merombak tata letak ruang administrasi dan kepala stasiun.[14] Setelah membangun ulang seluruh bangunan utama stasiun, kanopi peron utara stasiun diperpanjang agar penumpang tidak kepanasan atau kehujanan saat menunggu kereta api.[15]

Setelah dibangunnya bangunan generasi kedua stasiun tersebut, emplasemen Stasiun Tugu menjadi terasa sempit, sedangkan volume lalu lintas kereta apinya semakin meningkat. Persilangan dan persusulan kereta api menjadi semakin kompleks dan kadangkala kereta api harus dialihkan persilangannya dengan berbagai cara. Bahkan itu tidak hanya terjadi di stasiun kecil di rute Yogyakartaโ€“Solo. Kegiatan langsiran di Stasiun Yogyakarta menjadi menjadi kendala apabila kereta apinya panjang dan besar, sedangkan kereta api penumpang terus meningkat. Upaya perluasan akan dilakukan untuk menjawab hal ini. Perluasan ke selatan, timur, maupun utara tidak lagi memungkinkan karena dikhawatirkan akan menghancurkan permukiman dan Sumbu Filosofis. Akhirnya satu-satunya pilihan untuk memperluas emplasemen adalah ke arah Bong Suwung di sebelah barat.[16] Untuk menjawab tantangan tersebut, pada 1929, emplasemen Stasiun Tugu pun direncanakan akan diperluas 32 m. Renovasi stasiun ini tampaknya merupakan "tambal sulam", karena masih terdapat bagian bangunan tengah yang masih asli sejak 1887. Algemeen Handelsblad berpandangan bahwa SS seharusnya mencontoh NIS yang membangun stasiun yang tampil menawan dan monumental, dengan tetap menghemat lahan.[17]

Pada awal April 1929, sehubungan dengan keinginan SS untuk layanan ekspres satu hari, NIS melaksanakan serah terima operasional smalspoorbaan tersebut kepada SS,[18] kemudian pada 1 Mei 1929, jalur tersebut dibuka.[19]

Pada masa revolusi kemerdekaan, stasiun ini menjadi tujuan akhir perjalanan kereta luar biasa Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, saat memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Keberangkatannya dimulai pada 3 Januari 1946 pukul 18.00 dan tiba di Yogyakarta pada 4 Januari keesokan harinya. Rombongan pun diterima dengan hangat oleh Sultan Yogyakarta kala itu, Hamengkubuwana IX.[20]

Stasiun ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.[21]

Bangunan dan tata letak

sunting
Lokomotif D301 61 09 yang dipajang di pintu selatan stasiun

Stasiun Yogyakarta terbagi menjadi dua emplasemen, yaitu emplasemen utara dan selatan, dan juga memiliki dua pintu masuk dan keluar. Pintu utama yang menghadap ke Jalan Margo Utomo, termasuk wilayah Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, hanya untuk keberangkatan kereta api antarkota dan aglomerasi. Sementara itu, pintu selatan yang menghadap ke arah Jalan Pasar Kembangโ€”wilayah Kelurahan Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen dikhususkan untuk keberangkatan layanan kereta bandara YIA, komuter Commuter Line, serta kedatangan penumpang kereta api antarkota dan aglomerasi saja. Stasiun ini memiliki bangunan khusus untuk loket di pintu selatan.

Di sebelah barat stasiun ini terdapat dua percabangan jalur yang seluruhnya sudah dinonaktifkan, yaitu jalur menuju Magelangโ€“Parakan dan menuju Palbapang, Bantul. Jalur menuju Magelang telah dinonaktifkan pada tahun 1975 sehubungan dengan letusan Gunung Merapi, tetapi bekas jalur ini masih dapat terlihat di beberapa tempat di Jalan Tentara Pelajar, Yogyakarta.[22] Jalur tersebut juga memiliki percabangan di Secang menuju Museum Kereta Api Ambarawa melalui Tuntang hingga berakhir di Kedungjati yang juga telah dinonaktifkan. Selain itu, jalur menuju Palbapang dinonaktifkan pada rentang tahun 1973โ€“1980-an, tetapi bekas jalur ini juga masih dapat terlihat di beberapa tempat, salah satunya di lapangan parkir di sisi barat laut Keraton Yogya.

Berbeda dengan stasiun dan jalur kereta api di luar Yogyakarta yang berstatus sebagai milik Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) atau KAI, tanah tempat bangunan stasiun ini berdiri berstatus sebagai tanah milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Sultan Ground). Bahkan, ketika KAI hendak mencatatkan tanah stasiun ini sebagai aset tetap, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuntut "kerugian" sebesar Rp1.000,00.[23] Menanggapi kasus hukum tersebut, kuasa hukum Keraton menganalogikan kerugian tersebut sebagai ucapan salam dalam bahasa Jawa, nuwun sewu, yang artinya "permisi".[24] Sengketa lahan tersebut berakhir damai, dan KAI mengakui bahwa lahan konsesi jalur kereta api tersebut adalah milik Kesultanan.[23]

