Buddha Kassapa
SanskertaBuddha Kasyapa
PāliBuddha Kassapa
Birmaကဿပ ([kaʔθəpa̰])
Tionghoa迦葉佛
Jepang迦葉; かしょう; Kashō
Mongoliaᠭᠡᠷᠡᠯ ᠰᠠᠬᠢᠭᠴᠢ, Гашив, (Geshib)
Tibetའོད་སྲུང་ཆེན་པོ (Ösung Chenpo)
VietnamPhật Ca-Diếp
Sinhalaකස්සප බුද්ධ
Informasi
Dimuliakan olehTheravada, Mahayana, Vajrayana
Didahului olehBuddha Koṇāgamana
Diwarisi olehBuddha Gautama

Dalam tradisi Buddhis, Kassapa (Pāli) adalah nama Buddha, ketiga dari lima Buddha pada kalpa sekarang (Sang Bhaddakappa atau 'Aeon Yang Beruntung'), dan keenam dari enam Buddha sebelum Buddha sejarah sebagaimana disebutkan dalam bagian awal Kanon Pali (D.ii.7). Dalam naskah Buddhis berbahasa Sanskerta, Buddha ini juga dikenal dengan Kāśyapa.

Kehidupan

sunting

Kassapa terlahir di India. Orang tuanya adalah para Brahmin Brahmadatta dan Dhanavatī dari Kashyap Gotra.

Menurut legenda, tubuhnya setinggi dua puluh cubit, dan tinggal selama dua ribu tahun di tiga tempat berbeda. Tempat tersebut adalah Hamsa, Yasa dan Sirinanda. (BuA.217 menyebut dua tempat pertama sebagai Hamsavā dan Yasavā). Istri utamanya adalah Sunandā, yang memberikannya seorang putra bernama Vijitasena.

Kassapa meninggalkan kehidupan duniawinya berkelana di istananya (pāsāda). Ia melakukan pertapaan selama tujuh hari. Sebelum mencapai pencerahan, ia menerima pemberian makanan berupa tajin dari istrinya dan rerumputan sebagai tempat duduknya dari seorang yavapālaka bernama Soma. Bodhi (pohon di mana ia mencapai pencerahan) adalah pohon beringin, dan ia menyampaikan khotbah pertamanya di Isipatana kepada sekelompok bhikkhu yang telah bersama-sama meninggalkan keduniawian.

Kassapa melakukan Keajaiban Ganda pada bagian bawah pohon angsana yang terletak di luar Sundar Nagar, India. Ia hanya melakukan satu kali perkumpulan dengan para pengikutnya; salah satu penahbisan paling terkenalnya adalah Nāradeva, seorang Yaksha. Kepala pemimpin pengikutnya di antara para bhikku adala Tissa dan Bhāradvāja, dan di antara bhikkuni adalah Anulā dan Uruvelā, pengikut setianya sebagai Sabbamitta. Di antarapara pengikutnya, yang paling terkenal adalah Sumangala dan Ghattīkāra, Vijitasenā, dan Bhaddā.

Kassapa meninggal dunia pada usia empat puluh ribu tahun, di kota Kashi di wilayah Kerajaan Kasi (sekarang dikenal sebagai Varanasi, negara bagian India modern Uttar Pradesh. Didekat reliknya didirikan sebuah thūpa setinggi satu liga, setiap batanya seharga crore (sepuluh juta) rupee.

Stupa Buddha Kassapa

sunting

Pada awalnya terdapat perbedaan pendapat yang sangat besar akan berapa besar dan asal-muasal bahan baku yang akan digunakan untuk pembuatan stupa tersebut. Pembangunan stupa dimulai setelah hal-hal tersebut diselesaikan. Akan tetapi masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk menyelesaikan stupa tersebut. Seorang pengikut anāgāmī bernama Sorata berkelana mengunjungi Jambudipa, meminta bantuan dana dari masyarakat untuk penyelesaian stupa. Ia segera mengirimkan dana tersebut setelah menerimanya, dan pada saat mendapatkan kabar bahwa pembangunan telah selesai, ia segera bersiap-siap untuk mengunjungi dan melakukan pemujaan disana. Akan tetapi, ia dirampok dan dibunuh ketika melalui sebuah hutan oleh seorang penjahat yang kemudian dikenal sebagai Andhavana.

Upavāna, pada kelahiran sebelumnya, menjadi dewa penjaga stupa, yang mana merupakan majikan agungnya pada kehidupan terdahulu (DA.ii.580; untuk cerita lain mengenai pembangunan tempat pemujaan lihat DhA.iii.29).

Di antara tiga puluh tujuh dewi-dewi yang diketahui oleh Guttila ketika ia mengunjungi nirwana adalah seseorang yang telah menyajikan percikan dengan lima keharuman pada stupa (J.ii.256). Alāta mempersembahkan bunga-bunga āneja dan mencapai kelahiran kembali yang bahagia (J.vi.227).

Penyebab pantulan keemasan Mahā-Kaccāna merupakan bata yang terbuat dari emas pemberiannya yang digunakan sebagai pembangunan tempat pemujaan Kassapa (AA.i.116). Pada stupa yang sama, Anuruddha, yang pada saat itu merupakan pemimpin di Benares, menyajikan mentega dan tetesan dalam mangkuk kuningan, yang ditempatkan berdampingan tanpa jarak mengelilingi stupa (AA.i.105). Pad

Buddha Manushi

sunting

Selain Buddha Kassapa, terdapat empat Buddha pada kalpa sekarang (Buddha Manushi):

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  • Kassapa, der Pali Kanon des Theravāda-Buddhismus

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Mahākassapa

asketis. Kassapa bersama dengan Bhadda juga berulang kali menjalani kehidupan sebagai pertapa dan pernah menjalani kehidupan suci di alam Brahma. Kassapa juga

Pūraṇa Kassapa

Purana Kassapa (IAST: Pūrṇa Kāśyapa; Pali: Pūraṇa Kassapa) adalah seorang guru pertapa India yang hidup sekitar abad ke-6 SM, sezaman dengan Mahavira dan

Buddhisme

Kaccayana), materialis (seperti Ajita Kesakambali), antinomian (seperti Purana Kassapa); aliran-aliran terpenting pada abad ke-5 SM adalah Ajivikas, yang menekankan

Titthiya

kurung. Guru spiritual pertama yang ditanyai Ajātasattu adalah Pūraṇa Kassapa. Kassapa mengajukan teori akiriyāvāda (ajaran nonfungsional; tanpa-melakukan):

Loka (Buddhisme)

Rāhula Mukjizat Lumbinī Buddhagayā Isipatana Kusinārā Buddha masa lalu Kassapa Koṇāgamana Kakusandha Vessabhū Sikhī Vipassī Phussa Tissa Siddhattha Dhammadassī

Sepuluh murid utama Buddha

Kesaktian/kemampuan Batin/ Abbhinna terbaik di antara para siswa Buddha. Maha Kassapa, gaya hidup pertapaanNya nomor dua paling keras setelah Sang Buddha. Setelah

Upasaka-upasika

Rāhula Mukjizat Lumbinī Buddhagayā Isipatana Kusinārā Buddha masa lalu Kassapa Koṇāgamana Kakusandha Vessabhū Sikhī Vipassī Phussa Tissa Siddhattha Dhammadassī

Satipaṭṭhāna

Rāhula Mukjizat Lumbinī Buddhagayā Isipatana Kusinārā Buddha masa lalu Kassapa Koṇāgamana Kakusandha Vessabhū Sikhī Vipassī Phussa Tissa Siddhattha Dhammadassī