Brahmawihara (Pali: brahmavihฤrฤ, kediaman luhur, atau cattฤro brahmavihฤrฤ, empat kediaman luhur; terj. har.โ€‰'kediaman brahma') adalah empat sifat luhur dalam ajaran Buddha beserta praktik meditasi terkait yang perlu dikembangkan. Brahmawihara juga dikenal sebagai empat keadaan tanpa-batas (Pali: appamaรฑรฑฤ)[1] atau empat pikiran tak terbatas.[2] Brahmavihฤrฤ tersebut adalah:

  1. cinta kasih atau kasih sayang (Pali: mettฤ; Sanskerta: maitrฤซ)
  2. belas kasih (karuแน‡ฤ)
  3. apresiasi simpatik (muditฤ)
  4. keseimbangan batin (Pali: upekkhฤ; Sanskerta: upekแนฃฤ)

Menurut Mettฤ Sutta, pengembangan empat keadaan tanpa batas memiliki kekuatan untuk menyebabkan praktisinya terlahir kembali di "alam brahma" (Pali: brahmaloka).[3]

Etimologi dan terjemahan

sunting
  • Pali: cattฤro brahmavihฤrฤ
  • Sinhala: เทƒเถญเถป เถถเทŠโ€เถปเท„เฏเถธเท€เท’เท„เทเถปเท (sathara brahmavihฤrฤ)
  • Tibet: เฝšเฝ‘เผ‹เฝ˜เฝบเฝ‘เผ‹เฝ–เฝžเฝฒเผ | (Wylie: tshad med bzhi)

Brahmavihฤrฤ dapat diurai menjadi "brahma" dan "vihฤra", yang sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "sublime" atau "divine abodes" (kediaman luhur atau mulia).[4]

Appamaรฑรฑฤ, yang biasanya diterjemahkan sebagai "keadaan tanpa batas", berarti "ketakterbatasan, infinit, suatu keadaan yang tidak dapat dibatasi".[5] Ketika dikembangkan ke tingkat yang tinggi dalam meditasi, sikap-sikap ini dikatakan dapat membuat batin menjadi "tak terbatas" dan menyerupai batin para makhluk di alam brahma yang penuh kasih.[6]

Terjemahan lainnya:

  • Bahasa Inggris: empat divine abodes (kediaman ilahi), empat divine emotions (emosi ilahi), empat sublime attitudes (sikap luhur), empat divine dwellings (kediaman ilahi).[7]
  • Asia Timur:
    • Hanzi Tradisional: ๅ››็„ก้‡ๅฟƒ; Pinyin: Sรฌ wรบliร ng xฤซn; bahasa Jepang: ๅ››็„ก้‡ๅฟƒ; Rลmaji: shimuryลshin; bahasa Korea: ์‚ฌ๋ฌด๋Ÿ‰์‹ฌ; bahasa Vietnam: Tแปฉ Vรด Lฦฐแปฃng Tรขm; arti harfiah: "empat keadaan batin tak terbatas, dari apramฤแน‡a-citta"),
    • Hanzi Tradisional: ๅ››็ญ‰(ๅฟƒ); Pinyin: sรฌ dฤ›ng; arti harfiah: "empat kesetaraan/universal",
    • Hanzi Tradisional: ๅ››ๆขต่กŒ; Pinyin: sรฌ fร n xรญng; arti harfiah: "tindakan/karakteristik Brahma yang mulia".[8]
  • Tibet: เฝšเฝ„เฝฆเผ‹เฝ”เฝ เฝฒเผ‹เฝ‚เฝ“เฝฆเผ‹เฝ–เฝžเฝฒเผ‹;ย Wylie: . tshangs pa'i gnas bzhi (empat brahmawihara) atau Tibet: เฝšเฝ‘เผ‹เฝ˜เฝบเฝ‘เผ‹เฝ–เฝžเฝฒ;ย Wylie: tshad med bzhi (empat keadaan tanpa batas).

