Terjemahan dari
Nāmarūpa
SanskertaNāmarūpa
Tionghoa名色
(Pinyinmíngsè)
Jepang名色
(rōmaji: myōshiki)
Korea명색
(RR: myeongsaek)
Tibetཎམརུཔ་ ming.gzugs
Myanmarနာမရူပ
(MLCTS: nàma̰jùpa̰)
Thaiนามรูป
(RTGS: nammarup)
Vietnamdanh sắc
Sinhalaනාමරූප
Daftar Istilah Buddhis

Nāmarūpa (Pali; Sanskerta: नामरूप) digunakan dalam Buddhisme dan Hinduisme untuk merujuk pada unsur-unsur penyusun makhluk hidup: nāma biasanya dianggap merujuk pada komponen mental (batin) seseorang, sementara rūpa merujuk pada komponen fisik (jasmani).

Dalam Buddhisme, nāmarūpa paling sering ditemukan sebagai satu kata majemuk yang dipahami secara harfiah sebagai batin-dan-jasmani, batin-dan-rupa, atau batin-dan-tubuh.

Dalam agama Hindu, nāma dan rūpa adalah identitas duniawi yang sederhana dari bentuk apa pun yang diberi nama, yang mana keduanya dianggap bersifat sementara dan bukanlah identitas sejati yang selaras dengan 'realitas' atau 'Yang Mutlak (Brahman)' (tanpa nama dan tanpa bentuk) dalam agama Hindu yang telah bermanifestasi sebagai maya.

Dalam Buddhisme

sunting

  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
 
Ketidaktahuan (avijjā)
Formasi (saṅkhārā)
Kesadaran (viññāṇa)
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
Kontak (phassa)
Perasaan (vedanā)
Nafsu (taṇhā)
Kemelekatan (upādāna)
Kemenjadian (bhava)
Kelahiran (jati)
Tua & Mati (jarā-maraṇa)

Istilah ini digunakan dalam Buddhisme untuk merujuk pada unsur-unsur penyusun makhluk hidup: nāma merujuk pada unsur batiniah, sedangkan rūpa merujuk pada unsur jasmaniah. Nāma dan rūpa dalam Buddhisme saling bergantung, dan tidak dapat dipisahkan; sebagai nāmarūpa, keduanya merujuk pada keberadaan individu (atau hal-hal yang berbeda).[note 1] Nāmarūpa juga disebut sebagai lima khandha (gugusan), "organisme psiko-fisik", "batin dan materi", dan "mentalitas dan materialitas".

Komponen psikofisis

sunting

Dalam Tripitaka Pali, Sang Buddha menggambarkan nāmarūpa dengan cara ini:

"Dan apakah, para biku, nāmarūpa itu? Perasaan (vedanā), persepsi (saññā), kehendak (cetanā), kontak (phassa), & perhatian (manasikāra): Inilah yang disebut nāma. Empat unsur pokok, dan rupa yang bergantung pada empat unsur pokok (rupa turunan): Inilah yang disebut rūpa. Batin dan jasmani ini, para biku, disebut nāmarūpa.[1] Katamañca bhikkhave nāmarūpaṃ? Vedanā saññā cetanā phasso manasikāro, idaṃ vuccati nāmaṃ. Cattāro ca mahābhūtā, catunnaṃ ca mahābhūtānaṃ upādāyarūpaṃ, idaṃ vuccati rūpaṃ. Iti idañca nāmaṃ, idañca rūpaṃ, idaṃ vuccati bhikkhave, nāmarūpaṃ.[2]
—Vibhaṅga Sutta, SN 12.2

Di bagian lain dalam Tripitaka Pali, nāmarūpa digunakan sebagai sinonim dari lima gugusan (pañcakkhandha),[3] atau sebagai "proses persepsi"[4] dalam interpretasi modern.

Tradisi Abhidhamma Theravāda juga telah mensistematisasikan nāmarūpa sebagaimana ditunjukkan pada Tabel.

