Buddharลซpa Wairocana di Mendut.

Rupang Buddha adalah istilah yang merujuk pada seni perwujudan Buddha. Istilah ini berasal dari bahasa Pali Buddharลซpaแน (Dewanagari: เคฌเฅเคฆเฅเคงเคฐเฅ‚เคตเค‚) dan Sanskerta Buddharลซpa (Dewanagari: เคฌเฅเคฆเฅเคงเคฐเฅ‚เคช), secara harfiah bemakna "Rupa Sang Buddha" atau "Rupa Yang Sadar". Konsonan nasal pada kata rลซpaแน ditulis dengan pedoman IAST, dan dibaca rupang dalam bahasa Indonesia. Dalam tata bahasa Pali, akhiran แน (konsonan nasal atau vokal yang disengaukan) menunjukkan bentuk akusatif (objek langsung) tunggal.[butuh rujukan]

Umat Buddha di Indonesia umumnya tidak menyebut seni perwujudan Buddha dengan istilah "patung Buddha", melainkan "rupang Buddha".

Ciri-ciri yang serupa

sunting

Meskipun terdapat banyak variasi dan perbedaan rupa sang Buddha dalam banyak kebudayaan, serta banyak penafsiran mengenai kehidupan Buddha Gautama, terdapat pedoman dasar mengenai bagaimanakah penggambaran rupa sang Buddha, antara lain:

  • Jari-jari tangan dan kaki lebih panjang secara proporsional
  • Hidung yang mancung dan bangir
  • Cuping telinga yang lebar dan panjang
  • Urna, yaitu tonjolan pada dahi
  • Bahu yang kokoh dan lebar
  • Rambut berupa ikal-ikal keriting yang disanggul ke atas
  • Ekspresi wajah yang tenang, damai dan teduh
  • Kelopak mata hanya sedikit terbuka dan tatapan mengarah ke bawah

Cuping telinga yang memanjang dengan lubang bekas anting perhiasan melambangkan masa lalu Sang Buddha sebagai pangeran yang mengenakan banyak perhiasan mewah. Tonjolan pada tengah dahi menyerupai jerawat melambangkan hubungan yang longgar antara tubuh dan pikiran Sang Buddha atau Boddhisatwa, artinya ia memiliki wawasan pikiran yang melampaui manusia biasa yang mampu melihat menembus alam fana manusia yang hidup dalam lingkaran samsara.

Variasi regional

sunting

Dalam berbagai budaya Sang Buddha digambarkan dalam banyak rupa, mulai dari digambarkan tampan dan gagah bagai satria pertapa dengan tubuh yang proposional, pertapa dengan wajah tenang dan damai yang tengah bermeditasi, hingga menggambarkan pengelana bertubuh gemuk dengan wajah gembira dan tengah tertawa.

Proporsi

sunting

Rupa Buddha dalam kesenian India, Afganistan, Sri Lanka, Tibet, dan Indonesia (Jawa kuno) biasanya digambarkan dengan proporsi tubuh ideal dan wajah yang rupawan. Bahkan dalam kesenian Gandhara India (sekitar abad ke-3 SM) yang dipengaruhi kesenian Yunani, rambut dan lipatan jubah Buddha digambarkan sangat naturalis, dan Pangeran Siddharta digambarkan bertubuh kekar. Buddha di dataran Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Myanmar dan Kamboja digambarkan berwajah tirus dan lonjong dengan tubuh yang langsing dan ujung mahkota rambut yang runcing. Dalam kesenian Buddhis Asia Timur, seperti di China, Korea, dan Jepang, Buddha cenderung digambarkan berperawakan lebih gemuk dan kokoh. Buddha di Vietnam lebih dipengaruhi gaya seni Buddha Asia Timur.

