| Terjemahan dari viriya | |
|---|---|
| Inggris | diligence, energy, perseverance, enthusiasm, sustained effort, help |
| Pali | विरिय (viriya) |
| Sanskerta | वीर्य (IAST: vīrya) |
| Tionghoa | 勤(T) / 勤(S), 精進(T) / 精进(S) |
| Jepang | 精進 (rōmaji: shōjin) |
| Korea | 근, 정진 (RR: geun, jeongjin) |
| Tibet | བརྩོན་འགྲུས། (Wylie: brtson 'grus; THL: tsöndrü) |
| Myanmar | ဝီရိယ (MLCTS: wə rḭ ja̰) |
| Vietnam | Tinh Tấn |
| Khmer | ថាមពល (UNGEGN: thamôpôl) |
| Sinhala | වීර්යය |
| Daftar Istilah Buddhis | |
Usaha (Pali: viriya; Sanskerta: vīrya), juga dikenal sebagai energi, semangat, ketekunan, kegigihan, dan antusiasme adalah sebuah istilah Buddhis yang dapat didefinisikan sebagai sebuah sikap senang hati untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang bajik (bermanfaat), dan berfungsi untuk mendorong seseorang agar mampu menyelesaikan perbuatan-perbuatan yang bajik atau mulia.
Dalam ajaran Abhidhamma/Abhidharma, viriya diidentifikasi sebagai:
- Salah satu dari enam faktor mental sesekali (pakiṇṇaka) dalam Abhidhamma Theravāda
- Salah satu dari sebelas faktor mental baik dalam Abhidharma Mahayana
Dalam konteks ini, viriya didefinisikan sebagai sikap senang hati dalam melakukan hal-hal yang bajik; fungsinya adalah untuk mendorong seseorang menyelesaikan tindakan-tindakan positif.[1][2]
Etimologi
suntingViriya secara harfiah berarti "keadaan manusia yang kuat" atau "kejantanan."[3] Dalam literatur Weda, istilah ini dikaitkan dengan kepahlawanan dan kejantanan.
Dalam Buddhisme, viriya merujuk pada "energi" dari seorang praktisi,[4][5][6] "kegigihan",[6][7] "ketekunan,"[8] "semangat", "usaha", "kerajinan",[1][2] atau "pengerahan tenaga", dan berulang kali diidentifikasi sebagai prasyarat penting untuk mencapai pembebasan.
Theravāda
suntingTripitaka Pali
suntingKīṭagiri Sutta
suntingDalam Kīṭāgiri Sutta (MN 70), Sang Buddha menginstruksikan para pengikut-Nya:
- ... Bagi seorang siswa berkeyakinan yang berniat untuk menyelami Ajaran Guru, wajar jika ia membimbing dirinya demikian: 'Dengan rela, biarlah hanya kulit, urat, dan tulangku yang tersisa, dan biarlah daging serta darah mengering di tubuhku, tetapi usahaku [Pāli: viriya] tidak akan mengendur selama aku belum mencapai apa yang dapat dicapai melalui kekuatan manusia [purisa-tthāmena], energi/usaha manusia [purisa-viriyena], dan kegigihan manusia [purisa-parakkamena]...."[4]
Bodhipakkhiyā
sunting| Bagian dari seri tentang |
| 37 sayap pencerahan (bodhipakkhiyā-dhammā) |
|---|
Dalam kepustakaan Pāli Theravāda, viriya diidentifikasi sebagai komponen penting dalam setiap rangkaian kualitas yang kondusif bagi Pencerahan (bodhi-pakkhiyā-dhammā):
- viriya dalam lima indra spiritual (indriya)
- viriya dalam lima kekuatan (bala)
- viriya dalam sepuluh paramita (pāramī)
- viriya dalam tujuh faktor pencerahan (bojjhaṅga).[6]
Ini juga dikaitkan dengan "Usaha Benar" (sammā-vāyāma) dari Jalan Mulia Berunsur Delapan (Pāli: aṭṭhaṅgiko maggo; Skt.: aṣṭāṅga mārga) dan dengan "Empat Usaha Benar" (samma-ppadhāna).