Awalnya, semua peron pada stasiun ini merupakan peron rendah. Kemudian, pada tahun 1999, peron tinggi pertama stasiun ini dibangun di jalur 2 peron selatan untuk mengakomodasi tinggi pintu kereta eksekutif saat itu.[25]

Awalnya, stasiun ini memiliki 12 jalur kereta api, sebelum akhirnya berkurang menjadi 11. Sebelum pembangunan jalur ganda dimulai sekitar tahun 2004, jalur 3 lama merupakan sepur lurus arah Solo Balapan, sedangkan jalur 4 merupakan sepur lurus arah Bogor.[26] Pada saat pembangunan jalur ganda hingga pengoperasiannya di segmen Yogyakartaโ€“Brambanan per 8 Januari 2007[27] dan kemudian segmen Yogyakartaโ€“Kutoarjo pada 25 September 2007[28] hingga akhirnya diresmikan secara keseluruhan pada 22 Januari 2008,[29] tata letak stasiun mengalami perubahan: jalur langsir yang masih utuhโ€”walaupun sudah dicabutโ€”diubah menjadi jalur 1, jalur 1 lama diubah menjadi jalur 2, dan jalur 2 lama diubah menjadi jalur 3 sebagai sepur lurus dari dan ke arah Bogor. Selain itu, peron tinggi ditambahkan pada jalur 3โ€”menimbun jalur 3 lamaโ€”dan jalur 5. Saat ini, jalur 3 dijadikan sepur lurus arah Solo Balapan dan sepur belok dari arah Bogor, jalur 4 dijadikan sepur lurus dari arah Kutoarjo, dan jalur 5 dijadikan sepur lurus ke arah Bogor.

Huruf timbul "Stasiun Yogyakarta" dalam aksara Jawa

Di kawasan stasiun terdapat depo lokomotif dan depo kereta maupun gerbong yang berturut-turut terletak di sebelah barat laut dan barat. Pemutar rel berada di barat depo lokomotif yang terletak di sebelah barat laut stasiun.

Ke arah timur stasiun, terdapat perlintasan sebidang yang berupa gerbang geser dengan nomor 3A dan 3B yang dikhususkan untuk sepeda, becak, andong, atau pejalan kaki yang melintas di sekitar kawasan Jalan Malioboro. Selain itu, terdapat jembatan yang membentang di atas Kali Code yang dikenal dengan sebutan Jembatan Kewek yang melintang di atas Jalan Abu Bakar Ali.[c]

Stasiun ini sering mengalami renovasi dan penataan ulang, antara lain dengan pembangunan peron tinggi serta penambahan atap kanopi.[30] Sistem parkir juga mengalami perubahan: pintu timur dan selatan kini hanya digunakan untuk tempat antar-jemput dan parkir becak, sedangkan tempat parkir terletak di sebelah barat daya kompleks stasiun.

Di stasiun ini terdapat terowongan (underpass) penyeberangan peron yang digunakan mulai 26 Desember 1959 untuk memfasilitasi penumpang yang ingin berpindah peron antara emplasemen utara dan selatan demi meningkatkan keselamatan. Terowongan ini sempat ditutup sementara pada tahun 2019 karena direnovasi besar-besaran hingga akhirnya dibuka kembali pada tanggal 31 Juli 2023.[31][32]

Dalam rangka mewujudkan stasiun kereta api besar bertaraf internasional, stasiun ini sejak musim mudik lebaran 2016 telah dilakukan renovasi secara menyeluruh, antara lain merombak loket stasiun di pintu selatan, serta pemasangan lantai granit, pengecatan ulang, dan lain-lain.[33] Di selatan stasiun terdapat banyak kios yang saling berimpitan, ekspedisi barang, dan kios penjualan tiket pesawat dan kereta api yang telah digusur pada tahun 2017 karena tidak memiliki izin dan dianggap kumuh oleh KAI.[34]

Papan nama Stasiun Tugu per Desember 2020

Stasiun ini memiliki ruang tunggu eksekutif, Anggrek Executive Lounge, dioperasikan oleh KAI Wisata yang memanfaatkan bangunan pendopo belakang stasiun.[35]

Terkait proyek pemutakhiran sistem persinyalan elektrik kereta api di stasiun ini, telah dilakukan pemasangan sistem persinyalan elektrik baru produksi Len Industri per April 2021 yang menggantikan sistem persinyalan elektrik lama produksi Siemens.[36] Persinyalan ini telah aktif mulai September 2021.[butuh rujukan]Bersamaan dengan itu, lintasan jalur rel antara stasiun ini dan Stasiun Lempuyangan dijadikan sebagai jalur-tunggal ganda atau sepur kembar.

