Terjemahan dari
chanda
Indonesiahasrat, keinginan
Inggrisintention,
interest,
desire to act,
aspiration
Palichanda
Sanskertaछन्दः
Tionghoa欲(T) / 欲(S)
Jepang[1]
(rōmaji: Yoku)
Korea
(RR: yok)
Tibetའདུན་པ།
(Wylie: 'dun pa;
THL: dünpa
)
Daftar Istilah Buddhis

Dalam Buddhisme, hasrat (Pali, Sanskerta: chanda; Tibet: 'dun pa), juga dikenal sebagai keinginan (bedakan dari taṇhā), adalah suatu faktor mental yang umum digambarkan sebagai "keinginan untuk bertindak" atau "hasrat untuk melakukan sesuatu".[2] Secara tradisional, hasrat atau keinginan (chanda) bersifat netral dan dibedakan dari nafsu-keinginan (taṇhā) yang bersifat negatif.

Chanda diidentifikasi sebagai:

Definisi

sunting

Theravāda

sunting

Ajahn Sucitto menyatakan:

Keinginan (desire) sebagai hasrat (eagerness) untuk mempersembahkan, untuk berkomitmen, untuk membaktikan diri pada meditasi, disebut chanda. Chanda adalah jawaban “ya” secara psikologis, sebuah pilihan, bukan sesuatu yang patologis (buruk secara mental). Bahkan, Anda dapat meringkas keseluruhan latihan Dhamma sebagai transformasi taṇhā menjadi chanda.[3]

Ajahn Jayasāro menyatakan:[4]

Penyajian ajaran Buddha di negara-negara Barat sering kali mengarah pada pemahaman bahwa penderitaan muncul karena keinginan, dan oleh karena itu Anda tidak boleh menginginkan apa pun. Padahal, sebenarnya Sang Buddha telah berbicara tentang dua macam keinginan: keinginan yang muncul dari ketidaktahuan dan delusi–yang disebut taṇhā–dan keinginan yang muncul dari kebijaksanaan dan pemahaman/pengertian, yang disebut kusala-chanda, atau dhamma-chanda (keinginan yang baik, keinginan yang terukur), atau secara sederhana disebut chanda. Chanda tidak hanya bermakna hal ini saja, tetapi dalam kasus khusus ini saya menggunakan chanda dengan makna keinginan dan motivasi yang bijaksana dan disertai pengetahuan, dan Sang Buddha menekankan bahwa hal ini mutlak diperlukan untuk kemajuan di Jalan Mulia Berunsur Delapan.... '

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menyatakan:

Chanda di sini berarti keinginan untuk bertindak (kattu-kāmatā), yaitu melakukan suatu tindakan atau mencapai suatu hasil. Keinginan semacam ini harus dibedakan dari keinginan dalam pengertian yang tercela, yaitu dari lobha (keserakahan) dan rāga (nafsu). Sementara istilah-istilah yang terakhir selalu tidak baik, chanda adalah faktor yang bervariasi secara etis yang, ketika digabungkan dengan hal-hal yang baik, chanda dapat berfungsi sebagai keinginan yang baik untuk mencapai tujuan yang baik. Karakteristik chanda adalah keinginan untuk bertindak, fungsinya adalah mencari suatu objek, manifestasinya adalah kebutuhan akan suatu objek; dan objek yang sama tersebut adalah penyebab terdekatnya. Chanda harus dianggap sebagai peregangan batin ke arah objek.[5]

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa chanda didefinisikan dalam empat batasan:[6]

  • Karakteristik: hasrat untuk melakukan sesuatu (kattukamyatā).
  • Fungsi: mencari objek (ārammaṇapariyesanarasa).
  • Manifestasi: kebutuhan akan objek.
  • Sebab-terdekat: objek yang dicari.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:

Faktor-mental hasrat (chanda) adalah hasrat untuk melakukan sesuatu (kattukamyatā). Di dalam proses menangkap objek, kesadaran memerlukan beberapa faktor-mental untuk bekerja bersama-sama. Perhatian (manasikāra) membuat kesadaran menoleh ke objek, hasrat seolah-olah merentangkan tangan (batin) untuk menggapai objek, kemudian penempelan-awal (vitakka) menempelkan batin ke objek tersebut untuk pertama kalinya dan penempelan-terus-menerus (vicāra) mempertahankan kesadaran untuk terus bersama dengan objeknya.

