Vipāka (Sanskerta dan Pali), umum diterjemahkan sebagai akibat, efek, hasil, atau resultan, adalah istilah dalam tradisi Buddhis dan Jain yang merujuk pada pematangan atau hasil dari karma (Pali: kamma), yakni perbuatan yang dilakukan dengan niat atau kehendak (cetanā). Konsep tentang hubungan antara perbuatan dan akibatnya (kamma-vipāka) merupakan salah satu ajaran pokok dalam Buddhisme.

Gambaran umum

sunting

Vipāka dipahami sebagai hasil karma, dan merupakan fenomena mental yang bersifat netral secara moral. Fenomena ini merupakan akibat dari tindakan berkehendak (kamma), baik yang baik (kusala) maupun yang tidak baik (akusala), yang dilakukan melalui tubuh, ucapan, atau pikiran, baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan sebelumnya. Dalam Buddhisme, pandangan bahwa segala hal semata-mata merupakan akibat dari perbuatan masa lalu dianggap sebagai pandangan keliru.[1]

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan:[2]

Resultan (vipāka) adalah wujud alamiah yang asalnya dari kamma baik (kusala) atau kamma tidak baik (akusala) yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya (aññamaññaviruddhānaṃ kusalākusalānaṃ pākāti vipākā, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Abhidhammatthavibhāvinīṭīkā).

Kata pāka di vipāka berarti masak atau matang—merujuk kepada keadaan buah yang sudah masak. Akan tetapi, di sini kita terjemahkan menjadi resultan. Resultan yang tidak-baik (akusala-vipāka), dengan demikian, berarti buah dari kamma tidak-baik yang telah dilakukan di masa lalu. Sebaliknya, resultan yang baik (kusala-vipāka) adalah buah dari kamma baik yang telah dilakukan di masa lalu.

Istilah resultan di sini hanya merujuk kepada dhamma nonmateri (arūpa dhamma) dan bukan merujuk kepada dhamma yang bersifat materi (rūpa). Memang benar bahwa di antara materi-materi tertentu terdapat materi yang berasal dari kamma, misalnya sensitivitas-mata dan lain-lain; tetapi materi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai resultan. Dengan demikian, maka kesadaran (citta) yang merupakan buah dari kamma yang tidak-baik disebut sebagai kesadaran-resultan yang tidak-baik.

Vipākacitta

sunting

Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, secara teknis, kesadaran resultan (vipākacitta) muncul sebagai akibat masaknya benih kamma. Kesadaran resultan yang tidak-baik (akusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-buruk; sedangkan kesadaran resultan yang baik (kusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-baik.[3]

Terjemahan alternatif

sunting

Istilah vipāka sering diterjemahkan sebagai:

  • akibat atau efek (bahasa Inggris: effect) (Ven. D. Mahinda Thera[4])
  • pematangan (maturation) (Keown, 2000, loc 810–813)
  • pemasakan (ripening) (Harvey, 1990, hlm. 39[5])
  • hasil
  • resultan

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Mahasi 2003, hlm. 10.
  2. ^ Kheminda 2024, hlm. 244.
  3. ^ Kheminda 2024, hlm. 177.
  4. ^ Buddhist Points Misunderstood, by Ven. D. Mahinda Thera
  5. ^ Harvey 1990, hlm. 39-40.

Sumber

sunting
  • Ajahn Sucitto (2010), Turning the Wheel of Truth: Commentary on the Buddha's First Teaching, Shambhala
  • Geshe Tashi Tsering (2005), The Four Noble Truths: The Foundation of Buddhist Thought, Volume I, Wisdom, Kindle Edition
  • Gethin, Rupert (1998), Foundations of Buddhism, Oxford University Press
  • Harvey, Peter (1990), Introduction to Buddhism, Cambridge University Press
  • Keown, Damien (2000), Buddhism: A Very Short Introduction, Oxford University Press, Kindle Edition
  • Kheminda, Ashin (2024). Manual Abhidhamma: Bab 1 Kesadaran. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94011-5-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Karma dalam Buddhisme

niat/kemauan/ kehendak (cetanā), yang berpotensi akan menimbulkan akibat (vipaka) di masa mendatang. Akibat yang muncul adalah konsekuensi yang sepadan dengan

Kemunculan Bersebab

perbuatan berkehendak" (kamma-vaṭṭa) "putaran resultan/akibat perbuatan" (vipāka-vaṭṭa). Dalam kerangka ini (lihat Diagram "12 Nidāna dan 3 Putaran", dimulai

Pengotor batin

perbuatan berkehendak" (kamma-vaṭṭa) "putaran resultan/akibat perbuatan" (vipāka-vaṭṭa). Dalam kerangka ini (lihat Diagram "12 Nidāna dan 3 Putaran", dimulai

Buddhisme

hasil. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka. Dalam Samuddaka Sutta; Saṃyutta Nikāya 11.10 {S 1.227}, Guru Buddha menjelaskan

Upasaka-upasika

moral dikategorikan sebagai baik atau buruk. Keyakinan terhadap buah karma (vipāka-saddhā), yaitu meyakini adanya akibat dari perbuatan berkehendak yang secara

Abhidhamma Theravāda

(ahetuka vipāka) 8 resultan besar (mahāvipāka) 5 resultan lingkup-materi-halus (rūpāvacara vipāka) 4 resultan lingkup-nonmateri (arūpāvacara vipāka) 4/20

Māra

Māra – Māra atau "setan" sebagai metafora untuk buah karma buruk (akusala-vipāka). Dalam beberapa kisah tentang pencapaian kecerahan Sang Buddha, dikisahkan

Paṭṭhāna

untuk menimbulkan suatu akibat (vipāka), maka hal itu disebut karma sebagai sebab-sebab. Kondisi resultan atau hasil (vipāka paccaya) Kondisi nutrisi (āhāra