Pāramī
suntingViriya juga merupakan satu dari sepuluh paramita dalam tradisi Theravāda, sebagaimana dapat ditemukan dalam kitab Cariyāpiṭaka (sebuah kitab dalam Khuddaka Nikāya). Lebih lanjut, kitab komentar karya Dhammapāla atas Cariyāpiṭaka menjelaskan sepuluh jenis paramita dalam tiga tingkatan untuk setiap paramita, termasuk viriya. Tiga tingkat paramita tersebut adalah pāramī (biasa), upa-pāramī (menengah atau lebih tinggi), dan paramattha-pāramī (hakiki) dengan uraian:[9][10][11]
- berusaha untuk memenuhi dan menjadi mahir dalam penyempurnaan pāramī tersebut di atas dan yang akan disebutkan kemudian adalah viriya pāramī;
- berusaha untuk memenuhi dan menyempurnakan upa-pāramī tersebut di atas dan yang akan disebutkan kemudian adalah viriya upa-pāramī;
- berusaha untuk memenuhi dan menyempurnakan paramattha-pāramī yang disebutkan di atas dan yang akan disebutkan kemudian adalah viriya paramattha-pāramī.
Abhidhamma Theravāda
sunting| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 faktor mental (cetasika) |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa viriya didefinisikan dalam empat batasan:[12]
- Karakteristik: menyokong (upatthambhanalakkhaṇa), mengupayakan (paggahaṇalakkhaṇa), atau usaha (ussāhalakkhaṇa).
- Fungsi: menyokong atau memperkuat dhamma (citta dan cetasika) yang muncul bersamanya (sahajātāna upatthambhanarasa).
- Manifestasi: pantang menyerah (asaṃsīdanabhāvapaccupaṭṭhāna).
- Sebab-terdekat: tergugah (saṃvegapadaṭṭhāna) atau adanya inisiatif untuk berusaha (vīriyārambhavatthupadaṭṭhāna).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
Kitab komentar mendefinisikan viriya seperti sifat heroisme atau perbuatan seseorang yang gagah berani dan energetik. Viriya juga didefinisikan sebagai usaha (ussāha) terhadap satu perbuatan yang harus dilakukan. Dengan deinisi seperti itu, maka viriya tidak muncul pada kondisi-kondisi yang lesu, lamban, dan tidak aktif (olīnavuttitā). Jadi, viriya mengatasi kelambanan batin dan diibaratkan seperti saka guru (upathambhana) yang menyokong rumah supaya bisa tetap berdiri tegak. Dengan disokong oleh viriya, maka dhamma-dhamma yang muncul bersamanya bisa berjuang keras dan pantang menyerah untuk melakukan fungsinya masing-masing demi mencapai apa yang dicita-citakan. Contoh penerapan viriya yang paling tinggi adalah viriya yang muncul pada saat Bodhisatta bertekad untuk tidak bangkit dari meditasinya sebelum tercapainya pencerahan — walaupun seandainya tubuhnya hanya tinggal tersisa kulit, otot, dan tulang saja serta darah dan dagingnya mengering, Beliau tetap tidak akan bangkit dari duduknya![12]
Mahāyāna
suntingAbhidharma Mahāyāna
suntingKitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:
- Apakah viriya itu? Ia adalah batin yang berniat untuk selalu aktif, mengabdi, tak tergoyahkan, tidak berbalik arah, dan tidak kenal lelah. Ia menyempurnakan dan merealisasikan apa yang kondusif bagi hal-hal positif.[1]
Dalam konteks Abhidharma Mahāyāna, istilah ini umumnya diterjemahkan sebagai ketekunan.[1]
Bela diri
suntingViriya juga dapat menandakan keberanian serta kekuatan fisik, dan dikembangkan oleh para pelindung Buddhis termasuk para biksu Shaolin. Hal ini menandakan kekuatan karakter dan usaha gigih demi kesejahteraan orang lain, serta kemampuan untuk mempertahankan Triratna dari serangan.[butuh rujukan]
Lihat pula
sunting- Adhiṭṭhāna (tekad yang bulat)
- Bodhipakkhiyā dhammā (Kualitas-kualitas yang kondusif bagi Pencerahan)
- Dāna (kedermawanan)
- Lima Indria
- Lima Kekuatan
- Empat Usaha Benar
- Khanti (kesabaran)
- Mettā (cinta kasih)
- Nekkhamma (pelepasan keduniawian)
- Jalan Mulia Berunsur Delapan
- Paññā (kebijaksanaan)
- Passaddhi (ketenangan)
- Sacca (kebenaran)
- Sisu (Konsep serupa dalam budaya Finlandia)
- Upekkhā (keseimbangan batin)
- Vīrya (Hinduisme)
Catatan
sunting- ^ a b c d Guenther (1975), Kindle Locations 578–580.