Brahmavihฤrฤ

sunting

Empat brahmavihฤrฤ tersebut adalah:

  1. Cinta kasih (Pali: mettฤ; Sanskerta: maitrฤซ), yakni iktikad baik yang aktif terhadap semua makhluk;[9][10]
  2. Belas kasih (Pali dan Sanskerta: karuแน‡ฤ), muncul sebagai perluasan dari mettฤ, yakni mengidentifikasi penderitaan orang lain sebagai penderitaan sendiri;[9][10]
  3. Apresiasi simpatik (Pali dan Sanskerta: muditฤ), muncul sebagai perluasan dari mettฤ, yakni perasaan senang karena orang lain senang, meskipun seseorang tidak berkontribusi di dalamnya, sebagai suatu bentuk apresiasi simpatik;[9]
  4. Ketidakberpihakan batin (Pali: upekkhฤ; Sanskerta: upekแนฃฤ), yakni ketenangan pikiran dan kejernihan, memperlakukan hal-hal secara tidak berpihak (imparsial).[9][10]

Paritta Suci

sunting

Dalam syair Brahmavihฤra Pharaแน‡ฤ ("Peresapan Brahmawihara") dari buku Paritta Suci oleh Saแน…gha Theravฤda Indonesia, latihan pengembangan brahmawihara dilakukan dengan syair-syair berikut ini.[11]

Bagian mettฤ

sunting
Ahaแน sukhito homi, niddukkho homi, avero homi, abyฤpajjho homi, anฤซgho homi, sukhฤซ attฤnaแน pariharฤmi. Sabbe sattฤ sukhitฤ hontu, niddukkhฤ hontu, averฤ hontu, abyฤpajjhฤ hontu, anฤซghฤ hontu, sukhฤซ attฤnaแน pariharantu.
Semoga aku berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian, bebas dari penyakit, bebas dari kesukaran, semoga aku dapat mempertahankan kebahagiaanku sendiri. Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri.[11]

Bagian karuแน‡ฤ

sunting
Sabbe sattฤ dukkhฤ pamuccantu.
Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan.[11]

Bagian muditฤ

sunting
Sabbe sattฤ ma laddha-sampattito vigacchantu.
Semoga semua makhluk tidak kehilangan kesejahteraan yang telah mereka peroleh.[11]

Bagian upekkhฤ

sunting
Sabbe sattฤ kammassakฤ, kamma-dฤyฤdฤ, kamma-yonฤซ, kamma-bandhลซ, kamma-paแนญisaraแน‡ฤ. Yaแน kammaแน karissanti kalyฤแน‡aแน vฤ pฤpakaแน vฤ tassa dฤyฤdฤ bhavissanti.
Semua makhluk memiliki karmanya sendiri, mewarisi karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri. Apa pun karma yang diperbuatnya, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisinya.[11]

Buddhisme awal

sunting

Brahmavihฤrฤ juga merupakan konsep Brahmanisme pra-Buddhisme yang kemudian diberikan penafsiran tersendiri oleh tradisi Buddhisme.[12][13] Kitab Dฤซgha Nikฤya menegaskan bahwa menurut Buddha, "brahmavihฤrฤ adalah 'praktik itu (dari tradisi lain)'," dan Beliau kemudian membandingkannya dengan "praktik-Ku" sebagai berikut:[12]

...praktik itu [yaitu, sekadar mengembangkan cinta kasih dan seterusnya, berdasarkan petunjuk rangkap-empat] tidak kondusif untuk kejenuhan, tidak untuk kepudaran nafsu, tidak untuk ketenangan, tidak untuk pelenyapan, tidak untuk pengetahuan langsung, tidak untuk pencerahan, maupun Nirwana, melainkan hanya untuk kelahiran kembali di alam brahma.

...praktik-Ku kondusif untuk kejenuhan penuh, kepudaran nafsu, pelenyapan, ketenangan, pengetahuan langsung, pencerahan, dan Nirwana โ€“ secara spesifik jalan mulia berunsur delapan (...)

โ€”โ€ŠBuddha, Digha Nikaya II.251, Diterjemahkan oleh Harvey B. Aronson[12]

Menurut Richard Gombrich, seorang indolog dan pakar bahasa Sanskerta serta Pali, penggunaan brahmavihฤrฤ dalam Buddhisme awalnya merujuk pada suatu keadaan batin yang tercerahkan, dan sebuah sikap konkret terhadap makhluk lain yang setara dengan "hidup bersama Brahman" (dalam tradisi Brahmanisme) di sini dan saat ini. Tradisi pra-Buddhisme di masa lampau mengartikan deskripsi tersebut terlalu harfiah, dengan mengaitkannya pada kosmologi dan memahaminya sebagai "hidup bersama Brahman" melalui kelahiran kembali di alam brahma.[14] Menurut Gombrich, "Buddha mengajarkan bahwa mettฤ โ€“ apa yang cenderung disebut orang Kristen sebagai "cinta kasih" โ€“ adalah jalan menuju keselamatan.[15]