Pada 28 September 2022, PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah melakukan uji coba sistem pengenalan wajah pada proses keberangkatan kereta api antarkota di Stasiun Bandung dan per 10 Juli 2023, Stasiun Yogyakarta sudah menerapkan sistem tersebut bersama sembilan belas stasiun KA utama lainnya seperti Stasiun Jember, Malang, Lempuyangan, Solo Balapan, Surabaya Gubeng, Surabaya Pasarturi, Madiun, Semarang Poncol, Semarang Tawang, Kutoarjo, Pekalongan, Purwokerto, Tegal, Cirebon, Kiaracondong, Bekasi, Jakarta Pasar Senen, dan Jakarta Gambir di Pulau Jawa, serta Medan di Pulau Sumatra.[37]

Mulai 2 Desember 2023, aula timur dari emplasemen selatan sudah beroperasi yang melayani komuter Commuter Line untuk memecah kepadatan di Stasiun Yogyakarta.[38] Sebagai bagian dari program revitalisasi beberapa stasiun KA utama di Pulau Jawa oleh Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (Persero), mulai 15 Februari 2024, keberangkatan layanan kereta api antarkota beserta aglomerasi yang biasanya bermula dari sisi utara stasiun berpindah ke sisi selatan stasiun yang notabene merupakan keberangkatan kereta komuter dan bandara.[39]

Y01P01YA01

Sisi utara โ† Jalur parkir dan langsiran kereta api โ†’
Jalur 8 Jalur langsir
Jalur 7
Jalur 6 Jalur parkir dan langsiran kereta api
Peron pulau
Jalur 5 โ† Sepur lurus dari arah Solo Balapan dan ke arah Bogor
Jalur berjalan langsung kereta api ke arah barat
โ† Kereta Api Indonesia Pemberhentian KA antarkota dan aglomerasi โ†’
Peron pulau, pintu terbuka di sebelah kiri kedatangan KA dari arah timur
Jalur 4 โ†” Sepur lurus dari arah Bogor
โ† Kereta Api Indonesia Pemberhentian, kedatangan, dan keberangkatan KA antarkota maupun aglomerasi โ†’
โ†” (Wates) P Commuter Line Prameks, dari dan tujuan Kutoarjo
Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kiri kedatangan KA dari arah timur dan sebelah kanan kedatangan KA dari arah barat
Pintu masuk sisi timur (khusus keberangkatan kereta api antarkota dan aglomerasi)
Sisi selatan Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kiri kedatangan KA dari arah barat dan sebelah kanan kedatangan KA dari arah timur
Jalur 3 Sepur lurus ke arah Solo Balapan โ†”
Jalur berjalan langsung kereta api ke arah timur โ†’
โ† Kereta Api Indonesia Pemberhentian, kedatangan, dan keberangkatan KA antarkota maupun aglomerasi โ†’
Peron pulau, pintu terbuka di sebelah kanan kedatangan KA dari arah barat
Jalur 2 โ† Sepur belok โ†’
ย ย ย ย ย Commuter Line Yogyakarta, dari dan tujuan Palur (Lempuyangan) โ†”
Peron pulau
Jalur 1 โ† Sepur belok โ†’
โ†” (Wates) YA Lin Yogyakarta International Airport, dari dan tujuan YIA
โ†” (YIA) YA Lin Yogyakarta International Airport Xpress, dari dan tujuan YIA
Peron sisi
Bangunan lama Pintu masuk dan keluar sisi selatan untuk layanan kereta api bandara serta kedatangan layanan kereta api antarkota dan aglomerasi
Bangunan baru Pintu masuk dan keluar untuk layanan kereta api komuter

Ciri khas

sunting
Monumen uap Marshall Britannia yang kini sudah dipindahkan di sayap utara jalan masuk Stasiun Tugu

Stasiun Yogyakarta memiliki dua monumen lokomotif di sisi timur dan selatan kawasan stasiun. Monumen yang terletak di pintu masuk keberangkatan sisi timur adalah mesin uap portabel (lokomobil) buatan Marshall Britannia, Britania Raya. Letaknya yang semula berada di tengah-tengah jalan masuk stasiun kini dipindahkan di sayap utara jalan tersebut. Sementara itu, monumen yang terletak di sisi selatan stasiun adalah lokomotif diesel hidraulis D301 22 yang dipajang sejak 12 Desember 2018. Pemajangan lokomotif ini dilakukan setelah seluruh bagian stasiun mengalami perombakan, antara lain menambahkan toilet dari mobil bekas dan dapat digunakan oleh masyarakat umum, tak hanya calon penumpang.[40][41] Selain monumen lokomotif, di pintu keberangkatan sisi timur dekat perlintasan sebidang terdapat tulisan "Stasiun Yogyakarta" dalam aksara Jawa yang dibuat menggunakan huruf timbul dengan ukuran besar.

Stasiun ini memiliki lagu kedatangan kereta api berupa lagu keroncong instrumental berjudul, "Sepasang Mata Bola" karya Ismail Marzuki sebagai bel kedatangan kereta api di stasiun ujung Kota Yogyakarta mengisahkan perjuangan seorang pejuang yang melakukan perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Yogyakarta.[42] Rekaman lagu yang digunakan sebagai melodi penyambutan kereta api ini diaransemen oleh seorang YouTuber dan kibor yang dikenal melalui aransemen lagu-lagu keroncong, Purwaka Musik.[43]

Pada budaya populer

sunting

Insiden

sunting
Depo lokomotif di bagian barat stasiun Tugu, Yogyakarta.