- ^ a b Kunsang (2004), hlm. 25.
- ^ Lihat, mis., Monier Williams (1899), entri untuk "Vīryà," hlm. 1006: Mendefinisikan vīryà sebagian sebagai: "manliness, valour, strength, power, energy, RV &c. &c.; heroism/heroinism, heroic deed, ibid.; manly vigour, virility, semen virile, MBh.; Kāv. &c;...."
- ^ a b Ñāṇamoli & Bodhi (2001), "Kīṭāgiri Sutta" (MN 70), hlm. 583–84.
- ^
- "Meghiya Sutta: Meghiya". www.accesstoinsight.org. Diterjemahkan oleh Ireland, John D. 1998. Diakses tanggal 22 November 2022.
- "Pade Sutta: In the Foot". www.accesstoinsight.org. Diterjemahkan oleh Walshe, Maurice O'Connell. 2009. Diakses tanggal 22 November 2022.
- ^ a b c Lihat, mis., Bullitt (2005), entri untuk "viriya," yang mendefinisikan istilah ini sebagai: "Kegigihan; energi. Salah satu dari sepuluh kesempurnaan (paramis), lima kemampuan (bala; lihat bodhi-pakkhiya-dhamma), dan lima kekuatan/faktor dominan (indriya; lihat bodhi-pakkhiya-dhamma)". Diakses 3 Februari 2011.
- ^ "Kitagiri Sutta: At Kitagiri". www.accesstoinsight.org. Diterjemahkan oleh Thanissaro, Bhikkhu. 2005. Diakses tanggal 22 November 2022.
- ^ "Gilana Sutta: Ill". www.accesstoinsight.org. Diterjemahkan oleh Piyadassi, Thera. 1999. Diakses tanggal 22 November 2022.
- ^ Kloppenborg, Ria (1983). The Paccekabuddha: A Buddhist Ascetic (PDF). Kandy: Buddhist Publication Society. hlm. 105, note 8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Sayadaw, Ven. Mingun (1990). The Great Chronicle of Buddhas. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Sayadaw, Ven. Mingun (2008). The Great Chronicle of Buddhas: Singapore Edition (PDF). Singapore. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 59–60. ISBN 978-623-94342-7-4.
Sumber
sunting- Bullitt, John T. (2005). A Glossary of Pali and Buddhist Terms. Tersedia dari "Access to Insight" (ATI).
- Griffith, Ralph T.H. (1896). Rig Veda.
- Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding". Dharma Publishing. Edisi Kindle.
- Ireland, John D. (penerj.) (1998). "Meghiya Sutta: Meghiya" (Ud. 4.1). Diakses 7 Februari 2011 dari "Access to Insight".
- Kunsang, Erik Pema (penerj.) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
- Monier-Williams, Monier (1899; rev. 2008). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford: Clarendon Press. Mesin pencari daring umum untuk kamus ini tersedia dari "U. Cologne".
- Ñāṇamoli, Bhikkhu (penerj.) & Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2001). The Middle-Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
- Piyadassi, Thera (1999). "Gilana Sutta: Ill (Factors of Enlightenment)" (SN 46.14). Diakses 7 Februari 2011 dari "Access to Insight".
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921-5). The Pali Text Society's Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society.
- Thanissaro, Bhikkhu (penerj.) (2005). "Kitagiri Sutta: At Kitagiri" (MN 70). Diakses 6 Februari 2011 dari "Access to Insight".
- Walshe, Maurice O'Connell (penerj.) (2009). "Pade Sutta: In the Foot" (SN 48.54). Diakses 7 Februari 2011 dari "Access to Insight".