Dalam Tevijja Sutta (DN 13, "Tiga Pengetahuan") dalam Dฤซgha Nikฤya atau "Kumpulan Khotbah-Khotbah Panjang", sekelompok kaum brahmana muda berkonsultasi dengan Buddha mengenai metode untuk mencari hubungan/persekutuan dengan makhluk brahma. Sang Buddha Gotama menjawab bahwa Beliau mengetahui alam-alam brahma beserta jalan menuju ke sana, lalu menjelaskan metode meditatif untuk mencapainya dengan menggunakan analogi resonansi kulit kerang (sangka) dari aแนฃแนญamaแน…gala:

Seorang biku meliputi dunia ke empat penjuru dengan batin yang penuh mettฤ ... karuแน‡ฤ ... muditฤ ... upekkhฤ, kemudian ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling โ€“ seluruh dunia dari semua sisi, sepenuhnya, dengan batin yang penuh mettฤ ... karuแน‡ฤ ... muditฤ ... upekkhฤ, mencakup segalanya, besar, tanpa batas, damai, dan bersahabat ... Sama seperti peniup kerang terompet yang kuat dapat membuat dirinya terdengar tanpa banyak usaha ke empat penjuru [mata angin utama], demikian pula tidak ada batas bagi pengembangan mettฤ ... karuแน‡ฤ ... muditฤ ... upekkhฤ yang membebaskan hati [ini]. Ini adalah jalan menuju hubungan dengan brahma.[16]

Buddha menyatakan bahwa setelah cinta kasih (mettฤ), biku tersebut harus melanjutkannya dengan peliputan yang sama ke seluruh dunia dengan pancaran mental berupa belas kasih (karuแน‡ฤ), apresiasi simpatik (muditฤ), dan keseimbangan batin (upekkhฤ, memandang semua fenomena dengan mata kesetaraan).

Dalam kedua diskursus berjudul Metta Sutta dari Aแน…guttara Nikฤya,[17] Buddha menyatakan bahwa mereka yang mempraktikkan pemancaran empat keadaan tanpa-batas dalam kehidupan ini dan meninggal "tanpa kehilangannya" dipastikan akan terlahir kembali di alam surga dalam kehidupan mereka selanjutnya. Selain itu, jika orang tersebut adalah seorang siswa Buddha (Pฤli: sฤvaka) sehingga menyadari tiga corak eksistensi dari lima gugusan, maka setelah kehidupan surgawinya berakhir, siswa ini akan mencapai Nibbฤna. Bahkan jika seseorang bukan seorang siswa Buddha, ia akan tetap mencapai kehidupan surgawi, yang mana setelah itu, bergantung pada perbuatan masa lalunya, ia dapat terlahir kembali di alam neraka, hewan, atau hantu kelaparan.[18]

Dalam sutta lain di Aแน…guttara Nikฤya, seorang perempuan awam bernama Sฤmฤvatฤซ disebut sebagai contoh seseorang yang sangat unggul dalam cinta kasih.[19] Dalam tradisi Buddhisme, ia sering dirujuk demikian, kerap kali mengutip kisah bahwa anak panah yang ditembakkan ke arahnya berhasil ditangkis melalui kekuatan spiritualnya.[20]

Visuddhimagga

sunting

Empat keadaan tanpa batas dijelaskan dalam kitab Visuddhimagga, yang ditulis pada abad ke-5 oleh akademisi dan penafsir bernama Buddhaghoแนฃa. Empat sikat ini sering kali dipraktikkan dengan mengambil setiap keadaan tanpa-batas secara bergiliran dan menerapkannya pada diri sendiri (suatu praktik hasil penafsiran, yang diajarkan oleh banyak guru kontemporer dan para biku yang ditetapkan setelah sutta-sutta Pali selesai disusun), kemudian kepada orang-orang di sekitar, dan seterusnya hingga ke semua orang di dunia, serta semua makhluk di seluruh alam semesta.[21] Buddhaghosa juga mengidentifikasi "musuh jauh" dan "musuh dekat" dari setiap kediaman luhur, yang didasarkan pada penafsiran atas Suttapiแนญaka. "Musuh jauh" (dลซrapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang jelas-jelas bertentangan, sedangkan "musuh dekat" (ฤsannapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang seolah-olah serupa, tetapi sebenarnya berlawanan dari sifat luhurnya.[22]