Pada 14 November 2003, tiga kereta penumpang dengan dua kereta kelas bisnis dan satu kelas eksekutif anjlok di Depo Lokomotif Yogyakarta. Insiden ini bermula saat rangkaian kereta tersebut akan dicuci sebelum dikirim ke Jakarta. Namun, wesel bergerak sendiri saat rangkaian kereta dilangsir sehingga menyebabkan anjlok.[52]

Pada 23 April 2014, seorang pria tewas ditabrak kereta api semen dengan nomor perjalanan 8067 relasi Lempuyanganโ€“Purwokerto. Korban diduga mengalami gangguan kejiwaan. Peristiwa ini terjadi di sebelah utara Taman Parkir Abu Bakar Ali.[53]

Pada 4 Juli 2017, seorang siswi SMK menghilang setelah turun dari kereta api Senja Utama Yogya di Stasiun Tugu. Dua hari kemudian, pada pukul 15:00 WIB, pihak keluarga ditelepon oleh pengantar bahwa siswi tesebut telah diantar pulang ke rumahnya.[54]

Pada 18 September 2022, beredar video pendek yang merekam kejadian salah satu penumpang kereta api Bangunkarta relasi Jombangโ€“Pasar Senen terjatuh dan terserempet kereta, lantaran tertinggal oleh kereta tersebut, dan memaksa masuk ketika pintu kereta sudah tertutup dan kereta dalam kondisi berangkat meninggalkan Stasiun Yogyakarta. Penumpang tersebut mengalami cedera pada kaki kanan dan langsung mendapat perawatan.[55]

Kereta eksekutif yang terbakar di emplasemen timur sisi utara stasiun, 12 Maret 2025

Pada 4 Januari 2024, kanopi untuk zona pengantaran penumpang (drop zone) roboh dan menimpa 5 mobil yang berhenti tepat di bawah kanopi. Robohnya kanopi dikarenakan hujan deras disertai angin kencang yang terjadi kala itu. Tidak ada korban jiwa saat kejadian. Sementara itu, KAI meminta maaf atas insiden tersebut serta bersedia mengganti kerugian yang ditimbulkan bagi para pemilik kendaraan.[56]

Pada 12 Maret 2025, terjadi kebakaran pada tiga kereta penumpang (terdiri dari dua kereta eksekutif dan satu kereta ekonomi premium) yang sedang terparkir di jalur stabling sisi utara Stasiun Yogyakarta. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut, tetapi terdapat kerusakan pada tiga sarana kereta penumpang tersebut. Melalui pemeriksaan CCTV dan penyelidikan forensik, didapati bahwa kebakaran kereta diakibatkan oleh ulah seorang remaja penyandang disabilitas sensorik berusia 17 tahun dan mengalami kesulitan berbicara. Saat diperiksa, pelaku melancarkan aksinya dengan motif dendam terhadap KAI karena selalu diturunkan saat didapati petugas sebagai penumpang gelap (penumpang kereta api dengan tidak membayar/memiliki tiket) hingga sembilan kali. Akibatnya, kerugian yang dialami oleh PT KAI mencapai Rp6,9 miliar. Pelaku pembakaran ini pun terancam dijerat dengan Pasal 180 juncto Pasal 197 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, serta Pasal 187, Pasal 188, dan Pasal 406 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dengan hukuman hingga 12 tahun penjara.[57][58][59]

Status kepemilikan tanah

sunting

Pada tahun 2024, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melayangkan gugatan terhadap atas status kepemilikan tanah yang dipergunakan sebagai Stasiun Yogyakarta. Gugatan ini terkait administrasi lahan emplasemen Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu atas tanah sebidang seluas 297,192 meter persegi milik Keraton Yogyakarta atau Sultan Ground (SG).[60] Gugatan ini dibuat sebab Kereta Api Indonesia telah mencatat tanah yang digunakan Stasiun Yogyakarta sebagai aset milik perseroan.[61] Gugatan ini berakhir di pengadilan dengan akta perdamaian yang menyatakan PT Kereta Api Indonesia mengakui bahwa tanah yang digunakan untuk Stasiun Yogyakarta adalah benar milik Keraton Yogyakarta.[62]

Layanan kereta api

sunting

Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 1 Mei 2026.[63]