Dalam episode tertentu dalam kehidupan Buddha Gautama, ia digambarkan sebagai pertapa kurus kering dengan tulang-tulang yang menonjol. Gambaran ini untuk menceritakan upaya awal Siddharta untuk mencapai pencerahan, melakukan tindakan penyangkalan diri dengan berpuasa berlebihan dan menyiksa tubuh. Akhirnya Siddharta menyadari kesalahan ini dan melanjutkan bertapa di bawah pohon boddhi tanpa menyiksa diri. Dalam kesenian Buddhis China dikenal "Buddha Tertawa", tokoh ini berbeda dengan Buddha Gautama, ia adalah biksu Buddha Tionghoa yang digambarkan sebagai pengelana bertubuh gemuk yang riang gembira, serta dianggap membawa rezeki dalam kepercayaan Tionghoa.

Sikap tubuh dan artefak

sunting

Citra Buddha Gautama biasanya digambarkan dalam ekspresi wajah yang tenang dalam posisi tubuh bersila posisi teratai, duduk, atau duduk setengah bersila dengan satu kaki dilipat. Sementara tangan melakukan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Beberapa pose lainnya menggambarkannya tengah berdiri memegang benda tertentu seperti bunga teratai, tongkat atau mangkuk derma, atau tengah berbaring dengan satu tangan menopang kepalanya, menggambarkan keberangkatan Buddha Sakyamuni ke Nirwana.

Pakaiannya pun bervariasi; di China dan Jepang di mana dianggap kurang pantas bagi biksu untuk memperlihatkan bahu terbuka, Buddha digambarkan mengenakan jubah tunik berlengan panjang. Sementara di Asia Tenggara dan India adalah wajar menggambarkan Buddha mengenakan jubah dengan salah satu bahunya terbuka. Di India bahkan sering kali Buddha digambarkan hanya mengenakan kain yang dililitkan di pinggang, bertelanjang dada tanpa mengenakan jubah bagian atas.

Galeri

sunting

Lihat juga

sunting

Pranala luar

sunting

"Thai birth day colors and Buddha image". United States Muay Thai Association Inc. 16 October 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-01-13. Diakses tanggal 6 April 2011. An innovation of the Ayutthaya period.

Referensi

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Buddha berbaring

Buddha tidur adalah arca yang menggambarkan Buddha tengah berbaring, tema ini merupakan salah satu ikonografi populer dalam Seni Rupa Buddha serta dalam

Buddhisme

Buddhisme, juga dikenal sebagai Agama Buddha dan Dhammavinaya, adalah suatu agama darmik dan sebuah tradisi filosofis yang berlandaskan kepada ajaran Siddhattha

Kabupaten Nganjuk

memeluk agama Islam dan sisanya menganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu. Tokoh agama Islam dari Nganjuk yang terkenal yaitu Kiai Muzajjad

Anikonisme dalam Buddhisme

2307/3250056. JSTORย 3250056. Krishan, Yuvraj; Tadikonda, Kalpana K. (1996). The Buddha Image: Its Origin and Development (dalam bahasa Inggris). Bharatiya Vidya Bhavan

Brahma (Buddhisme)

Machine. Nichiren Buddhism Library, Soka Gakkai Yuvraj Krishan (1996). The Buddha Image: Its Origin and Development. Bharatiya Vidya Bhavan. hlm.ย 120. ISBNย 978-81-215-0565-9

Seram

kelompok Salam. Ada pun agama-agama lain seperti Kristen Katolik, Hindu, atau Buddha ada dalam jumlah yang tidak signifikan dan hanya terkonsentrasi utamanya

Seni rupa buddhis

tanggal 28 Januari 2014. "Putting The Ocean in a Bowl - The Origin of the Buddha Image". Exotic India. April 2004. Diakses tanggal 28 Januari 2014. Buddhist

Tsurugaoka Hachimangลซ

di tahun-tahun berikutnya sebagai kuil Buddha Tendai yang khas dengan arsitektur Buddha Jepang. Pendeta Buddha terkenal Nichiren Daishonin konon pernah