Empat sifat luhur dalam Buddhisme Theravฤda
Sutta Abhidhamma Visuddhimagga
Sifat luhur
(brahmavihฤra)
Faktor mental
(cetasika)
Musuh dekat
(ฤsannapaccatthika)
Musuh jauh
(dลซrapaccatthika)
cinta kasih (mettฤ) tanpa-kebencian (adosa) nafsu (rฤga) niat jahat (vyฤpฤda/byฤpฤda)
belas kasih (karuแน‡ฤ) belas kasih (karuแน‡ฤ) dukacitaย batiniah duniawi
(gehasita-domanassa)
kekejaman (vihesฤ/vihiแนƒsฤ)[23]
simpati (muditฤ) simpati (muditฤ) sukacitaย batiniah duniawi
(gehasita-somanassa)
rasa tidak-senang (arati)
ketenangan (upekkhฤ) keseimbangan batin (tatramajjhattatฤ) tanpa-pengetahuan (aรฑรฑฤแน‡a) nafsu dan antipati (rฤgapaแนญighฤ)

A Cavern of Treasures (mDzod-phug)

sunting

Dalam literatur yang terkait dengan Buddhisme Tibet, A Cavern of Treasures (Tibet: เฝ˜เฝ›เฝผเฝ‘เผ‹เฝ•เฝดเฝ‚;ย Wylie: mdzod phug) adalah sebuah terma Bonpo yang ditemukan oleh Shenchen Luga (Tibet: เฝ‚เฝคเฝบเฝ“เผ‹เฝ†เฝบเฝ“เผ‹เฝ€เพณเฝดเผ‹เฝ‘เฝ‚เฝ ;ย Wylie: gshen-chen klu-dga') pada awal abad ke-11. Sebuah bagian di dalamnya memuat permohonan/pancaran empat keadaan tanpa batas versi Bonpo ("agama Bon).[24] Martin (n.d.: hlm. 21) mengidentifikasi pentingnya kitab suci ini untuk studi bahasa Zhang-Zhung.[25]

Asal-usul historis

sunting

Sebelum kedatangan Buddha Gotama, menurut Martin Wiltshire, keberadaan tradisi pra-Buddhis mengenai alam-alam brahma (brahmฤloka), meditasi, dan keempat brahmawihara ini terbukti dalam literatur Buddhis awal maupun non-Buddhis.[26] Teks Buddhis Awal menegaskan bahwa para resi India kuno pra-Buddha yang mengajarkan empat brahmawihara ini merupakan penjelmaan lampau dari Buddha Gotama.[26] Pasca-Buddha, empat brahmawihara yang sama ini juga ditemukan dalam teks-teks Hindu seperti bait 1.33 dari Yoga Sutra Patanjali.[27]

Tiga dari empat brahmawihara, yaitu maitrฤซ, karuแน‡ฤ, dan upekแนฃฤ, ditemukan dalam kitab-kitab Upanisad yang belakangan, sementara keempatnya ditemukan dengan sedikit variasi โ€“ seperti pramodฤ alih-alih muditฤ โ€“ dalam literatur Jainisme, sebut Wiltshire.[28] Para Paccekabuddha India kuno yang disebutkan dalam Sutta-Sutta Buddhis awal โ€“ mereka yang mencapai Nibbฤna sebelum kehadiran Buddha Gotama โ€“ juga menyebutkan seluruh "empat keadaan tanpa-batas" tersebut.[26]

Menurut Peter Harvey, seorang pakar Buddhisme asal Inggris, kitab suci Buddhis mengakui bahwa praktik meditasi empat brahmavihฤrฤ ini "tidak berasal dari dalam tradisi Buddhis".[13] Buddha tidak pernah mengklaim bahwa "empat keadaan tanpa-batas" merupakan gagasan unik yang sepenuhnya Beliau temukan sendiri, tidak seperti "pelenyapan, ketenangan, Nirwana".[12]

Pergeseran dalam gagasan Weda, dari ritual menuju nilai-nilai kebajikan, sangat terlihat dalam pemikiran Upanisad awal. Meskipun demikian, masih belum jelas sejauh mana dan seberapa awal tradisi Upanisad dan tradisi Sramana seperti Buddhisme dan Jainisme saling memengaruhi satu sama lain dalam gagasan-gagasan seperti "empat keadaan tanpa-batas", meditasi, dan brahmavihฤrฤ.[26]