Antarkota

sunting
Lintas selatan Jawa
Nama kereta api Kelas Relasi perjalanan Keterangan
Eksekutif
Taksaka Luxury Yogyakarta Gambir Via Purwokertoโ€“Cirebon
Eksekutif
Argo Lawu Luxury Gambir Solo Balapan Via Cirebonโ€“Purwokerto
Eksekutif
Argo Dwipangga Luxury
Eksekutif
Manahan Eksekutif
Argo Wilis Panoramic Bandung Surabaya Gubeng Via Tasikmalayaโ€“Yogyakarta
Eksekutif
Turangga Panoramic
Eksekutif
Argo Semeru Compartment Suite Gambir Via Cirebonโ€“Purwokerto
Eksekutif
Bima Compartment Suite
Eksekutif
Gajayana Luxury Malang
Eksekutif
Gajayana Tambahan Priority
Eksekutif
Campuran
Sancaka Utara Eksekutif Yogyakarta Cilacap Kelanjutan dari segmen Yogyakartaโ€“Surabaya Pasarturi.
Ekonomi
Sancaka Eksekutif Surabaya Gubeng Jadwal malam hanya beroperasi pada hari Jumat-Minggu dan hari libur nasional.
Ekonomi Premium
Fajar dan Senja Utama Yogyakarta Eksekutif Pasar Senen Via Purwokertoโ€“Cirebon
Ekonomi Premium
Lodaya (reguler & tambahan) Eksekutif Bandung Solo Balapan Via Tasikmalayaโ€“Kroya
Ekonomi
Bogowonto Eksekutif Pasar Senen Lempuyangan Via Cirebon Prujakanโ€“Purwokerto
Ekonomi
Malioboro Ekspres Eksekutif Purwokerto Malang Via Yogyakartaโ€“Blitar
Ekonomi
Kertanegara Eksekutif
Ekonomi
Fajar dan Senja Utama Solo Eksekutif Pasar Senen Solo Balapan Via Cirebonโ€“Purwokerto
Ekonomi
Mataram Eksekutif
Ekonomi
Batavia Eksekutif Gambir Via Cirebonโ€“Purwokerto

Hanya beroperasi pada akhir pekan dan hari libur nasional

Ekonomi
Ranggajati Eksekutif Cirebon Surabaya Gubeng Via Purwokertoโ€“Yogyakarta

Perjalanan kereta api ini berlanjut sampai dengan Stasiun Jember.

Ekonomi
Madiun Jaya Eksekutif Pasar Senen Madiun Via Cirebonโ€“Purwokerto
Ekonomi Premium
Sangkuriang Compartment Suite Bandung Surabaya Gubeng Via Tasikmalayaโ€“Yogyakarta

Perjalanan kereta api ini berlanjut sampai dengan Stasiun Ketapang.

Eksekutif
Ekonomi Premium
Mutiara Selatan Eksekutif Via Tasikmalayaโ€“Yogyakarta
Ekonomi Premium
Bangunkarta Eksekutif Pasar Senen Jombang Via Cirebonโ€“Purwokerto

Bertukar rangkaian dengan kereta api Singasari.

Ekonomi
Malabar Eksekutif Bandung Malang Via Tasikmalayaโ€“Yogyakarta
Ekonomi Premium
Lintas utara Jawa
Nama kereta api Kelas Relasi perjalanan Keterangan
Campuran
Sancaka Utara Eksekutif Yogyakarta Surabaya Pasarturi Via Solo Balapanโ€“Gambringan
Ekonomi

Aglomerasi

sunting
Nama kereta api Kelas Relasi perjalanan Keterangan
JS Joglosemarkerto Eksekutif-Ekonomi Premium Yogyakarta Cilacap Perjalanan menuju Cilacap hanya pada siang hari, sedangkan sebaliknya pada pagi hari.

Bertukar rangkaian dengan kereta api Wijayakusuma.

Eksekutif-Ekonomi Solo Balapan Semarang Tawang Perjalanan berlawanan arah jarum jam mulai dari pagi hari via Semarang Tawangโ€“Tegalโ€“Purwokertoโ€“Yogyakartaโ€“Solo Balapan hingga berakhir di Semarang Tawang pada petang hari.
Solo Balapan Perjalanan searah jarum jam mulai dari pagi hari via Yogyakartaโ€“Purwokertoโ€“Tegalโ€“Semarang Tawang hingga berakhir di Solo Balapan pada petang hari.

Kereta bandara

sunting
Nama kereta api Relasi perjalanan Keterangan
YA Lin Yogyakarta International Airport Yogyakarta Yogyakarta International Airport Jadwal reguler dan Xpress

Komuter

sunting
Nama kereta api Relasi perjalanan Keterangan
Y Commuter Line Yogyakarta Yogyakarta Palur โ€“
P Commuter Line Prameks Kutoarjo

Antarmoda pendukung

sunting

Berikut adalah rute bus perkotaan yang dapat diakses dari Stasiun Yogyakarta dengan halte terdekat dan lebih mudah diakses.[64]

Jenis angkutan umum Jalur Halte Keterangan Tujuan
Trans Jogja Mangkubumi II 448 meter dari Pintu Timur Terminal Jombor via (Malioboro)
Terminal Prambanan (via Bandar Udara Adisutjipto)
Stasiun Yogyakarta,

Hotel Abadi

200-300 meter dari Pintu Selatan Bandar Udara Adisutjipto (via Ngabean)
Abu Bakar Ali 290 meter dari Pintu Timur
Mangkubumi II 448 meter dari Pintu Timur XT Square
Malioboro I 450 meter dari Pintu Timur Terminal Giwangan
Stasiun Yogyakarta 200 meter dari Pintu Selatan Bandara Adisutjipto (via Condongcatur)
Malioboro I 450 meter dari Pintu Timur Gamping (via Kasihan)[65]
Stasiun Yogyakarta 200 meter dari Pintu Selatan Terminal Jombor (via Demak Ijo)
Mangkubumi II 448 meter dari Pintu Timur Ngabean
Malioboro I 450 meter dari Pintu Timur Gamping (via Ambarbinangun)
Pusat Kuliner Belut Godean (via Ngabean)
Terminal Palbapang (via Ngabean)