Hubungan nāmarūpa, pañcakkhandha, dan Abhidhamma
Kelompok Pañcakkhandha
(lima gugusan)
Abhidhamma Theravāda
Paramattha-sacca
(realitas hakiki)
nāma
(batin)
viññāṇakkhandha
(gugusan kesadaran)
89/121 citta
(kesadaran)
81 duniawi
8/40 adiduniawi
vedanākkhandha
(gugusan perasaan)
52 cetasika
(faktor-mental)
vedanācetasika
(cetasika perasaan)
saññākkhandha
(gugusan persepsi)
saññācetasika
(cetasika persepsi)
saṅkhārakkhandha
(gugusan formasi)
50 cetasika lainnya
rūpa
(rupa)
rūpakkhandha
(gugusan rupa)
28 rūpa
(rupa)
unsur pokok
24 unsur turunan
-
Nibbāna
(Nirwana)
Catatan:
  • Kelompok dhamma adalah saṅkhāra dan Nibbāna.
  • Seluruh saṅkhāra bersifat anicca dan dukkha.
  • Seluruh dhamma bersifat anatta.
  • Bedakan konteks saṅkhāra dengan saṅkhārakkhandha.

Kosong dari atma

sunting

Sesuai dengan ajaran anatta (tanpa atma; tanpa roh; tanpa 'diri'), "ketiadaan suatu atma (yang hakiki dan kekal)", nāma dan rūpa dianggap selalu dalam keadaan berubah yang hanya berupa kesinambungan pengalaman (yang sendirinya merupakan hasil dari sebab-musabab yang saling bergantung) yang menciptakan pengalaman atau perasaan adanya 'diri' secara konvensional.

Bagian dari samsara

sunting

Nāmarūpa adalah yang keempat dari dua belas mata rantai nidāna dalam Kemunculan Bersebab, didahului oleh kesadaran (Pali: viññāṇa; Skt.: vijñana) dan diikuti oleh enam landasan indra (Pali: saḷāyatana; Skt: ṣaḍāyatana). Oleh karena itu, dalam kitab Sutta Nipāta, Sang Buddha menjelaskan kepada Yang Mulia Ajita tentang cara kelahiran kembali dalam samsara dapat dihentikan:[note 2]

[Yang Mulia Ajita:]
...batin-&-jasmani, tuan yang terhormat:
Katakan padaku, ketika ditanya hal ini,
di mana mereka dihentikan?

[Sang Buddha:]
Pertanyaan yang Anda ajukan, Ajita,
Aku akan menjawabnya untukmu—
di mana batin-&-jasmani
dihentikan
tanpa jejak:
Dengan berhentinya kesadaran (viññāṇa),
mereka dibawa
ke arah kehentian.[note 3]

Dalam agama Hindu

sunting

Istilah nāmarūpa digunakan dalam pemikiran Hindu, nāma menggambarkan sifat spiritual atau esensial dari suatu objek atau makhluk, dan rūpa merupakan kehadiran fisik yang diwujudkannya. Istilah-istilah ini digunakan dengan cara yang mirip seperti penggunaan 'esensi' dan 'aksiden' dalam teologi Katolik untuk mendeskripsikan transubstansiasi. Perbedaan antara nāma dan rūpa dalam pemikiran Hindu menjelaskan kemampuan kekuatan spiritual untuk bermanifestasi melalui wadah yang tidak memadai atau benda mati - seperti yang diamati dalam fenomena kesurupan dan penujuman, serta dalam kehadiran ilahi pada arca atau gambar yang dipuja melalui pūja.

Nāma Rupatmak Vishva adalah istilah Vedanta (sebuah aliran Sanatana Dharma/Hindu) untuk Alam Semesta yang termanifestasi, yakni Dunia sebagaimana yang kita kenal. Oleh karena setiap objek di Dunia ini memiliki Nāma dan Rupa, Dunia disebut sebagai Nāma Rupatmak Vishva. Paramātma (atau Sang Pencipta) tidak termanifestasi dalam Nāma Rupatmak Vishva ini, melainkan dapat disadari oleh seorang Sādhaka (pelajar/praktisi) melalui Bhakti (pengabdian), Karma (tindakan), Jnana (pengetahuan), Yoga (Penyatuan, sebuah aliran Hindu), atau kombinasi dari semua metodologi tersebut.