Dalam kitab suci Jain yang otoritatif, Tattvartha Sutra (Bab 7, sutra 11), terdapat penyebutan tentang empat sentimen benar: maitrฤซ, pramodฤ, karuแน‡ฤ, dan mฤdhyastha:

Cinta-kasih (maitrฤซ) terhadap semua makhluk hidup, kegembiraan (pramodฤ) saat melihat orang yang bajik, belas kasih bersimpati (karuแน‡ฤ) bagi mereka yang tertindas, serta berdiri-di-tengah/ketidakberpihakan (mฤdhyastha) terhadap mereka yang angkuh dan berperilaku buruk.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Wetlesen, Jon (2002). "Did Santideva Destroy the Bodhisattva Path?". Journal of Buddhist Ethics. 9. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-02-28.
  2. ^ Bikkhu Bodhi (2000). Abhidhammattha Sangaha: A Comprehensive Manual of Abhidhamma. BPS Pariyatti Editions. hlm.ย 89.
  3. ^ "AN 4.125, Metta Sutta". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikku. 2006. Lihat catatan 2 mengenai berbagai jenis Brahma yang disebutkan. Pemeliharaan CS1: Postscript (link)
  4. ^ "AN 10.208: Brahmavihara Sutta: The Sublime Attitudes". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 2004.
  5. ^ Rhys Davids & Stede, 1921โ€“25, Pali-English Dictionary, Pali Text Society.
  6. ^ Harvey, Peter (2000). An Introduction to Buddhist Ethics. Cambridge University Press. hlm.ย 104.
  7. ^ Bodhi 2012, hlm.ย 1618.
  8. ^ W.E. Soothill dan Lewis Hodous, 1937, A Dictionary of Chinese Buddhist Terms.
  9. ^ a b c d Merv Fowler (1999). Buddhism: Beliefs and Practices. Sussex Academic Press. hlm.ย 60โ€“62. ISBNย 978-1-898723-66-0.[pranala nonaktif permanen]
  10. ^ a b c Peter Harvey (2012). An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices. Cambridge University Press. hlm.ย 154, 326. ISBNย 978-1-139-85126-8.
  11. ^ a b c d e "Paritta Suci" (PDF). Samaggi-Phala.com. Diakses tanggal 28 Desember 2020.
  12. ^ a b c d Harvey B. Aronson (1980). Love and Sympathy in Theravฤda Buddhism. Motilal Banarsidass. hlm.ย 71. ISBNย 978-81-208-1403-5.
  13. ^ a b Peter Harvey (2001). Buddhism. Bloomsbury Academic. hlm.ย 247. ISBNย 978-1-4411-4726-4.
  14. ^ Gombrich 1997, hlm.ย 84-85.
  15. ^ Gombrich 1997, hlm.ย 62.
  16. ^ Majjhimanikaya. Diterjemahkan oleh Schmidt, Kurt; Page, Tony. Berlin: Kristkeitz. 1978. hlm.ย 261.
  17. ^ "AN 4.125: Metta Sutta: Good Will (1)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikku. 2006.
  18. ^ "AN 4.125: Metta Sutta: Loving-kindness". Access to Insight. Diterjemahkan oleh ร‘anamoli Thera. 1998.
  19. ^ Bodhi 2012, hlm.ย 112.
  20. ^ "Sฤmฤvatฤซ". Dictionary of Pฤli Proper Names. Vol.ย 2. Wilts: Pali Text Society. 1938.
  21. ^ Mishra, N. K. Singh and A. P. (2010-01-01). Global Encyclopaedia of Indian Philosophy (dalam bahasa Inggris). Global Vision Publishing House. ISBNย 978-81-8220-294-8.
  22. ^
  23. ^ "Definitions of Vihesa, Vihesฤ". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2014-08-03. Diakses tanggal 2024-09-20.
  24. ^ Berzin, Alexander (2005). "The Four Immeasurable Attitudes in Hinayana, Mahayana, and Bon". Study Buddhism. Diakses tanggal June 6, 2016.
  25. ^ Martin, Dan. "Comparing Treasuries: Mental states and other mDzod phug lists and passages with parallels in Abhidharma works by Vasubandhu and Asaแน…ga or in Prajรฑรขpรขramitรข Sutrasย : A progress report" (PDF). University of Jerusalem. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-06-28. Diakses tanggal March 1, 2010. Bagi pelajar budaya Tibet pada umumnya, mDzod phug adalah salah satu kitab suci Bon yang paling menarik, karena merupakan satu-satunya karya bilingual yang panjang dalam bahasa Zhang-zhung and Tibet. (Beberapa sumber yang lebih pendek tetapi tetap penting untuk bahasa Zhang-zhung ditunjukkan dalam Orofino 1990.)
  26. ^ a b c d Martin G. Wiltshire (1990). Ascetic Figures Before and in Early Buddhism: The Emergence of Gautama as the Buddha. Walter de Gruyter. hlm.ย 248โ€“264. ISBNย 978-3-11-009896-9.
  27. ^ Kutipan: เคฎเฅˆเคคเฅเคฐเฅ€เค•เคฐเฅเคฃเคพเคฎเฅเคฆเคฟเคคเฅ‹เคชเฅ‡เค•เฅเคทเคพเคฃเคพเค‚ เคธเฅเค–เคฆเฅเคƒเค–เคชเฅเคฃเฅเคฏเคพเคชเฅเคฃเฅเคฏเคตเคฟเคทเคฏเคพเคฃเคพเค‚ เคญเคพเคตเคจเคพเคคเคถเฅเคšเคฟเคคเฅเคคเคชเฅเคฐเคธเคพเคฆเคจเคฎเฅ โ€” Yogasutra 1.33; "Patanjali Yogasutra". SanskritDocuments.Org.
  28. ^ Martin G. Wiltshire (1990). Ascetic Figures Before and in Early Buddhism: The Emergence of Gautama as the Buddha. Walter de Gruyter. hlm.ย 241โ€“242. ISBNย 978-3-11-009896-9.