Galeri

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ a b Data penumpang harian diperoleh dari menjumlahkan angka penumpang naik dan turun, kemudian dibagi 305.[5]
  2. ^ Berdasarkan tulisan yang terpampang di pintu timur stasiun.
  3. ^ Jembatan Kewek pada masa Hindia Belanda disebut Kerkweg, karena jalan tersebut mengarah ke sebuah gereja

Referensi

sunting

Kutipan

sunting
  1. ^ Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2025 (PDF). Bandung: Kereta Api Indonesia (Persero). 2024-12-30. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-01-27 โ€“ via Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020.
  3. ^ Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia" (PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46).
  4. ^ Trisaningtyas, Farida (2020-04-19). "Proyek KRL Solo-Jogja Terhambat Wabah Covid-19: Pekerja Minim, Material Susah Didapat". Solopos. Bisnis Indonesia Group. Diakses tanggal 2020-05-07.
  5. ^ Bahfein, Suhaela (2024-11-14). "Pasar Senen Jadi Stasiun KA Terpadat Sepanjang 2024". Kompas.com. Jakarta: KG Media. Diakses tanggal 2024-11-14.
  6. ^ "De lijn Djokjakarta-Tjilatjap". Soerabaiasch Handelsblad. 5 Desember 1884.
  7. ^ "Uit Djokja". de Locomotief. 25 Februari 1885. hlm.ย 5.
  8. ^ a b Reitsma, S.A. (1928). Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spoor- en Tramwegen. Weltevreden: G. Kolff & Co.
  9. ^ "Uit Djokja". De Locomotief. 16 Juni 1887.
  10. ^ "Derde Rail Solo-Djokja". de Locomotief. 11 Juli 1898.
  11. ^ "Spoorwegen". de Locomotief. 15 Juni 1899.
  12. ^ "de Spoorweg van Djokja naar Solo". Tilburgsche courant. 11 Agustus 1926. hlm.ย 4.
  13. ^ "Station Toegoe". de Locomotief. 4 Agustus 1928.
  14. ^ "Algemeene Handelsblad". Het station Toegoe. 3 Oktober 1928.
  15. ^ "Djokjakarta: Het Station Toegoe". de Locomotief: 2e Blad. 21 Agustus 1928.
  16. ^ "Jogja Toegoe". de Locomotief (tweede blad). 20 Juni 1928.
  17. ^ "Uitbreiding Station Toegoe". Algemeene Handelsblad. 4 Maret 1929.
  18. ^ "Overname van de smalspoorbaan Djokja-Solo over de S.S." Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indiรซ. 23 Maret 1929.
  19. ^ Reitsma, S.A. (1929). "Historische Aanteekeningen omtrent de Solo-Djokjaverbinding van de Staatsspoorwegen (te openen op 1 Mei 1929)". Spoor-en Tramwegen. 2: 200โ€“203.
  20. ^ Soviana, N. (2014). "KLB Presiden 3 Januari 1946: Sebuah Sejarah Penting yang Terlupakan". Majalah KA. 96: 28=29.
  21. ^ "Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta". Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, Kemendikbud RI. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-12. Diakses tanggal 12 Agustus 2017.
  22. ^ Kurniawan, Hendy (2014-02-05). "Stasiun Medari Pernah Dibumihanguskan". Tribun Jogja. Yogyakarta: KG Media. Diakses tanggal 2018-10-18.
  23. ^ a b Indriawati, Tri (2025-01-25). "Damai di Meja Hijau: Keraton Jogja dan PT KAI Akhiri Sengketa Lahan Stasiun Tugu". Kompas.com. Yogyakarta: KG Media. Diakses tanggal 2025-01-27.
  24. ^ "Apa Makna Tuntutan Rp1.000 Keraton Yogyakarta ke PT KAI?". CNN Indonesia. Yogyakarta: Trans Media. Diakses tanggal 2025-01-27.
  25. ^ Sapei, Tulus Abadi; Subhansyah, Aan T.; Purwanta, Setia A.; Zaini, Apridon; Shaleh, Muhammad; Atmaja, Ida Bagus Yoga; Hasyim, Hur; Lukmanurdin, Ibang; Panjaitan, Efendi; Ikhsan, Edy (2002). Memecah ketakutan menjadi kekuatan: kisah-kisah advokasi di Indonesia. Sleman: Insist Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  26. ^ Lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian No. SK.02/DJKA/K.2/01/06
  27. ^ "Uji Coba Rel Ganda Yogya-Solo Bikin Bikers Senewen". detikcom. Diakses tanggal 2020-05-10.
  28. ^ "Proyek ODA - Proyek Rel Ganda Kereta Jalur Selatan, Jawa (2)". Tokyo: Ministry of Foreign Affairs. Diakses tanggal 2020-05-10.
  29. ^ "Besok Presiden Resmikan Rel Ganda di Kutoarjo". Kompas.com. Diakses tanggal 2020-05-10.
  30. ^ Wadrianto, Glori K., ed. (30 Agustus 2010). "Renovasi Stasiun Tugu Selesai H-3". Kompas.com. Kompas.com. Diakses tanggal 21 Oktober 2017.
  31. ^ Aida, Nur Rohmi (14 Juli 2023). "Stasiun Yogyakarta Kini Punya Underpass, Apa Fasilitasnya?". Kompas.com. Yogyakarta. Diakses tanggal 31 Juli 2023.
  32. ^ Rinepta, Adji G. "Underpass di Stasiun Tugu Resmi Dibuka, Cantik Banget Dab!". detikjogja. Diakses tanggal 2025-01-27.
  33. ^ Reza, Khaerur (21 Juni 2016). Sugiyarto (ed.). "Renovasi Stasiun Tugu Yogyakarta Dijanjikan Selesai H-10 Lebaran". Tribunnews.com. Tribunnews.com. Diakses tanggal 21 Oktober 2017.
  34. ^ Syaifudin, Teuku Muhammad Guci (5 Juli 2016). Damanik, Caroline (ed.). "Dinilai Kumuh, Kios-kios di Selatan Stasiun Tugu Dibongkar". Kompas.com. Kompas.com. Diakses tanggal 21 Oktober 2017.
  35. ^ Detikcom: Stasiun Tugu Kini Punya Executive Lounge