Jadi, hasrat adalah keinginan untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Walaupun demikian, hasrat hanya berharap saja dan hendaknya dibedakan dengan hasrat yang muncul di faktor-mental keserakahan dan nafsu-keinginan yang sama sekali berbeda dalam hal kualitas moralnya. Hasrat adalah faktor-mental sesekali — yang secara moral bersifat netral dan kualitasnya ditentukan oleh kesadaran tempat dia bergantung — sedangkan keserakahan (lobha) atau nafsu-keinginan (taṇhā) adalah faktor-mental yang selalu tidak baik (akusala).[6]

Dalam hubungannya dengan istilah chanda dalam lima rintangan batin, dijelaskan:

Salah satu dari lima rintangan batin (pañcanīvaraṇa) adalah hasrat untuk menikmati objek-objek pancaindra (kāmacchanda). [Oleh] karena hasrat (chanda) tersebut muncul di kesadaran yang berakar pada keserakahan, maka sifat hasrat menjadi tidak baik. Sebaliknya, apabila hasrat muncul pada saat ingin belajar Dhamma, bermeditasi, menjadi bhikkhu atau meninggalkan keduniawian (pabbajita), maka hasrat mempunyai kualitas yang baik (kusala).[6]

Mahayana

sunting

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu chanda? Chanda adalah keinginan untuk memberikan suatu hal yang diinginkan dengan atribut tertentu, dan memiliki fungsi untuk meletakkan dasar bagi dimulainya usaha yang tekun.[7]

Alexander Berzin menjelaskan 'dun pa' sebagai faktor mental "untuk memperoleh suatu objek, untuk mencapai suatu tujuan, atau untuk melakukan sesuatu dengan objek atau tujuan tersebut setelah diperoleh atau tercapai."[8] Berzin menjelaskan:

Jadi, kita memiliki niat ('dun-pa, Skt. chanda). Niat adalah keinginan untuk memperoleh suatu objek, atau mencapai suatu tujuan, atau melakukan sesuatu dengannya. Bisa jadi bertemu dengan apa yang pernah kita temui sebelumnya, tidak berpisah dengan apa yang sedang kita sadari, atau bisa juga minat yang kuat untuk terlibat dengan sesuatu di masa mendatang. Jadi, Buddha memiliki niat untuk memberi manfaat bagi semua orang. Maksud saya, kita punya niat sepanjang waktu. Saya memandang cangkir berisi air ini, memperhatikannya, dan sebagainya, dan di situlah niatnya: Apa yang akan saya lakukan dengannya? Saya akan mengambilnya dan meminumnya. Jadi, tentu saja, karena kita punya niat, kita ingin menjadikannya murni dan punya niat murni untuk memberi manfaat bagi semua orang—apa pun yang kita lakukan, semoga bermanfaat bagi semua orang.[9]

Terjemahan alternatif

sunting

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Kaji Tetsuya (2020). "On the Desire (chanda) in the Sarvāstivāda". Journal of Abhidharma Studies. 1. doi:10.34501/abhidharmastudies.1.0_45.
  2. ^ Gethin 2001, hlm. 83.
  3. ^ Sucitto 2010, hlm. 50.
  4. ^ Webmaster, Amaravati (2014-10-15). "Dhamma article by Ajahn Jayasaro – Skilful Desires". Amaravati Buddhist Monastery (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2024-09-22.
  5. ^ Bodhi 1999, hlm. 82.
  6. ^ a b c Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 68–69. ISBN 978-623-94342-7-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Guenther & Kawamura 1975.
  8. ^ Berzin Archives glossary entry for "'dun pa"
  9. ^ Developing the Mind Based on Buddha-Nature, Session Two: Primary Consciousness and Mental Factors, Alexander Berzin

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Satipaṭṭhāna

perhatian-penuh", yang membantu pengembangan kondisi batin yang bajik. Dalam Buddhisme Theravāda, penerapan perhatian-penuh pada empat landasan—tubuh, perasaan

Buddhisme

Buddhisme, juga dikenal sebagai Agama Buddha dan Dhammavinaya, adalah suatu agama darmik dan sebuah tradisi filosofis yang berlandaskan kepada ajaran

Tripitaka

merupakan istilah yang digunakan oleh Buddhisme untuk menggambarkan kumpulan teks kanonis sebagai kitab suci Buddhisme. Tripitaka berarti "Tiga Keranjang"

Mahāyāna

praktik Buddhisme yang dikembangkan di India kuno (ca abad ke-1 SM dan seterusnya). Mahāyāna dianggap sebagai salah satu dari tiga aliran utama Buddhisme yang

Sila (Buddhisme)

salah satu dari tiga bagian utama Jalan Mulia Berunsur Delapan dalam Buddhisme. Sila merupakan pedoman bertingkah laku yang berpegang teguh pada komitmen

Daftar istilah Buddhisme

(Dzo): Buddhisme di Bhutan Thai: Buddhisme Theravada Bahasa CJKV Cina (Cn): Buddhisme China Jepang (Jp): Buddhisme di Jepang Korea (Ko): Buddhisme Korea

Buddhisme di Asia Timur

Buddhisme di Asia Timur berkembang setelah para pedagang dari Asia Tengah memperkenalkan Buddhisme di Tiongkok. Setelah menganut Buddhisme, para biksu

Kebijaksanaan (Buddhisme)

ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan tanpa-atma (anatta). Dalam Buddhisme Theravāda, kebijaksanaan adalah bagian dari Jalan Mulia Berunsur Delapan