Daftar pustaka

sunting
  • Bodhi, Bhikkhu (2012), The Numerical Discourses of the Buddha: A Translation of the Aแน…guttara Nikฤya, Boston: Wisdom Publications, ISBNย 978-1-61429-040-7
  • Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began, Munshiram Manoharlal

Bacaan lanjutan

sunting
  • Buddhas Reden (Majjhimanikaya), Kristkreitz, Berlin, 1978, diterjemahkan oleh Kurt Schmidt
  • Yamamoto, Kosho (tr.) & Page, Tony (revision) (2000). The Mahayana Mahaparinirvana Sutra. London, UK: Nirvana Publications.

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Arthur Conan Doyle

dari Dr. Joseph Bell, salah satu dosennya. Cerita pertama yang berjudul A Study in Scarlet (bahasa Indonesia: Penelusuran Benang Merah) ini diterima publik

Abjad Pahlavi

Dictionary, London: Curzon Press Mirza, Hormazdyar Kayoji (2002), "Literary treasures of the Zoroastrian priests", dalam Godrej, Pheroza J. (ed.), A Zoroastrian

Daftar karya tentang Perusahaan Hindia Timur Belanda

2007) Godard, Philippe: The First and Last Voyage of the Batavia. (Perth: Abrolhos, 1994) Green, Jeremy N.: Treasures from the 'Vergulde Draeck' (Gilt

Daftar julukan kota di Amerika Serikat

lost treasures." Flagstaff Arizona Diarsipkan 2011-10-02 di Wayback Machine., accessed March 29, 2007. "Flagstaff is sometimes called "The City in the Pines"

Moriarty the Patriot

Rafael Antonio (14 September 2020). "Muse Asia Licenses Moriarty the Patriot, The Journey of Elaina, Magatsu Wahrheit, More Anime in Southeast Asia". Anime

Batu Rosetta

Solรฉ, Robert; Valbelle, Dominique (2002). The Rosetta Stone: the story of the decoding of hieroglyphics. Four Walls Eight Windows. ISBNย 978-1-56858-226-9

Yerusalem

Frederick C. (1910). The Capture of Jerusalem by the Persians in 614 AD. English Historical Review 25. hlm.ย 502โ€“517. Hidden Treasures in Jerusalem Diarsipkan

K. R. Norman

on the Accusative Absolute Construction (1975) Two Pali Etymologies (1979) A Note on Attฤ in the Alagaddลซpama-sutta (1981) The Nine Treasures of the Cakravartin