  36. ^ "Investasi Elektrifikasi KRL Yogyakarta-Solo Capai Rp 1,2 T". Republika Online. 2021-01-20. Diakses tanggal 2021-04-24. Selanjutnya, pekerjaan modifikasi sinyal elektrik Yogyakarta โ€“ Lempuyangan...
  37. ^ Sri Rahayu, Isna (9 Juni 2023). "Boarding Kereta Api Hanya dengan "Face Recognition", Registrasinya Kurang dari 1 Menit". Kompas.com. Jakarta: KG Media. Diakses tanggal 10 Juli 2023.
  38. ^ Mustaqim, Ahmad (3 Desember 2023). "KAI ubah jalur turun naik penumpang Commuter Line Yogyakarta selama Nataru". Medcom. Yogyakarta: Media Group. Diakses tanggal 4 Desember 2023.
  39. ^ Ummah, Anisatul (3 Januari 2024). "Revitalisasi Stasiun Tugu Butuh Waktu 1-2 Tahun". Harian Jogja. Yogyakarta: Bisnis Indonesia. Diakses tanggal 22 Februari 2024.
  40. ^ Raharjo, Paksi Suryo (2018-10-25). "Stasiun Tugu Berbenah Tampil Semakin Cantik". MerahPutih. Diakses tanggal 2019-03-31.
  41. ^ "Stasiun Tugu Kini Miliki Monumen Lokomotif". krjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-31. Diakses tanggal 2019-03-31.
  42. ^ Dewanto, H. (2010-09-09). Margianto, Heru (ed.). "Kisah "Empat Penari" di Tawang". Kompas.com. Diakses tanggal 2021-10-13. "Sementara Stasiun Tugu di Yogyakarta memperdengarkan "Sepasang Mata Bola"." (...) kata Nugroho (Wahyu Utomo).
  43. ^ Purwaka Musik (2019-07-31), Sepasang Mata Bola - Minus ONE 2019 STY YAMAHA PSR S970, diakses tanggal 2025-02-02
  44. ^ Esha 2005.
  45. ^ "Kemendikbud Berhasil Merestorasi Film "Kereta Api Terakhir"". Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dalam bahasa Inggris). 2019-12-19. Diakses tanggal 2020-06-14.
  46. ^ "Sinema dan 'Tanaman Tua' di Festival Jogja". Tempo.co. 2018-12-05. Diakses tanggal 2020-06-14.
  47. ^ News, Tagar (2017-12-23). "Serangan Umum 1 Maret 1949, Soeharto Bukan Hero, Hanya Makan Soto". TAGAR. Diakses tanggal 2020-06-14.
  48. ^ Sheila on 7 (14 Maret 2013) [2000]. Sheila On 7 - Tunggu Aku Dijakarta (Videotape). Sony Music Entertainment Indonesia. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  49. ^ "Citra Scholastika Rindukan Yogyakarta". Tempo.co. 2012-02-29. Diakses tanggal 2020-06-14.
  50. ^ "Dhimas Tedjo Jadi Mentor Bintang Pantura". Solopos.com. 2018-08-01. Diakses tanggal 2020-06-14.
  51. ^ Bonaventura D. Genta; Mada Zidan; Hari Kurniawan (2018). Kisah Tanah Jawa. Jakarta: GagasMedia. hlm.ย 1โ€“4. ISBNย 978-979-780-933-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  52. ^ Liputan6.com (2003-11-15). "Tiga Gerbong KA Cadangan Anjlok di Stasiun Tugu". Liputan6.com. Diakses tanggal 2020-05-26. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  53. ^ "Tertabrak KA, Kepala dan Badan Pria Ini Terpisah". Solopos. 24 April 2014. Diakses tanggal 12 Agustus 2017.
  54. ^ Syaifudin, Teuku Muhammad Guci (7 Juli 2017). Susanti, Reni (ed.). "Siswi SMK yang Hilang di Stasiun Tugu Kembali ke Rumahnya". Kompas.com. Kompas. Diakses tanggal 12 Agustus 2017.
  55. ^ Aditya, Ivan (19 September 2022). "Viral Penumpang Jatuh Kejar Kereta di Stasiun Tugu, Begini Cerita Sebenarnya". Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta. Diakses tanggal 1 Desember 2022.
  56. ^ Afriyadi, Achmad Dwi (2024-01-24). "Kanopi Stasiun Yogyakarta Roboh Timpa Mobil, KAI Ganti Rugi". detikFinance. Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-04-16.
  57. ^ Putri Jumbadi, Serly (2025-03-12). "Kronologi Kebakaran Gerbong Kereta Cadangan di Stasiun Tugu Jogja". detiknews. Diakses tanggal 2025-03-13.
  58. ^ "KAI Rugi Rp6,9 M Imbas Tiga Gerbong KA Dibakar di Yogya". CNN Indonesia. Jakarta. 2025-03-15. Diarsipkan dari asli tanggal 2025-03-15. Diakses tanggal 2025-03-18.
  59. ^ Daeng, Mohamad Final (2025-03-14). Tambunan, Irma (ed.). "Dendam yang Menghanguskan Kereta Api Senilai Rp 6,9 Miliar". KOMPAS. Yogyakarta. Diarsipkan dari asli tanggal 2025-03-18. Diakses tanggal 2025-03-18.
  60. ^ Rinepta, Adji G. "Pernyataan Lengkap Keraton Jogja soal Gugatan Rp 1.000 ke PT KAI". detikjogja. Diakses tanggal 2025-05-23.
  61. ^ TV, Metro, Sri Sultan Jelaskan Duduk Perkara Gugatan Tanah Kesultanan ke PT KAI, diakses tanggal 2025-05-23
  62. ^ Media, Kompas Cyber (2025-01-25). "Gugatan Keraton Terkait Lahan Stasiun Jogja Berakhir Damai, PT KAI Tak Usah Bayar Rp 1.000". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-05-23.
  63. ^ Grafik Perjalanan Kereta Api pada Jaringan Jalur Kereta Api Nasional di Jawa Tahun 2025 (PDF). Bandung: Kereta Api Indonesia (Persero). 2024-12-30. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2025-01-27 โ€“ via Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
  64. ^ "Data Trans Jogja". Dinas Perhubungan Daerah istimewa Yogyakarta. 11 September 2023. Diakses tanggal 16 Oktober 2023.
  65. ^ Megasari, Paradisa Nunni (1 Oktober 2023). "Rute Trans Jogja 6A dan 6B Diperpanjang Lewat Jl Malioboro per 1 Oktober 2023". detikJogja. Diakses tanggal 16 Oktober 2023.