Lihat pula

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Misalnya, Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 350, entri untuk "Nāma" (diakses 20-06-2007), menyatakan:
    "nāma sebagai istilah metafisik berlawanan dengan rūpa, & terdiri dari 4 gugusan non-materi dari seorang individu (arūpino khandhā, yaitu vedanā saññā saṅkhāra viññāṇa...). Ini sebagai prinsip noëtic yang dipadukan dengan prinsip materiil membentuk individu yang dibedakan berdasarkan 'batin & jasmani' dari individu lain. Jadi, nāmarūpa = individualitas, wujud individu. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan...."
    (nāma as metaphysical term is opposed to rūpa, & comprises the 4 immaterial factors of an individual (arūpino khandhā, viz. vedanā saññā saṅkhāra viññāṇa...). These as the noëtic principle comb[ine]d with the material principle make up the individual as it is distinguished by 'name & body' from other individuals. Thus nāmarūpa = individuality, individual being. These two are inseparable....)
  2. ^ Lokasi spesifik ayat-ayat ini: Snp 5.2, Pārāyanavagga, "The Questions of Ajita," ayat 1036-1037
  3. ^ Thanissaro (1994). Diarsipkan 26-12-2014 di Wayback Machine. Dalam menjelaskan pertukaran khusus antara Ven. Ajita dan Sang Buddha, Ireland (1983, 1994), n. 2. Diarsipkan 12-08-2014 di Wayback Machine. Dia menyatakan:
    "Tanya jawab ini mengacu pada ajaran Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda). Ketika kesadaran penyambung kelahiran kembali (pati-sandhi-viññāṇa) tidak muncul, maka tidak ada kemapanan individu (batin-dan-jasmani, nāmarūpa) di alam keberadaan, juga tidak ada akibat munculnya usia tua dan kematian dan penderitaan lain yang menjadi sifat dari kehidupan."
    (This question and answer refers to the doctrine of dependent-arising (paṭiccasamuppāda). Where rebirth-consciousness (paṭi-sandhi-viññāṇa) does not arise there is no establishment of an individual (mind-and-body, nāmarūpa) in a realm of existence, nor the consequent appearance of old age and death and the other sufferings inherent in life.)

Referensi

sunting
  1. ^ Dari SN 12.2 (Thanissaro, 1997).
  2. ^ SLTP (n.d.), 1.1.2, Vibhańgasuttaṃ.
  3. ^ Rhys Davids & Stede, op cit
  4. ^ Ven. Dr. Punnaji, 2017

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting
Didahului oleh:
Viññāṇa
12 mata rantai
Nāmarūpa
Diteruskan oleh:
Saḷāyatana

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

William Shakespeare

" —Sajak dari Soneta 18 Shakespeare. Edisi 1609 didedikasikan untuk "Mr. W.H.", yang dikreditkan sebagai "satu-satunya penikmat" sajak tersebut. Tidak

Nintendo Switch 2

tanggal July 12, 2025. Williams, Isaiah (2025-06-19). "Nintendo is making me question whether you actually own your Switch 2". TechRadar. Diarsipkan dari versi

Genetika

Introduction". An Introduction to Genetic Analysis (Edisi 7th). New York: W.H. Freeman. ISBN 978-0-7167-3520-5. Hartl D, Jones E (2005) "the definition

James Joyce

(1994). The Quark and the Jaguar: Adventures in the Simple and the Complex. WH Freeman and Company. ISBN 9780716727255. OCLC 1036835212. Gibson, Andrew (2002)

Eleanor Marx

With Edward Aveling. London: Socialist League Office, 1885. The Woman Question. With Edward Aveling. London: Swan Sonnenschein & Co., 1886. Shelley's

Koresh Agung

c. 3000–330 BC. Routledge. hlm. 647. ISBN 0-415-16763-9. R.A. Parker and W.H. Dubberstein, Babylonian Chronology 626 B.C. - A.D. 75, 1971. "Ancient History

Berpikir kritis

Thinking Skills: Theory and Practice. Joan Baron and Robert Sternberg. 1987. W.H. Freeman, & Co., New York. 275 pages. Index. ISBN 0-7167-1791-3. Paperback"

Wolfram

[HfEt4(C2H4)2−] and the Negative-Oxidation-State Species [TaHEt(C2H4)33−] and [WH(C2H4)43−]". Organometallics. 27 (5): 984–993. doi:10.1021/om701189e. Smith