Daftar pustaka

sunting

Esha, Teguh (2005). Ismail Marzukiย : musik, tanah air, dan cinta (Edisi Cet. 1). Jakarta: LP3ES. ISBNย 979-3330-36-8. OCLCย 74913436.

Pranala luar

sunting
Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Patukan Cilacapโ€“Yogyakarta Terminus
Terminus Semarangโ€“Vorstenlanden
Yogyakartaโ€“Solo Balapan
Lempuyangan
Kricak
menuju Secang
Secangโ€“Yogyakarta Terminus
Terminus Yogyakartaโ€“Palbapangโ€“Sewugalur Ngabean
menuju Sewugalur

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Perlintasan sebidang

perlintasan tidak sebidang yang berupa jalan layang atau terowongan (underpass). Istilah ini juga berlaku ketika jalur kereta api ringan dengan ruang

Underpass Gatot Subroto Medan

Salah satu upaya untuk mengurai kemacetan di Kota Medan, Underpass Gatot Subroto, Medan, dibangun. Pembangunan ini dilaksanakan di perempatan yang menghubungkan

Halte Transjakarta Underpass Kuningan

Underpass Kuningan adalah sebuah halte bus Transjakarta yang terletak di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan. Halte yang

Koridor 6 Transjakarta

Kuningan. Koridor 6 memiliki layanan ekspres 35 menit dari Ragunan ke Underpass Kuningan, yang hanya beroperasi pada pukul 06:00 - 09:00 WIB. Koridor

Kota Surabaya

menyelesaikan pembangunan jalan bawah tanah (underpass) di jalan Mayjen Sungkono, serta merencanakan pembangunan underpass dan jalan layang (flyover) di jalan

Mohammad Idris

Underpass', Warga Merasa Lucu". detiknews. Diakses tanggal 2023-01-19. Naibaho, Rumondang. "Baliho Viral 'Terima Kasih Wali Kota Depok atas Underpass'

Wijaya Karya

(Jalan Tol Manado-Bitung), serta underpass New Yogyakarta International Airport sepanjang 14,3 km, yang merupakan underpass terpanjang di Indonesia. Pada

Kereta api Menoreh

kernet diamankan. Kini di perlintasan sebidang tersebut telah dibangun underpass. Pada 21 Januari 2026 dini hari, sebuah truk tangki air mogok di tengah-tengah